Rujak Aceh Garuda (Banda Aceh – Aceh); Wajib Coba!

Rujak Aceh Garuda di Jalan Tengku Pulo Dibaroh 19, Banda Aceh, Aceh, Sumatra Utara jadi tempat yang kita tuju untuk makan Rujak Aceh.

Tempat makannya terbuka dan bersih, cenderung ramai pada jam-jam tertentu (namun sepi saat aku datang):

Benernya, aku engga kepikir kalo nih rujak adalah sesuatu yang khas, karena ketika aku ke Medan, Ambon, dll rujaknya mirip-mirip walau ingredients-nya beda. Nah, kalo Rujak Aceh ini ingredients dan penampilannya beda banget! Makanya, aku bilang “wajib coba” (tapi bukan soal rasa loh, ya).

Apa yang bikin beda? Minimal, dari bahan dasar rujaknya:

Nah lo. Ada yang pernah lihat buah itu, gak? Aku sih baru pertama kali itu lihat & pegang (bahkan kemudian icip). Buah hijau ini namanya Salak Aceh alias Buah Rumbia dan kini keberadaannya sudah makin langka pasca Tsunami 2004 silam..

Orang Aceh kebanyakan pasti pernah menikmati kelezatan dari buah yang kaya khasiat ini. Khususnya mereka yang hidup sebelum tahun 2004. Boh Meuria sekarang semakin langka, sudah jarang kita dapati di tempat penjualan buah bahkan tidak ada lagi, paling bisa kita jumpai di perkampungan saja itupun kalau masih ada.
Boh meuria, bahasa latinnya Metroxylon sagu. Kalau bahasa nasionalnya buah rumbia. Rumbia atau disebut juga pohon sagu adalah nama sejenis palma penghasil tepung sagu. Rumbia biasanya tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah bencah lainnya. Pada wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun atau hutan sagu yang luas. Pada masyarakat kampung biasanya daun rumbia dijadikan sebagai atap rumah, atap pondok di kebun atau sawah.
Kalau di Aceh, buah rumbia banyak terdapat di Meulaboh, Aceh Barat. Dulu, dimasa kejayaan buah rumbia, jika orang pergi ke Meulaboh pasti membeli buah rumbia sebagai oleh-oleh. Buah rumbia agak mirip dengan buah salak, kalau buah rumbia sisik buahnya agak besar, rasanya kelat, tapi kalau sudah tua rasa kelatnya sedikit hilang dan mulai timbul sedikit rasa manis, bila ingin memakannya diasinkan dulu, baru sedap untuk dimakan. Kalau belum diasinkan paling mantap dimakan dengan patarana atau pliek `u.
Di kampong kami, dulunya banyak sekali buah rumbia ini namun entah apa penyebabnya buah rumbia sudah jarang sekali didapatkan bahkan tidak ada lagi. Satu-dua pohonnya masi dapat kita jumpai di kampung-kampung namun tidak berbuah lagi.
Selain diasinkan, boh meria biasanya dimakan bersama dengan rujak, digunakan sebagai salah satu campuran rusak bersama dengan buah-buahan lainnya. Karena buah rumbia sulit didapatkan maka para penjual rujak menggantinya dengan buah pisang muda. Padahal rujak dengan boh meuria sangat nikmat.
Dijaman saya kecil dulu, dahan rumbia atau peulepah meuria sering kami gunakan untuk bahan baku pembuatan mobil-mobilan. Butuh perjuangan untuk mendapatkan dahan rumbia terbaik, kadang kami harus masuk ke semak-semak untuk mencari pelepah rumbia yang besar, tebal dan kering.
Untuk jaman yang serba modern sekarang, buah rumbia mulai tidak disenangi lagi untuk dimakan apalagi di kalangan anak-anak kemeren soreyang doyannya makan buah melon, apel, anggur dan lain sebagainya. Paling yang masih mau menikmati buah rumbia adalah orang-orang tua yang menyukai makanan tradisional. Mobil-mobilan dari peulepah meria pun tidak pernah dijumpai lagi di kampung-kampung semenjak lahirnya mainan-mainan modern yang instan sehingga kreativitas anak-anak sekarang sangat terbatas (taken from here).

Maka, beruntunglah aku, 2x makan Rujak Aceh (di Banda Aceh dan Sabang), keduanya masih memakai Salak Aceh alias Buah Rumbia ini sebagai bahan dasar. Namun kedua penjual Rujak Aceh itu (baik yang di Banda Aceh atau Sabang) sama-sama bilang bahwa Salak Aceh alias Buah Rumbia kini sangat susah didapatkan, sampai mereka harus titip beli dari kenalan di Meulaboh.

Aku sempat diberi 1 buah Salak Aceh alias Buah Rumbia untuk dicoba. Nih, wujud bagian dalam buahnya:

Disarankan makan dengan sedikit garam kemudian dikunyah.. Rasanya?! Huahwuahuaaaa… &@%#[email protected])@#&!!! Speechless, mbuh mau komen apa. Lidah, gigi dan gusi langsung berasa sepat, kumur pun engga nolong @[email protected] Si Abang penjual Rujak Aceh ngakak lihat reaksiku yang ternyata normaaaallll (buat orang non Aceh ya!), soalnya sepupu dan tanteku reaksinya sama persis, hahaha!!!

Swear, ini buah susah dimengerti kenikmatannya kalau dimakan begitu saja. Tapi kalau dicampurkan pada Rujak Aceh, lain cerita.

Btw, selain pakai Salak Aceh alias Buah Rumbia, Rujak Aceh juga pakai pisang kluthuk (seperti di Jawa ya!) dan kacang, kemudian ada potongan nanas yang diuleg, sebelum akhirnya diberi gula merah cair:

Buahnya? Perhatiin buahnya, beda nih dengan cara potong buah-buahan untuk rujak di Jawa, Medan, Ambon, dll:

Buahnya dipotong kecil-kecil dan langsung diaduk dengan bumbunya! Sehingga penampilan Rujak Acehnya seperti ini:

Sekilas mirip Rujak Gobet yak!

Nah, ada lagi rujak lainnya yang namanya Es Buah:

Foto diatas aku ambil dari sini, karena ini penampilan Es Buah-nya ketika aku pertama kali lihat haha:

Udah dihabiskan yang lain, karena aku terlalu lama ngelihat cara bikin Rujak Aceh. Sigh :p.

Mentang-mentang lagi di Aceh, sering-sering deh minum Kopi Susu:

Bijih kopi Aceh Gayo ini, rek! Siapa nolak, secara di Jawa susah deh dapetin kopi Aceh Gayo. Btw, soal rasa, kopi-kopi di Aceh ini emang sedap. Susah, gimana aku jelasinnya. Yang pasti, engga asam dan unik. Duh, menyesal aku engga borong kopinya.

Btw, dibagian depan Rujak Aceh Garuda, ada Ibu-ibu menjual makanan khas Aceh, harganya pun masuk akal. Menarik, untuk dicoba (sayang waktu itu aku sudah kenyang):

Selamat mencoba!