Amen Seafood (Surabaya); CLBK Ini Namanya!

Aah, kembali ke pacar lama! Amen Seafood, di Ruko Central Business Park, Jalan Dr. Ir. H. Soekarno (MERR 2C)/ 29-30, Surabaya.

Kenapa dibilang “pacar lama”? Karena sebelum Layar menggurita ke Surabaya Timur, Amen Seafood ini adalah tempatku makan seafood. Dulu lokasinya di Klampis, kecil dan sederhana. Aku sudah makan di Amen Seafood ini dari jaman dia masih sepi sampai akhirnya jadi ramai dan sering susah dapat tempat makan. Ini yang membuatku malas ke Amen Seafood, bablas sampai selama 10 tahun wkwkw (edian, lama juga ternyata!).

Trus, aku lihat Amen Seafood pindah ke MERR 3-4 tahun lalu tapi masih juga belum berniat mampir makan. Akhirnya, Iyem yang memboyongku ke ‘pacar lama’ ini, sekalian buat merayuku mau kembali ke dunia per-fesbuk-an (haha aku cutinya total dan menyeluruh nih, engga blog aja tapi juga medsos).

Ah, kalo diterusin jadinya curhat. Jadi kita cut aja cerita diatas dan lihat buku menunya:

Bisa ditebak. Aku kalap!

Ini, Ikan Goreng Crispy – Gurame:

Menu ini engga ada ditempat lain <— statusnya: wajib icip. Ikan Gurame-nya disajikan dagingnya saja, itupun sudah dalam keadaan diiris tipis dan digoreng dalam balutan tepung sehingga bentuknya mirip keripik (lihat foto atas). Dan biar engga garing, ada saus asam manisnya gitu deh:

Engga ngira, si Hangki doyan banget (belum tau dia kalo Mama Husky-nya udah doyan ini sejak jaman dia masih di awan sono, belom dibikin haha!). Btw, buat bikin menu ini butuh 15-20an menit, jadi kudu sabar dan jangan pake acara balikin meja makan; malu dengan tetangga :p.

Menu berikutnya masih menu kesukaanku yang aku pesan tanpa lihat buku menu haha..

  • Me: Mbak, ada ikan jaket?
  • Mbak: Ada
  • Me: Pesan 1 yang pake bawang2
  • Mbak: Yang “Bakar Bumbu Bawang Putih”?
  • Me: Engga tahu namanya, pokoknya diatas ikannya ada bawang2 gitu
  • Mbak: Oh iya, pakai bawang putih, bombai sama cabe rawit
  • Me: Yaaa, ya itu!

Perkenalkan, Ikan Jaket Bakar Bumbu Bawang Putih:

FYI, disinilah aku kenal dengan yang namanya “Ikan Jaket” yang kalau di Layar dan resto seafood lain namanya “Sukang”. Sekali coba, langsung jatuh cinta dengan Ikan Jaket dan selaaaalu pesan nih ikan dimana-mana (bahkan tiap ke pasar ikan aku selalu cari Ikan Jaket/ Sukang buat dibakar sendiri, tapi engga pernah nemu *sigh*). Dagingnya tuh padat, tidak keras dan tidak amis, engga pake duri disana sini (durinya cuman dibagian tengah saja dan sedikit dibagian sisi atas ikan). Dibakar polos dan dimakan dengan kecap + irisan cabe saja sudah enak, apalagi kalau dibumbui.

Yang ini, ikannya 1 kilo (buesar emang *happy*), dibelah dan kemudian dibakar polos, kemudian diberi bumbu bawang putih (ada cacahan bawang bombai dan irisan cabe rawitnya juga) diatasnya:

Engga ada kan yang jual Ikan Jaket/ Sukang kaya’ gini di Surabaya? Dan please jangan menilai dari penampilan saja, karena yang ini asli jempolan! Udah, makan gitu aja, engga usah ditambahin kecap manis/ asin. Mau tanpa atau dengan nasi putih, sama enaknya! Rasanya gurih, ikannya rada manis (bukan ikan frozen kayanya) dan persisss sama dengan rasa yang dulu aku makan di Klampis. CLBK banget nih, ceritanya. Amen, aku padamuuu.. <3.

Awalnya, Iyem rada kuatir kita engga bakal bisa habisin ikan segede gaban ini, tapi ternyata Ikan Jaket Bakar Bumbu Bawang Putih ini malah ludes tanpa sisa, bahkan Hangki; anak lakiku itu duoyan banget dan nambah terus makannya *mama Husky happy!*. Engga pedas? Engga, lah. Itu irisan cabe rawit bisa diitung jumlahnya berapa. Kalo engga mau pedas, ya pinggirkan saja cabenya. Aman seketika. Atau kalau perlu, pesan yang tanpa cabe.

Tapi karena orang Indonesia cuka cabe, mereka memberi 2 macam sambal sebagai teman makan Ikan Jaket Bakar Bumbu Bawang Putih:

Keduanya kurang cocok untuk lidahku, tapi Iyem suka dengan sambal uleg-nya untuk dimakan dengan Ikan Goreng Crispy – Gurame. Sambal Dabu-dabunya, hmm.. engga seenak yang aku makan di Makassar *rewel nih lidahnya*, jadi beneran.. itu Ikan Jaket Bakar Bumbu Bawang Putih enak dimakan begitu saja.

Nah, ini menu yang engga pernah aku pesan, Kepiting Tiga Rasa:

 

Harusnya, per porsi kepiting isinya 2 ekor, namun mereka kehabisan kepiting dan hanya sisa 1 ini. OK sajalah, daripada engga dapat kepiting.

Engga mengecewakan karena kepiting ini beneran gemuk, isinya banyak dan cukup padat. Dagingnya jelas manis, karena nyawa kepiting bahkan masih diatas wajan ketika makanan ini disajikan ke meja makan kita *may his soul rest in peace*:

Suami Iyem doyan dengan kepiting ini karena sausnya. Awalnya, aku sepelekan sausnya. Aku memang cenderung menghindari saus-saus warna merah menyala dari papaya bosok yang konon pake acara diinjak-injak kaki itu pada proses pembuatannya. Tapi karena lihat suami Iyem makan kaya’ orang puasa 3 hari 3 malam, aku penasaran dong dan akhirnya ngicip.

Eh, ini saus emang enak sampai akhirnya aku dan suami Iyem sibuk sendokin itu saus buat kita habisin haha *romantis kan, serasa sepiring berdua dengan suami orang :p*. Aku engga bisa deskripsikan, saus ini rasanya bagaimana. Kaya saus asam manis tapi dikasih kocokan telur sehingga ada gurihnya, ada asin, juga manis. Mungkin 3 rasa itulah yang dimaksud(?).

Btw, ketika icip sambal Dabu-dabunya, aku curiga karena tuh sambal engga seperti yang aku makan di Makassar. Rasanya lebih hambar. Awalnya aku pikir nih orang engga bisa bikin sambal Dabu-dabu tapi engga mungkin kalo kokinya si Amen ini bodoh. Jadi, aku teliti buku menu dan menemukan menu “Kerang Saus Bangka”. Eaaa.. ala Bangka toh! Pantas saja beda. Tapi tetap saja ngai oi ngi, Amen *mendadak Bangka*! Hehe..

Oh ya, kayanya kalian kudu ke Amen ini deh karena engga banyak tempat makan seafood di kota ini yang bertahan. Lihat saja Huang Table, Crab ini, Crab itu, kini semuanya sepi, bahkan tutup dan Amen bertahan sejak aku pertama kali tiba di Surabaya. Kalau dihitung mundur, sepertinya si Amen ini sudah ada selama 15an tahun (bahkan lebih!) dan usahanya membesar.

Masakannya unik, beberapa engga aku temukan di tempat makan Seafood lain di Surabaya (ya mungkin karena yang satu ini a’la Bangka sedangkan yang banyak di Surabaya kan ala Makassar).

Share

Post to Twitter