Soto Bangkong (Semarang); Semarang Banget Nih

SOTO BANGKONG!

Ini yang di PEREMPATAN JALAN A. YANI – BRIGJEND KATAMSO – MT. HARYONO, SEMARANG. Bingung? Alamatnya kok rempong? Wkwkwk, lokasinya di pojokan gitu dan sopir kita sempat nyasar juga. Nah, dulunya perempatan Jalan A. Yani – Jalan MT. Haryono dan Jalan Brigjen Katamso di Semarang, dikenal dengan nama Bangkong. Itulah yang menjadi asal usul nama “Soto Bangkong”.

Tempat makannya terbuka, dengan beberapa kipas angin:

Dan 1 ruangan lebih tertutup yang dilengkapi dengan AC:

Nih Soto identik banget dengan Semarang dan yeah, marilah dijadikan sarapan pagi..

Dan datanglah, SOTO AYAM BANGKONG pesananku:

Sotonya ternyata bening, agak kuning kuahnya dan tidak berminyak *hooray!*. Ada potongan tomat segar, bawang putih goreng, rajangan kucai (ah, mirip Tulungagung nih!), suun, juga nasi dan potongan ayam tentunya :). Rasanya, hmm.. jauh beda dengan soto-soto di Surabaya dan Malang. Yang ini lebih kaya sop menurutku. Seger sih, ada tomatnya segala tapi kuahnya terlalu light. Maklum, lidah orang Surabaya biasa dihajar bumbu..

Oh ya, jangan kaget kalo si soto datang bersama teman-temannya:

Itulah lauk-lauk tambahan untuk membuat soto makin berasa aduhai. Terserah, kalo mau ya ambil aja, kalo engga mau ya monggo dicuekin. Ntar yang dibayar, ya yang kalian makan saja.

Btw, eeeh.. soto ini punya website dan lumayan ‘beres’. Cara nulisnya, designnya dsb. Setelah dibaca, dalam hati mbatin “Oooh, ada anaknya yang sekolah di Jerman”. Tapi tetap rek, Bapaknya ini yang yahud. Monggo dibaca sendiri, sejarah soto Bangkong:

Soto Bangkong adalah salah satu bukti keberhasilan pemasaran soto sebagai makanan rakyat di Indonesia. Berawal dari penjual soto keliling pada tahun 1950 dan memiliki cabang yang tersebar hampir di seluruh pulau jawa.

Kebanyakan orang mengira cabang-cabang tersebut dibuka dengan sistem waralaba, seperti KFC atau McD. Padahal, seluruh cabang tersebut dimiliki dan dioperasikan oleh keluarga H Soleh Sukarno, pendiri dan pemilik restoran Soto Bangkong pusat di Semarang, yang sekarang sudah berusia 80-an tahun. ”Semua sudah saya bagi sejak awal, biar tidak jadi masalah di kemudian hari,” kata Soleh, yang hingga kini masih selalu bangun pukul 02.30 dini hari untuk memasak sendiri soto yang dihidangkan di restorannya.

Setiap anak Soleh mendapat hak mendirikan cabang restoran Soto Bangkong sesuai jumlah anak masing-masing. Jadi, seandainya seorang anak memiliki empat anak (cucu bagi Soleh), maka ia berhak mendirikan lima cabang, yakni masing-masing satu untuk anak-anaknya dan satu untuk dia sendiri. ”Jumlah cabang Soto Bangkong tak boleh melebihi jumlah hak tersebut,” papar Soleh.

Melalui sistem itu, diharapkan sepeninggal Soleh kelak, tak terjadi rebutan di antara anak-anaknya tentang siapa yang berhak meneruskan usaha soto tersebut. Meski ”hanya” berjualan soto, aset Soto Bangkong tak bisa dipandang remeh. Jauh pada tahun 1970-an, Soleh sudah mampu menyekolahkan dua anaknya ke Jerman sampai meraih gelar sarjana dengan biaya sendiri dan naik haji hingga dua kali. Semua berkat soto.

Soto keliling
Sempat dikira berjualan soto daging kodok (bangkong dalam bahasa Jawa dan Sunda artinya katak alias kodok), Soleh memulai usaha berjualan soto keliling sejak masa penjajahan. ”Sebelum Jepang masuk, saya sudah jualan soto di daerah Peterongan. Saya belajar bikin soto dari bapak saya,” ungkap pria berdarah Sukoharjo yang lahir di Klaten ini.

Soleh berjualan soto di Semarang sampai era revolusi fisik tahun 1945. ”Waktu terjadi Pertempuran Lima Hari di Semarang, saya pulang ke Sukoharjo. Terus balik lagi ke Semarang tahun 1950 untuk jualan soto lagi,” kenang Soleh.

Dengan ikut juragan soto di daerah Karangkojo, Soleh dipercaya membawa satu angkring soto untuk berdagang di kawasan perempatan Bangkong dan sekitarnya. ”Waktu itu saya sudah berjualan di samping Kantor Pos Bangkong dari pukul 7 pagi. Kalau lagi sepi, pukul 9 malam baru pulang,” tutur ayah lima anak dari pernikahannya dengan Moesinah (almarhumah).

Cerita kelezatan soto Soleh kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan mendapat julukan Soto Bangkong. Tahun 1957, Soleh mematenkan nama tersebut dan mulai membangun warung permanen sederhana di samping Kantor Pos Bangkong, yang masih ada dan menjadi pusat dari jaringan Soto Bangkong sampai kini.

Apa resep kelezatan Soto Bangkong sehingga digemari mulai dari rakyat jelata hingga pejabat negara? ”Resepnya sama saja dengan soto lain, tak ada yang rahasia. Tetapi intinya, kalau kita sudah senang mengerjakan sesuatu, kita harus membagi kesenangan itu dengan orang lain. Mulai dari masak soto sampai melayani pembeli, saya lakukan dengan senang, dengan krenteg, supaya rasa senang itu ikut dirasakan orang yang memakannya,” ujar Soleh.

Semangkuk soto sederhana pun bisa menjadi istimewa saat diberi sentuhan cinta (taken from here).

Sekalian ini:

Soto bangkong, mendengar namanya terasa unik. Dinamakan Soto bangkong karena letaknya di daerah Bangkong itulah orang Semarang menyebutnya dengan sebutan “Soto bangkong”.

Tidak susah menemukan lokasi warung soto bangkong itu. Papan nama berukuran besar bertuliskan “Soto Ayam Bangkong Samping Kantor Pos Bangkong” terlihat jelas seperlemparan batu dari perempatan Bangkong, sekitar 1,5 kilometer ke timur dari arah Simpang Lima,Semarang. Tepat disamping papan nama tersebut Pak Sholeh Soekarno (96) dan keluarganya berjualan soto.

Soto bangkong  telah berdiri sejak tahun 1950 itu, berawal dari perjuangan selama sepuluh tahun lebih Pak Sholeh berjualan soto pikul. Sejauh sekitar limakilometer, dari Pasar Langgar hingga Pasar Peterongan pulang-pergi, Pak Sholeh kala itu berjalan kaki memikul angkring bambunya. “Saya berjualan berangkat dari rumah mikul soto mulai jam 7 pagi hingga jam 5 sore, paling ramai di samping kantor pos ini, sejak dulu.” Sudah lebih dari 60 tahun Pak Sholeh merintis usaha warung soto miliknya itu sampai sekarang.
Soto Bangkong adalah salah satu dari rumah makan di Semarang yang menyajikan Soto sebagai menu utamanya. Nama Bangkong diambil dari nama tempat dimana rumah makan ini didirikan untuk pertama kali yaitu di perempatan Jl. A. Yani, Jl. MT Haryono dan Jl. Brigjen Katamso yang biasa disebut Bangkong. Dalam perkembangannya Soto Bangkong tidak hanya ada di Semarang, karena telah membuka cabang di berbagai kota di Jawa.

Wajahnya selalu penuh senyum. Lihat juga penampilannya. Memakai peci hitam, kemeja lengan pendek, celana panjang bercelemek seperti seorang cheef dengan sabuk melingkar diperut yang selalu menjadi ciri khas bapak lima anak itu. Walaupun telah lanjut usia Pak Soleh dengan dibantu beberapa karyawannya tetap setia menjalankan usahanya. Bahkan, telah membuka warung cabang. Selain beberapa cabang di dalam kota juga hingga cabang di Jakarta dan Bandung. “Ya, kalau kesel, saya istirahat. Sekarang wis tuwo, cepet kesel,” katanya dengan senyum.

Makanan yang disajikan di warung Soto bangkong ini utamanya adalah soto ayam. Soto bangkong yang disajikan sekilas terlihat sama dengan soto-soto ditempat lain tapi jika dirasakan yang menentukan perbedaan dan kelezatannya adalah rasa kuahnya yang gurih. Walaupun begitu, menurut Pak Sholeh yang terpenting adalah rasa suka dan cocok yang menjadikan pelangganya mau datang lagi. “Sejak dulu tidak ada resep khusus atau resep rahasia, bumbunya sama dengan soto yang lain. Yang penting bumbunya pas dan pembeli jadi kangen datang lagi. Ibaratnya, warung ini pohon, kalau dirawat dikasih pupuk yang baik pasti akan berkembang”.

Selain soto bangkong  ada juga ayam goreng dan garang asem sebagai menu pilihan lain. Namun pelanggan biasanya datang, kebanyakan tentu saja untuk menyantap soto bangkong  atau soto ayam  seharga Rp. 8.000 per porsi itu. Sebagai pendamping makan soto, disediakan sate ayam, sate kerang, sate telor,tempe, perkedel dan berbagai variasi minuman panas dan dingin.

Dirintis dari etalase kecil dengan menjual lauk ibarat hanya sebanyak tiga ayam, tiga telur, dan tiga ikan yang pelanggannya dulu hanya pegawai dan karyawan kantor. Kini, pelangggannya cukup beragam, termasuk pejabat kota, pejabat provinsi hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla pada beberapa tahun yang lalu pernah datang berkunjung untuk mencicipi kuliner legendaris ini (taken from here).

Lokasi lainnya: