Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta); Malam Hari!

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat at night, judulnya.

Aku rasa ini adalah kesempatan yang engga boleh dilewatkan; berkunjung ke bagian Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk makan malam (ramai-ramai) bersama Sri Sultan Hamengkubuwana X.

Jadi, aku batalkan sekian acara lain dan tadaaa.. kita tiba di bagian Tratag Rambat yang kini lebih familiar disebut Bangsal Pagelaran:

Bangunan utama adalah Bangsal Pagelaran yang dahulu dikenal dengan nama Tratag Rambat. Pada zamannya Pagelaran merupakan tempat para penggawa kesultanan menghadap Sultan pada upacara resmi. Sekarang sering digunakan untuk even-even pariwisata, religi, dan lain-lain disamping untuk upacara adat keraton. Sepasang Bangsal Pemandengan terletak di sisi jauh sebelah timur dan barat Pagelaran. Dahulu tempat ini digunakan oleh Sultan untuk menyaksikan latihan perang di Alun-alun Lor.

Sepasang Bangsal Pasewakan/Pengapit terletak tepat di sisi luar sayap timur dan barat Pagelaran. Dahulu digunakan para panglima Kesultanan menerima perintah dari Sultan atau menunggu giliran melapor kepada dia kemudian juga digunakan sebagai tempat jaga Bupati Anom Jaba. Sekarang digunakan untuk kepentingan pariwisata (semacam diorama yang menggambarkan prosesi adat, prajurit keraton dan lainnya). Bangsal Pengrawit yang terletak di dalam sayap timur bagian selatan Tratag Pagelaran dahulu digunakan oleh Sultan untuk melantik Pepatih Dalem. Saat ini di sisi selatan kompleks ini dihiasi dengan relief perjuangan Sultan HB I dan Sultan HB IX. Kompleks Pagelaran ini pernah digunakan oleh Universitas Gadjah Mada sebelum memiliki kampus di Bulak Sumur (taken from here).

Aku sudah beberapa kali berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, termasuk ke bagian Bangsal Pagelaran ini. Tapi semuanya berasa beda karena ini malam hari!

Dan hahaha jujur saja, patung-patung ini memang wow. Dilihat saat siang saja udah bikin imajinasi kemana-mana, apalagi malam hari. Selama aku sliweran (karena engga bisa duduk diam & berharap nemu banyak hal yang bisa difotoin), rasanya patung-patung ini mengawasi! Sungguh, sebuah imajinasi yang terlalu mainstream.

Sedikit ke belakangnya, ada anak tangga untuk menuju bangunan yang lebih tinggi: Siti Hinggil Ler!

Bagian ini salah satu sudut favoritku di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, selain karena seorang Abdi Dalem pernah menginformasikan bahwa inilah lokasi pelantikan Presiden 1 Republik Indonesia, bagian berkanopi di puncak tangga bisa membuat suara menjadi lebih besar tanpa gema. Disanalah konon para Sultan bersabda kepada rakyatnya yang duduk di Alun-Alun Lor (alun-alun yang ada beringin kembarnya ituloh).

Di selatan kompleks Pagelaran terdapat Kompleks Siti Hinggil. Kompleks Siti Hinggil secara tradisi digunakan untuk menyelenggarakan upacara-upacara resmi kerajaan. Di tempat ini pada 19 Desember 1949 digunakan peresmian Universitas Gadjah Mada. Kompleks ini dibuat lebih tinggi dari tanah di sekitarnya dengan dua jenjang untuk naik berada di sisi utara dan selatan. Di antara Pagelaran dan Siti Hinggil ditanami deretan pohon Gayam (Inocarpus edulis/Inocarpus fagiferus; famili Papilionaceae).

Di kanan dan kiri ujung bawah jenjang utara Siti Hinggil terdapat dua Bangsal Pacikeran yang digunakan oleh abdi-Dalem Mertolulut dan Singonegoro sampai sekitar tahun 1926. Pacikeran barasal dari kata ciker yang berarti tangan yang putus. Bangunan Tarub Agung terletak tepat di ujung atas jenjang utara. Bangunan ini berbentuk kanopi persegi dengan empat tiang, tempat para pembesar transit menunggu rombongannya masuk ke bagian dalam istana. Di timur laut dan barat laut Tarub Agung terdapat Bangsal Kori. Di tempat ini dahulu bertugas abdi-Dalem Kori dan abdi-Dalem Jaksa yang fungsinya untuk menyampaikan permohonan maupun pengaduan rakyat kepada Sultan.

Bangsal Manguntur Tangkil terletak di tengah-tengah Siti Hinggil di bawah atau di dalam sebuah hall besar terbuka yang disebut Tratag Sitihinggil. Bangunan ini adalah tempat Sultan duduk di atas singgasananya pada saat acara-acara resmi kerajaan seperti pelantikan Sultan dan Pisowanan Agung. Di bangsal ini pula pada 17 Desember 1949 Ir. Soekarno dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat. Bangsal Witono berdiri di selatan Manguntur Tangkil. Lantai utama bangsal yang lebih besar dari Manguntur Tangkil ini dibuat lebih tinggi. Bangunan ini digunakan untuk meletakkan lambang-lambang kerajaan atau pusaka kerajaan pada saat acara resmi kerajaan.

Bale Bang yang terletak di sebelah timur Tratag Siti Hinggil pada zaman dahulu digunakan untuk menyimpan perangkat Gamelan Sekati, KK Guntur Madu dan KK Naga Wilaga. Bale Angun-angun yang terletak di sebelah barat Tratag Siti Hinggil pada zamannya merupakan tempat menyimpan tombak, KK Suro Angun-angun.

Nah, kanopi ini yang aku maksud:

Benernya, aku bisa masuk lebih ke dalam lagi, ke ruang ganti para penari, tapi sayang.. nyaliku luar biasa kecil!

Awalnya, aku masuk ke bagian ini untuk mengejar salah satu Abdi Dalem kecil yang dulu digendong-gendong Mami & sekarang sudah besar, sudah bantuin para penari membawa kostum. Nama anak itu Rifki/ Rizki, gitulah.

Tapi aku ragu, boleh gak aku masuk.. Begitu aku nekad masuk, eh tuh anak sudah rada jalan jauh didepanku dan aku (sekali lagi) takut!!! Hahahahaaha (siapa bilang sering ke candi bikin aku berani ke tempat2 semacam ini).

Jadi nih, fotonya aku balik kucing..

Bayangin, dari sekitar posisiku berdiri mengambil foto, ratusan tahun lalu seorang Sultan mengeluarkan sabda/ berdialog dengan rakyatnya. Ah, keren!

Btw, dikanan kiri posisiku berdiri, ada semacam rumah-rumahan yang dahulu dipakai Abdi Dalem berteduh sembari menjaga Sultannya:

Malam itu, rumah-rumahan itu dipakai Abdi Dalem beneran untuk makan malam! Asik banget, dapet gambaran gimana kira-kira suasana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat jaman dulu (andai saja lampunya engga seterang itu dan pake cahaya api), whohooo..

Bicara soal makan malam, berikut ini kesibukan dapur dadakan yang menyiapkan makan malam kita:

Didekat mereka, berjajar meja panjang berisi aneka makanan yang terus-terusan ditambah jumlahnya:

Ini baru beberapa menu sih. Engga semuanya aku makan, nothing special pula (yang spesial kan acara masuk keraton & ketemu Sultannya). Btw ini disediakan jasa katering, bukan dapur keraton.

Oh ya, malam itu ada tarian juga loh, di panggung depan tempat makan kita:

Segala kesibukan dibelakang panggung, asik dilihat:


Btw, masih ada sesaji dan orang yang terus berdoa selama acara dilangsungkan! Ini foto saat makam malam dimulai, semua semburat sesaat, ambil nasi kotakan dan makan berkelompok dengan kawan2nya.

Oh ya, aku akhirnya ajak bolo buat ke belakang keraton (guess, kita ber-3 semuanya mundu, engga berani masuk terlalu dlam hahaha) dan milih foto-foto sajalah di beberapa tempat: