Kios No. 9 Barata Jaya (Surabaya); Sedia Durian Lokal

Yang doyan durian ayo, kumpul sini! Lihat, nih:

Di Indonesia, durian tuh keluar di sekitar Desember hingga April. Kalau sudah akhir Februari sampai Maret, harganya sudah jadi stabil dan cenderung tidak menggorok.

Aku pribadi benernya suka dengan durian lokal, tapi rewel. Aku suka yang teksturnya buttery dan manis (tidak keberatan dengan after-taste yang sedikit bitter). Dan biasanya kalo engga merasa nemu ada durian lokal yang OK, aku berakhir dengan durian monthong.

Nah, benernya kalo durian lokal, biasanya aku beli pack-pack’an (yang biasanya sudah masuk ke kulkas). Jenis durian model gitu, kadang lebih aman sih karena kita sudah lihat isinya dan membau buahnya untuk mengira-kira manis/ tidaknya si buah.

Dan kalau mau sedikit sensasi, sebuah Kios No. 9 di Jalan Barata Jaya (seberang Narita Hotel), Surabaya bisa jadi tempat hunting durian lokal:

Kenapa tempat ini? Karena penjualnya, pernah menolakku sekali! Dengan logat Madura yang kental dia bilang, “Ojok saiki, durenku ga onok sing apik. 2 hari lagi ada duren apik, mreneo maneh yo (jangan beli sekarang karena duriannya tidak ada yang bagus, datang saja 2 hari lagi)”.

Wooh, itu yang memikatku! Apalagi penjual sebelah merayu beli durian dagangannya tanpa ampun dan baru diam setelah kita bilang, “Katanya belum ada yang bagus, mendingan ntar aja Bu, bar ga kecewa trus bisa langganan!”.

Dan 2 hari kemudian, datanglah aku berbondong-bondong dengan banyak kawan, kembali ke si Bapak penjual duren:

Beberapa duren pun kemudian dibuka dengan persetujuan kita (jadi engga dibuka secara brutal). Kalau kita cocok dengan aroma, bentuk, dsb baru deh dibukakan..

Ini, beberapa foto durian yang kita buka malam itu:

Beberapa ternyata tidak terlalu manis, namun beberapa pancen ciamik. Seperti ini, misalnya:

Ntar kalau sudah selesai makan, mereka akan sediakan air didalam baskom untuk kita cuci tangan. Engga ada sabun, tapi ada tips untuk yang makan durian lokal (bahkan durian impor yang masih ada kulitnya):

  • Taruh sedikit air di tempat bekas daging durian, pakai untuk cuci tangan. Dijamin bau durian di tangan akan langsung berkurang. Dan memang benar, sih.
  • Taruh sedikit air minum di tempat bekas daging durian, pakai untuk minum. Konon, ini bisa bikin bau durian di mulut berkurang, juga untuk mencegah panas dalam/ mabuk durian. Soal bau dimulut sih sepertinya memang berkurang namun untuk kebenaran soal panas dalam/ anti mabuk durian, aku ga jamin kebenarannya wkwkw..

Trus, pada ngeh ga, ada beberapa papan nama digantungkan bersama buah-buah durian? Ada durian Bajul, Mentega, Manalagi, dsb. Believe me, itu semua ENGGA ada bedanya!

Durian “Bajul” cuma untuk menamai durian yang bentuknya aja yang rada panjang, durian “Mentega” ya untuk durian dengan tekstur daging mirip mentega dan durian “Manalagi” ya karena duriannya enak maka pembeli diharapkan tanya “manalagi?”, gitu. Tapi semuanya adalah jenis durian yang sama, yang mayoritas didatangkan dari Sumatra.

Nah, soal pelayanan emang OK sih tapi ternyata di akhir acara aku rada kena ‘pentung’ karena kurang hati-hati. Masalah harga. Awalnya, dijanjikan harga 60ribu per butir durian namun diakhir acara, ada 3 dari total 5 durian yang dihitung 75ribu per butir (dengan alasan dibuat-buat).

Ogah ribut, akhirnya kita bayar. Tapi pada kunjungan berikutnya, tiap akan buka durian, kita tanya harganya. Ini cukup efektif mencegah kita ‘tertipu’.

Share

Post to Twitter