Mie Kocok Si Doel (Banda Aceh – Aceh); Enak!

“Eh, kau bawa aku kemana ini? Ini bukan makanan Aceh! Itu, itu lihat namanya, Si Doel. Jakarta, itu!”.

Aaarghhh, lakbannnnnn!!! Mana lakban?????

2 hari terakhirku di Aceh diganggu dengan satu manusia yang sangat amat susah aku mengerti. Kalo biasanya aku bisa adaptasi dengan cepat, dengan manusia yang satu ini aku sampe dibikin sakit kepala! Hadehhh……….. Eh, kok jadi curhat.

Kembali ke makanan. Kita tuh tiba di Mie Kocok Si Doel, Jalan Diponegoro 74, Banda Aceh, Aceh untuk makan siang sebelum miber balik ke Jawa. Buatku, ini adalah kunjungan kedua, karena dari sekian banyak makanan yang aku coba, yang satu ini adalah yang paling bisa dinikmati Mami & sepupuku *catat*.

Tempat makannya bagus, bersih sekali, nampak kalau bangunan yang dipakai adalah bangunan baru (dan setelah Googling kesana kemari ternyata Mie Kocok Si Doel pernah kebakaran hebat hingga rusak segalanya di Oktober 2016).

Dan sepertinya dalam waktu kurang dari setahun, Mie Kocok Si Doel sudah bangkit dengan gagah dan raaamai:

Bangunan barunya melebar sampai belakang, bahkan ada tempat makan di lantai 2. Dibagian depan, ada tempat meracik minuman khas Aceh:

Asik loh, ada wastafelnya, juga deretan toples besar berisi bahan-bahan untuk es campur (ada cao, kacang merah, cincau. mutiara, tape, gula merah cair, dll).

Penampilan Es Campur-nya seperti ini:

Rasanya unik. Gula merah cairnya ituloh, beda dengan yang di Jawa, rasanya khas dan mendominasi. Dan Es Campurnya nih engga pake buah-buahan seperti di Jawa. Kalau mau lebih OK, minta saja tape beras (ketan)nya. Bentuknya putih, sebesar bola pingpong dan engga terlalu manis. Sayang, si tape engga kefoto karena keburu habis dimakan @[email protected]

Dibelakangnya, ada meja racik mie!

Ada banyak sekali piring yang sudah diberi mie, dll. Ntar mie-mie tersebut tinggal disiram kuah kaldu panas sesaat sebelum disajikan (dengan demikian pelayanan mereka jadi cepat!):

Dan inilah penampilan Mie Kocok pesananku:

Ada mie, taoge (taoge import tuh, gede-gede dan bersih!), cacahan daging sapi (yang warnanya coklat tua: menurutku sih cacahannya mikro, hampir menyerupai abon hahaha), taburan bawang goreng dan rajangan daun bawang. Kuah kaldunya harum, bening, minim minyak.

Mie ini gurih! Rasanya light, pas, menyenangkan. Engga eneg, engga bikin haus, kolaborasi cantik rasa gurih dan sedikit manis. Udah, dimakan gitu aja enak. Silakan tambahkan kecap manis dan sambal kalau mau eksperimen :).

Kalo di Surabaya, Mie Kocok tuh disajikan dengan telor rebus setengah matang. Disini, Telur Rebus disajikan terpisah dalam wujud seperti ini:

Nah yang ini? Ini Perkedel!

Haha, awalnya aku pikir ini bakso goreng (tanda-tanda kangen makanan di Jawa?). Perkedel ini dijual bijian, walau disajikan per 4 butir. Sebiji pun cuma 500 perak, rek. Murah meriah membahagiakan, cucuk dijadiin camilan, apalagi dimakan bareng Mie Kocok <3.

Oh ya, Mie Kocok Si Doel hanya punya 2 menu. Mie Kocok dan Bakso. Daripada penasaran, aku pesan sekalian deh Baksonya:

Sama, Baksonya sudah disiapkan dan tinggal diberi kuah kaldu hangat saja:

Ini, penampilan Baksonya:

Untuk minuman, benernya engga cuma Es Campur sih. Ada juga Teh, Jeruk, bahkan aneka Juice yang buah-buahannya nampang cantik di etalase ini:

Dan kayanya aku akan kangen Mie Kocok Si Doel, lengkap dengan para pegawainya yang ramah dan sigap, juga pemiliknya yang humoris:

Aduh, si Bapak ini ramah banget! Bahkan dia mengenali aku, si asing (bukan “Aseng”!) yang sudah 2x datang ke tempat makannya. Dia usahain kita dapat meja makan, dipersilakan duduk yang nyaman, pegawainya disuruh segera datang dan mencatat pesanan, lalu ketika kita bayar dia ngajak ngobrol, mencoba sedikit berbahasa Jawa lalu kita ketawa bersama.

Aah, Aceh. Aku akan merindukanmu..