ALL, FOODICTIONARY

Depot Mie Kocok Aceh Suk Asin (Surabaya); Kita Lebih Doyan Iniii!

Whuahua, sebelum ke Aceh, kita sempatkan diri dulu makan di Depot Mie Kocok Aceh Suk Asin di Jalan Pucang Jajar 23, Surabaya. Pulang dari Aceh pun, eeeh.. Mami ngajak ke tempat ini lagi:

Nih tempat emang udah booming sejak bertahun-tahun lampau, aku pun sudah pernah review saat Depot Mie Kocok Aceh Suk Asin masih di tempat lawasnya (waktu itu Suk Asin masih kurus boooo, sekarang sudah lebih berisi dan tattoo-nya lebih banyak tapi orangnya masih asik aja diajak ngobrol).

Tempat makannya sudah geser ke tempat yang lebih lebar. Kini, ada ruangan bagian depan yang tidak bebas asap rokok:

Dibagian depan pula dapur dari Depot Mie Kocok Aceh Suk Asin berada. Jadi, kalo mau lihat kesibukan dapur sih aku sarankan duduk dibagian depan aja (dapurnya terbuka kok).

Dibelakangnya ada ruangan full AC yang bebas asap rokok:

Daftar menunya sih sama saja (yang beda kan harganya):

Tempat ini walau namanya “Depot Mie Kocok Aceh Suk Asin” tapi yang lebih terkenal adalah Mie Tomat-nya deh (bahkan gambar Mie Tomatnya nampang gede banget didepan tempat makan ini).

Tuh, entah berapa banyak porsi Mie Tomat yang mereka buat dalam sehari. Dalam sekali kunjungan saja, meja-meja ini selalu dipenuhi dengan jajaran Mie Tomat:

4 piring diatas tuh Mie Tomat yak, yang paling bawah adalah Bihun Tomat (kuahnya sama saja tapi jenis mie-nya doang yang beda):

Dan maaf kalau mengecewakan tapi Mie Tomat BUKAN Mie Aceh. Engga ada yang namanya Mie Tomat di bumi serambi Mekah :). Si Susuk sendiri mengakui kok, kalo itu adalah hasil kreasi dia dan engga ada yang jual Mie Tomat di Aceh. Jadi, kalo mau yang khas Aceh ya kudu pesan Mie Kocok/ Mie Aceh.

Tapi Mie Tomat beneran sayang dilewatkan:

Mie Tomat tuh pakai potongan tomat merah segar, kocokan telur, daging ayam cacahan (yang dipakai di hampir semua mie lainnya). Aku biasanya pesan dengan tambahan telur 1/2 matang yang menambah rasa. Taburan bawang merah gorengnya kaya’ cherry on top of the cake.

Tapi Mami tuh doyan banget dengan Mie Kocoknya:

Dia menemukan kata-kata yang lumayan cocok untuk menggambarkan Mie Kocok ini: seperti Bakmoy dimakan dengan mie! Hahahaha, well.. tentu saja engga sama,

Btw, sepulang dari Aceh, aku masih engga pengen Mie Aceh (model apapun). Trus, curhat lah aku kepada Suk Asin dan aku direkomendasi untuk pesan mie yang satu ini:

Namanya? Mie Aceh Telur Kuah. Eh, ini engga ada di menu lho padahal eeenak! Kuahnya tuh sedap, asik banget dimakan dengan mie bareng potongan timun. Pedasnya bisa diatur, disesuaikan dengan kemampuan diri.

Seperti biasa, ada acar khas Aceh yang pakai bawang merah:

Yang mirip warnanya ini, bukan es bawang, tapi Es Kacang Aceh:

Uh, aku akui itu warna menyeramkan sekali, kaya’ stabilo dicelupkan ke air. Rasanya sangat khas, seperti situp-sirup daerah dan aku juga engga menemukan minuman ini di Aceh. Kacang merahnya tenggelam dibagian dasar, dingin (cenderung beku) dan aku pribadi benernya prefer pesan minuman lain, cuman rasa minuman ini emang engga biasa dan itu yang bikin aku beberapa kali pesan ulang.

Minuman lain yang kudu dicoba, tentu saja si Kopi Terbalik, minuman khas Meulaboh/ Aceh Barat ini:

Menyeruput kopi yang diseduh dalam cangkir sudah biasa. Namun pernahkah anda membayangkan menyesap kopi dalam posisi cangkir yang sengaja dibalik? Itulah yang ditawarkan Kedai Tubruk & Arabica. Kedai kopi yang meracik bijih kopi robusta dan menyajikannya dengan cara yang unik.

Konon cara penyajian kopi tersebut terilhami dari model topi yang menjadi trade mark pahlawan nasional yang berasal dari daerah setempat yaitu Teuku Umar.

Penyajian kopi khas Meulaboh, Aceh Barat itu telah ada sejak zaman penjajah atau pada saat Teuku Umar bergerilya.

Di daerah tempatnya berasal, kedai-kedai kopi berjejer di pinggir pantai, sehingga agar tetap hangat saat dinikmati kopi sengaja disajikan dalam cangkir dengan posisi terbalik.

Selain agar bebas dari debu dan tetap nikmat saat diminum, penyajian kopi dengan cara tersebut juga mempengaruhi citarasa yang ditawarkan.

Seperti namanya, kopi khop atau kopi terbalik menggunakan gelas yang diposisikan terbalik di atas piring kecil. Sebuah sedotan akan membantu kita untuk menyesap tetes-tetes kenikmatan dari celah gelas.

Tak perlu khawatir, meskipun tidak disaring sama sekali seperti umumnya kopi Aceh yang disaring berulang-ulang, ampas bijih kopi tidak akan terminum karena posisinya mengapung di atas gelas (taken from here).

Cara minumnya? Si Kopi kudu ditiup dulu pakai sedotan, sampai ada cairan yang keluar. Nah, cairan itu yang disedot dengan sedotan. Rada ribet tapi asik sih, apalagi Kopi Aceh emang beda dengan kopi biasa.

Btw, aku kangen Aceh!!! Oh no..