Tahu Pong Prapatan Depok (Semarang); Legend Juga!

Temenku telpon dan tanya, “Piye, wes nyoba tahu pong?”. Aku yang bukan penggemar tahu bilang, “Belom? Apa itu Tahu Pong?”. Trus, aku diguyu temenku yang kemudian bilang, “Wes, kowe tak jempute wae, tak terke nang Tahu Pong” dan here we’re!!!

Oh, semacam penjual gorengan? Eh, tunggu dulu.. ada lembar menunya:

Ya Tuhan, apa itu Emplek, Gimbal, Pong, Kopyok, dsb? Aku sungguh engga paham. Kalo “Kopyok” aku tahu sih, keluargaku pake kata itu juga kadang (maklum, group Bokap aslinya dari Jawa Tengah), artinya “Kocok”. Lainnya? Gelap hahaha.. *cari-cari senter*.

Dan biar engga gelap2 amat, akhirnya diputuskan untuk pesan TAHU KOMPLET yang penampilannya seramai ini:

Jadi, yang namanya “Gimbal” tuh ternyata ote-ote udang kalo versi Surabaya:

Nah, Gimbal ini ntar dipotong kecil-kecil, disajikan bareng dengan aneka tahu goreng lainnya. Enak buanget ini Gimbal! Aku sampe nambah-nambah, kriuk soalnya dan bener-bener banyak tuh udangnya <3. Gurih, tapi engga se-asin ote2 ala Surabaya.

Kalo “Telor” tuh, ya telor ayam rebus biasa yang digoreng bentar. Jadi kulit bagian luarnya rada keripuk dan warnanya agak kuning – coklat muda.

“Tahu Emplek” ternyata tahu yang soft teksturnya, model-model tahu sutra gitulah tapi digoreng. Jadi, luarnya rada lebih kokoh tapi dalamnya tetap moist, halus. Nah, yang ini enak juga!

Dari semua jenis yang kruntelan di dalam piring aku bilang malah si “Tahu Pong” yang rasanya biasa aja, ya tahu goreng biasa gitu soalnya.

Nah, semua nama diatas tuh digoreng, dipotongin kecil-kecil lalu disajikan di satu piring sampe penuh banget dah:

Trus, engga gitu aja. Masih ada kuah magic yang disimpan dalam kuali kecil yang lebih tua (jauhhh) dari aku *terkesima* dan ada cap namanya lho:

Nih, isinya:

Tuh kuah coklat kehitaman, kayanya campuran cuka gitu. Disajikan bersama dengan aneka gorengan dan terpisah seperti ini (oh ya, kayanya ada bawang putihnya juga nih cuka):

Makannya, seperti ini:

Cara makannya bisa disiramkan ke piring gorengan, direndam dikit-dikit kaya foto diatas atau dicocolin, suka-suka kalian lah.

Biar lengkap, dimakannya pake acar sekalian:

Beda loh acarnya dengan kebanyakan acar lain, karena pake lobak (yaaaa, lobak!!!) yang diiris tipis. Trus, pakein sambalnya sekalian (eh, sambalnya maut nih pedasnya):

Nih sambal dibikin pake gilingan manual yang kayanya juga lebih tua dari aku.

Sedap nggemesi dan unik, emang! Engga ada deh yang model ginian di belahan dunia lainnya, kecuali di Semarang. Boleh lah ini diulang lagi.

Tahu Pong Perempatan Depok memang termasuk waroeng jadoel. Liputan di koran Sinar Harapan (sekarang sudah tidak terbit berubah menjadi Suara Pembaruan), tanggal 5 November 1978 yang klipingnya dipigura dan ditempel di gerobak, (alm) Bapak Ridwan Sunyoto, pendiri Warung Tahu Pong Prapatan Depok ini sudah 33 tahun berjualan tahu pong secara berkeliling (berarti sejak tahun 1945) kemudian mulai mendirikan warung sejak tahun 1950 seperti tertulis di daftar menunya. Pasang surut tentu dialami dalam usaha, namun bertahan sekian lama –70 tahun– di lokasi yang sama dengan satu jenis dagangan tentu sangat patut diapresiasi. Mungkin kelak anak saya juga bisa bercerita kepada anaknya bahwa eyang buyutnya juga pernah dhahar tahu pong di sini.

Variasi Menu Tahu Pong

Tahu pong dibuat dari tahu pesanan khusus yang dibuat pengrajin tahu di Mranggen (Demak). Bukan seperti tahu yang umum dijual di pasar, keistimewaan tahu ini kalau digoreng kering maka bagian tengahnya akan kosong atau kopong dalam istilah Semarang, sehingga disebut tahu pong. Kalau pesanan saya tadi, minta digoreng setengah matang, maka efek kopongnya tidak muncul. Menu yang disediakan di sini serba tahu tentu saja, seperti tahu gimbal (semacam bakwan udang yang tipis renyah), tahu emplek, tahu pong, dan tahu kopyok. Masing-masing menu tadi bisa ditambah telur. Setiap porsi cukup besar untuk 2-3 orang dengan harga mulai dari Rp 13.000 sampai Rp 24.000.

Sebagai pasangan untuk menyantap aneka olahan tahu tadi, selalu disediakan kuah yang terdiri dari air bawang ditambah kecap dan petis. Bagi yang tidak suka petis, bisa minta supaya tidak ditambahkan petis. Penyegarnya adalah acar lobak yang lebih cocok dihidangkan bersama aneka masakan tahu pong ini daripada acar timun. Menurut mbak Endang, bahkan ada pelanggan yang khusus membeli acar lobak ini untuk pengobatan. Bagi yang gemar pedas, disediakan cabai yang tidak ditumbuk (diuleg, Jw) tapi digiling dengan mesin giling tangan yang umurnya hampir setua warung tahu pong ini. Minuman yang tersedia hanya teh dan jeruk (panas atau dengan es), atau es sirup. Oh, ya.. Warung Tahu Pong Perempatan Depok buka mulai pukul 17.00 dan biasanya tutup pukul 23.00 WIB (taken from here).