Bikin Passport (Surabaya); Tanpa Calo!

Sudah dengar cerita apa saja tentang acara bikin/ perpanjang passport (di Surabaya)?

Mari dengar dari versiku, karena minggu lalu aku baru saja memperpanjang passport yang sudah 1 tahun mati dan seperti biasa, aku tidak pakai calo. Jadi, pengalamanku ini legal *wink*.

DAFTAR ONLINE DULU!

FYI, sekarang semua permohonan pembuatan/ perpanjangan passport HARUS pakai aplikasi online/ ke website Direktorat Jendral Imigrasi terlebih dahulu. Jadi, tidak ada acara antri ambil formulir jam 2 pagi/ diporotin calo.

Keyword untuk mempermudah dapat informasi membuat passport adalah “ANTRIAN PASSPORT”. Ada aplikasi dengan nama yang sama yang bisa kalian download dari HP android saja (yang pake iphone: engga bisa).

Kalau tidak punya HP android/ pakai iphone/ malas jempol bengkak, maka silakan click https://antrian.imigrasi.go.id. Kalian bisa mengisinya dari I-Phone/ komputer. Ini lebih aku sarankan, karena menurutku lebih mudah diakses.

Tampilan dari website Direktorat Jendral Imigrasi, seperti ini:

Pada kunjungan pertama, skip saja kolom diatas. Click: pendaftaran. Setelahnya, penampilannya akan menjadi seperti ini:

Isi semua data itu dengan informasi sebenar-benarnya, karena nantinya akan ada email konfirmasi yang dikirimkan ke kalian. Untuk username: bikin user name terserah (tidak harus nama asli), tanpa spasi. Ingat baik-baik kombinasi user name dan password yang kalian pakai.

Setelah akun diaktivasi, click “Selesai”. Lalu, tekan “Yes” untuk kembali ke tampilan awal dan lakukan login (dengan kata lain, isi semua data kolom ini):

Untuk kunjungan pertama, kalian akan diminta verifikasi data (alias harus check email dahulu dan melakukan langkah-langkah yang diberikan disana). Setelah urusan verifikasi ini beres, balik lagi deh ke website &  click “Masuk”.

Cari kota/ kantor imigrasi terdekat, click. Tentukan tanggal, click. Pilih jam (pagi/ siang), click.

Isi formulir yang kemudian tampil (isi nama, NIK, dll), kemudian click tombol “Lanjut”.

Contoh tampilan dan step bt step-nya, bisa kalian lihat di website Direktorat Jendral Imigrasi (click sini).

Setelahnya, kalian akan dapat QR Code yang harus disimpan karena kode ini kudu kalian berikan kepada petugas di kantor imigrasi.

Selesai.

Step-step di atas benernya mudah dan sangat sederhana, tapi bagi orang yang usianya sudah diatas 50an mungkin akan mengalami kesulitan. Jadi, yang muda dan engga gaptek, please berbaik-hatilah membantu :). 


FOTO PASSPORT

OK, urusan daftarnya selesai. Sekarang, urusan foto untuk passportnya.

Aku datang sesuai tanggal dan jam yang sudah ditentukan. Jadwalnya adalah hari Jumat, 23 Maret 2018, jam 10 siang.

Loh, kok nekad ambil hari Jumat? Kok jam 10? Tenang, segalanya berjalan sesuai jadwal tanpa terganggu jadwal ibadah umat Muslim. Bahkan seorang petugas disana bilang, bahwa hari apapun, mereka bekerja terus dari jam 8am hingga semua pendaftar passport hari itu selesai dilayani dengan baik. Jadi, Jumat pun terasa seperti hari biasa.

Pengunjung yang hendak foto passport, kudu mematuhi aturan berbusana yang mereka tetapkan:

  • Memakai baju rapi dengan lengan & krah (boleh pakai kaos asal ada lengan & krah)
  • Dilarang memakai celana pendek/ rok mini
  • Dilarang menggunakan sandal jepit (aku lebih sarankan kalian pakai sepatu)
  • Tidak pakai softlens, kaca mata, topi, masker dan perhiasan berlebihan
  • Diperbolehkan pakai jilbab, namun yang memakai niqab harus rela menampakkan seluruh area wajahnya dengan jelas
  • PNS/ TNI/ Polri dilarang menggunakan seragam dinas

Percayalah, peraturan diatas diberlakukan dengan cukup ketat karena aku melihat sendiri ada orang ditolak masuk karena pakaiannya tidak sesuai ketentuan.

Pada saat foto, ada yang disuruh melepas softlens, juga lepas jepit/ bando rambut yang mencolok. Poni yang menutupi wajah pun diminta untuk diangkat. Intinya, kita kudu tampil minim aksesoris dan nampang jelas wajahnya (termasuk jika menggunakan penutup wajah: kudu dibuka).

Peraturan lain yang perlu diperhatikan:

  • Dilarang merokok
  • Dilarang mengambil foto didalam ruang antri/ foto

Yang perlu dibawa (per pendaftar):

  • Passport (kalau sudah pernah punya passport), asli + foto copy
  • KTP, asli + foto copy
  • KK, asli + foto copy
  • Akte lahir, asli + foto copy
  • 1 materai Rp. 6.000,-
  • QR Code

Prakteknya, yang diminta mereka hanya:

  • Passport (kalau sudah pernah punya passport), asli + foto copy
  • KTP, asli + foto copy
  • Materai Rp.  6.000,-
  • QR Code

Nanti, passport lama akan distaples di map berisi formulir data + nomor antrian. KTP asli cuma dipakai untuk mencocokkan data antara passport lama + QR Code. Walau begitu, tetap siapkan KK + akte lahir asli dan foto copynya.

Isi formulir yang ada di cover dan dalam map:

Aku sarankan: bawa alat tulis sendiri! Walau disediakan beberapa meja tulis dengan ballpoint, tapi tidak semua ballpoint yang berfungsi baik/ dipakai. Pinjam dari sesama pemohon pun, susah.. karena setiap orang diruang tunggu pada mengisi form. Jadi, sangat disarankan untuk membawa alat tulis sendiri. Pastikan semua kolom pertanyaan/ data dijawab dengan lengkap (jika tidak, form akan dikembalikan = buang waktu).

Kalian juga akan butuh lem/ air untuk menempelkan materai. Tapi pada pengalamanku, kita bisa minta lem di petugas.

Jika urusan isi form selesai, serahkan kepada petugas. Pada pengalamanku, akan ada petugas berteriak setiap 15 menit, menanyakan adakah yang sudah selesai mengisi formulir? Jika sudah, formulir akan diminta, diserahkan ke petugas bagian foto. Jadi, tidak dipanggil berdasarkan nomor yang tertera pada map. Makin cepat selesai isi form = urusan makin cepat selesai.

Urusan foto ini sangat sederhana. Kita dipanggil namanya, datang untuk foto (baca lagi syarat diatas: wajah harus terlihat jelas), kemudian ada wawancara singkat. Pertanyaan yang diberikan kepadaku dan Mami, sama. Mau kemana. Udah, itu saja.

Aku wondering, kenapa semua orang menjawab “Singapore” ya? Petugasnya tampak bosan mendengar nama negara tetangga kita itu haha. Aku jawab apa adanya saja & tidak ada pertanyaan lanjutan. Tapi dari meja sebelah, ada pertanyaan semacam ini:

  • Mau kemana
  • Bersama siapa saja
  • Mau apa disana
  • Mas-nya kerja apa
  • Rencana pergi kapan

Jawab jujur saja, ini bukan ujian negara. Tidak ada yang benar/ salah. Makin gamblang menjawab, makin sedikit yang dipertanyakan. Makin mbulet, pertanyaan akan makin banyak.

Lalu, dilakukan perekaman sidik jari jempol dan telunjuk tangan kanan dan kiri.

Setelahnya, kalian akan diberikan kertas berisi data berisi data diri yang akan dicetak di passport. Baca baik-baik!!! Tanda tangani kertas itu, jika data yang diberikan sudah benar. Kalau ada data yang salah & kalian biarkan/ tidak dikoreksi waktu itu, maka passport kalian akan tidak bisa dipakai. Bakal butuh proses panjang untuk membetulkan data tersebut.

Setelahnya, kita terima Bukti Pengantar Pembayaran seperti ini:

Perhatikan baik-baik bagian yang aku warnai merah.

Biaya untuk perpanjangan passport 24 halaman adalah Rp. 355.000,- TANPA ADA BIAYA LAINNYA.

Dan tidak ada petugas imigrasi manapun yang akan menerima uang tersebut. Kita harus membayarnya ke bank apapun (apapun!). Bisa melalui ATM, tapi pada pengalamanku: petugas imigrasi menyarankan aku melakukan pembayaran melalui teller bank (dan dia mengulang 2x: “Lebih baik setor ke teller bank”).

Wes, daripada kenapa-kenapa aku akhirnya melakukan pembayaran melalui teller bank BCA dan urusan pembayaran ini selesai dalam waktu kurang dari 5 menit. Setelahnya, aku diberi tanda bukti pembayaran passport.

FYI, tidak ada biaya setor pembayaran via teller bank, ya. Jadi, kalian bener-bener hanya dikenai biaya Rp. 355.000,- saja.

Bayar melalui ATM/ internet banking? Bisa. Kudu ada bukti tercetak & simpan bukti bayarnya.


PENGAMBILAN PASSPORT:

  • Pembayaran maksimal 7 hari sejak kita melalukan foto passport
  • Passport bisa diambil 3 hari (kerja) sejak kita melakukan pembayaran
  • Passport harus diambil sebelum 30 hari sejak melakukan pembayaran
  • Bawa bukti pengantar pembayaran + lembar bukti bayar 
  • Passport diambil di lokasi yang sama kita melakukan foto passport

Passport ini bisa diambil sendiri, bisa pula diambilkan TANPA perlu membuat surat kuasa, dll jika yang mengambilnya adalah keluarga/ orang dalam 1 KK (ada baiknya membawa foto copy KK untuk jaga-jaga).

Simple, tanpa drama apapun. Antriannya memang tampak sedikit panjang, tapi karena servisnya cepat maka acara antri ambil passport hanya makan waktu 10 menit.


Q & A:

  • Bikin baru/ perpanjangan?
    Kalau sama sekali belum pernah punya passport: bikin baru.
    Kalau sudah pernah punya passport yang akan habis masa berlakunya: perpanjangan.
    Kalau sudah pernah punya passport tapi mati masa berlakunya: perpanjangan (BUKAN bikin baru).
  • Kapan mulai mengurus perpanjangan passport:
    Sebaiknya sekitar 6 bulan SEBELUM masa berlakunya habis.
  • Berapa lama antri foto?
    Pengalamanku: dari masuk sampai keluar (selesai foto), tidak lebih dari 1 jam.
  • Prosedur diatas berlaku di kota lain selain Surabaya?
    Harusnya iya, beberapa kawan menceritakan bahwa prosedur yang mereka jalani sama, bedanya hanya pada lama/ cepatnya antrian saja. Surabaya punya beberapa lokasi pengambilan foto passport sehingga antriannya bisa dibagi & lebih cepat, tidak terkumpul pada 1 lokasi.

Sungguh, aku salud dengan mudahnya pembuatan/ perpanjangan passport jaman now. Dibandingkan dengan pengalaman 5-6 tahun lalu, yang membutuhkan waktu seharian untuk memperpanjang passport, kini hanya butuh 1 jam saja.

Kalau tahun lalu kudu bangun jam 2 pagi dan ke kantor imigrasi untuk ambil form, sekarang tinggal klik-klik saja dan sberes semanya.

Kalau dulu kita harus berkali-kali check apakah passport sudah jadi/ belum, kali ini semuanya sudah jelas  bahwa passport ready sejak 3 hari (kerja) setelah pembayaran.

Tidak ada celah untuk petugas menerima uang, karena semua transaksi dengan menggunakan uang harus dilakukan di bank. Jadi, uang langsung diterima oleh negara.

BRAVO!!! Terima kasih kepada siapapun yang telah membuat urusan pembuatan/ perpanjangan passport menjadi lebih mudah dan cepat <3.