Grill Me (Surabaya); Surprisingly Good!

Aku sering banget lewati Raya Nginden, Surabaya dan ngelihat ada ‘gerbang’ yang cukup menarik, pakai atap rumbai gitu. Posisinya engga terlalu mencolok, tapi entah kenapa juga cukup eye catching.

Kalau kalian masuk ke dalamnya, kalian akan ketemu tempat makan seperti ini (nih tempat melebar dibagian belakang):

Tempat ini bernama GRILL ME, JALAN RAYA NGINDEN 16, SURABAYA.

Begitu lihat tempatnya, eeh entah kenapa pula kok aku menjadi yakin nih tempat kayanya emang layak dicoba makanannya. Lihat saja sendiri:

Tempat makannya tuh engga full bangunan berat, cuma pakai beberapa bambu besar, dinding bekas kontainer yang di cat warna kuning cerah (aku suka kuningnya!), atap rumbai, lantai semen, sangat terbuka (sehingga udara bebas keluar – masuk) & pakai kipas angin besar (dan sama sekali engga berasa panas padahal suhu kota ini mulai meningkat tajam). Sepertinya, mereka mau semi menghadirkan suasana pantai (yang emang asik buat BBQ-an), karena taman yang ditengah itu pakai pasir pantai, tumbuhan tropikal dan ban warna warni.

Mari lihat menunya:

Jadi, intinya kalian pilih aja mau ayam/ daging/ ikan/ cumi/ udang. Lalu, pilih rasa yang kalian mau (yang dijempoli adalah yang direkomendasi). Kalo mau heboh, pilih tambahan mie/ mozarella/ telur/ rumput laut/ dll. Ntar bisa dimasak bersama dengan daging2 yang kalian pilih.

Ntar kalian langsung dapat seperangkat alat makan seheboh-hebohnya (gunting, sendok, garpu, sumpit, penjepit, kuas masak):

Kalian juga langsung dapat butter untuk panggang daging2nya (yeah, pake butter karena daging yang disajikan cenderung engga berlemak):

Yang ini pun, free! Dan mendadak aku mikir, “Oh ini maksudnya ala Korea gitu tah? Korea distrik Nginden wkwkwk”. Lha ini kan mirip banchan gitulah, Macaroni – Jagung – Mayo gitu deh:

Yang ini acar (juga mirip banchan kan):

Ada juga ini:

Mau dibilang sambal, kok ya engga mirip sambal. Pedasnya mild saja, kental. Trus yang hitam di kanan tuh kecap manis deh kalo ga salah mengenali wkwkw :p. Soooo Indonesia! Tapi style nyerempet Korea.

Ga lama, pesananku datang. Yang ini CHIKEN RENDANG:

Hmm, aku bukan penggemar rendang, tapi mendadak penasaran dengan ayam yang dibumbui rendang. Daging ayamnya dipotong memanjang, cukup tipis dan sepertinya bukan bagian dada (saja). Bumbu rendangnya tidak sekental yang di rumah makan Padang dan cukup berlimpah, melumuri semua daging ayamnya.

Ini, SMOKED CHICKEN:

Ini adalah yang paling mahal dari segala jenis ayamnya. Sejak awal, aku tahu nih ayam bakalan dibumbui secara kimia(?), bukan diasap beneran (kalo diasap beneran dagingnya bakal nyampe dalam kondisi matang kan harusnya?). Sepertinya juga engga bagian dada ayam saja yang dipake, aku menduga ada bagian paha juga..

Dan yang ini, BEEF BULGOGI:

Dagingnya dibumbui dan kata si waiter, rasanya manis. Bumbunya engga nampak (jika dibandingkan dengan si rendang), juga engga ada aroma bumbu.

Wujud dagingnya emang ‘caut marut’, kirain tuh beef slice tapi kemudian sadar, iniloh harga berapaaa.. kok aku ngarep beef slice haha (cecak pun ikut ketawa nih ceritanya). Dagingnya OK, kesat dan engga bau. Jujur, aku juga rada kuatir daging ini ntar engga empuk. Tapi kita kudu panggang dulu kan ya, sebelum tahu tekstur dagingnya gimana..

Alat panggangnya seperti ini (niat rek, bagian dalamnya tercetak logo dan nama Grill Me!):

Aku dapat tawaran untuk dibantu memasak daging2 pesanan. Ah, engga usahlah. Perasaan, malah di acara masaknya inilah serunya tempat makan ini kan?

Hmm, pada kunjungan pertama aku cuma pergi ama Mami dan se-keren2nya Mami, dia ini picky eater. Aku sama sekali engga berdaya. Menu yang bisa aku pesan cuma serba ayam dan sedikit sapi. No keju. No mie. No acara eksperimen. Padahal tangan sudah gatal ngotak atik pesanan haha :p.

Nih pesananku haha, polos banget, cuma dipanggang apa adanya dengan butter (ya disaat iniloh benernya pengen tuang mie, nasi, keju dll haha!):

Yang kiri: Beef Bulgogi. Yang kanan atas: Smoked Chicken. Kanan bawah: Chicken Rendang.

Rasa? Nah ini dia.. Awalnya, setelah lihat harga aku sudah bilang ke diri sendiri untuk engga pasang standar terlalu tinggi. Makanya, aku engga kaget-kaget amat ngelihat wujud daging yang datang. Tapi aku kaget ketika daging-daging ini matang.

Daging sapinya, empuk! Bahkan hampir engga ada tekstur kenyalnya sama sekali. Anak kecil pun akan mudah memakannya (dengan mudah). Cuman menurutku, rasanya terlalu manis.

Daging ayam? Jelas empuk. Si Smoked Chicken, berasa banget “smoked”-nya. Kita bikin ‘kesalahan’ sih. Karena dagingnya putih kaya engga dibumbui, Mami nambahin kecap asin dan jadinya si ayam berasa terlalu asin. Benernya dipanggang begitu saja, cukup (dan bakal lebih enak rasanya).

Yang Chicken Rendang, enak!!! Engga terlalu pedas, rasanya susah dijelasin (karena menurutku juga engga terlalu mirip rendang). Aroma bumbunya menjadi lebih sedap setelah dipanggang. Enak dimakan gitu saja, enak juga dimakan dengan nasi.

Oh iya, aku pesan semangkok NASI untuk teman makan:

Tapi ya cuma untuk dimakan dengan daging yang sudah matang saja, padahal ada opsi untuk menuangkan nasi ke panggangan dan mencampurnya dengan daging, bumbu-bumbu, dll. Nanti lah, kalo balik bareng temen..

Balik? Pasti!