Museum Sonobudoyo (Yogyakarta); Sejak 1934

Aku berkesempatan kembali ke Yogyakarta, tapi hanya 2 hari dan ada banyak acara. Saking sibuknya, sampai engga sekali pun lihat candi!!! Lihat dari kejauhan aja engga, apalagi datang ( _ _”), padahal aku ngarep minimal lihat Candi Kalasan dari pinggir jalan.

Tapi ga apa, lah. Aku masih bisa ‘kabur’ sejenak, mendatangi MUSEUM SONOBUDOYO, JALAN PANGURAKAN 6, YOGYAKARTA. Dan itu cukup menghibur <3.

Bagi yang hendak berkunjung, tolong perhatikan jam kunjungnya:

  • Senin ( + hari besar): tutup
  • Selasa – Kamis: 08.00 – 15.30 WIB
  • Jumat: 08.00 – 14.00 WIB
  • Sabtu & Minggu: 08.00 – 15.30 WIB

Ada pertunjukan wayang, lho! Jadwalnya, Senin – Sabtu: 20.00 – 22.00 WIB

Sedangkan tiket masuknya (harga 2018):

  • Dewasa Perorangan: Rp. 3.000,-
  • Dewasa Rombongan: Rp. 2.500,-
  • Anak–Anak Perorangan: Rp. 2.500,-
  • Anak–anak Rombongan: Rp. 2.000,-
  • Wisatawan Asing: Rp. 5.000,-
  • Pagelaran Wayang: Rp. 20.000,-

Belum apa-apa, di pintu masuk, aku menemukan ini dan sudah bahagia melihat ke-kunoan-nya (lebai):

Museum Sonobudoyo dulu adalah sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Yayasan ini berdiri di Surakarta pada tahun 1919 bernama Java Instituut. Dalam keputusan Konggres tahun 1924 Java Instituut akan mendirikan sebuah museum di Yogyakarta. Pada tahun 1929 pengumpulan data kebudayaan dari daerah Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia Perencana Pendirian Museum dibentuk pada tahun 1931 dengan anggota antara lain: Ir.Th. Karsten P.H.W. Sitsen, Koeperberg (taken from here).

Masuk ke dalam, ada ruangan kaca yang dibagian luarnya bertuliskan peraturan bagi pengunjung (untung, tidak ada larangan foto!!!):

Dan inilah, ruangan terdepan dari Museum Sonobudoyo:

Isinya gamelan! Dan lihatlah meja dengan beberapa orang duduk disekitarnya. Aku datang kesana, minta seorang Tour Guide mengantarku keliling. Yeah, biasakan hal ini kalian lakukan di museum/ tempat2 wisata (terutama sejarah), karena pasti ada banyak hal menarik yang perlu penjelasan.

Akhirnya, seorang pria ‘beruntung’ menjadi Tour Guide-ku. Biaya? Free, sodara-sodara (tapi kasih tips untuk ucapan terima kasih, lah). Sembari menunggu dia bersiap-siap (menjadi Tour Guide), aku memfoto beberapa banner didekat meja tersebut:

Museum ini menarik! Lokasinya sangat dekat dengan keraton, menjadikan gaya bangunannya cantik sekali. Hanya beberapa langkah dari meja tempat para Tour Guide berkumpul, aku menjumpai hiasan pintu/ lubang udara yang secantik ini, dengan lambang Keraton:

Bukan sembarang ukiran! Semuanya punya arti dan filosofi (oh God, nenek moyang kita sungguh istimewa!!!). Nih ukiran bisa dibaca sebagai:

“Buta ngrasa estining lata”, yang bisa ditranslate menjadi angka tahun 1865 Jawa, alias tahun 1934 Masehi. Itulah tahun pembuatan museum ini.

Bangunan museum menggunakan tanah bekas “Shouten” tanah hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan ditandai dengan sengkalan candrasengkala “Buta ngrasa estining lata” yaitu tahun 1865 Jawa atau tahun 1934 Masehi. Sedangkan peresmian dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana VIII pada hari Rabu wage pada tanggal 9 Ruwah 1866 Jawa dengan ditandai candra sengkala “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha” yang berarti tahun Jawa atau tepatnya tanggal 6  Nopember 1935 tahun Masehi. Pada masa pendudukan Jepang Museum Sonobudoyo dikelola oleh Bupati Paniradyapati Wiyata Praja (Kantor Sosial bagian pengajaran). Di jaman Kemerdekaan kemudian dikelola oleh Bupati Utorodyopati Budaya Prawito yaitu jajaran pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selanjutnya pada akhir tahun 1974 Museum Sonobudoyo diserahkan ke Pemerintah Pusat / Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan secara langsung bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal dengan berlakunya Undang-undang No. 22 tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan Propinsi sebagai Otonomi Daerah. Museum Sonobudoyo mulai Januari 2001 bergabung pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY diusulkan menjadi UPTD Perda No. 7 / Th. 2002 Tgl. 3 Agustus 2002 tentang pembentukan dan organisasi UPTD pada Dinas Daerah dilingkungan Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan SK Gubernur No. 161 / Th. 2002 Tgl. 4 Nopember tentang TU – Poksi (taken from here).
Keren! Wkwkw..
Museum Negeri Sonobudoyo ini menyimpan 10 Jenis Koleksi :
  1. Jenis Koleksi Geologika
  2. Jenis Koleksi Biologika
  3. Jenis Koleksi Ethnografika
  4. Jenis Koleksi Arkeologi
  5. Jenis Koleksi Numismatika/ Heraldika
  6. Jenis Koleksi Historika
  7. Jenis Koleksi Filologika
  8. Jenis Koleksi Keramologika
  9. Jenis Koleksi Senirupa
  10. Jenis Koleksi Teknologika (taken from here).

Koleksi pertama setelah aku melewati ruangan penuh gamelan adalah:

Kalau tidak salah, ini adalah semacam Ruang Dewi Sri atau pasren dan usianya sudah sekitar 2,5 abad! Hal itu bisa diketahui dari ukiran bagian belakangnya yang diterjemahkan seperti ini:

Whohooo.. Btw, tempat lampunya sekarang sudah di modifikasi (masa 2,5 abad lalu sudah ada listrik?) dengan menambahkan kabel listrik sehingga bisa menyala seperti ini:

Di kirinya, ada jajaran koleksi seperti ini:

Dan diruangan sebelah kanan Ruang Dewi Sri, berjajar koleksi logam. Yang ini, adalah salah satu yang istimewa:

Koleksi logam yang satu ini merupakan lonceng dengan detail luar biasa indah dan ukuran yang relatif besar (dibandingkan lonceng apapun yang sebelumnya pernah aku lihat di museum2 Indonesia).

Yang membuat lonceng/ genta besar ini makin istimewa adalah fungsinya di masa lampau. Lonceng/ genta besar ini, adalah lonceng dari Candi Kalasan, candi Buddha tertua di kawasan Yogyakarta!

(taken from here).

Lihatlah sekali lagi, betapa indahnya lonceng ini! Kemampuan nenek moyang kita membuat kerajinan logam dengan filosofi mendalam, detail rupawan dan ukuran besar seperti ini, sungguh luar biasa! Ini benar-benar sebuah maha karya seni indah yang harus dijaga, dilestarikan, dihargai:

Trus, apa fungsi dari lonceng/ genta yang sebesar dan sebagus ini?

Bisa dilihat antara lain genta kalasan, berupa genta gantung yang ditemukan pada 1972 dekat Candi Kalasan. Genta ini berfungsi untuk memanggil dewa dan mengusir roh jahat dalam upacara keagamaan (taken from here).

Dan mahluk di puncak lonceng/ genta ini adalah singa (menarik lho para singa yang terukir sebagai arca/ hiasan/ ornamen pada benda-benda purbakala di Jawa karena engga ada singa hidup di hutan-hutan Indonesia):

FYI: Kalau kalian Googling mengenai “Lonceng Candi Kalasan”, tidak banyak informasi yang keluar. Maka aku mencoba keyword lain, “Genta Candi Kalasan” dan ada lebih banyak informasi yang bisa didapatkan.

Koleksi lainnya:

Dari sekian banyak koleksi logam, ada beberapa yang kondisinya masih istimewa dan familiar buatku, tapi yang satu ini yang juga bisa dibilang istimewa!

 
Apa yang membuatku tertarik? Well, arca-arca yang biasa kita lihat, biasanya sudah di penggal kepalanya. Yang ini, malah cuma kepalanya saja.
Ukirannya indah (biasanya ada saja yang digambarkan tidak seindah ini), menandakan siapapun yang digambarkan, pastilah sosok yang dihormati. Maka, aku pun mencari tahu siapakah sosok ini..

Salah satu peninggalan purbakala yang ditemukan di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran adalah sebuah patung kepala dewa yang berlapis emas. Penemuan patung kepala dewa pada tahun 1956 ini oleh para arkeolog dan saat ini disimpan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta yang lokasinya berada di sebelah utara Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Patung Kepala Dewa berlapis emas ditemukan di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, kecamatan Patuk, kabupaten Gunungkidul.

Kondisi patung kepala dewa berlapis ini cukup terawat dan tersimpan aman di dalam etalase kaca museum. Keberadaan patung kepala dewa di Museum Sonobudoyo ini saya peroleh saat berkunjung ke kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Meskipun lapisan emas sudah banyak yang mengelupas, tekstur ukiran patung masih cukup terlihat jelas.

Patung kepala dewa ini dibuat dari logam perunggu yang dilapisi oleh emas, berbeda dengan arca yang tertinggal di halaman rumah penduduk dekat kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran yang merupakan arca batu. Bila dilihat secara kasat mata, patung kepala dewa tersebut merupakan patung Budha karena terlihat dari bentuk motif hiasan kepala. Namun dari penjelasan menunjukkan bahwa patung kepala tersebut merupakan lambang dewa Budha. Namun saya kurang begitu paham apakah ada kesamaan atau perbedaan antara Buddha dengan dewa Budha (taken from here).

Setelahnya, ada koleksi wayang. Tapi eits, ini bukan sembarang wayang! Ada beberapa jenis wayang yang sebelumnya belum pernah aku lihat:
Ada juga deretan baju daerah & batik:
Kemudian ruangan berisi topeng:
Yang satu ini, adalah replika karena topeng aslinya yang terbuat dari emas telah raib dicuri:
Tidak itu saja, lebih tepatnya ada beberapa benda yang terbuat dari emas dan arca, hilang dari museum ini (dan semuanya tidak ditemukan):
Totalnya: 87 benda, raib!!!
Selain itu, ada beberapa arca bergaya Bali dan beberapa ornamen dari beberapa candi disekitar Yogya yang diletakkan diluar ruangan. Semuanya aku foto one by one:
Ini yang ditempatkan diluar:
   
Dan dari semua koleksi di halaman luar, ada 1 yang paling menarik:
Kedua dwarapala ini aku foto tanpa mengenali asal usulnya. Tapi aku fotoi detailnya karena aku yakin, dwarapala dengan ukuran segitu, juga dengan detail luar biasa dan indah (ooh lihatlah detail kain, rambut, belati, SEMUANYA LUAR BIASA!!!), pastilah bukan dari sembarang candi. Eh, ternyata beneran!
Mereka berdua adalah dwarapala Candi Kalasan!!!! Aku baru tahu loh, Candi Kalasan sempat punya dwarapala. Luar biasa!