The House of Raminten (Yogyakarta); Wajib Didatangi

Ini adalah salah satu tokoh yang kalian kudu jumpai (minimal patungnya) saat kulineran di Yogyakarta:

Tokoh ayu ini, punya nama Raminten. Aslinya, dia adalah versi feminim Hamzah Sulaemanowner rumah makan yang dikenal bernama THE HOUSE OF RAMINTEN, JALAN F. M. NOTO 7, YOGYAKARTA:

The House of Raminten merupakan salah satu rumah makan 24 jam yang berlokasi di Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Rumah makan ini menyajikan nuansa Jawa, baik dari alunan musik yang diputar, seragam yang dikenakan para pelayan, nama dan pilihan menu yang disediakan, serta berbagai perabotan dan ornamen yang ada.

Desain rumah makan The House of Raminten menyerupai rumah pada umumnya. Bagian teras digunakan sebagai tempat menerima tamu yang dilengkapi dengan resepsionis, televisi, kereta kencana, dan sepeda kuno untuk latar belakang berfoto. Area makan terdapat di tiga lantai, berupa meja makan berkursi atau lesehan, serta pendopo di tengah-tengah ruangan di lantai satu. Kini pendopo beralih fungsi sebagai area makan tambahan. Di belakang pendopo terdapat kamar mandi yang dilengkapi bathup, tetapi toilet yang dapat digunakan berada di samping kandang kuda, di ruangan paling belakang.

Rumah makan The House of Raminten dibuka pada tanggal 26 Desember 2008 oleh Hamzah Sulaeman. Meskipun Hamzah adalah salah seorang penerus Grup Mirota, rumah makan ini tidak diberi nama yang mengandung unsur Mirotamelainkan dari nama tokoh yang ia perankan di acara televisi Jogja TV yang berjudul Pengkolan, yaitu Raminten.

Pada mulanya, The House of Raminten menjual jamu dan nasi kucing sebelum akhirnya juga menjadi toko suvernir dan oleh-oleh khas Yogyakarta. Rumah makan ini juga awalnya menyajikan tarian Jawa sebelum ruang pendopo juga diperluas untuk area makan tambahan. Setiap pagi, para pengunjung bisa melihat proses pelukisan batik.

Rumah makan ini selanjutnya membuka cabang di Jalan Kaliurang Km 15,5, Sleman, Yogyakarta yang diberi nama The Waroeng of Raminten. Meskipun demikian, The Waroeng of Raminten memiliki desain serta menu yang berbeda serta tidak dibuka selama 24 jam (taken from here).

Begitu kalian masuk, normalnya kalian akan melihat antrian orang menunggu panggilan untuk masuk dan makan! Aku beruntung, masuk tanpa antri sama sekali. Baru setelah selesai makan, aku lihat mulai banyak orang antri (tapi ini masih ‘enteng’ nih antriannya):

Berapa lama proses antri? Aku pernah antri 2 jam, beberapa pernah menunggu 3 jam.

Makanya, betapa beruntungnya aku saat kunjungan ke-2, bisa langsung masuk tanpa antri semenit pun *praise the Lord*, wkwkwk.

Selama kalian menunggu,  kalian bisa menghibur diri dengan melihat koleksi kereta yang Raminten punya. Dibelakangnya, ada toko oleh-oleh khas Yogyakarta.

Aku sih engga beli oleh-oleh disini *nyengir*, tapi lumayan loh buat killing time. Bisa juga dengan foto-foto pernak-pernik House of Raminten, seperti ini:

Btw, langsung masuk ke tempat makannya yuk..

Enterance-nya rada sakral *halah*, pake melewati sesaji. Ga lama kemudian, ada aroma dupa juga *asekkk..*:

Ruang makannya tersebar dibeberapa bagian, di lantai 1 dan 2.

Aku kebagian tempat makan di lantai 1, dibawah tangga (tidak kefoto). Dan perjuangan untuk memesan makanan pun dimulai.

Kenapa aku sebut “perjuangan”? Karena tempat ini kayanya kekurangan pekerja. Pekerjanya selalu mondar mandir membawa makanan dan buku menu, tanpa jeda dan pengunjungnya pun emang banyak. Jadi, aku perlu beberapa kali ke bagian depan (dekat enterance) untuk meminta ada seseorang datang ke mejaku, sehingga aku bisa order.

Setelah 4x (EM-PAT kali!) mengulang ‘ritual suci itu’, akhirnya ada yang ke meja makanku dan mencatat pesanan kita! Btw, karena aku merasa bakal susah pesan tambahan menu, maka sekalian deh segala yang aku pengen, aku pesan sekaligus.

Oh ya, ini menu House of Raminten:

Sebelum bicarain makanan, aku kudu kasih tahu kalian penampilan pekerja The House of Raminten. Yang cewe, busananya seperti ini:

Itu adalah bisana weekend mereka. Kalau Senin sampai Kamis, mereka akan pakai busana lebih eksotik. Ini, contohnya (taken from here):

Busana pegawai cowonya lebih casual sih & engga aku foto. Kalian datang sendiri aja untuk lihat, wkwkwk..

Oh ya, ini hidangan yang disarankan setiap kali aku ke The House of Raminten:

Nama makanan ini eksotik. AYAM KOTEKA!

Intinya sih, ada daging ayam suwir dan kocokan telor, dimasukkan kedalam bambu dan kemudian dibakar sampai matang, disajikan dengan sambal ijo.

Surprisingly, heiii.. ini enak!!! Aduh gimana jelasinnya ya, ini enak. Ayamnya tercampur baik dengan telurnya, ayamnya banyak loh. Ada gurihnya, ada sedikit manisnya (entah dari mana) dan harganya 17ribu aja, rekkkk..

Oh God, aku mulai jatuh cinta dengan Cik Raminten haha!

Lanjut dengan menu kedua, namanya adalah PASUGATAN:

Kebetulan, menu ini adalah menu khusus Lebaran (dan yeah, aku ke Yogyakarta saat bulan puasa lalu, artikel ini langsung ditulis ketika aku balik Surabaya tapi baru bisa publish di November karena ngantri).

Intinya, ini kaya nasi campur gitulah tapi disajikan cakep banget!! Pake nasi putih yang dibentuk kaya mini tumpeng, dikelilingi lauk pauk eksotik:

Ada

PANCAKE DURIAN dipilih sebagai pencuci mulut:

Nothing special, ini seperti kebanyakan Pancake Durian yang kalian pernah makan. Pake whipped cream cukup tebal (jadi duriannya dikit aja). Bagian atasnya juga dihias dengan whipped cream dan potongan strawberry.

Buatku, OK lah dibandingkan dengan harganya. Lagian, durian loh ini! Secuil aja udah menyenangkan (apalagi kalo banyak), haha :p.

Minuman kita, hmm.. ini kalo ga salah ES TENDA:

Ternyata ini cuma setup nanas diberi sirup. OK sih, ada manisnya sirup, ada manis-asamnya nanas.

Ini ES MARKISAH:

Ya markisa biasa, cuman cakep ya dikasih biji selasih gitu.

Yang ini pesananku, ES SANTEN RAMINTEN:

Lebih kaya es teler dengan penampilan modern, pake sirup ijo dan jelly, cao, susu kental manis. Enak sih dan cuma 8 ribu loh!! Hahahaha :p.

Oh ya, ada ruangan pribadi seperti ini:

Isinya benda-benda antik, pelana kuda, dsb. Benernya boleh dimasuki, namun kudu ada pendampingan & sayangnya orang yang harusnya antar kita masuk lagi engga ada. Jadi, kudu puas cuma lihat Ibu-Ibu ini membatik di teras depan ruangan antik itu:

Good newsnya, aku engga kapok ke The House of Raminten! Jadi, ayo balik ke Yogyakarta <3.