ALL, FOODICTIONARY

Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk (Banda Aceh – Aceh); Ayam Tangkap & Dendeng Aceh

Sama seperti tempat makan lainnya, semua berdasarkan rekomendasi sopir saja *Google cuti dulu*. Kali ini aku request, “Bang, bawa kita pergi makan ayam tangkap ya” dan kesinilah kita dibawanya:

Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk, Jalan Tengku Imim Leueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Sumatra Utara.

Ini bangunan utama tempat makannya:

Ada lesehan dengan ruangan terbuka disebelah kiri, ada ruangan tanpa AC seperti foto dibawah ini:

Dan ada ruangan ber-AC yang jadi tempat makanku (namun engga kefoto *told ya, aku rada males foto saat di Aceh*). Trus, kita dapat lembar menu seperti ini:

Lha karena niatnya cari Ayam Tangkap, maka aku pesan Ayam Tangkap 2 porsi namun yang datang seperti ini:

Seperti rumah makan Padang kan? Lihat nih:

Yeah, kuliner Aceh tuh menarik. Di beberapa tempat, cara penyajiannya emang mirip rumah makan Padang, cita rasa makanannya menurutku sedikit mirip Padang (ada banyak menu gulai loh) dan setelah Ayam Tangkap pesananku datang, eeh.. makanan Aceh yang satu ini kok juga mirip makanan Thailand!

Lihat saja, penampilan seporsi Ayam Tangkap:

Aku becanda dengan sepupuku, aku bilang “Ini ayamnya abis lari-lari, lalu ketangkapnya disemak-semak”. Jadi, ayamnya tuh disajikan dengan dedaunan yang tampaknya juga digoreng:

Ayam Tangkap adalah masakan khas Aceh yang terbuat dari ayam yang digoreng dengan bumbu dan rempah-rempah khas.

Kebiasaan menyantap ayam tangkap sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh. Pengolahan ayam ini tidaklah sulit yaitu hanya dengan menggoreng setelah sebelumnya sudah terlebih dahulu diberi bumbu agar gurih saat disantap. Bumbu yang digunakan seperti bawang putih, lada, kemiri, garam, dan jahe. Setelah dibumbui, ayam lalu digoreng sekitar 5–10 menit.

Pada saat yang bersamaan, dimasukkan pula beberapa genggam daun yang akan disajikan bersama ayam sehingga rasa rempah dedaunan turut meresap ke dalam daging ayam. Daun yang digunakan, di antaranya daun kari, potongan daun pandan, dan salam koja. Dedaunan itu pula yang kemudian menutupi sajian ayam tangkap pada setangkup piring.

Setelah ayam matang, dedaunan ini memang tetap disajikan dengan menutupi ayam sehingga terlihat ayam sengaja diletakkan di bawah dedaunan. Dedaunan ini selain sebagai daya tarik hidangan, sekaligus bisa dijadikan sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam. Jika masih dalam keadaan hangat, dedaunan ini bercita rasa kering seperti kerupuk.

Di beberapat tempat, masakan ini dijuluki juga dengan istilah ayam tsunami dikarenakan masakan ini biasanya disajikan dengan ditebarkan di piring seperti ketidakteraturan setelah bencana tsunami (taken from here).

Menarik beneran loh! Lihat nih detailnya, selain ada dedaunan (yang aku engga kenali namanya), ada juga bawang merah goreng (besar-besar tuh bawang gorengnya) dan cabai hijau yang sudah dimasak:

Kalau dedaunan itu disingkirkan, nampak deh ayamnya:

Dalam 1 porsi Ayam Tangkap, ada seluruh bagian dari seekor ayam (kepala, leher, kaki, jerohan, dll) dan harganya 6orb per September 2017. Kelihatan ya kalau ayamnya tampak kecil, itu karena yang digunakan adalah ayam kampung. Kalo kita cewe-cewe, seporsi gini cukup untuk berdua, tapi buat cowo sih kayanya seporsi gini bisa dihabiskan sendirian.

Makanan yang ini mengingatkanku dengan Ayam Pandan, masakan Thailand yang ayamnya digoreng didalam ikatan daun pandan. Bedanya, engga ada saus khas Thai. Ayam Tangkap bisa dimakan begitu saja, atau pakai kecap manis (ini ideku sih):

Rasa ayamnya sendiri gurih menyenangkan! Cocok dimakan begitu saja atau dengan nasi putih dan lauk-lauk lain. Aku pesan Ca Kangkung sebagai teman makan Ayam Tangkap:

Menurutku pribadi, rada susah nemu menu sayur di Banda Aceh, jadi kapanpun aku nemu menu sayur, aku pesan deh. Ini OK loh sayurnya..

Btw, sekalian coba Dendeng Aceh:

Apa spesialnya dendeng khas Aceh ini? Dagingnya! Bukan sapi nih, tapi daging rusa..

Aku engga sada loh kalo itu bukan daging sapi, sampai kita sudah mau pulang. Rasa? Ya aku kira rasanya beda karena bumbu-bumbunya kuat, rasanya pun engga seperti kebanyakan dendeng sapi di Jawa Timur (yang manis). Jadi, dendeng ini ada baiknya juga kalian icip dah..