Bale Raos (Yogyakarta); Makan Hidangan Para Sultan

Tetap, aku engga ada gambaran mengenai apa itu BALE RAOS, JALAN MAGANGAN KULON 1, PANEMBAHAN, KRATON, YOGYAKARTA.

Kawan jalanku sedari awal pergi menyebut ama ini beberapa kali. Hanya satu yang membuatku tertarik, “Ituloh, restoran dibelakang Keraton”. Info “belakang keraton” terdengar menarik buatku. Berharap ada cipratan hawa keraton pada tempat itu.

Dan ternyata, ini yang aku dapat:

Aku mengenalinya sebagai bagian belakang dari Keraton yang biasa aku masuki disaat siang! Aku sering berpose dibalik pintu dengan anak tangga itu. Jadi, Bale Raos ini benar-benar terletak dibelakang Keraton. Nempel plek malahan, alias berada masih didalam lingkungan Keraton!

Untuk masuk ke area Bale Raos, ada gerbang seperti ini:

Oh wow, kok ada logo kerajaan ya. Tepatnya, Praja Cihna:

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki lambang Kasultanan yang disebut Praja Cihna. Selain berfungsi sebagai ragam hias di beberapa bangunan, Praja Cihna juga digunakan dalam kop surat resmi dan medali penghargaan. Adapun makna-makna yang terdapat dalam lambang tersebut adalah:
1. Songkok / Mahkota
Ageman irah-irahan prajurit. Minangka pralambang sipat satriya sarta cihnaning Nata.
Penutup kepala yang dikenakan oleh prajurit Melambangkan watak ksatria yang juga merupakan sifat seorang Raja
2. Sumping / Hiasan Telinga
Ageman tancep talingan. Ceplik, lambange urip, kayadene kembang srengenge. Godhong kluwih, saka tembung “luwih”, duwe kaluwihan. Makara, rasa dayane kanggo hanjaga rubeda, awit kuncarane kraton
Perhiasan yang diselipkan ditelinga. Giwang, yang berbentuk seperti bunga matahari, melambangkan kehidupan. Daun Keluwih, berasal dari kata “luwih” yang berarti kelebihan. Makara, melambangkan perlindungan untuk keselamatan kraton
3. Praba / Sorot Cahaya
Gegambaraning parogo ingkang kinormatan sayekti tumrap kapitayan Jawa Mataram.
Melambangkan pribadi yang dapat menegakkan kehormatan Jawa Mataram.
4. Lar / Sayap
Swiwi Peksi, lambange gegayuhan inggil kayadene sumundul angkasa.
Melambangkan cita-cita tinggi, setinggi langit
5. Tameng / Tameng
Sanjata kanggo handanggulangi salira ing palagan. Warni abrit, pralambang niat wanton jalaran hambela gegayuhan leres tumrap bebrayan, ananging mboya nilarake sipat waspada.
Senjata untuk melindungi diri pada saat perang. Warna merah melambangkan keberanian yang tanpa meninggalkan kewaspadaan untuk membela kebenaran
6. Seratan Ha Ba / Tulisan Ha Ba
Cihnaning Nata, bilih ingkang jumeneng enggeh sesilih Hamengku Buwana. Asma puniku kebak wucalan hadi luhung kacihna hamengku, hamangku, sarta hamengkoni. Warna jene pralambang Agung Binathara.
Aksara Jawa ‘Ha’ dan ‘Ba’ merupakan singkatan dari gelar Sultan yang bertahta di Keraton Yogyakarta. Gelar tersebut penuh dengan harapan luhur agar mampu melindungi, membela, serta mewujudkan kemakmuran rakyat. Warna kuning keemasan melambangkan keagungan
7. Kembang/ Sekar Padma / Bunga Padma
Sesambetane kaliyan panggesangan bilih samangke sedaya puniku ugi linambaran dateng gelare donya akhirat
Bunga teratai yang mengambang di atas air menggambarkan kehidupan dunia yang mendasari kehidupan di akhirat
8. Laler/Sulur / Tumbuhan Sulur 
Pralambang bilih panggesangan puniku lumampah kalajengan kados gesange sulur mrambat
Menggambarkan kehidupan berkelanjutan laksana sulur yang terus menerus tumbuh merambat.
Selain lambang Kasultanan, juga disusun lambang bagi pribadi Sultan. Lambang pribadi atau Cihnaning Pribadi ini bentuknya sama persis dengan Praja Cihna dengan tambahan Huruf Murda di bagian bawah helai sayap. Huruf Murda tersebut berarti angka yang menandakan Sultan yang sedang bertahta. Cihnaning Pribadi ini banyak ditemukan pada benda-benda seperti perabot rumah tangga peninggalan Sultan-Sultan yang pernah bertahta. Termasuk dalam hal ini, Cihnaning Pribadi Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 pernah dicetak dalam kertas undangan upacara pernikahan putri-putrinya (taken from here).

Ini adalah jalan masuknya:

Kemudian kalian akan menemukan 2 bangunan kembar di kanan dan kiri pintu masuk:

Disanalah kalian akan makan. Terserah kalian memilih sisi kiri/ kanan, keduanya sama saja. Kebetulan aku memilih sisi sebelah kiri:

Tempatnya klasik dengan penerangan lampu berwarna kuning, cukup nyaman dan terang. Jawak antar meja cukup nyaman dan terbuka, tanpa tambahan kipas angin apalagi AC.

Beberapa piranti, pagar bangunan dll semuanya diberi lambang Praja Cihna. Asik, ini!

Dari halaman, mengalun lagu keroncong modern. Lirik2 lagu bahasa Inggris, semua dikeroncongkan oleh 8-9 pria yang duduk dibawah pohon dengan alat musik masing-masing. Sayang, aku belom sempat memfoto mereka sebelum mereka bubar menyanyi jam 9 pm.

Bicara soal menu Bale Raos, mari deh disimak bareng-bareng:

Perhatikan baik-baik, setiap menu makanan ada keterangan singkat seperti ini (menjelaskan nama, seperti apa makanannya dan hidangan favorit sultan yang mana!!):

Yeah sodara-sodara, kalian akan icip hidangan favorit sultan-sultan Jawa!!! Hoho, menarik kan..

Sembari menunggu makanan datang, kalian bisa berjalan melihat dinding-dinding ruang makan yang dipenuhi tempelan seperti ini:

Ada juga tempelan seperti ini:

Kalau malas/ selesai berkeliling, silakan duduk santai di meja, menikmati musik dan suasana, juga keripik singkong yang diberikan cuma-cuma pada setiap meja:

Makanan yang aku pesan, semua berdasarkan rekomendasi dari waitress. Yang ini, bahkan direkomendasi oleh 3 waitress berbeda (kelihatan kan aku galau banget milih menu):

Namanya, BISTIK LIDAH, hidangan favorit Sultan Hamengkubuwono IX.

Hidangan ini, bukan steak ala Amerika. Buatku lebih cocok disebut makanan peranakan (orang babah sering masak beginian). Lidah sapinya diiris tipis, disajikan dengan saus berlimpah bersama sayur beku berbumbu dan kentang Ongklok (begitulah namanya):

Enak? Iya! Aku menikmati makanan ini sampai suap terakhir, bahkan piring makanku bersih sekali wkwkwk.. Daging lidahnya empuk, tidak bau sapi dan sausnya enak, cocok dimakan dengan sayur dan kentang model begitu (bukan mashed potato ya).

Tapi jujur saja, aku engga yakin mereka menyajikan hidangan dengan bahan sejenis kepada Sultan dengan apa yang mereka hidangan kepadaku.

Yang ini,