ALL, FOODICTIONARY

Pelabuhan Balohan (Sabang, Pulau Weh – Aceh); Balik ke Banda Aceh

Tiba saatnya berpisah dengan Pulau Weh.

Sama seperti saat kita pergi ke Pulau Weh, kali ini kita diminta untuk cepat-cepat berangkat karena pelabuhan jaraknya lumayan jauh dari penginapan.

Dan tadaaa.. inilah situasi di Pelabuhan Balohan di Sabang, Pulau Weh, Aceh sesaat setelah aku datang hahaha *shocked*:

Ruuuuame banget! Beda dengan suasana ketika kita berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, wkwk. Kondisi didalam pelabuhan, sama penuhnya dengan bagian luar:

Ruang tunggunya memang besar, sayang.. engga ada AC (maklum: aku kan beruang kutub). Jadi, kita sedikit berkeringat sambil menunggu keberangkatan kapal. Bisa juga sambil memesan/ beli minuman, juga jajanan sederhana:

Atau melihat maket, wkwkw.. (keliatan banget ya kalo aku nganggur haha!):

Ga lama, aku didatangi seorang dari rombongan dan diberi tiket. Ah, perpisahan dengan Pulau Weh sudah semakin dekat..

Tiketku sudah diurus, jadi aku tinggal berangkat saja dan ini adalah tarif dan jadwal Express Bahari ya:

Kapalnya serupa sih dengan yang kita pakai menuju Pulau Weh. Aku engga foto luarnya, tapi ternyata dalamnya bedaaa..

Kursinya berasa lebih sesak. ACnya engga dingin pula, haha!

Beda dengan pelayaran pertama, kali ini orang-orang protes untuk mendapatkan duduk yang sesuai dengan nomor tiket mereka. Pada pemberangkatan pertama sih, kita duduk suka-suka karena orang lain begitu.

Kali ini pun aku engga berdiri diluar kapal, karena lelah. Aku duduk tertidur dan bangun dalam keadaan keringatan, karena AC kapal ini engga seasik pelayaran pertama.

Cuaca bagus, tapi sempat ada gelombang agak tinggi yang membuatku terbangun sejenak, sebelum akhirnya tidur lagi haha. Badan bener-bener kelelahan plus aku sadar kudu mempersiapkan diri untuk kuat kembali ke Surabaya (hei, perjalanannya jauh banget loh).

Dalam 50an menit (lebih lambat dari pelayaran pertama), kapal merapat dan suasana di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, sudah ramai. Dan ditengah keramaian itu, ada yang mencolok. Ambulans!

Aku speechless. Tidak mengira bahwa aku menjadi saksi mata dari peristiwa yang ditulis di Jawa Pos mengenai Pulau Weh, bahwa “Jangan pernah sakit keras di Sabang”. Karena nantinya, pasien harus dibawa ke Pulau Sumatra (Banda Aceh) untuk mendapatkan pengobatan. Kalau cuaca bagus, maka pasien akan beruntung, bisa langsung menyeberang dan mendapat penanganan seperti Bapak ini:

Tapi kalau cuaca buruk, tak jarang pasien akhirnya meninggal sebelum tiba di pulau seberang. Dan tulisan lengkap mengenai Sabang yang aku baca di Jawa Pos, aku sertakan pula:

Setelah 72 tahun Indonesia merdeka, bagaimanakah potret ”teras depan” negeri ini? Jawa Pos menurunkan laporan berseri langsung dari titik-titik terluar negeri ini. Dimulai dari tapal batas di sebelah barat: Sabang.

EKO PRIYONO, SABANG

PEKERJAAN Zarkasyi sejatinya nelayan. Tapi, kalau dia terbiasa siaga 24 jam, itu bukan karena setiap saat pria 58 tahun tersebut harus turun ke laut berburu ikan.

MEMUKAU : Wartawan Jawa Pos Eko Priyono mengibarkan bendera merah putih di taman bawah laut Pulau Rubiah (14/8) lalu. Sepeda motor itu terbawa arus tsunami pada 2004 lalu dan menjadi rumah karang.

MEMUKAU : Wartawan Jawa Pos Eko Priyono mengibarkan bendera merah putih di taman bawah laut Pulau Rubiah (14/8) lalu. Sepeda motor itu terbawa arus tsunami pada 2004 lalu dan menjadi rumah karang. (Eko Priyono/Jawa Pos)

Melainkan karena setiap saat perahunya yang ditambatkan persis di belakang rumah panggungnya mesti jadi semacam ambulans. Membawa pasien sakit parah dari Sabang, Pulau Weh, tempatnya bermukim, ke Banda Aceh, ibu kota Aceh.

Dari belakang rumah, Zarkasyi langsung menuju Banda Aceh memutari 0 (Nol) Kilometer. Itu pun kalau cuaca memungkinkan. Jika angin kencang dan ombak besar, warga Gampoeng (Kampung atau Desa) Iboih, Kecamatan Sukakarya dan Sukajaya, itu terpaksa menolak mengantarkan karena terlalu berbahaya. ”Sulit, tapi ya itu. Pulang belum tentu selamat,” ucapnya.

Itulah salah satu ironi besar di Sabang, kota paling barat di Indonesia. Pemandangannya menawan. Di daratan maupun di bawah laut. Potensi pariwisatanya besar. Begitu pula daya tarik ekonominya karena berada di jalur lalu lintas laut internasional.

Tapi, fasilitas kesehatan dan harga kebutuhan pokok tak seindah panorama dan potensinya. Di atas perahunya, Zarkasyi mengenang bagaimana beberapa kali sesampai di tujuan, pasien keburu meninggal dunia. Malah ada yang meregang nyawa saat masih dalam perjalanan.

Pulau paling barat Indonesia sejatinya Pulau Rondo. Tapi, Rondo tak berpenghuni. Hanya ada pos keamanan di sana. Jadi, 0 kilometer Indonesia pun dihitung dari Sabang. Itulah pintu gerbang negeri ini di sebelah barat. Nama kota tersebut juga diabadikan dalam salah satu lagu nasional.

Tapi, setelah 72 tahun Indonesia merdeka, salah satu kebutuhan paling mendasar di sektor kesehatan pun masih banyak kekurangan. Sabang memang sudah memiliki RSUD, puskesmas dengan layanan rawat inap, dan puskesdes. Tapi, layanan kesehatan tersebut hanya menerima perawatan sakit ringan yang tidak perlu alat khusus. Kalaupun opname, hanya karena butuh istirahat atau pengawasan dokter.

Tapi, jika sakit parah, satu-satunya rujukan adalah rumah sakit di Banda Aceh. Dan kepada orang-orang seperti Zarkasyi-lah mereka bisa berharap. Dengan bayaran ”sukarela”, tapi di kisaran Rp 4–5 juta.

Direktur RSUD Sabang dr Masri Ramlan tidak menampik tentang keterbatasan pelayanan kesehatan di wilayahnya bekerja. Menurut dia, rujukan ke Banda Aceh dilakukan ketika fasilitas di Sabang tidak ada. ”Misalnya CT scan, di sini tidak ada. Kalau ada pasien cedera batok kepala, harus dirujuk,” katanya.

Saat ini baru ada 12 dokter spesialis di RSUD Sabang. Antara lain spesialis penyakit dalam (2 orang), spesialis kandungan (2), spesialis anak (2), spesialis bedah (2), spesialis jantung (1), dan spesialis akupunktur (1).

Ada juga spesialis mata dan kulit masing-masing satu orang yang baru masuk per 1 Agustus 2017. Hanya, mereka belum bisa bekerja karena peralatan belum ada. Mereka baru bisa bekerja tahun depan setelah pemerintah kota melakukan pengadaan peralatan melalui APBD.

Di Sabang juga tidak ada ahli anestesi. RSUD tipe C itu hanya memiliki penata anestesi. Dulu seorang perawat, tapi bersekolah lagi. Meski tidak memiliki ahli bius, RSUD Sabang tetap melayani operasi. Sepanjang penata anestesi tersebut menilai memungkinkan. ”Kalau dia tidak mau bertanggung jawab, dirujuk,” ucapnya.

Bukan hanya itu, RSUD juga terkadang kehabisan stok obat-obatan. Tapi, pihak rumah sakit tidak bisa langsung membeli karena harus melewati prosedur pengadaan obat. Satu-satunya solusi, pasien diberi resep dan diminta mencari sendiri. ”Pernah kehabisan infus. Caranya, kami pinjam ke dinas kesehatan, kalau kami sudah ada, dikembalikan,” imbuh Masri.

***

Seperti umumnya warga di kawasan perbatasan negara, transportasi masih menjadi kendala besar di Sabang. Jalur udara dari Medan memang ada, empat kali dalam seminggu. Tapi, akses melalui laut masih jadi andalan.

Dari Banda Aceh, ada juga kapal ekspres yang biasanya dinaiki pejabat atau wisatawan. Tapi, untuk angkutan barang dan penumpang kelas ekonomi, hanya ada satu kapal, yaitu KMP BRR. Nama populernya kapal lambat.

KMP BRR yang berkapasitas 350 penumpang itu menjadi tulang punggung utama transportasi ekonomi Sabang. Semua kebutuhan masyarakat didistribusikan dengan menggunakan satu-satunya kapal tersebut. Mulai daging, sayur, beras, gula, elpiji, sampai bahan bangunan. Bahkan, warga yang sakit –jika dirujuk ke rumah sakit di Banda Aceh– harus menunggu jadwal kapal.

Sebenarnya pernah ada dua kapal lain: KMP Gurita dan KMP Tanjung Burang. Tapi, KMP Gurita tenggelam pada 19 Januari 1996 setelah beberapa jam keluar dok untuk menjalani perbaikan. Kapal itu mengangkut ratusan pemudik yang rata-rata mahasiswa asal Sabang yang berkuliah di Banda Aceh.

Ada juga KMP Tanjung Burang yang telah ada sejak Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. Saat ini kapal tersebut sering sakit-sakitan karena termakan usia. Tapi sesekali masih berlayar.

Nah, sejak 2010 ada KMP BRR yang merupakan bantuan untuk korban tsunami. Itulah satu-satunya kapal barang dan penumpang yang menjadi pahlawan masyarakat Sabang. Semua kebutuhan warga Sabang bergantung pada KMP BRR.

Zulkarnain, warga Gampoeng Kuta Ateuh, Sabang, mengenang bagaimana Idul Fitri tahun ini menjadi Lebaran yang paling tidak dirindukan. Sebab, seminggu sebelum hari raya umat muslim tersebut, KMP BRR harus istirahat karena perbaikan tahunan.

Sebagai gantinya, KMP Tanjung Burang yang sedang istirahat karena sakit akhirnya dipaksa berjalan. Tapi, sakitnya tambah parah. Hanya beberapa hari dipakai, KMP Tanjung Burang tidak bisa lagi digunakan.

Akibatnya, banyak pemudik yang kesulitan kembali ke Sabang. Sebagai ganti sementara, PT Angkutan Sungai, Danau, dan Perairan (ASDP) hanya menyediakan KMP Papuyu dan kapal ekspres. Persoalannya, kapal Papuyu hanya mampu mengangkut empat mobil. ”Ratusan kendaraan tertahan di Banda Aceh. Tidak bisa kemari,” kata Zulkarnain.

Bukan hanya penumpang, distribusi logistik pun sangat terganggu. Ketika permintaan kebutuhan pokok melonjak karena momen Lebaran, stok di Sabang sangat menipis. Akibatnya, harga kebutuhan pokok meroket hingga tiga kali lipat. Sebab, truk pengangkut bahan makanan tertahan di pelabuhan. Banyak sayur dan buah yang akhirnya membusuk sebelum naik kapal.

Hingga kini belum ada gambaran bagaimana kondisi transportasi andalan warga Sabang itu bakal bisa lebih baik. Padahal, dampaknya sangat luas. Terutama pelayanan kegawatdaruratan dan harga kebutuhan pokok.

Murniati, warga Juroung Tanoh Buju, Gampoeng Cot Ba’u, Kecamatan Sukakarya dan Sukajaya, misalnya, pernah mengalami sendiri benturan antara kegawatdaruratan kondisi kesehatan dan keterbatasan fasilitas transportasi itu. Dia terkena kanker payudara dan harus segera dioperasi. Perempuan 43 tahun itu pun dilarikan ke RSUD Sabang.

Tapi, sesampai di sana, dokter spesialis yang bisa menangani operasi sedang berada di Medan. Ibu dua anak itu pun tidak punya pilihan selain menyeberang ke Banda Aceh. ”Untung masih ada kapal ekspres. Bisa lebih cepat sampai,” ujarnya.

Memang, dengan kapal ekspres, Sabang ke Banda Aceh bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Tiketnya Rp 80 ribu per orang. Jika menggunakan KMP BRR, dibutuhkan waktu hingga 1,5 jam. Waktu tempuh bisa lebih lama jika ombak tinggi. Namun, tarifnya jauh lebih murah. Hanya Rp 27 ribu.

***

Terbatasnya sarana transportasi juga sangat berdampak pada harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok sehari-hari. Kalaupun ada, harganya berlipat-lipat. Bahkan, pada hari normal pun harganya melambung.

Sabang tidak menghasilkan bahan makanan yang berasal dari tanah. Sawah tidak ada, petani apalagi. Beras didatangkan dari luar Sabang. Petani sayur ada, tapi sangat sedikit. Hasilnya hanya cukup untuk konsumsi si penanam. Buah hasil Sabang pun hanya ada salak. Kalau ditemukan jeruk, pasti didatangkan dari luar Pulau Weh.

Jangan tanya harga. Sebab, di Sabang harga bergantung cuaca. Ketika cuaca baik saja, harga sudah lebih mahal. Apalagi jika cuaca tidak mendukung pelayaran. Bisa lebih mahal lagi. Beras misalnya. Harga satu sak beras dengan berat 15 kilogram (kg) mencapai Rp 175 ribu. Kalau pas sedang langka, harga naik.

Begitu pun daging ayam. Jika ayam kampung, harganya Rp 150 ribu per ekor. Sedangkan ayam pedaging Rp 45 ribu per kg. Tapi, belinya harus per ekor.

Untuk daging sapi, saat normal harganya sampai Rp 160 ribu per kg. Pada momen tertentu bisa tembus Rp 170 ribu. Sabang pernah pesta gula. Harganya Rp 8 ribu per kg. Tapi, itu dulu. Ketika banyak kapal dari Thailand mampir ke Pelabuhan Sabang.

Mereka menjual gula. Saking murahnya, minuman kopi dan teh di warung terasa sangat manis. Dan kebiasaan terlalu manis itu masih berlangsung sampai sekarang. Meski harga gula sudah beranjak menjadi Rp 12 ribu per kg. ”Mas, kalau pesan minum, bilang gulanya separo,” ucap seorang istri petinggi tentara yang bertugas di Sabang kelahiran Jakarta.

Pelabuhan Sabang sebenarnya menganut perdagangan bebas. Artinya, bebas masuk tanpa pajak. Karena itulah, banyak kapal yang bersandar. Apalagi, Sabang berada di lintasan jalur laut internasional. Ada yang mengirim pakaian, makanan, buah kaleng, hingga mobil built-up yang sudah kedaluwarsa di negara asalnya.

Sampai-sampai pada 2000 Sabang menjadi tempat belanja masyarakat Medan dan Banda Aceh. Mau cari celana jins merek apa pun dan model apa pun tersedia. Harganya pun murah. Makanan buah kaleng, banyak jenis dan mereknya.

Tapi, kapal-kapal itu kini jarang datang. Warga hanya mendengar ketika ada kapal datang membawa bahan makanan atau apa pun ditangkap. Mereka pun takut dan rugi kalau mampir ke Sabang. Apalagi, berlaku peraturan baru yang membatasi peredaran barang yang masuk melalui Pulau Weh.

Misalnya gula. Sudah tujuh bulan ini belum ada kapal dari Thailand yang datang membawa gula. Sebab, gula yang masuk hanya boleh dinikmati warga Sabang. Tidak boleh dijual ke luar. Padahal, jumlah penduduk di sana sedikit.

Begitu pun kendaraan dari luar negeri. Mobil itu pun tidak bisa dibawa ke luar Sabang lantaran tidak ada surat-suratnya. Akibatnya, mobil yang pernah dibawa ke Sabang tidak terjual semua dan menumpuk. Parahnya, suku cadang mobil tersebut tidak ditemukan di Sabang. Karena itulah, mobil asal luar negeri tersebut dibiarkan mangkrak ketika rusak.

Bahan bangunan pun demikian. Pada kondisi normal, harga satu sak semen Rp 60 ribu. Tapi, dua pekan lalu ada kelangkaan semen gara-gara pasokan yang terhambat. Harga stok lama pun melonjak menjadi Rp 75 ribu per sak. ”Saya sempat pusing gara-gara semen,” kata Junaedi, warga Gampoeng Keunekai, Kecamatan Sukakarya dan Sukajaya.

Saat itu Junaedi sedang membangun rumah. Pekerjaan sempat dihentikan karena stok semen kosong. Ketika ada, harganya sudah jauh berubah. Karena tidak ada pilihan lain, dia terpaksa membeli dengan harga itu. ”Soalnya tidak tahu kapan semen datang lagi,” ucapnya.

Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam mengakui, transportasi dan kesehatan masih menjadi kendala besar di wilayahnya. Dia mengaku sudah berusaha meminta tambahan kapal ke pusat. Responsnya, Sabang sudah dijanjikan mendapatkannya segera. ”Daun pisang saja masih dari Banda Aceh. Kapal tidak berangkat tiga hari saja, telur seribu jadi dua ribu,” ujarnya (taken from here).

Btw it’s good to be back..

Pulau Weh menyenangkan. Mengunjungi titik nol Indonesia ternyata menimbulkan rasa bangga menjadi orang Indonesia, namun kembali ke Jawa pada saat itu adalah sebuah kerinduan.

Namun aku yakin, aku akan rindu Sabang dan kembali kesana <3. Yakin!