Masjid Baiturrahim (Banda Aceh – Aceh); Disinilah Aku Meninggalkan Hatiku

“Kak, itu masjid engga rubuh saat tsunami, padahal daerah sini bersih, semua rubuh”, begitu kata sopir yang mengantar kita di Banda Aceh, ketika melewati daerah Ulee Lheue.

Dan inilah, masjid yang dimaksud:

Masjid Baiturrahim. Alamatnya (menurut Google): Gp. Ulee Lheue, Meuraxa, Ulee Lheue, Banda Aceh, Kota Banda Aceh, Aceh 23232, Indonesia.

Karena sungkan, aku cuma memfoto bagian luarnya saja. Aku sama sekali engga berani menginjakkan kaki sedikit pun dihalaman masjidnya hahaha. Jadi, ini foto Masjid terbaik yang bisa aku ambil dari luar pagar Masjid Baiturrahim yang terbuka lebar:

Aku merasa gerak-gerikku diawasi oleh seorang pria berkaos merah. Berkali-kali pria itu berjalan sambil menatapku. Maka, tawaran kerudung yang dibawa oleh sopir, aku tolak. Aku buru-buru masuk mobil tapi eeh, si sopirku lagi bicara dengan pria berkaos merah itu.

Sesaat sebelum aku buka pintu mobil, si sopir bilang, “Kak, Abangnya (pria berkaos merah) mau bicara”.

Aduh! Aku pikir bakal kena masalah, nih. Eeh, engga. Si Paria kaos merah yang kemudian akan aku sebut sebagai Abang Adi, ternyata malah menawariku masuk. “Mari, masuk saja, tidak apa”, katanya.

Aku menolak. Aku beralasan, tidak pakai kerudung. tapi eeh, Abang Adi tahu si sopir lagi bawa kerudung (buatku). Katanya, “Itu, pakai saja. Asal ikat saja dikepala, menutup rambut”.

Sebenarnya, aku bisa saja sih menolak dan pergi, tapi aku juga pengen tahu kejaiban masjid ini lah. Jadi, aku akhirnya bersedia masuk ke masjid (tapi minta ditemani oleh sopir)..

Dan inilah, Masjid Baiturrahim dari dekat:

Aku sama sekali tidak mengira, disinilah nantinya hatiku aku tinggal.

Dari arah Banda Aceh, di persimpangan menjelang Pelabuhan Ulee Lheue, terdapat sebuah masjid yang menjadi saksi kedahsyatan tragedi tsunami di Aceh. Masjid Baiturrahim namanya. Masjid ini menjadi satu dari sedikit bangunan yang masih kokoh berdiri di kawasan Ulee Lheue ketika musibah itu terjadi. Meski ada beberapa masjid lain yang juga bertahan dari bencana tersebut, Masjid Baiturrahim menyimpan nilai historis yang lebih mendalam karena usianya yang panjang.

Masjid Baiturrahim merupakan peninggalan Kesultanan Aceh. Masjid ini didirikan sekitar abad ke-17 dengan sebutan Masjid Jami’ Ulee Lheue (dibaca “olele” dalam dialek Belanda). Saat Masjid Baiturrahman dibakar oleh pasukan Belanda pada tahun 1873, warga Banda Aceh berbondong-bondong melaksanakan Shalat Jumat di masjid ini. Diperkirakan mulai saat itulah “baiturrahim” menjadi nama masjid ini.

Pemerintah Hindia Belanda melakukan pemugaran pada masjid yang sebelumnya berkonstruksi semipermanen. Proses pemugaran selesai pada tahun 1923 dengan arsitektur baru yang amat dipengaruhi gaya Eropa. Ketika itu, masjid ini tidak memiliki kubah dan hanya mampu menampung sekitar 500 jamaah. Pada tahun 1981, atas bantuan Pemerintah Arab Saudi, kembali dilakukan pemugaran. Pemugaran kali ini memperluas sisi kanan dan kiri masjid, sehingga masjid dapat menampung sekitar 1.500 jamaah.

Hanya berselang dua tahun setelah dipugar, Banda Aceh diguncang gempa hebat. Banyak bangunan yang hancur akibat gempa tersebut. Sekitar 60% bangunan di sekeliling masjid hancur atau bahkan rata dengan tanah. Masjid ini pun tak luput terkena dampak. Kubah masjid runtuh. Saat dilakukan renovasi pasca gempa, bagian kubah dihilangkan sehingga bagian atas masjid hanya tertutup atap biasa. Selain gempa, masjid juga pernah diterjang banjir besar pada tahun 2001.

Pada tanggal 26 Desember 2004, gelombang raksasa setinggi 21 meter menghantam pesisir utara Banda Aceh. Kawasan Ulee Lheue yang berada persis di tepi laut menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak. Nyaris semua bangunan di wilayah ini rata dengan tanah atau hanyut terhempas gelombang ke arah pusat Kota Banda Aceh – beserta ribuan jiwa yang menjadi korban.

Ketika bencana tsunami itu terjadi, masjid ini tetap kokoh berdiri di tengah hamparan puing bangunan sekitarnya yang telah hancur. Hanya sebagian kecil bagian bangunan yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Pasca tsunami, masjid ini menarik perhatian banyak pihak dari berbagai belahan dunia. Sebagai salah satu rumah ibadah yang selamat dari bencana, keberadaan masjid ini menjadi daya tarik wisata bernuansa religi selain Masjid Agung Baiturrahman dan Masjid Rahmatullah Lampuuk.

Pengunjung Masjid Baiturrahim biasanya tidak sekadar mengabadikan situs bersejarah yang selamat dari berbagai bencana ini. Mereka biasanya menyempatkan diri untuk melakukan shalat di masjid ini. Pengurus masjid dan Pemerintah Kota Banda Aceh pun telah menyediakan fasilitas informasi bagi pengunjung (taken from here).

Seperti informasi diatas, masjid ini didirikan sekitar abad ke-17 dengan sebutan Masjid Jami’ Ulee Lheue. Jadi, usianya sudah sekitar 4 abad saat ini dan masih berdiri kokoh (termasuk menaranya segala lho!), walau dibangun tanpa besi dan terhempas Tsunami.

Tidak hanya masuk di halaman, aku bahkan dipersilakan masuk kedalam masjid. Oh, wow?!! Ini adalah ajakan yang tidak bisa aku sia-sia. Apalagi, Abang Adi langsung menjadikan dirinya semacam guide, menceritakan sejarah masjid, menunjukkan bagian-bagiannya sambil sesekali diselingi dengan cerita pribadinya saat tsunami datang 14 tahun yang lampau.