Bang Saleh (Malang); Nostalgia Sate dan Gule Kambing

Di tempat inilah, puluhan tahun yang lalu aku berkenalan dengan sate dan gule kambing!

Nama tempatnya ini cukup ternama, di kota Malang. Bang Saleh. Dan dari tahun 70an, lokasinya ga geser sedikitpun dari Jalan Ade Irma Suryani 42, Malang (dan TIDAK buka cabang di manapun!):

Tempat ini, seperti mesin waktu! Begitu pintu itu dibuka, wow.. rasanya seperti balik ke jaman aku masih SD, dituntun masuk kesana dan duduk sambil complain karena asap bakaran sate-nya kemana-mana, haha! Tapi waktu aku ke Bang Saleh, akhir Desember lalu.. depotnya lagi sepi. Jam 3 sore, soalnya..

Sate kambingnya, memang jadi primadona. Demikian pula dengan gulenya. Apalagi sate dan gule kalo dimakan bersamaan kan, nikmat. Tapi belakangan ini, mereka menambahkan beberapa menu baru yang masih ga jauh-jauh dari kambing:


Yeah, namanya aja lagi nostalgia. Jadi, yang dicari tentulah sate kambing dan gulenya. Dulu, aku ga bisa menikmati makanan ini. Duduk diantara orang-orang Arab berbadan besar yang lagi lahap, mendengar logat dan dialek khas mereka, semuanya terasa aneh, seperti engga lagi di Malang.. waktu itu (padahal sekarang aku menyebutnya sebagai memori yang eksotis).

Semuanya itu aku ceritakan ke 2 orang keturunan Arab yang menjaga kasir, sore itu. Mereka adalah kakak beradik, anak dari Abah Saleh (demikianlah kita memanggil si owner tempat ini).

Kedua kakak beradik yang ramah ini pun bertukar cerita denganku. Mereka menceritakan kursi-kursi tua di tempat makan mereka yang tidak berganti sejak tahun 70an, juga menceritakan Abah dan Umi mereka yang ternyata masih sehat, seperti bercerita pada kawan lama.

Tak lama, si adik berteriak kepada pegawainya untuk memberikan daging yang spesial untuk gule pesananku, “Kasih rib saja, sama daging paha! Kasih sumsum sekalian”. Woooh.. <3. Terima kasih! Ga pake lama, gule-gule pesanan pun dihidangkan disebuah piring:

Asap yang terbang meninggalkan piring, menebarkan aroma! Menggelitik perut yang benernya lagi engga terlalu lapar. Nafsu makan pun bangkit, terlebih lagi ketika piring-piring berisi nasi hangat berdatangan.

Saat aku bahkan belum sempat menyendok gule-nya, eh.. sate-sate kambing pesanan kita datang ke meja. Sungguh, datang pada waktu yang tepat:

Itu foto sate kambing yang sudah dilumuri saus kacang. Aslinya, sate-sate itu datang hanya berlumurkan kecap manis saja. Trus, ada sepiring saus kacang yang lengkap dengan kecap manis, sambal, potongan jeruk nipis dan irisan bawang merah, disajikan terpisah.

Satenya Bang Saleh ini empuk, engga alot, engga bau. Udah gitu, bumbu kacang dan aneka campurannya tuh bener-bener pas buat teman makan si sate (padahal aslinya nih, dikasih kecap manis aja udah enak).

Saranku, tambahkan si saus kacang/ kecapnya sate ke kuah gule deh! Wuish, si gule bakalan makin sedap! Kan jadi ada sensasi manis yang menyelinap *emangnya maling?* diantara rasa gurihnya gule :). Tapi, gule polosan kaya gini aja udah enak lho:

Kuahnya tuh engga encer, pake santan, berwarna kekuningan. Enak banget diseruput selagi hangat. Trus daging kambingnya empuuuk sekali, juga engga bau kambing. Bawang goreng yang ditaburkan dengan cukup berlimpah pada piring-piring gule, jelas bikin rasa makin sedap. Gurih. Porsinya juga cukup memuaskan, lho! Kalo cewe makan ini sendirian, kayanya engga abis deh..

Jujur saja, aku sudah lupa gimana rasa sate dan gule kambing Bang Saleh karena sudah hmmm, 15 atau bahkan 16 tahun tidak kesana @_@. Lha kirain, nih tempat cuma buka dari jam 5pm – 9pm, padahal kita kan kudu buru-buru balik ke Surabaya agar tidak kemalaman ketika sampai dirumah (maklum, jalanan ke dan dari Malang tuh macetnya luar binasa!). Eeh, ternyata Bang Soleh beberapa tahun belakangan ini buka terus dari pagi sekitar jam 9am sampe jam 9pm! Jadi, kali lain bisa mampir deh.

Dan obrolan dengan kedua anak Abah Saleh, sungguh jadi ending yang manis dari perjalananku ke Malang saat itu. Disaat semua orang lagi sibuk-sibuknya berteriak untuk tidak memberikan ucapan hari raya kepada para kafir, berdebat mengenai hal tersebut dan menyayangkan, aku lagi dipojok sebuah depot kecil malah ketawa bersama dengan 2 orang keturunan Arab, nostalgia masa kecil kita dan bahkan berfoto bersama.

Kangen dengan suasana seperti ini. Dulu, kawan mainku adalah 2 orang keturunan Arab yang tinggal disebelah rumah. Kita saling bertamu, main tanpa diberi wanti-wanti berlebih. Paling-paling cuman, “Jangan sampe ada yang pecah, nanti jam 4 pulang lho ya”. Udah. Eh, sekarang rasanya berteman dengan kita2 ini seperti bertemu dengan pembawa virus mematikan *sorry, ini pendapat pribadi*.

Ah, nostalgia..

Share

Post to Twitter