Bromo 2018 (Pasuruan); Komplet Pake Tips, Info, Curhat, dll

Kapan terakhir ke Bromo?

Aku, 20 tahun lalu! Damn, aku berasa auto renta hahahaha :p.

Kesempatan untuk balik ke Bromo datang saat ada tamu datang dari luar kota yang engga pernah ke Jawa Timur. Trus, karena Bromo adalah icon Jawa Timur maka cus lah kita ke Bromo.

Nah, karena aku sudah 20 tahun ini (du-wa pu-luh ta-hun!!!) engga ke Bromo, maka demi keamanan nusa dan bangsa, aku menyerahkan diriku pada JAGAD TOUR (cari aja di Instagram).

Alasannya pake jasa tour? Nih, aku break down:

  • Aku ga tahu apapun tentang Bromo di 2018!
    Aku ga tahu dimana bisa sewa jeep, dimana & bagaimana menuju titik2 melihat sunrise, makan apa & dimana. Googling? I did! Tapi entah kenapa Googling tentang Bromo dan Dieng itu sama-sama membingungkan: terlalu banyak offer. Atau aku lazy this time.
  • Tahu beres!
    Aku deal dengan 1 orang aja, tapi segala urusan mulai jemputan sampe makan siang diberesin semua oleh mereka (tentu juga termasuk urusan  sewa jeep, dsb).
  • Kita disarankan berangkat jam 12 malam. Aku bayangin ya, kalo pake sopir pribadi yang ke Bromonya juga udah 7-8 tahun lalu, malem2 gelap gitu dengan jalan berkelok, duh.. engga banget dah <– and it was a GREAT decision karena ternyata belokan2 jalan menuju Bromo tuh sesuatu banget!!! Aku sudah ke Toraja dan Toba, yang jalurnya juga berkelok tapi yang ke Bromo kemaren kok rasanya paling ‘mengguncang’ (halah) :p.
  • Aku ambil paket VIP, jadi ada breakfast dengan tempat duduk (karena aku ajak Mamiku yang punya masalah dengan kaki), plus lunch. Jadi, nambah dikit aja, tapi aku bener-bener diurus semuanya <— it’s good to be this lazy sometimes, haha!

Jadi pertama-tama, aku beneran di jemput jam 12 teng, ON TIME!!! Dan ini membuatku punya good feeling bahwa aku pakai jasa tour yang benar.

Mobilnya Innova (relatif anyar) & resik, sopirnya pria (ya iyalah) dan saaaangat sopan. ‘Hawanya’ tuh bener, jadi walau kita pergi dengan mayoritas cewe, tengah malam gitu dijemput pria asing, engga ada rasa khawatir. Ah, sayang! Aku lupa berfoto dengan driver kita.

Trus, kalo ke Bromo tuh jangan “sok muda” (just like I did). Awalnya, aku pikir gini: “Dieng kan dataran tertinggi di Jawa nih dan aku survived disana hanya dengan cardigan”, jadi aku anggap enteng Bromo.

Aku awalnya mau berangkat hanya dengan cardigan, kaos rangkap sweater, celana panjang, sepatu. Dan sepupuku mulai teriak2 protes dan mengeluarkan sederetan winter coat. Dia memaksa aku pakai, minimal dibawa <— I should thank her for this! OK.

Perjalanan dimulai. Kita langsung menghadapi kelokan2 tajam yang seolah ga berujung. Sopirnya sih stabil, santai banget sambil dengerin lagu dari radio, engga ngebut juga.

Sampai akhirnya, kita tiba di lapangan gitulah dan dia bilang kita akan melanjutkan perjalanan dengan jeep. Kita menunggu sekitar 15 menit sampai akhirnya para jeep datang (datangnya rombongan gitu kaya udah pada janjian aja).

Nah, disinilah aku dibikin sadar bahwa Bromo itu ademnya kabacuttt sodara-sodara!!! Begitu aku buka pintu mobil buat sekedar turun, aku langsung lompat balik masuk ke mobil karena kedinginan!!! Aku pake kaos kaki, pake winter coat dan akhirnya memaksakan diri turun untuk adaptasi sambil beli sarung tangan (banyak ibu-ibu yang jualan disana).

Berapa suhu malam itu? Saat malam, sekitar 5 derajat dan saat menjelang matahari terbit, suhu drop lagi sampai 1 derajat hwuahwuhaaaa… *tawa beruang kutub*.

Tips soal suhu:

  • JANGAN sombong dengan usia dan fisik prima!
    Percayalah bahwa kalian memerlukan (minimal) sweater tebal + kaos kaki + sarung tangan. Sukur2 ada winter coat! Dan dipakai ya, dipake. Jangan cuma dibawa buat gaya-gayaan..
  • Kalo bawa anak-anak dan lansia, persiapkan dengan lebih matang.
    Mereka tubuhnya lebih rentan, pakaikan baju yang lebih tebal terutama kalo musim bediding (kemarau & pohon Randu berbunga: suhu biasanya drop karena bertepatan dengan Australia winter & anginnya ke Jawa), karena suhunya bisa sampai minus.
  • Bawa & pakai sarung tangan, kaos kaki, juga masker (kalo perlu dobel masker terutama saat musim badai pasir).
    Kalau misalnya kalian engga punya sarung tangan & masker: bisa beli di Bromo, banyak ibu2 jualan (harga variatif, aku dapat seharga 10-30ribu tergantung bahan, tapi jangan kejam2 lah nawarnya, kasihan juga mereka jualan di suhu kaya gitu & tengah malam pula).

Nah, jeep pun datang! Sopir jeepnya pun baeeeekkk banget, sopan sekali dan segar padahal kita bertemu dia sekitar jam 1.30-2 am tuh. Dia bertugas mengantar kita ke titik lihat matahari terbit.

Nah, naik jeep ini butuh tenaga dan dengkul perkasa sodara-sodara (karena bodi jeep tinggi & kita bakal sering naik turun jeep). Aku bisa naik turun dengan mudah sih setelah nemu caranya, tapi bakal repot kalo bawa anak-anak & lansia.

Tips soal jeep:

  • Kalo kalian bawa lansia & pakai jasa tour, please inform mereka, supaya disiapkan kursi kecil/ pijakan untuk memudahkan naik ke jeep.
  • Kalo engga pake jasa tour, bawalah kursi kecil/ pijakan untuk memudahkan kalian naik ke jeep.
  • Bawa apapun yang kalian persiapkan saat pertama kali masuk ke Jeep.
    Aku meninggalkan air gula hangat, dos isi bakpao, dll yang semula tujuannya untuk dimakan sebagai tambahan menu sarapan.

Ada 3 titik untuk melihat matahari:

  • BUKIT KINGKONG
  • BUKIT CINTA
  • BUKIT PENANJAKAN

Penanjakan, lokasi legendaris untuk lihat matahari terbit itu kadang ditutup untuk pemeliharaan akses jalan/ alam. Kalo lagi dibuka sih engga apa kesana, tapi ini adalah bukit paling tinggi dibandingkan 2 bukit lainnya.

Dari semua opsi, Bukit Cinta adalah yang paling enteng medan jalannya. Bahkan tanpa naik (sampai puncak) pun sebenarnya matahari bisa dilihat dengan mudah.

Bukit Kingkong, terletak tepat disebelahnya. Bentuk salah satu sisinya konon mirip bagian mata dan hidung kingkong, membuatnya dinamai Bukit Kingkong.

Dari Bukit Cinta kita bisa lihat bagaimana orang-orang mendaki Bukit Kingkong (dan sepertinya mereka pun bisa melihat kita). Tapi yang ini adalah pemandangan orang yang mendaki Bukit Cinta:

Yang tampak terang dibawah sana adalah deretan warung. Jadi, kalian engga usah khawatir kelaparan. Ada banyak banget warung disekitar titik-titik melihat matahari terbit. Cuman saranku, jangan cuma makan mie instan/ jagung, tapi tambahkan protein. Paling sederhana sih dengan makan telur, karena badan butuh protein (& lemak) juga.

Medannya naiknya ke Bukit Cinta OK lah, aku yang gemuk gini aja bisa naik tanpa ngos2an (tapi emang istirahat beberapa kali). Mamiku emang berjalan lebih lambat dan butuh dibantu (dia naik dengan dituntun driver jeep kita), tapi hei.. dia sudah hampir 70 tahun & emang ada masalah dengan dengkul!

Makanya aku ketawa denger beberapa orang mengeluh sepanjang jalan, ngos2an, bilang mau pingsan dll. MANJA! Dan apa yang kalian ucapkan = akan terjadi. Kalian bilang engga kuat, dsb. Terjadilah. What you think, what you become dear.

Aku sengaja engga menunggu matahari di puncak, karena Mamiku menemukan tempat duduk di tengah tangga menuju puncak Bukit Cinta. Dan karena dia butuh duduk, OK lah aku menemaninya disana. Toh katanya matahari bisa terlihat jelas dari tempatku itu.

Aku tiba di lokasi jam 2 subuh!! Dan matahari terbit jam 4.30 am. Lalu kenapa aku naik duluan?

  • Karena rute sepi.
    Mamiku bisa jalan dengan lebih tenang, engga didorong-dorong orang.
  • Dapet spot bagus!
    Kalo kalian tujuannya hunting foto, maka naik duluan = dapet spot bagus duluan.

Sembari menunggu matahari terbit, aku fotoin awan yang malam itu menjadi atap:

 

Sembari melihat hasilnya di layar kamera, aku mikir, kita ini kecil banget ya. Alam semesta tuh besarnya engga terkira dan apakah kita sendirian saja? Eea, kok jadi bahas UFO.

Nah, saat anter Mami ke atas, driver Jeep kita bilang: “Jangan kemana-mana, nanti kalo matahari sudah terbit saya jemput kesini buat nuntun Ibu jalan turun. Trus siap-siap ya, nanti sebelum matahari terbit, suhunya drop. Pokoknya kalo tau2 kerasa dingin sekali, siap2 lihat ke arah sana (nunjuk timur)”.

ITU BENAR saudara-saudara!!! Suhu udara drop sesaat sebelum matahari terbit.

Awalnya aku anggap angin lalu saja info itu. Saat itu badanku sudah adaptasi dengan suhu Bromo yang sekitar 5 derajat itu. Aku bisa duduk santai, bisa foto-foto dan kemudian aku merasa kedinginan sampe kaya orang bego!

Aku sampe pukul2 kakiku, tepuk tangan & gosok2 telapaknya, aku pasangkan kancing2 & penutup kepala winter coat Mami dengan tangan gemetar (Mamiku sendiri udah kaku tangannya, jadi engga bisa pasang kancing jaketnya sendiri).

Lalu….  perlahan di timur, cahaya muncul dan suasana menjadi terang..

Itulah detik-detik matahari terbit. Well, katanya pagi itu kita kurang beruntung karena sinar mataharinya ‘pecah’. Tapi tetap saja lah disukuri, karena kita bisa melihat keindahan alam..

Surprised loh, ternyata ada GUNUNG BATUR dibawah sana!!! Semalam saat kita tiba, Gunung Batur sama sekali engga nampak. Jadi, ketika bumi sudah lebih terang, nampaklah si anak Bromo ini..

Biar engga bingung, mana Bromo dan mana Batok, dll.. lihat gambar dibawah ini deh (taken from here):

Nampak pula, semua orang yang bersama kita saat menanti matahari terbit haha, saat malam kita ngobrol tanpa terlalu bisa lihat wajah mereka. Lucunya, saat matahari sudah terbit, wajah-wajah nampak, kita salam-salaman, kenalan (setelah ngobrol semalaman lo hahaha!!):

Bersamaan dengan matahari terbit, datanglah penjual Edelweis dan cabe khas Bromo. Aku engga beli, tapi numpang foto saja:

Btw, sopir Jeep kita memenuhi janji. Dia datang untuk menuntun Mamiku turun. Duh, Pak.. terima kasih tenan!

Setelah turun, tujuan kita adalah mendatangi jeep (duh, buat yang suka banget Jeep ini pemandangan surga banget dah):

…  dan berangkat menuju PADANG PASIR!!!

Bromo ini emang unik. Kalian bisa dapatkan seluruh sensasi jenis-jenis alam: pegunungan, kawah, padang pasir, savana, dll hanya dari 1 lokasi! Nah, yang ini hamparan luas daerah dengan pasir dimana-mana, engga sampe kaya gurun (yang pasirnya berbukit-bukit).

Sebagai orang kota yang jarang-jarang ke alam, dikasih pemandangan gini aja udah bahagia dan terpana (padahal ntar masih ada spot foto yang lebih cakep lagi!):

Buat yang suka Jeep, once again, nikmatilah pemandangan karena Jeep-Jeep ini gagah sliweran didean mata, beraktraksi dengan gagah padahal usia rata-rata Jeep yang dipakai diatas 40 tahun whuahauha………..

Yang lebih aku suka lagi adalah rasa setia-kawan diantara para pengemudi Jeep ini kuat sekali! Ada 1 Jeep bermasalah ketika itu dan beberapa Jeep langsung mendatangi dengan spontan, menanyakan apakah butuh bantuan dsb.

Oh ya, kita engga cuma menikmati sensasi Padang Pasir, tapi juga sarapan!!! Kaya ginilah suasana sarapan kita (duh, komposisi fotonya ga asik):

Semua yang mengunakan jasa tour akan diberi sarapan sederhana, tapi karena kita ambil yang VIP, maka ada meja kursi untuk kita menikmati sarapan:

Lumayan komplet loh, masing-masing dapat air mineral, minuman hangat (driver bawa termos isi air panas!!!) dengan opsi: teh, kopi. Trus, ada mie instan, roti (murah) dan susuuuuu!!! Hahahaha, Susu Ultra kemasan kecil, rasa coklat dan strawberry. Ah, menyenangkan wkwkw :p.

Ini breakfast yang menyenangkan!! Makanannya buat kita yang lagi di Padang Pasir gitu, mewah banget (aku menyesal engga mampir warung dibawah Bukit Cinta untuk beli telur rebus/ gorengan) biar makin seru.

Full servis rek! Kita engga dibolehin beresin sarapan kita lho (mereka sangat sadar kebersihan loh, engga ada secuil pun sampah yang dibuang di lokasi, semua dibawa pergi termasuk sisa roti/ mie *bravo!!!*):

Trus yang engga ikut tour, makan dimana dong? Tenang, Bromo tuh ada banyak warung yang bisa kalian singgahi untuk sarapan dan makan siang. Makanan yang dijual biasanya mie instan, jagung, roti, soto, kadang ada sate/ ayam goreng segala. Minumannya engga jauh-jauh dari aneka pilihan teh dan kopi hangat.

Kalo mau makan disekitar Padang Pasir ya beli aja makanan dari warung untuk dimakan. Aku lihat beberapa orang bawa nasi bungkus kok.

Setelah selesai sarapan, kita menuju tempat berikutnya. Harusnya, kita akan menuju PASIR BERBISIK, tapi akhirnya kita lewati begitu saja karena kita kebelet pipiiissss!!!

Baru setelah pipis, kita balik dan foto2 di Pasir Berbisik (btw lihat bukit di bagian belakang tuh sampe putih karena badai pasir):

Btw, selama di Bromo, tiap kali pipis kudu bayar 5ribu (di toilet pun!). Yang bikin salud, tempat pipisnya tuh cukup bersih dengan air bening mengalir baik dannn… semua orang antri dengan sangat tertib!!! Engga ada acara gedor2, serobot, dsb. Tapi aku juga baca di koran, ada yang complain soal kebersihan. Nah, aku engga alami. menemukan toilet jorok soalnya. Lucky me? I guess.

Dan tempat pipisnya ternyata di uuujung buanget, di BUKIT TELETUBBIES:

Indah banget deh bukit ini apalagi di kaki bukitnya tuh terhampar SAVANA luas yang hijau:

Destinasi berikutnya, KAWAH BROMO. Aku engga naik ke kawah karena saat itu ada badai pasir. Ini foto aku ambil dari website lain:

Sepupuku berlaari menembus badai dan dia berhasil pulang-pergi kawah dengan waktu 1 jam PP, tanpa sewa kuda!! Hebat sih fisiknya.

Sopir kasih tahu bahwa kita datang di musim yang salah, sudah kemarau. Kalau kita datang tempat saat musim hujan berakhir, konon pemandangannya jauuuuh lebih indah!

Lalu? Kapan waktu terbaik ke Bromo?

  • Saat musim hujan!!! Begitulah kaya driver Jeep, karena saat hujan pemandangan indah luar biasa & musim hujan TIDAK mempengaruhi bisa/ tidaknya lihat matahari terbit.
  • Sesaat setelah musim hujan selesai! Ini buatku lebih masuk akal & nyaman (ga kebayang kan hujan2 nunggu matahari terbit). Keuntungan lain saat datang dimasa ini adalah: savananya hijau, varian bunganya lebih banyak dan pasti jauh lebih cakep lagi buat foto-foto.

Selain itu, sekitar mid year ada badai pasir seperti ini:

Kesannya engga masalah ya, tapi begitu kalian keluar dari Jeep, mata langsung ga fungsi (karena pasirnya tajam dan banyak), pakai kaca mata hitam pun tidak banyak membantu.

Pernafasan pun terganggu. Aku sempat keluar Jeep sebentar untuk merasakan badai ini dan sudah pakai 2 rangkap masker, tapi masih saja susah nafas bebas.

Ini dalam perjalanan meninggalkan Bromo, nampak disebelah kiri badai pasirnya masih ganas (yeah itu badai pasir, bukan kabut sodara-sodara):

Setelah selesai, kita benernya sudah ditunggu disebuat tempat untuk menikmati makan siang.

Tapi karena kita tahu, sopir Jeep kita tentu saja engga dapat jatah makan siang dan kasihan dengan dia yang melek sepanjang malam, maka kita memutuskan berhenti disebuah warung. Pura2nya kita pengen gorengan, tapi aslinya kita mau si Bapak makan..

Ini suasana didalam warung:

Haha, Indomie guys! Dengan telur (telurnya dibagian bawah):

Bukan Indomie yang enak karena entah kenapa rasanya aneh (padahal ini Indomie goreng itu loh). Telurnya emang model telur ceplok tapi aslinya dia engga digoreng, melainkan diceplok di air!

Sehat sih (seperti caraku bikin telor ceplok dirumah haha), tapi saat di Bromo aku pengen telor yang diceplok di minyak dan dapatnya malah yang sehat. Jadi, ya sudahlah. Anggap saja Tuhan sudah aturkan begitu, sehingga aku hidup sehat haha!

Jajanan lainnya adalah aneka GORENGAN seperti ini:

Ada SAMBAL juga:

Dannn KECAP MANIS, haha merknya iniloh keren (dan sempat rame di insta):

Selesai? Iya. Kita berpisah dengan sopir kita yang baik (saking baiknya sampe foto-foto dengan si Bapak), untuk ‘diserahkan’ kembali ke sopir pertama yang jemput kita di tengah malam di Malang itu.

Btw, I found their pic! Ini sopir yang jemput kita (aku lupa namanya *oh no!*, tapi kalo kalian mau menggunakan jasa Jagad Tour, request driver dengan kasih foto mereka aja):

Yang kiri adalah yang jemput kita di Malang (tengah malam) dan mengantarkan kita balik ke Malang. Oh God, he’s sooo nice and polite!!! Engga noisy, engga cerewet dan sangat bugar dalam perjalanan berangkat & pulang. Merasa nyaman banget ngeliat dia bugar & kenal medan jalan dengan baik. Nyetirnya pun bagus, engga ugal2an.

Yang kanan adalah sopir jeep kita, very humble, sabar dan penolong banget! Dia yang bantu Mamiku naik turun bukit Cinta, bantu Mami naik jeep, bantu foto2, yang larang kita bantu dia beresin breakfast, fotoin, kasih tunjuk lokasi-lokasi cakep. Ah, pisah dengan dia lumayan bikin melow.

Tapi sebelum pulang, kita dipersilakan masuk ke 1 bangunan rumah orang  asal Bali yang ternyata berfungsi sebagai tempat makan siang kita (ini karena kita pesan paket VIP di Jagad Tour ya):

Ini ruang makannya, terbuka dan terang. Engga terlalu resik, tapi masih OK lah:

View dari meja makanku, seperti ini:

Dan setelah menunggu sekitar 10-15 menit, meja makan kita langsung jadi seramai ini:

Nasi dan minuman hangat (teh/ kopi) bisa ambil sendiri di sebuah meja terpisah, unlimited! Tapi kita bukan pemakan carbs, jadi cukuplah nasi secukupnya dan fokus pada aneka lauk klasik yang menyenangkan ini:

Foto diatas adalah URAP-URAP. Sooo simple, pakai parutan kelapa dan sawi. Sayurnya pasti sangat fresh, secara daerah sekitar Bromo semuanya adalah penghasil sayur jempolan.

Ini aneka GORENGAN (komplet: dadar jagung, tahu – tempe, telur dadar, ayam) yang cocok dimakan dengan aneka sayur (dan sambal):

Yang ini, TUMIS PAKIS:

Dan ini, SOP SAYUR:

Plus SAMBAL:

Semua makanan diatas buatku terasa hambar. Engga ada manis/ gurih. Sopnya berasa cuma seperti air kaldu sayur tanpa bumbu, ayam dsb-nya juga engga gurih, sambal pun engga ada manis-asinnya haha. Mungkin yang masak lagi diet low sugar and sald? Hahaha, entahlah.

Oh ya, seperti yang aku lihat di Dieng, Bromo ternyata punya cabai yang serupa! Bentuknya seperti ini:

Ah, Indonesia ini istimewa emang!