ALL, FOODICTIONARY

Hotel Majapahit (Surabaya); Indah, Bersejarah

Aah, selamat datang di hotel kesayanganku, Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan 65, Surabaya.

Biar kalian kata ini banyak hantu, banyak setan, jin, kunti, serdadu Belanda, dsb I dont care. Bangunannya luar biasa banget! Sangat indah dengan detail menawan, terawat pula. Duh, pokoknya luar biasa tenan aset Hartati Murdaya Poo yang kini dikelola Accor Hotels ini!

Di bagian depan, ada tiang bendera bersejarah, tempat terjadinya perobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia, merah putih:

Dan karena hari ini bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, maka mari mengheningkan cipta sejenak. Mari kita mendoakan para pahlawan pejuang kemerdekaan dan jasa – nyali – usaha mereka mendapatkan & mempertahankan kemerdekaan ini.

Sekedar mengingatkan, peristiwa yang juga disebut sebagai “Insiden Hotel Yamato” dimulai pada tanggal 10 November 1945 yang didahului oleh gagalnya perundingan antara Sudirman (residen Surabaya) dan Mr. W.V.Ch Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda. Dan inilah cikal bakal meletusnya perang hebat pada tanggal 11 November 1945..

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan dikeluarkannya maklumat pemerintahan Soekarno tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya.

Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya bendera Indonesia dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jalan Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas Gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera Indonesia datang ke Tambaksari (lapangan Stadion Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

Saat rapat tersebut lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih disertai pekik ‘Merdeka’ yang diteriakkan massa. Pihak Kempeitai telah melarang diadakannya rapat tersebut tidak dapat menghentikan dan membubarkan massa rakyat Surabaya tersebut. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya kemudian terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato atau Oranje Hotel (sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Awalnya Jepang dan Indo-Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.

Rombongan Sekutu tersebut oleh administrasi Jepang di Surabaya ditempatkan di Hotel Yamato, Jl Tunjungan 65, sedangkan rombongan Intercross di Gedung Setan, Jl Tunjungan 80 Surabaya, tanpa seijin Pemerintah Karesidenan Surabaya. Dan sejak itu Hotel Yamato dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees: Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran).

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada malam hari tanggal 19 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Kabar tersebut tersebar cepat di seluruh kota Surabaya, dan Jl. Tunjungan dalam tempo singkat dibanjiri oleh massa yang marah. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa yang diwarnai amarah. Di sisi agak belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang berjaga-jaga untuk mengendalikan situasi tak stabil tersebut.

Tak lama setelah mengumpulnya massa tersebut, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui berantakannya perundingan tersebut langsung mendobrak masuk ke Hotel Yamato dan terjadilah perkelahian di lobi hotel. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Peristiwa ini disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik ‘Merdeka’ berulang kali.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara AFNEI. Serangan-serangan kecil itu ternyata dikemudian hari berubah menjadi serangan umum yang memakan banyak korban baik di militer Indonesia dan Inggris maupun sipil di pihak Indonesia. Akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi dan mengadakan gencatan senjata. Gencatan senjata tersebut gagal dan ditambah dengan matinya Brigadir Jenderal Mallaby, berakibat pada dikeluarkannya ultimatum 10 November oleh pihak Inggris dan terjadinya Pertempuran 10 November yang terbesar dan terberat dalam sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia dan ditetapkan menjadi Hari Pahlawan (taken from here).

Nah, mari baca sampai habis karena kali ini foto-fotonya super lengkap! Lokasi-lokasi bersejarah yang ada di hotel ini, bakal nampang. Tapi sebelum itu, mari berkenalan dengan Sarkies bersaudara:

Tigran Sarkies, Arshak Sarkies, Martyrose Sarkies, Aviet Sarkies. Berempat, mereka dikenal sebagai Sarkies Brothers yang membangun banyak bangunan indah dan mewah, yang difungsikan sebagai penginapan di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya, Hotel Majapahit:

The Sarkies Brothers were a group of brothers of Armenian ethnicity, best known for founding a chain of luxury hotels throughout Southeast Asia. Born in Isfahan, Iran, the brothers were:

  • Martin Sarkies (1852–1912)
  • Tigran Sarkies (1861–1912)
  • Aviet Sarkies (1862–1923)
  • Arshak Sarkies (1868–1931)

In chronological order, the hotels founded or run by the brothers were:

  • April 15, 1884: Eastern Hotel, George Town, Penang, Malaysia
  • 1885: Oriental Hotel, George Town, Penang, Malaysia. Previously the Hotel de l’Europe
  • 1 December 1887: Raffles Hotel, Singapore
  • August 1889: Eastern Hotel sold, Oriental Hotel renamed as Eastern & Oriental Hotel
  • 1901: Strand Hotel, Rangoon (Yangon), Burma (Myanmar). Sold by the brothers in 1925
  • 1923: Sea View Hotel, Singapore, originally built in 1906 and operated by the Sarkies Brothers under lease until 1931
  • 1905: Crag Hotel, Penang Hill, Malaysia.

It was 23-year-old Tigran who took the first step into the hotel industry, seeing it as more profitable than his fledgling auctioneering business. Taking over the lease of a large compound house at 1A Light Street, he named it the Eastern Hotel, announcing on 15 April 1884 that the hotel was open to receive boarders.

In addition, the brothers’ cousin Arathoon Sarkies (1882–1932) managed the Adelphi Hotel in Singapore from 1903 to 1908, and Hotel Majapahit (as Hotel Oranje) in Surabaya, Indonesia was founded in 1910 by Martin’s cousin Lucas Martin Sarkies (1876–?) and his brother John. Kartika Wijaya in Batu, Java, Indonesia was originally built as a vacation villa for the Sarkies, and was only later turned into a hotel.

Arshak, the last of the brothers, died on January 9, 1931. On June 10 of the same year, a bankruptcy case was filed against the Raffles Hotel, eventually resulting in the Sarkies family losing control of their hotels in Singapore and Penang. The hotel in Surabaya, however, stayed in the hands of the Sarkies’ descendants until 1969.

Another Sarkies hotel still operating is The Niagara Hotel, Lawang, East Java.

The Sarkies name still lives on in Singapore through the namesake Sarkies Road (home of the Alliance Française de Singapour, next to Newton Circus), and in Arathoon’s descendants (taken from here).

Foto mereka terpampang di samping ruang receptionist Hotel Majapahit yang masih original detail bangunannya:

Masuk lebih dalam lagi, mulai deh kita bisa ngeh betapa cantik & luasnya bangunan hotel ini! Sebagai bangunan penginapan di daerah tropis yang sejak dulu sepertinya sudah lembab dan cenderung panas, Hotel Majapahit dibangun dengan beberapa taman indah diantara bangunan yang berkoridor terbuka dengan jendela lebar pada setiap kamarnya:

Perhatikan bagian ini:

Ada batu pertama pembangunan hotel yang diletakkan oleh Eugene dan Lucas Sarkies pada 1 Juni 1910:

Dan yang menjadi arsitek adalah James Afprey, yang pada awalnya mendesign penginapan dengan gaya art noveau, namun pada 1936 dilakukan perubahan oleh pemiliknya menjadi gaya art deco yang sedang populer saat itu.

Setelahnya, kita akan bertemu dengan ballroom hotel yang begitu klasik dan masih nampak mewah sekaligus anggun dalam usia tuanya:

Nampak biasa? Eits, tunggu sampai pintu dibuka dan lampu dinyalakan:

Whoho!!!! Ya kan? Ganteng kan? Cakep banget, kan? Klasik! Dan duh, rek… semuanya masih terawat. FYI, ruangan ini diatur sedemikian rupa agar segala suara dari dalam tidak akan bergema dan tembus keluar. Karenanya, hingga sekarang ruangan ini masih sering digunakan untuk konser musik (terutama aliran klasik!).

Gimana? Seru kan? Engga ada peralatan canggih, semua hanya mengandalkan bentuk dan material bangunan.

Diluarnya, ada beberapa perabotan asli Hotel Majapahit:

Mau tahu mana yang asli dan mana yang tidak? Raba saja bagian bawah perabotan. Kalau kasar, itu asli. Kalau halus, itu replika:

Lanjut dari bagian ini, kita ketemu deh dengan beberapa kebun diantara koridor hotel:

Kita menuju kesebuah kamar bersejarah, Kamar Merdeka (nomor 33), tempat yang dipakai Residen Sudirman berunding dengan Mr. Ploegman serta kawan-kawannya untuk menurunkan bendera Belanda dari atas hotel Majapahit (yang ketika itu bernama Yamato):

Kondisinya memang agak berantakan karena sedang dalam perawatan jaringan listrik dan pendingin ruangan, namun semua yang didalam ruangan ini terawat dan sebisa mungkin dipertahankan bentuk aslinya..

Tak lama setelah mengumpulnya massa tersebut, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato (taken from here).

Bisa bayangkan, dahulu para perwakilan 2 pihak berunding diruangan ini?

Disebelah ruangan, ada kamar tidur dan kamar mandi (sayang, kamar tidurnya terlalu gelap dan lampu tidak bisa dinyalakan):

Yang bikin spesial, kamar khusus ini memiliki jalan keluar rahasia yang hingga kini masih dipertahankan keberadaannya:

Ada lagi, kamar istimewa bernama Sarkies Room di nomor 44. Tapi kok kita pada engga kesana, ya?

Untung saja Presidential Suite-nya engga terlewatkan:

Di hotel ini juga akan dijumpai President Suite terbesar di Asia, berukuran 800 meter persegi dan terletak diantara dua sayap bangunan kamar hotel lainnya, seolah sebuah paviliun tersendiri. Presidential Suite ini terdiri dari dua lantai, lantai bawah terdapat ruang makan formal, ruang duduk, dan ruang rapat.

Kamar utama terletak di atas, memasukinya kita akan melalui sebuahfoyer terlebih dahulu kemudian sampai di living room dan ruang kerja. Melalui sebuah pintu barulah terdapat area tidur yang dirancang sangat mewah dengan suasana yang warm. Kamar mandi juga luas dan elegan, terdapat dua meja wastafel yang berhadapan, shower danbathtub terpisah. Memasuki bathtub kita harus menaiki beberapa anak tangga, karena level-nya memang dinaikan, baru kemudian masuk ke bathtub yang ditanam di tengah lantai marmer (taken from here).

Kita engga diijinkan memfoto ruangannya. Jadi, lebih baik bekerjasama :p.

Buatku pribadi, hmm.. Presidential Suite ini terkesan lebih modern daripada bangunan lainnya. Bangunan tambahan ini terdiri dari 2 lantai yang full karpet dengan AC yang selalu menyala untuk menjaganya tetap sejuk dan tidak lembab, juga dilengkapi dengan dapur, juga kamar mandi dengan kran berlapis emas 24k (yaaa, engga salah informasi nih!):

Presidential Suite yang biasanya dipakai oleh Megawati Soekarnoputri dan keluarga Hartati Murdaya Poo jika datang berkunjung ke Surabaya ini, punya view seperti ini:

Engga jauh dari ruangan bersejarah ini, ada ruangan spa by Martha Tilaar:

Juga kolam renang plus gym:

Lantai 2 hotel ini, juga full kamar dengan koridor terbuka:

Buatku, ini bagian yang paling eksotis dari lantai 2:

Dan sebelum senja berlalu berganti malam, aku memutuskan turun ke lobby untuk menikmati High Tea, sambil ngobrol dan melepas lelah, sekaligus mendinginkan badan. Hei, keliling Hotel Majapahit lumayan bikin berkeringat lo, apalagi saat Surabaya lagi panas-panasnya gini..

Nothing special dengan menu High Tea hotel ini. Kita dapat beberapa potong cake kecil dan teh, untuk dinikmati di lobby hotel:

Eh iya, kalo udah ke Majapahit Hotel, minimal kudu intip toiletnya deh (sukur-sukur ngicip beneran wkwkw!):

Ini kayanya toilet paling klasik, juga yang paling cantik dan terawat yang pernah aku tahu!