Resto Park Cafe (Surabaya); Pujasera Klasik

Hahahaha, Resto Park Cafe ini umurnya sudah berapa? 10? 12? Ah, entah. Dan believe me or not, aku baru masuk ke tempat ini di 2017!!! Hahaha, saat plafonnya sudah jebol dan listrinya mati-nyala suka-suka wkwkw:

Lokasinya maha strategis, di Jalan Manyar Kertoarjo 110-112, Surabaya. Dan sepertinya engga ada yang mau review tempat ini, bahkan di Google sekalipun. Ah! Sayang.. soalnya masih ada beberapa hidden gem yang bisa ditemukan ditempat ini.

Di bagian dalam sih masih relatif sejuk:

Tapi engga bisa dibilang terang. Ada banyak bagian lain cenderung gelap, sangat bernyamuk (bahkan di tempat terang pun nyamuknya banyak) dan surprisingly.. rame manusia. Foto diatas sih aku foto saat mau pulang (dan itu sudah hampir jam 10 pm), tapi sebelumnya sih hampir semua meja ditempat ini penuh.

Menu? Monggo:

Yup, ada banyak nama penjual karena Resto Park Cafe ini berjenis kelamin pujasera. Cara pesannya pun masih klasik (dan menyenangkan sih buat yang lagi malas jalan keliling meninggalkan meja dan harta benda): memanggil waiter/ waitress, bukan keliling ke setiap counter. Bayarnya ya ntar, jadi satu, di kasir.

Menu pertama yang datang, Nasi Bakar Tuna Petai – Mbok Ina:

Nih penampilannya setelah aku bedah dengan rapi dan pakai perasaan:

Engga ngicip, karena aku bukan penggemar tuna (matang) dan pete (eits pecinta pete dilarang sewot, syukurilah kalo ada orang yang engga doyan pete, anggap aja itu bikin jatah pete kalian engga berkurang *omongan orang kurang tidur*). Tapi aromanya, penampilannya, semua menggoda! Dan si nasi bakar ini dihabiskan sempurna, tanpa sisa oleh lawan yang ngakunya kurang mood makan karena baru cakar-cakaran dengan mertua *eits keceplosan*.

Ini, Sate Ayam – Pak Brewok:

Engga stabil. Pas aku datang pertama kali, OK. Eh, datang kali kedua kok rasanya seperti ketemu mantan tapi dia sendirian. Bikin galau, kali lain enaknya dipesan lagi/ engga, hmm. Btw, si sate aku pesan dengan seporsi Lontong – Pak Brewok ya:

Lontongnya kokoh (eh, emangnya apaan), engga benyek.

Ini, rencananya dijadikan snack pengganjal perut (emangnya tru di tanjakan, perlu pake ganjalan supaya engga meluncur ke bawah gitu?), tapi datangnya malah hampir di akhir acara makan:

Tahu Crispy – Kitty. Asin (karena ada bubuk2nya tuh). Bukan tipe tahu yang aku harap sih, tapi ya OK lah setelah bumbunya diketok2 dan tahunya dicocol pada petis:

Lha ini dia hidden gem-nya:

Nasi goreng? Iyaaa, tapi ini harram dan enak! Pake udang, chasio, dll. Warnanya pun engga merah membara:

Ini namanya Nasi Goreng Medan – Ahao Siantar. Ah, aku emang doyan makanan-makanan Siantar, sayang jauh (dan tiketnya kenapa sih mahal banget). Rasa manis, gurihnya asik. Engga terlalu berminyak, porsinya besar (aku 2x pesan dan 2x gagal menghabiskan), wangi, but lil’ bit pricey emang. Tapi aku relaaa haha :p.

Minumnya masih engga jauh-jauh dari Es Teh Manis, lah:

Oh ya, ada Es Campur Tidar tuh. Engga pernah jelas, mana yang asli tapi menurutku semuanya 11-12 aja dengan perbedaan minor (atau diantara kalian ada yang tahu aslinya?):

Btw, selain makanan yang ada di daftar menu, kalian bisa pesan makanan dari area parkir Resto Park Cafe, misalnya:

Ada Jagung Bakar Cak Paham juga, loh:

Resto Park Cafe ato dong renov, sekedar cat, nambah lampu dan benerin plafon aja deh *merayu*, engga perlu pake interior kekinian (yang buatku ‘nothing’ kalo makanannya engga enak).