Situs Liyangan (Temanggung – Jawa Tengah); Pompeii-nya Indonesia?

Masih berasa mimpi ketika akhirnya melihat tulisan pada gapura ini:


Sebelum ngoceh panjang lebar, ini adalah tulisan ulang untuk topik “Situs Liyangan” di blog ini, karena postingan sebelumnya terbuang *sigh (eman karena banyak tulisan mengenai candi/ situs dari blog ini yang masuk top 5 di Google Search)*.

OK, kembali ke Situs Liyangan di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah yang buatku luar biasa ini!

Beberapa tahun lalu, tempat ini cetar membahana karena nampang melulu di media cetak nasional, mengabarkan adanya penemuan-penemuan luar biasa berupa bangunan berbahan kayu dan atap ijuk yang utuh, terpendam (sebagian terpendam dalam keadaan terbakar) di usianya yang kisaran 1000 tahun! Nah lo, wow banget kan..

Harian Kompas dan beberapa media nasional lainnya pada tanggal 4 September 2012 lalu pernah memuat berita tentang penemuan situ prasejarah yang ditemukan tanpa sengaja oleh penambang pasir asal Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Saat itu ditemukan Situs Liyangan yang berada di bawah Gunung Sindoro di Kabupaten Temanggung pada kedalaman delapan meter di bawah permukaan tanah. Di sekitar candi ditemukan pula bangunan rumah yang mengindikasikan adanya permukiman penduduk dimasa lalu sejarah situs tersebut.

Situs Liyangan ditemukan oleh penambang pasir Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung diperkirakan pada tahun 2008. Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menyimpulkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno.

Menurut sejarah penemuan awal Situs Liyangan oleh masyarakat setempat, yaitu pada tahun 2008 masyarakat Temanggung tiba-tiba saja dikejutkan dengan adanya sebuah penemuan candi lagi, di sebuah penambangan pasir tidak jauh dari candi Pringapus, tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari Kecamatan Ngadirejo sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro itu masih ditemukan benda-benda bersejarah lain, di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.400 di atas permukaan air laut tersebut pertama kali ditemukan sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi, diduga bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena di antara benda temuan terdapat sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu.

Kemudian terjadi kembali penemuan berupa sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang, profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi menandakan candi ini berasal dari abad 9 Masehi.

Yang menjadi misteri dan sangat spektakuler adalah temuan terakhir pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang baru tampak pada bagian atapnya, menurut perkiraan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman.

Balai Arkeologi Yogyakarta memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno, dan bisa kemungkinan pada abad 9 Masehi silam tempat tersebut adalah sebuah desa atau dusun kecil yang menghilang dengan terjadinya proses alam seperti tanah longsong atau gempa bumi lainnya. Sehingga tempat tersebut terpendam lonsorann tanah dan pasir atau lahar yang begitu derasnya.

Sejauh ini Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk kepentingan penelitian situs ini telah membebaskan lahan sekitarnya seluas 5.630 meter persegi milik warga setempat yang saat itu digunakan untuk penambangan galian.

Penelitian situs ini sangat penting untuk mengungkap misteri sejarah peradaban jaman Mataram Kuno, yang membangun perkampungan di Liyangan.

Dari hasil penelitian sementara yang berhasil dikumpulkan tim arkeologi, bahwa secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan  keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.

Disisi lain juga diperoleh kabar berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi, berdasar gambaran yang lain dari hasil survei penjajakan tersebut Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks, yaitu yang mengindikasikan bahwa lokasi  tersebut adalah situs permukiman atau sebuah desa atau dusun di masanya, selain itu merupakan pula situs ritual, dan situs pertanian.

Keunikan lain dari hasil penemuan selanjutnya adalah luasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektare. Di area tersebut tersebar data arkeologi misteri yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno.

Mengingat sebagian situs terkubur lahar, masih sangat dimungkinkan luasan situs lebih dari hasil survei. Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu.

Akan tetapi yang menjadi tanda tanya dan menjadi penelitian yang menarik adalah, kayu-kayu yang menjadi bagian terpenting bangunan di area situs Liyangan tersebut hingga sekarang sebagian nampak masih kokoh tidak termakan zaman. Justru sebagian kayu-kayu tersebut masih nampak utuh tampa cacat sedikitpun. Hingga sampai sekarang penelitian tentang kayu-kayu tersebut masih dilakukan di  laboratorium Balai Arkeologi Yogyakarta.

Mitos dan misteri Liyangan  beserta kompleksnya menceritakan bahwa dengan penggalian tersebut maka setelah tanah terpotong akan kelihatan secara konstruksi dan diketahui tanah lapisan budaya, maka akan merekonstruksi pula adanya aktivitas manusia masa lampau serta peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada kawasan situs Liyangan, akan tetapi masih diperlukan  metode yang benar untuk mengungkap misteri yang ada pada Liyangan dan kompleksnya tersebut.

Dan mulanya di lokasi penambangan pasir tersebut ditemukan situs yang diduga tempat pemujaan atau ritual lainnya, namun terakhir ditemukan pula bekas bangunan dari kayu dan bambu yang telah menjadi arang dan di bawahnya terdapat talud dari batu putih setinggi 2,5 meter dan terdapat saluran air. Adanya temuan bangunan saluran air tersebut menandakan bahwa waktu itu sudah ada manajemen air.

Melihat konstruksi kayu dengan garapan yang halus dan menggunakan atap dari ijuk menandakan bahwa masyarakat pada masa  itu telah memiliki budaya dan seni arsitektur  yang cukup baik di zamannya.

Namun yang perlu menjadi perhatian semua pihak termasuk pemerintah daerah kabupaten Temanggung adalah penemuan situs Liyangan merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia, sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah.

Pemerintah kabupaten Temanggung sangat memiliki peranan penting untuk menopang dan mendukung penelitian peninggalan sejarah tersebut. Karena ini juga merupakan bagian aset daerah yang berharga untuk generasi muda mendatang dan bangsa Indonesia, termasuk pula bagian dari situs sejarah dunia yang ada (taken from here).

Maka, ketika akhirnya tiba beneran di kawasan sekitar Situs Liyangan (tanpa terencana), rasanya seperti mimpi! Dan aku abadikan secara brutal dengan bantuan kamera *sungkem kepada penemu kamera!*.

Situs Liyangan berada di kaki gunung Sindoro yang sejuk,kering (ketika aku kesana) dan tidak lembab (seperti Surabaya). Sepanjang hari, kita terberkati cuaca cerah dan pemandangan indah..

Makin dekat dengan Situs Liyangan, kita akan jumpai makin banyak rumah penduduk dan petunjuk jalan:

Dan sampailah kita pada pos jaga Situs Liyangan!

Sama seperti tempat lain, kita kudu mengisi buku tamu di pos jaga ini. Dan tipsku adalah:

  • Minta salah seorang penjaga untuk menjadi tour guide (mereka ramaaaah banget orang2nya!)
  • Masuk ke pos jaga dan melihat ‘koleksi’ mereka!

Ada beberapa hal menarik didalam pos jaga:

Tidak hanya foto, namun ada pula beberapa benda hasil galian seperti ini:

Semuanya adalah tulang-tulang dari hewan yang terpendam saat terjadi bencana di lokais Situs Liyangan. Ini pengalaman pertamaku pegang tulang-tulang hewan berusia ratusan tahun dengan kulit tangan sendiri (biasanya dengan sarung tangan, karena yang dipegang koleksi museum haha).

Tapi yang ini, lebih istimewa lagi:

Yang hitam ini diduga adalah biji-bijian/ gabah yang terbakar! Aku ga habis pikir, bagaimana bisa biji-bijian serupa arang ini bisa bertahan ratusan tahun ya? Kok engga menjadi tanah..

Tim Arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta kembali temukan artefak berupa butiran jagung purba (Zea Mays) dan sisa nasi yang masih berada dalam bakul (tempat nasi). Artefak itu ditemukan di Situs Liyangan yang berada di lereng Gunung Sindoro, Temanggung Jawa Tengah.

Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta, Siswanto mengatakan temuan ini sangat membantu dala penelusuran sejarah budidaya pertanian dan teknologi pertanian atau cocok tanam di Pulau Jawa pada zaman dahulu . Lebih jelas lagi , dia mengatakan kemungkinan adanya benih jagung itu merupakan hasil dari impor saat terjalin hubungan antarnegara yang terbuka pada waktu itu.

“Benih jagung yang ditemukan itu sangat memungkinkan adalah impor, karena pada abad tersebut sudah ada hubungan internasional telah terbuka. Budaya (Hindu-Buddha) sendiri berasal dari negara lain dan artefak seperti keramik dan logam diimpor dari China dan daratan Asia yang lain,”ungkapnya saat pembukaan UNSOED FAIR 2014 di Graha Widyatama Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Kamis (23/10/2014).

Dengan ditemukannya temuan terbaru ini, lanjutnya, membuka peluang adanya disiplin ilmu lainnya untuk melakukan penelitian lebih terperinci . Situs Liyangan adalah sebuah situs perkampungan atau tempat tinggal dengan peninggalan arkeologis yang sangat penting, karena meninggalkan bukti subsistensi berupa produk-produk budidaya pada zaman itu.

Sebelumnya di Situs Liyangan, tim penelitian arkeologi sudah menemukan adanya bulir padi (Oriza sativa) yang telah menjadi arang dan membuktikan ketahanan pangan di Jawa pada saat itu dikelola oleh pihak yang berwenang dengan baik.

Berdasarkan penelitian tim arkeologi ini , diketahui adanya budidaya pertanian yang telah berkembang di tanah Jawa pada masa lalu antara abad 8-10 Masehi. “Jawa yang dikenal dengan kesuburan tanahnya merupakan berkah yang tidak disia-siakan oleh masyarakat penghuninya,” tutur Siswanto (taken from here).

Didepan pos jaga, terhamparlah Situs Liyangan yang sekilas mata nampak seperti lahan tambang/ tanah kosong. Tapi amati deh..

Ada beberapa struktur batu yang yang gagah, sedang berjemur menikmati hangatnya sinar matahari setelah tertimbun tanah selama ratusan tahun.

Sebelum mendatangi bebatuan itu, mari merapat pada dinding-dinding galian dan mengamati lapisan tanahnya:

Tanah pada dinding galian ini, adalah hasil timbunan material alam selama ratusan tahun dan mempunyai layer-layer menarik. Lihat saja pada foto dibawah ini:

Nampak ada perbedaan warna lapisan tanah, plus bebatuan andesit yang bertebaran hampir pada setiap lapisan tanah. Kalau kita lebih cermat lagi, maka akan ditemukan banyak sekali bebatuan berwarna hitam:

Itu bukan batu biasa. Itu adalah lahar yang membeku dan kemudian tertimbun tanah/ material alam beratus-ratus tahun lamanya. Nah, bebatuan yang hitam itu kerasnya luar biasa dan bisa merusak alat gali manual. Jadi, beneran butuh tenaga untuk gali Situs Liyangan.

Disekitar dinding-dinding galian, ada banyak alat gali manual dan temuan-temuan anyar seperti ini, misalnya:

Situs Liyangan sepertinya adalah ‘playground’ yang sangat menyenangkan untuk para pecinta arkeologi! Sepertinya hampir seluruh area mempunyai harta karun yang menunggu untuk muncul kembali ke permukaan. Menantang! Juga mendebarkan.

Dibagian lain, ada beberapa dinding batu buatan nenek moyang. Ada yang hanya sekedar hasil menumpuk batu seperti ini:

Ada yang batunya sudah lebih rapi:

Luar biasa sekali!!! Rata dan mampu menahan agar tidak ada longsoran selama ratusan tahun. Susunannya pun rapi sekali dan presisi. Luar biasa. Sekali lagi, luarrr biasa.

(taken from here).

Bahkan (ketika itu) dikabarkan bahwa Situs Liyangan memiliki jalanan dengan lapisan batu (seperti jalan makadam), namun (ketika itu) masih tertimbun.

Siang tadi aku sengaja Gooling dan menemukan foto jalanan berbatu itu (yang sudah muncul ke permukaan):

Pengembangan Situs Liangan harus berpedoman pada pelestarian Cagar Budaya yang berada pada zona inti maupun zona penyangganya. Apabila Situs Liyangan akan dikembangkan maka infrastuktur pedesaan di Desa Purbosari yang menjadi akses utama menuju lokasi situs adalah komponen yang harus ditata sesuai dengan karakter situs, latar belakang sejarah situs, dan kearifan lokal masyarakat di Desa Purbosari.

Struktur jalan batu di Desa Purbosari memperlihatkan salah satu kearifan lokal yang harus dipertahankan. Cecara teknis jalan batu tersebut mempunyai kekuatan dan daya tahan yang lebih baik daripada material modern seperti aspal maupun paving blok. Hal ini terbukti pada temuan struktur jalan boulder yang masih bertahan dari timbunan material piroklastik dari Gunungapi Sindoro. Aspal dan paving blok tidak akan bertahan lama pada kondisi jalan dengan kemiringan yang ekstrim seperti yang dijumpai di Situs Liyangan. Kondisi fisik aspal dan paving blok akan mudah terkelupas karena kontur lahan yang tidak stabil. Selain itu, struktur jalan batu yang dijumpai saat ini di Situs Liyangan akan meningkatkan nilai penting di Situs Liyangan. Sangat disayangkan apabila jalan batu di Desa Purbosari di ganti dengan jalan dengan struktur yang modern menggunakan aspal ataupun paving blok.

Akses utama untuk mencapai Situs Liyangan adalah dengan melalui jalan desa di Desa Purbosari. Karakter jalan tersebut menggunakan tatanan batu yang langsung diletakkan pada permukaan tanah dan disusun terstruktur mengikuti kontur jalan. Jalan desa yang sekarang kita jumpai mirip dengan temuan struktur jalan batu yang dijumpai di Situs Liyangan. Hal ini dapat diindikasikan bahwa kemungkinan masyarakat kuna pendukung peradaban di Situs Liyangan sebelum terbenam endapan lahar mempunyai hubungan dengan masyarakat yang mendiamai Desa Purbosari.

Penggantian struktur jalan Desa Purbosari dari jalan batu menjadi jalan paving blok sebenarnya mempunyai maksud yang baik. Penggantian tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan masyarakat yang akan mengunjungi Situs Liyangan. Namun karena dimungkinkan masyarakat belum memahami latar belakang sejarah di Situs Liyangan, sehingga mereka saat ini sedang merencanakan untuk mengganti jalan batu menjadi jalan paving blok.

Untuk mencari mencari titik temu agar semua pihak memperoleh manfaat maka salah satu alternatif yang dapat disampaikan adalah memodifikasi struktur jalan batu. Modifikasi tersebut salah satunya dengan melakukan pengerjaan pada permukaan jalan batu. Pengerjaan tersebut dapat dilakukan dengan hanya memotong atau menghaluskan permukaan jalan batu. Selebihnya teknik yang digunakan untuk memasang jalan batu tersebut mirip dengan pengerjaan sebelumnya. Sehingga diharapkan nilai kearifan lokal jalan desa dapat dipertahankan dan masyarakat ataupun pengunjung dapat merasa nyaman saat melewati jalan desa tersebut (taken from here).

Ketika itu, aku sudah berjalan diatas jalanan berbatu (yang masih tertimbun sedikit tanah). Mendadak alam terasa sunyi, ada perasaan sedih dan berasa ada banyak orang sedang bergerak berbondong-bondong meninggalkan desa.

Saking berasa sedihnya, mata sampai berkaca-kaca kemudian aku tanyakan kepada petugas jaga Situs Liyangan. Ternyata Siyus Liyangan diduga adalah sebuah kompleks pemungkiman dan (sekaligus) pemujaan yang dahulu ditinggalkan penduduknya untuk menyelamatkan diri dari bencana alam meletusnya Gunung Sindoro dengan ilustrasi seperti ini (taken from here):

Karenanya, tidak heran jika beberapa temuan ditemukan dalam keadaan gosong (ingat: gabah gosong yang disimpan didalam pos jaga) dan ada perasaan sedih yang kuat.

Tidak semua hasil galian ditemukan dalam keadaan utuh, maka di beberapa tempat ada timbunan bebatuan seperti ini:

Namun (untungnya), hanya sedikit yang kondisinya rusak tak berbentuk. Selebihnya, cenderung utuh dan masih nampak wujud aslinya:

Tapi yang menjadi daya tarik utama Situs Liyangan adalah bagian yang satu ini:

Selain karena bagian ini adalah bagian yang tampak utuh dan mencolok, dibagian atasnya ada yoni dengan 3 lubang lingga! Ya, 3 lubang lingga. Dan ini, pertama kalinya aku tahu ada yoni dengan 3 lubang lingga!

Relatif utuh, pula! Istimewa..

Ada yang bilang, lingga-lingga yang saat ini tertancap, adalah lingga palsu (batu ‘lingga’-nya sama tua dengan yoni, namun fungsi aslinya bukan sebagai lingga). Tapi buatku, tetap saja ini lingga-yoni yang luar biasa! 3 lubang gituloh (dan sepertinya sudah kembali menjadi tempat pemujaan dengan ditemukannya beberapa hio dan abu bekas hio pada yoni):

Lihat pula bagaimana nenek moyang menyusun bebatuannya, rapat dan datar:

Tim ekskavasi menemukan lima lapis talut di area pemujaan di Situs Liyangan yang ada di lereng Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

“Talut yang ada di atas pemujaan ini termasuk istimewa, karena ada lima lapis dan di antaranya diduga terdapat saluran air,” kata Ketua Tim Ekskavasi Situs Liyangan dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Riyanto, di Temanggung, Jumat.

Sugeng menjelaskan bahwa dari lokasi talut paling bawah kalau ditarik garis letaknya sejajar dengan sisa bangunan rumah yang ditemukan pada penggalian sebelumnya dan jika ditarik lagi ke bawah akan tersambung dengan area rumah panggung yang ditemukan tahun 2010.

“Kalau ditarik lagi di sekitarnya berada di area pertanian. Kami belum tahu persis ini untuk pertanian atau hunian,” katanya.

Ia menuturkan talut pertama bagian bawah sejajar dengan rumah, kemudian pada lapis kedua ada talut ganda, dan setelah sela sekitar satu meter ada talut ganda lagi.

Area di antara talut ganda itu posisinya lebih rendah, seperti cekungan memanjang, yang kemungkinan merupakan jalan air.

“Di tengah jalur tadi kami temukan sebuah saluran kecil kira-kira lebar 30 centimeter memotong, yang diduga saluran air itu,” katanya serta menambahkan temuan-temuan itu membedakan Situs Liyangan dari situ-situs lainnya.

Di dekat saluran itu, Sugeng melanjutkan, tim menemukan tulang belulang binatang dan pecahan keramik yang terkonsentrasi, serta sisa-sisa bangunan berbahan organik yang telah menjadi arang. Tim ekskavasi juga menemukan serbuk sari tanaman.

“Serbuk sari ini sangat penting, untuk mengetahui tanaman yang ada tersebut padi-padian, bunga, atau lainnya, karena berkaitan dengan temuan bangunan,” katanya.

Tim ekskavasi memperoleh temuan-temuan itu dalam penggalian yang berlangsung awal April dan berakhir 23 April 2016 di situs peninggalan zaman Mataram Kuno itu (taken from here).

Selain itu, ada banyak sekali peralatan rumah tangga berbentuk guci dan beberapa benda logam. Agar aman, semuanya diamankan sementara dirumah salah seorang penjaga Situs Liyangan, Samudi:

Bersama dengannya, kita pergi ke kediamannya dan melihat harta Situs Liyangan yang berhasil diselamatkan:

Karena benda-benda ini sudah sangat tua dan mengalami (beberapa kali) bencana alam, maka tidak heran jika hampir semuanya mengalami kerusakan. Beberapa bahkan sudah hancur:

Namun Samudi tidak tega membiarkannya begitu saja. Lihat saja ada lem sejenis Alteco yang nampang di foto kan? Lem itu dipakai Samudi (yang kadang dibantu tetangga/ kawan) merakit pecahan-pecahan keramik yang mereka temukan. Kegiatan itu dilakukan Samudi selepas jam kerjanya menjaga Situs Liyangan di pagi hingga sore hari. Hebatnya lagi, dana untuk membeli lem adalah uang pribadi Samudi!

Benda keramik, antara lain berupa guci, teko, dan mangkuk, tersebut ditemukan di kawasan penambangan pasir di kompleks Situs Liyangan, kawasan lereng Gunung Sindoro.

Benda-benda keramik yang tidak ternilai harganya itu tersimpan dalam rak kayu di ruang depan dan sebuah kamar di rumah Samudi (29), petugas keamanan Situs Liyangan.

Benda-benda keramik tersebut, kata Samudi, saat ditemukan berupa pecahan-pecahan keramik, kemudian direkonstruksi atau dirakit sehingga kelihatan utuh lagi.

Perakitan pecahan keramik itu semula dilakukan oleh para petugas dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Namun, waktu mereka terbatas karena perakitan dilakukan saat bersamaan kegiatan ekskavasi.

“Melihat temuan pecahan keramik yang terus bertambah dan menumpuk di rumah kami dan pos keamanan Situs Liyangan, kami penasaran untuk mencoba ikut merakitnya meskipun kami tidak memiliki latar belakang keahlian di bidang tersebut,” kata pemuda lulusan SMK jurusan otomotif ini.

Samudi bahkan rela mengeluarkan uang pribadi guna membeli lem perekat untuk menyambung pecahan-pecahan keramik itu.

Dari sekitar 70-an benda keramik yang berhasil direkonstruksi, kata dia, dirinya berhasil merakit belasan barang kuno tersebut.

Kegiatan merakit pecahan keramik itu juga diikuti oleh warga Liyangan yang peduli terhadap kelestarian Situs Liyangan, Budiono (45).

Pria yang saat ini diangkat sebagai tenaga kontrak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah sebagai juru pelihara situs ini menuturkan bahwa dirinya ikut merakit pecahan keramik karena iseng dan rasa penasaran.

“Rasa iseng dan penasaran ini mendorong kami untuk ikut merakit dan ternyata bisa kami lakukan,” katanya.

Situs Liyangan yang diperkirakan peninggalan zaman Mataram Kuno abad IX tersebut kini memiliki lima tenaga kontrak di bawah naungan BPCB Jawa Tengah, yakni Samudi dan Istiarso sebagai satuan keamanan serta Budiono, Dian Marlina dan Abadi sebagai juru pelihara.

Penggalian pasir di kawasan Situs Liyangan hingga kini terus berlangsung guna membantu menemukan benda-benda bersejarah lainnya.

Sebagai tenaga keamanan dan juru pelihara, mereka memiliki tanggung jawab besar untuk mengamankan dan menyelamatkan benda-benda temuan di kawasan Situs Liyangan.

Meskipun tidak ada kegiatan ekskavasi, baik dari Balai Arkeologi Yogyakarta maupun dari BPCB Jawa Tengah, kata Budiono, para tenaga kontrak tetap masuk kerja untuk menjaga kompleks Situs Liyangan.

“Bahkan, kami bekerja selama 24 jam secara bergiliran untuk mengamankan Situs Liyangan. Kalau siang kami juga mengawasi para penambang jangan sampai mereka merusak benda-benda temuan dan tugas kami untuk menyelamatkan,” katanya.

Samudi mengatakan bahwa para tenaga kontrak bekerja siang dan malam. Namun, dirinya jarang mendapat giliran berjaga malam di kompleks situs karena harus menjaga benda-benda keramik yang dititipkan di rumahnya.

Menurut dia, mendapat tantangan cukup berat sebagai tempat penyimpanan benda-benda kuno tersebut selain menjaga keselamatan benda temuan juga harus tahan godaan dari upaya pembelian dari para kolektor benda kuno.

“Ada beberapa orang yang menemuinya dan berusaha membeli barang-barang yang tidak ternilai harganya tersebut. Namun, kami menolaknya karena barang-barang peninggalan nenek moyang itu harus diselamatkan,” katanya.

Ia mengatakan bahwa upaya pembelian benda bersejarah tersebut terjadi saat awal penemuan benda keramik. Kala itu honor sebagai tanaga kontrak sebesar Rp600 ribu per bulan. Mereka datang dari kota besar, seperti Jakarta dan Bandung.

Meskipun mengetahui bahwa benda-benda kuno tersebut harganya bisa mencapai jutaan rupiah, apalagi di luar negeri, sebagai warga Liyangan, pihaknya tetap berpendirian akan mempertahankan dan menyelamatkan peninggalan nenek moyang itu.

Keramik Dinasti Tang
Berdasarkan penelitian, temuan puluhan benda keramik di Situs Liyangan berasal dari Tiongkok atau pada masa Dinasti Tang.

Peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional Yusmaini Eriawati menyebutkan, dari sejumlah benda keramik berupa guci, teko, dan mangkuk yang telah dianalisis, semuanya berasal dari Dinasti Tang pada abad IX-X masehi atau pada masa kerajaan Mataram Kuno.

“Kami belum tahu fungsinya secara pasti karena harus dikaitkan dengan fungsi situs. Namun, diperkirakan berkaitan dengan ritual pemujaan,” katanya.

Menurut dia, keramik temuan tersebut sebagian besar berasal dari Guandong. Selain itu, dari Changsha dan Yue. Waktu itu keramik dari daerah tersebut paling populer dan diperdagangkan hingga luar daerah.

Keramik dari Guandong berkualitas menengah dan diproduksi secara massal, sedangkan keramik asal Changsha dan Yue pembuatannya dalam kontrol pemerintah sehingga termasuk barang-barang berkualitas.

Ia mengatakan bahwa adanya temuan keramik asal Changsha dan Yue mengindikasikan dahulu Situs Liyangan bukan sembarang atau dikontrol pemerintah, yang pada abad IX-X masehi dalam kekuasaan Mataram kuno. Situs Liyangan semasa dengan Prambanan dan Borobudur.

“Benda-benda keramik itu bisa milik raja, bangsawan, atau anggota keluarganya, yang pasti dalam kontrol pemerintah. Di sini yang penting temuan keramik adalah dalam kontrol penguasa,” katanya.

Ia mengatakan bahwa keramik atau tembikar produksi suatu daerah di Tiongkok memilik ciri khas tertentu sehingga memerlukan kecermatan dalam menganalisis. Keramik atau tembikar dari luar negeri seperti dari Tionmgkok ada glasirnya, sedangkan buatan Indonesia tidak.

“Kerajaan di Nusantara waktu itu jelas belum bisa memproduksi keramik. Jadi, keramik temuan ini berasal dari luar dan diketahui dari Tiongkok,” katanya.

Selain keramik dari Tiongkok, di Situs Liyangan juga ditemukan gerabah dari Vietnam dan Thailand. Namun, jumlahnya sedikit (taken from here).

Selain keramik, ada beberapa penemuan logam:

Yang ini, diduga adalah tempat abu jenazah/ penyimpanan sesuatu yang berharga (karena materialnya logam):

Apakah ini sejenis pedang?

Dan entah, apakah fungsi kedua benda logam ini:

Ada pula batu halus (yang mungkin adalah kepala kapak?):

Juga benda yang kita duga terbuat dari kayu dengan bentuk seperti ini:

Kita sempat merayu Samudi untuk membeli beberapa barang (tenang, kita tidak akan benar2 membelinya!) dan dia sama sekali tidak mau lepas. Bahkan saking takutnya, uang yang kita beri untuk menyumbang beli lem pun sempat ditolak karena khawatir kita akan meminta beberapa barang hasil galian. Pemuda hebat! Semoga rejekinya lancar..

Perkembangan terbaru? Ada makara yang ditemukan!

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com – Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Didik Nuryanto memastikan tahun 2017 ini akan dibangun empat shelter semi permanen dan dilaksanakan ekskavasi lanjutan terhadap Situs Mataram Kuno Liyangan, di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo. Untuk keperluan itu pemerintah melalui APBD akan mengucurkan dana sebesar Rp 320 juta.

“Tahun ini ada dua agenda, yakni membangun empat shelter semi permanen pada bulan April guna melindungi temuan penting sepeti arang, saka kayu, serta atab rumbia yang diduga merupakan sisa rumah penduduk pada abad ke VI sampai VIII Masehi. Kedua adalah lanjutan proses ekskavasi tahap lanjutan, rencananya bulan Juli sampai Agustus oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya Rabu (22/3).

Menurut dia, pembuatan shleter itu sangat penting sebab peninggalan sejarah era Mataram Kuno tersebut sangat rentan mengingat usianya sangat tua ssehingga jika tidak dilindungi secara maksimal bisa rusak atau bahkan hilang. Nantinya, bangunan shelter akan difungsikan untuk melindungi temuan-temuan yang rentan seperti arang, saka kayu dan atap rumbia. Benda-benda itu tertimbun oleh material letusan Gunung Sindoro seribu tahun lalu.

“Kalau untuk ekskavasi jelas dilakukan untuk melanjutkan pencarian benda-benda kuno yang mengandung nilai sejarah tinggi tinggalan masa lampau. Peninggalan-peninggalan itu disinyalir masih banyak terpendam di sekitar lokasi situs dengan luas diprediksi mencapai 12 hektare,” katanya.

Untuk mempermudah inventarisir sementara ini sejumlah benda-benda purbakala hasil temuan disimpan di salah satu rumah warga Dusun Liyangan. Kelak benda-benda itu akan dipindahkan ke museum yang rencananya juga akan dibangun di dekat area kompleks Situs Liyangan.

“Untuk biaya pemeliharaan benda kuno yang berhasil ditemukan di sekitar Situs Liyangan selama ini, kami menyediakan anggaran sebesar Rp 6 juta per tahun, termasuk untuk menyewa rumah penduduk tersebut. Kami berharap proses pembangunan shelter nanti akan berjalan lancar dan bisa digunakan sebagaimana mestinya, begitu juga dengan ekskavasi semoga bisa menemukan hal baru guna menguak misteri situs tinggalan peradaban nenek moyang ini,” katanya (taken from here).

Btw, tahukah kalian bahwa Situs Liyangan memiliki sumber air yang luar biasa? Kata Samudi, sumber air ini tidak pernah kering dan makin deras disaat musim kemarau *luar biasa*. Kita pun mendatangi sumber air tersebut..

Jalan santai saja, mengikuti jalan setapak, naik-turun bukit menuju sebuah sungai..

Sebelum tiba dilokasi, aku melihat ada kolam alam dengan genangan air yang bening. Aku sempat mengira, kolam inilah letak sumber airnya..

Dugaanku salah. Perjalanan masih lanjut, melewati perkebunan kopi yang sedang berbuah hijau. Gemericik air pun makin terdengar, nampak pula sungai kecil dengan air sangat jernih..

Dan sampailah kita, pada sumber airnya:

Mereka membangun semacam bak semen di tempat keluarnya air. Begitu derasnya air jernih yang keluar sehingga air meluber keluar dari seluruh sisi permukaan bak, bukan hanya pada lubang air. Mamiku yang emang doyan dengan sumber-sumber air, menyemparkan diri cuci muka dan meminum sedikit airnya..

Alam begitu pemurah, memberikan air terbaik untuk ratusan penduduk sekitar Situs Liyangan tanpa mengenal musim. Penduduk pun menjaga sumber air ini dengan mengawasi penggunaan dan alam sekitarnya. Andai saja air ini sedari dulu sudah ditemukan, mungkin ada candi/ arca yang akan dibangun dengan indahnya pada tempat keluarnya air sebagai penghormatan kepada kebaikan alam.

Situs Liyangan itu luar biasa! Semoga lestari..

  1. Jasa Penambang Lahar

Situs Liyangan ditemukan sejak tahun 2008 ketika dilakukan aktivitas penambangan pasir di daerah itu.  Walaupun sebenarnya telah ada larangan dari Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk tidak melakukan penambangan pasir dan batu di areal tersebut tetapi penambangan berjalan terus. Permasalahannya adalah karena daerah penambangan pasir adalah tanah milik warga yang dikontrakkan atau dibeli untuk kemudian ditambang pasirnya.

Penemuan pertama berupa talud, yoni, arca, dan batu-batu candi, penemuan selanjutnya  aalah sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kakinya da di atasnya terdapa sebuah yoni yang sangat unik. Tidak seperti biasanya yang hanya mempunyai satu lubang, yoni tersebut  mempunyai tiga lubang. Temuan terakhir yang sangat spektakuler adalah temuan rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah itu berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 m. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lagi yang baru tampak bagian atapnya saja.

Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta selama 7 hari dari tanggal 14 sampai dengan 20 April 2010 kemungkinan dua unit rumah itu adalah bangunan rumah masa Mataram Kuna. Hal ini didasarkan pada lokasinya yang berada dekat dengan temuan candi Hindu yang berada di sebelah baratnya pada jarak sekitar 50 m. Adanya profil klasik Jawa Tengah pada kaki candinya yang berupa pelipit persegi  pelipit setengah lingkaran, dan pelipit sisi genta diperkirakan candi ini berasal dari abad 9 M. Diperkirakan bangunan rumah tinggal tersebut berada dalam satu konteks dengan candi tersebut sehingga kemungkinan sejaman.

  1. Butir-butir Buah Pikir
  2. Potensi Data Arkeologi

Secara umum, potensi data arkeologis situs Liyangan tergolong tinggi, berdasarkan indikasi antara lain: luas situs, keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah yang terbuat dari kayu dan bambu, struktur-struktur bangunan batu, komponen bangunan candi, lampu dari bahan tanah liat, serta wadah tembikar berbagai bentuk. Selain itu juga diperoleh informasi berupa: 1). Struktur bangunan batu, 2). Temuan tulang dan gigi hewan, 3) sisa padi

  1. Karakter Situs Liyangan

Berdasarkan gambaran potensi hasil survey penjajagan, maka dapat disimpulkan bahwa situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. Indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, dan situs “pertanian” didapatkan di situs Liyangan. Kompleksitas karakter tersebut membawa ke pimikiran bahwa situs Liyangan adalah bekas pedusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa, mengingat inilah satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah dari masa Mataram Kuno.

  1. Luasan Situs Liyangan

Batasan imajiner situs Liyangan hasil survey meliputi batas tambang pasir sekarang hingga lokasi temuan yoni. Secara keseluruhan, luas situs Liyangan tidak kurang dari 2Ha. Di dalam area tersebut data arkeologi tersebar yang menunjukkan sebuah situs “pedusunan masa Mataram Kuno”. Mengingat sebagian besar area situs tertimbun lahar yang sekarang ditambang, sangat mungkin luasan situs jauh lebih luas dari hasil survey.

  1. Persoalan di Depan Mata

Galian tambang pasir semakin meluas dan dikhawatirkan akan merusak situs terutama adalah bangunan rumah panggung yang telah menjadi arang akan segera hancur jika aktivitas penambangan pasir tidak segera dihentikan.

  1. Strategi Penanganan
  2. Penanganan Darurat

Data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu adalah indikasi paling dominan yang menunjukkan bahwa situs Liyangan merupakan situs pedusunan masa Mataram Kuno, sekitar 1000 tahun yang lalu. Data tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia, sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia tetapi juga dalam skala internasional.

Sisa rumah tersebut beserta data arkeologi lainnya seperti struktur bangunan batu berada tepat pada dinding galian tambang pasir yang sedang ditambang. Kondisi ini sangat mengancam keberadaan sisa rumah dan data struktur bangunan batu (talud kuno).

Hal tersebut perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Temanggung untuk menyelamatkan satu-satunya bukti keberadaan dusun masa Mataram Kuno yang ada di Indonesia.

  1. Pengembangan Penelitian

Potensi dan karakter situs Liyangan sangat penting artnya bagi dunia ilmiah, antara lain arkeologi dan disiplin ilmu lain yang terkait, seperti sejarah, geologi, biologi, geografi, arsitektur, dsb. Pengembangan penelitian ini perlu dirancang dengan sasaran jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

  1. Kerangka dan Arah Pelestarian

Arah pelestarian situs Liyangan selain diarahkan pada objek-objek potensial, baik berupa bangunan, fitur lainnya, ekofak, dan artefak, juga meliputi lingkungan alami pendukung situs dan masyarakat di sekitar situs.

  1. Konsep Awal Pengelolaan Situs Liyangan

Konsep awal pengelolaan situs Liyangan sebagai asset daerah, asset nasional, maupun asset dunia pada prinsipnya berkaitan dengan aspek penelitian, pendidikan, dan pemanfaatan ekonomik sebagai dasar pengembangan situs Liyangan untuk jangka panjang

FOTO

Arca dan sejumlah komponen bangunan ditemukan di dekat talud pertama (2009):

Candi, salah satu kelengkapan Pedusunan Mataram Kuno:

Di bawah gempuran linggis penambang arkeolog bekerja:

Inilah sisa rumah di dusun itu:

(taken from here).

Share

Post to Twitter