Rumah Cut Nyak Dhien (Aceh Besar – Aceh); Juga Sebagai Museum

Cut Nyak Dhien. Siapa tidak kenal dengan wanita perkasa dari Tanah Rencong, Aceh?

Pagi ini, aku re-post tulisan seseorang di FB, begini isinya:

HARI itu, tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmaja, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda.

Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun.

Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat. Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat.

Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 06 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya
perempuan tua itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang.

Yang mereka tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk, perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah.

Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung. Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut dengan Ibu Perbu.

Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah The Queen of Aceh Batlle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien.

Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.

Gadis kecil cantik dan cerdas bernama Cut Nyak Dhien. Dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Lampadang tahun 1848.

Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia yang merupakan keturunan perantau Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas.

Pada usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.

Suasana perang yang bergelanyut diatmosfir Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh.

Dan Tjoet Nyak Dhien tentu ada disana, ditengah tebasan rencong, pekik perang dan dentuman meriam.

Dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan di bakar tentara Belanda.

“Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh! Lihatlah! Saksikan dengan matamu masjid kita dibakar! Tempat Ibadah kita dibinasakannya! Mereka menentang Allah! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kafir Belanda! Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata!” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perang Aceh adalah cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir, begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap harinya waktu dihabiskan untuk berperang, berperang dan berperang melawan Kaphe Beulanda.

Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1070.

Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang.

Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.

Tetapi bagi Tjoet, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, Teungku Ibrahim Lamnga suaminya bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya atau para lelaki Aceh saja.

Perang Aceh adalah milik semesta rakyat. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak Dhien, dia tetap mengorganisir serangan-serang an terhadap Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiaran putri bangsawan itu hanya dicurahkan pada perang. Berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kebugarannya merosot.

Kondisi pasukannya pun tak jauh berbeda.
Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada pada 16 November 1905 sepasukan Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya, Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak.

Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) lalu dibuang Sumedang, Jawa Barat.

Perjuangan Tjoet Njak Dien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing, sehingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini.

Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.

Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berkoar menyamaratakan persamaan hak yang bernama, Emansipasi.

LALU, ANIES BILANG BELANDA CUMA MENJAJAH BATAVIA?
Lebih tepatnya begini:
“Jakarta adalah kota yang paling merasakan penjajahan Belanda di Indonesia. Sebab penjajahan itu terjadi di ibukota. Yang lihat Belanda dari jarak dekat siapa? Jakarta! Coba kita di pelosok-pelosok, itu tahu ada Belanda, tapi lihat depan mata, enggak. Yang lihat depan mata itu kita yang di kota Jakarta”.

Ah, aku yang bukan Cut Nyak Dhien atau pun keturunannya, sakit hati!

Ah, memang kalimat penutupnya menyakitkan hati sebagian dari pendukung Anies, mungkin. Tapi please, lah. Perang melawan Belanda itu ada dimana-mana, bahkan di pucuk pulau Sumatra. Dan hebatnya lagi, pemimpinnya adalah seorang wanita..

Maka adalah sebuah kehormatan, untuk bisa berkunjung ke Rumah Cut Nyak Dhien di Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar Regency, Aceh 23232, Indonesia walau pun ini bukan bangunan aslinya:

Baca baik-baik, rumah aslinya dibakar Belanda tahun 1896. Berarti, Belanda ada di Aceh! Ada perang Aceh. Ada Cut Nyak Dhien. Dan ini adalah sejarah yang tidak bisa dipungkiri hanya dengan sederetan pidato seorang Gubernur. Catat itu.

“Rumah ini menghidupkan kembali kenangan pada wanita pejuang Cut Nyak Dhien. Lebih dari sekedar nama, beliau telah mewariskan epik yang membanggakan, sebuah pragmen sejarah yang patut dikenang ulang dan dijadikan perlambang sebuah perjuangan panjang”. Inilah kata-kata dalam sebuah piagam peresmian yang ada diruang tengah rumah tertanggal pada 4 februari tahun 1987 dan di tandatangani oleh Fuad Hasan.

Rumah ini Merupakan kediaman Cut Nyak Dien dan Teuku Umar didirikan pihak Belanda sebagai bentuk apresiasi atas bergabungnya sang suami Cut Nyak Dien dengan Belanda, padahal hanyalah siasat perang Teuku Umar belaka. Membutuhkan waktu 20 menit dari pusat kota Banda Aceh untuk menuju situs cagar budaya ini di Desa Lampisang, Kecamatan Lambada Aceh Besar ini.

Pemandu dan juru kunci rumah, Asiah mengatakan rumah berukuran 25 x 15 meter, rumah yang saat ini katanya hanyalah replika. “Aslinya sudah dibumi hanguskan Belanda setelah tahu siasat Teuku Umar,” jelas Asiah.

Replika pun dibangun kembali, kata Asiah pada tahun 1981 dan selesai setahun kemudian. Dengan dominasi cat hitam, rumah itu tampak sama dengan rumah tradisional Aceh kebanyakan, ditambah  sanggahan 65 pilar serta atap rumbia dengan kontruksi bangunan kayu. Tangga utama berjumlah ganjil terletak disebelah kanan rumah, menghubungkan setiap pengunjung masuk dengan seuramoe rambat. Sejurus kemudian kita melangkahkan kaki melewati 2 anak tangga, di sisi kanan seuramoe rambat tampaklah sebuah ruangan memajang gambaran kisah perjuangan Aceh melawan Belanda dalam bentuk pencitraan foto dan merupakan hadiah dari pihak belanda setelah indonesia memperoleh kemerdekaan.

Ada dua kamar diruang tengah, lengkap dengan tempat tidur khas Aceh yang dulunya ditempati oleh para dayang Cut Nyak. Disisi kiri seuramoe rambat adalah kamar dari Cut Nyak Dien. Terkesan bangsawan pada masanya, kamar juga lengkap dengan asoe kama khas Aceh. Kini dapur pun dihiasi dengan pajangan berbagai senjata tradisional khas Aceh.

Situs cagar budaya ini menjadi salah satu tujuan wisatawan yang ingin mendalami tentang sejarah perjuangan Cut Nyak Dhien dan sejarah Aceh yang cukup panjang seacara keseluruhan (taken from here).

Sayang, aku tidak bisa masuk kedalam, karena saat itu libur nasional. Sehingga aku kemudian hanya bisa numpang foto dengan bangunan rumahnya saja:

Kini, rumah pahlawan nasional kita ini difungsikan sebagai museum. Aku Googling kesana kemari untuk mendapatkan foto bagian dalamnya dan kemudian memutuskan untuk copas tulisan dari 3 website:

Selain dikenal memiliki pesona wisata alam yang memukau, Aceh juga merupakan provinsi yang memiliki sejarah panjang. Provinsi yang terletak di ujung pulau Sumatra ini melahirkan banyak pahlawan nasional yang turut berperang melawan penjajahan Belanda. Tak heran jika di daerah ini dapat dijumpai beberapa tempat wisata sejarah seperti Museum Rumah Cut Nyak Dhien.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien merupakan museum yang akan mengingatkan sejenak dengan pahlawan wanita berhati baja ini. Srikandi Indonesia ini memang dikenal memiliki pendirian yang teguh serta gagah berani dalam memimpin pasukan untuk melawan Belanda. Di museum tersebut, wisatawan bisa melihat senjata-senjata seperti rencong yang dulu digunakan oleh beliau.

Secara administratif, museum ini terletak pada Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Untuk mencapai Museum Rumah Cut Nyak Dhien, wisatawan setidaknya harus menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer atau melakukan perjalanan selama 20 menit dari Kota Banda Aceh.

Letaknya yang berada tepat di pinggir jalan raya, juga menjadikan wisatawan mudah untuk menemukan lokasi dari Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi layaknya mobil atau motor, dan juga tersedia kendaraan umum yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan. Kondisi jalan dari Banda Aceh menuju ke Kecamatan Peukan Bada juga terbilang sangat baik dan teraspal.

Sejarah Museum Rumah Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848 dari keturunan bangsawan bernama Teuku Nanta Seutia dan ibunya bernama Uleebalang Lampageu. Sejak kecil Cut Nyak Dhien telah dikenalkan oleh orangtuanya dengan agama, sehingga beliau tumbuh menjadi perempuan yang patuh akan ajaran-ajaran agama Islam.

Ketika usianya 12 tahun, Cut Nyak Dhien telah dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim lamnga. Namun sayangnya pernikahan tersebut tak berlangsung lama, karena Teuku Cek Ibrahim Lamnga meninggal saat berjuang melawan Belanda. Tewasnya sang suami menjadikan Cut Nyak Dhien sangat marah kepada pihak Belanda dan berjanji akan menghancurkan Belanda sampai tuntas.

Selang beberapa lama, Cut Nyak Dhien dilamar oleh Teuku Umar yang kala itu merupakan seorang tokoh yang juga berjuang melawan Belanda. Awalnya, lamaran tersebut ditolak oleh beliau, namun karena Teuku Umar mengizinkan Cut Nyak Dhien bertempur melawan penjajah lamarannya pun akahirnya diterima.

Bersama Teuku Umar, pernikahan Cut Nyak Dhien dikaruniai seorang anak bernama Cut Gambang. Teuku Umar sendiri akhirnya juga wafat dalam penyerangan Meulaboh pada 11 Februari 1899. Sedangkan Cut Nyak Dhien meninggal pada 6 November 1908 dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat.

Dalam perjuangan Teuku Umar bersama Cut Nyak Dhien, sempat diwarnai dengan pembelotan Teuku Umar kepada pihak Belanda. Aksi tersebut menuai banyak tentangan dari rakyat yang menganggap Teuku Umar telah berkhianat. Padahal, ini merupakan strategi Teuku Umar agar bisa mengakses persenjataan Belanda.

Karena Belanda menganggap Teuku Umar berada dipihaknya, Belanda menghadiahkan sebuah rumah kepada Teuku Umar. Itulah rumah yang kini menjadi Museum Rumah Cut Nyak Dhien. Namun bangunan yang kini bisa dilihat merupakan replika dari banguan yang dibuat menyerupai aslinya.

Rumah tersebut konon telah dibakar sampai habis oleh Belanda yang mengetahui bahwa Teuku Umar hanya berpura-pura pada tahun 1896. Rumah tersebut dibangun kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta diresmikan oleh Fuad Hasan yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1987.

Pesona Museum Rumah Cut Nyak Dhien

Ketika tiba di lokasi Museum Rumah Cut Nyak Dhien wisatawan akan bisa melihat adanya sumur yang sangat tinggi di depan pintu utama. Sumur tersebut memang sengaja dibuat dengan ketinggian mencapai dua meter agar pihak Belanda tak bisa meracuni air yang ada didalam sumur.

Seperti layaknya rumah adat Aceh pada umumnya, desain Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini juga memiliki bentuk yang hampir sama. Berbentuk rumah panggung dengan ukuran 25 meter x 17 meter serta memiliki 65 tiang kayu peyangga. Pintu utama, memiliki ukuran yang cukup kecil sehingga wisatawan harus membungkuk untuk masuk ke rumah tersebut.

Ketika telah memasuki rumah, akan terasa suasana yang sejuk dan asri. Dinding-dinding ruangan terbuat dari papan-papan kayu, serta atap dihiasi dengan pelepah daun kelapa tua. Ruangan didalam Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini tergolong luas dan juga terdapat banyak pintu yang menghubungkan ruangan satu dengan ruangan yang lainnya.

Pada dinding ruangan, wisatawan bisa melihat silsilah keturunan dari pahlawan wanita Indonesia tersebut. Selain itu terdapat pula koleksi yang menggambarkan pada masa Perang Aceh. Wisatawan tak perlu khawatir, karena terdapat penjelasan di bawah setiap pajangan yang ada di museum ini.

Memasuki ruang lain pada museum, terdapat koleksi kursi-kursi kayu dengan ukiran khas Jepara yang terpajang rapi. Di tengah deretan kursi tersebut terdapat meja yang diperkirakan dulu merupakan tempat bagi para tokoh-tokoh Aceh untuk berunding menentukan strategi berperang. Di ruangan tersebut juga bisa ditemukan koleksi senjata yang digunakan Cut Nyak Dhien yaitu rencong dan parang.

Pada Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini wisatawan juga bisa melihat kamar yang dulu digunakan oleh Cut Nyak Dhien. Walaupun hanya replika, namun desain kamar tersebut dibuat mirip dengan yang asli tanpa mengurangi atau menambah detail yang ada. Kamar ini dihiasi oleh tirai berwarna kuning seperti layaknya kamar miliki raja-raja.

Jika berwisata di Museum Rumah Cut Nyak Dhien, wisatawan tak perlu bingung karena disini ada seorang penjaga yang siap mengantarkan wisatawan untuk melihat museum tersebut. Dengan sabar, pemandu akan menjelaskan cerita dan sejarah yang terkandung dalam koleksi-koleksi museum ini.

Fasilitas Museum Rumah Cut Nyak Dhien

Fasilitas yang tersedia di Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini terbilang cukup lengkap. Terdapat lahan parkir luas yang bisa digunakan wisatawan memarkir mobil, dan juga terdapat toilet. Selain itu, juga ada pemandu yang selalu ramah pada wisatawan yang ingin lebih mengetahui sejarah tentang Cut Nyak Dhien.

Jika wisatawan muslim dan ingin melakukan ibadah sholat, terdapat beberapa masjid yang bisa digunakan disekitar lokasi museum. Setelah berwisata di museum, wisatawan juga bisa berwisata kuliner dengan menikmati kopi khas Aceh yang disediakan warung-warung sederhana disekitar lokasi.

Selain itu, disekitar jalan raya dekat Museum Rumah Cut Nyak Dhien wisatawan juga bisa berburu oleh-oleh camilan khas Aceh. Terdapat beberapa toko kue yang menjajakan kue khas Aceh seperti Bhoi, Timphan, Dodol, Keukarah, Adee dan masih banyak lagi.

Berkunjung ke museum tak hanya memberikan pengalaman berwisata tetapi juga pendidikan tentang sejarah. Berikut aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini.

Wisata Sejarah

Jika kamu seorang pecinta wisata sejarah, maka Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini patut menjadi destinasi wisatamu ketika berada di Aceh. Ingatanmu akan disegarkan kembali dengan salah satu pahlawan wanita terbaik yang dimiliki oleh Indonesia.

Di museum ini kamu bisa melihat berbagai koleksi seperti senjata rencong dan parang yang digunakan oleh Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Selain itu, kamu juga bisa melihat berbagai koleksi yang menggambarkan peristiwa Perang Aceh.

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk

Museum Rumah Cut Nyak Dhien dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.30 sampai 12.30 dan 14.00 hingga 17.00 WIB. Untuk memasuki museum ini wisatawan tidak dikenakan biaya sama sekali, namun hanya diminta untuk menyumbang seikhlasnya untuk perawatan museum (taken from here).

Dan:

“Sebagai perempuan Aceh, jangan meneteskan air mata atas orang yang syahid!” Begitulah beliau berkata kepada anak perempuannya Cut Gamblang yang sedih melihat jasad ayahanda syahid di medan perang. Entah terbuat dari apa jiwa perempuan tua tersebut karena mempunyai jiwa yang begitu kuat. Adalah Cut Nyak Dhien, seorang pejuang dari kaum perempuan yang berasal dari tanah rencong. Beliau pernah menjadi pemimpin perlawanan terhadap pasukan Belanda.

cut nyak dhien

Museum Cut nyak dhien tampak dari samping. Foto merupakan dokumentasi penulis

Siapa yang tak kenal dengan beliau, sosok perempuan yang dengan kegigihannya melawan penjajah dan mampu menyurutkan perlawanan dari pasukan Belanda pada masanya dulu. Bahkan tidak itu saja, beliau juga sangat disegani oleh musuh-musuh nya.

Pada penghujung tahun 2015, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi tanah kelahiran Ibu Purba itu. Aceh, adalah daerah yang beberapa tahun silam pernah dilanda bencana alam Gempa dan Tsunami yang menimbulkan banyak korban, kerugian, dan juga membuat hampir keseluruhan daerah di Aceh ini porak poranda.

Di sana, hal yang pertama kali ingin saya lakukan adalah, pergi berkunjung ke rumah kediaman Cut Nyak Dhien yang pada tahun 1964 beliau ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional. Rumah itu kini telah dijadikan museum oleh pemerintah setempat yang memajang benda-benda yang dekat dengan keseharian beliau di beberapa waktu lampau. Saya ingin tahu, bagaimana kehidupan seorang perempuan pemberani yang pada masanya dulu, namanya, sangat dikenal seantaro nusantara ini hingga sekarang.

Mulanya, saya pikir tidak akan sulit  menemukan lokasi kediaman beliau dulu karena menurut saya, Cut Nyak Dhien adalah orang yang sangat terkenal di nusantara ini, apalagi di tanah kelahirannya sendiri. Tentu tidak akan sulit mencarinya jika saya mau bertanya kepada setiap orang yang tinggal di Aceh ini.

Namun, setelah saya mulai mencari di mana museum rumah beliau, saya sedikit kecewa karena pertama kali saya bertanya pada seorang ibu yang sedang bersama anaknya, saya mendapatkan jawaban yang sangat tidak saya harapkan. “Kalau museum rumah Cut Nyak Dhien, ibu kurang tahu dek, yang ibu tahu cuma museum rumah aceh.” Itulah jawaban dari ibu dan anaknya tersebut. Saya berpikir positif saja, mungkin ibu tersebut bukan warga asli Aceh.

Karena saya belum mendapatkan di mana lokasi museum rumah Cut Nyak Dhien tersebut, saya memutuskan untuk minum kopi sejenak, kebetulan tak jauh dari tempat saya bertanya sebelumnya saya melihat ada sebuah warung kopi. Sekalian saya mau mencoba kopi Aceh yang oleh para penikmat kopi bilang, jika berkunjung ke provinsi Aceh, akan menyesal jika tidak mencoba bagaimana nikmatnya kopi Aceh. Memang, dari banyak sumber yang saya dengar, kopi Aceh telah terkenal bahkan sampai keluar negeri.

Saya memasuki warung kopi itu.  Susunan meja dan kursi seperti semua warung minum pada umumnya, tidak ada perbedaan yang mencolok menurut saya, kecuali, percakapan orang di sini yang sedikitpun tidak saya mengerti. Namun, saya menemukan sebuah pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Itu adalah, cara pembuatan kopi di sini.

Di daerah asal saya, mencampurkan beberapa sendok kopi dan gula ke dalam cangkir, kemudian diisi dengan air panas, begitulah cara membuat kopi yang biasa saya lihat selama ini. Namun, yang saya lihat di warung kopi Aceh kala itu, sangat berbeda. Kopi di sini dibuat seperti membuat teh tarik.  Dengan cara begitu, kopi yang dihasilkan memang sangat berbeda dari kopi yang pernah saya minum selama ini. Tidak ada sedikitpun bubuk kopi yang tersisa di dalam cangkir. Kita bisa menghabiskan kopi di sini sampai isi cangkirnya benar-benar kosong. Dan jika bertanya soal rasa, tidak lah salah yang orang bilang bahwa kopi Aceh sangat nikmat, dan wajar kopi Aceh disebut-sebut terkenal sampai keluar negeri.

Setelah saya menghabiskan secangkir kopi tadi, saya berniat untuk melanjutkan pencarian kediamannya Cut Nyak Dhien kembali.

Sambil membayar minuman tadi, saya mencoba bertanya pada pemilik warung kopi tersebut, “Mau tanya bang, museum rumah Cut Nyak Dhien arah mana ya bang? Mereka tampak bingung, saling memandang, dan saling berbicara dalam bahasa Aceh. Saya tidak mengerti sedikitpun apa yang sedang mereka bicarakan, namun, dari gerak-gerik mereka saya bisa menebak bahwa merekapun tampak kebingungan di mana letak museum itu. Beberapa saat kemudian, “duh, kami kurang tahu juga dek, di sini museum yang kami tahu cuma museum rumah Aceh.” Mendengar jawaban itu, saya kembali kecewa. Oh Tuhan, ada apa dengan orang di sini, kenapa susah sekali menemukan museum rumah Cut Nyak Dhien. Saya teringat akan kata-kata Soekarno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”. Sayang, yang terjadi di depan saya sekarang malah sebaliknya. Jangankan pejuang-pejuang dari daerah lain, seorang pejuang besar yang tanah kelahirannya di sinipun masih ada yang tidak mengenalnya, alangkah malangnya nasib bangsa ini.

Pada saat bersamaan saya mendengar seorang bapak, sekitar 60 tahunan, berkata, “Anak mau pergi ke rumah Cut Nyak Dhien? Pergilah ke daerah bernama Lampisang, kemudian tanya pada warga di sana di mana rumah beliau, kamu tidak akan susah mencarinya, karena rumah beliau berada tepat di pinggir jalan.” Sungguh melegakan! Ternyata masih ada yang tahu. Tapi, apakah hanya orang yang sudah tua yang kenal sejarah di sini? Besar harapan saya, selain orang yang telah saya tanyai sebelumnya tadi, semua tahu akan sejarah yang telah diperjuangkan oleh pejuang mereka sendiri.

Setelah bertanya-tanya, sampai jugalah saya ke rumah yang menjadi tempat lahir dan besarnya seorang perempuan yang bernama Cut Nyak Dhien. Benar, museum tersebut tepat berada di pinggir jalan, di daerah Lampisang. Pada saat itu, saya melihat ada orang lain yang juga berkunjung ke sini. Tidak terlalu ramai memang, hanya beberapa rombongan keluarga.

Cut nyak dhien

Ruangan depan. Foto merupakan dokumentasi penulis

Rumah tersebut terlihat sangat bersih dan kokoh, tidak ada kayu-kayunya yang terlihat lapuk. Terdapat banyak ruangan dan kamar di dalamnya. Juga, terdapat beberapa jenis senjata tajam yang dulunya pernah digunakan oleh keluarga Cut Nyak Dhien.

Saat tengah asyik mengamati, seorang bapak menghampiri saya, pak Fahri namanya. Beliau ini adalah petugas yang bekerja untuk menemani tamu yang datang ke museum ini. Sambil melihat setiap ruangan yang ada, pak Fahri menceritakan apa saja fungsi dari setiap ruangan yang ada.

cut nyak dhien

Pak Fahri, selalu sabar memandu tiap tamu. Foto merupakan dokumentasi penulis

Menurut pak Fahri, rumah Cut Nyak Dhien pada dulunya memang berdiri tepat di atas tanah ini, namun bangunan yang berdiri sekarang adalah bangunan replika ulang. Karena, bangunan yang aslinya telah dibakar oleh pasukan belanda pada masa pemberontakan dulu. Akan tetapi, replika rumah ini, dibuat persis sama dengan bentuk aslinya, tidak ada yang dirubah, ditambah, dan dikurangi, semua dibuat berdasarkan yang aslinya. Oleh karena itulah rumah ini terlihat sangat kokoh dan bersih.

cut nyak dhien

Kamar Cut Nyak Dhien. Foto merupakan dokumentasi penulis

Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat. Saya izin pamit.

Matahari mulai muncul di ufuk barat. Rona jingga dan keemasan mulai tampak. Saya berencana untuk pergi membagi sore ini di Pantai Lampuuk, karena kata pak Fahri, tidak jauh dari sini,  tinggal lurus terus akan sampai di pantai tersebut.

Pembelajaran menarik saya dapat hari itu. Sebuah pengingat bagi diri saya pribadi, untuk terus belajar mengenal sejarah negeri ini lebih tekun (taken from here).

Juga ini:

Hari Pahlawan. Ada baiknya postingan kali ini bernuansakan kepahlawanan juga ya. Hehe. Oke, dibeberapa postingan mengenai Rumah Cut Nyak Dien, hanya sekilas yang aku utarakan dari postinganku berwisata di Aceh. Kali ini secara lebih luas akan aku perkenalkan mengenai Rumah Cut Nyak Dien. Rumah Cut Nyak Dien yang berada di jalan Banda Aceh-Meulaboh, km 8 Lampisang Peukan Bada, Aceh Besar- 23331. Rumah Cut Nyak Dien, atau lebih dikenal dengan Rumoh Aceh. Adalah rumah peninggalan suaminya, Teuku Umar. Sekaligus peninggalan Penjajah Belanda. Karena memang rumah ini dibangun oleh Belanda untuk Teuku Umar, karena hubungan kerja sama pada Teuku Umar.

Pernikahan Cut Nyak Dien dengan Teuku Umar adalah pernikahannya yang kedua. Setelah suami beliau, Ibrahim Lamnga meninggal dalam perang di Gle Tarumpadatanggal 29 Juni1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda. Kemudian seorang lelaki gagah datang melamar Cut Nyak Dien, ia adalah Teuku Umar. Awalnya Cut Nyak Dien menolak, namun karena Teuku Umar mengizinkan Cut Nyak Dien untuk berpedang, akhirnya Cut Nyak Dien menerima pinangan Teuku Umar. Akhirnya mereka menikah pada tahun 1880 dan dikaruniai satu orang anak bernama Cut Gambang (Wikipedia). Sedangkan Teuku Umar gugur saat perang di Meulaboh pada tahun 1899.

Kembali ke rumah, memasuki tangga dirumah berkayu ini, ada lampu besar antik terkesan mewah dengan cahaya kuningnya. Sebagai Cagar Budaya, tak heran jika di rumah ini ada seorang guide yang memberikan informasi mengenai berbagai hal mengenai rumah Cut Nyak Dien. Rumah Aceh ini memiliki banyak ruang. Setelah naik tangga pertama pun ada dua pintu, kanan dan kiri. Kami dipersilahkan masuk melalui pintu kanan.

Di pintu ini terdapat ruangan, yang bertabur foto di tembok kayunya. Dan faktanya, foto-foto pahlawan Indonesia tersebut adalah fotocopy nya saja. Bukan foto aslinya.

Menurut sang guide, foto Cut Nyak Dien yang asli, ada di Belanda. Apa yang dipikiranku? Lah kok bisa ya, foto aslinya pahlawan Indonesia kok ada di Belanda? Bukan di tempatnya berasal? Disini ada foto Teuku Umar, Foto Cut Nyak Dien, Foto Cut Meutia (kerabatnya Cut Nyak Dien) serta foto saat rumah ini pertama dibangun.

Mengulas kembali, rumah ini dibangun Belanda untuk Teuku Umar pada tahun 1873. Atas Teuku Umar yang memiliki siasat untuk merebut kemerdekaan melalu jalan diam-diam, namun Belanda mengetahuinya dan rumah ini di bakar oleh Belanda pada tahun 1896. Namun Cut Nyak Dien, sebagi istri mempertahankan rumah ini kembali.

Oke lanjutkan kita kedalam rumah. Di lorong kayu yang banyak foto tadi, kita memasuki ruang tengah. Di ruang tengah ini banyak terpampang senjata adat di dalam kaca. Ada kursi dan meja juga. Lalu di luar ada sumur yang tinggi. Tinggi sumur adalah 10 meter. Berbeda dengan sumur lainnya, sumur ini sengaja dibuat tinggi sekaligus tempat perlindungan diri orang rumah ketika ada penjajah datang. Dan sumur ini yang paling awet. Tak ada perubahan. Bahkan ketika rumah ini di bakar, rumah ini tetap bertahan kuat. Dan airnya pun masih ada.

Lalu kita memasuki kamar-kamar. Rumah Cut Nyak Dien memiliki banyak kamar. Pada penuturan guide, Cut Nyak Dien pun memiliki selir. Terbukti adanya kamar Selir. Bedanya, setiap selir memiliki suami masing-masing. Jadilah tiap kamar adalah untuk sepasang suami istri. Ada dua kamar selir. Kemudian ada lagi kamar pembantu dapur untuk membantu dirumah itu.

Lalu kamar Cut Nyak Dien… nah ini dia.. kamar yang bernuansa kuning ini sangat khas. Lebih tepatnya seperti kamar pengantin. Beda dengan kamar selir yang serba pink tadi. Terdapat ornamen khas Aceh, ada tempat duduk bersantai dan lain sebagainya (taken from here).

Terima kasih, Cut Nyak Dhien dan seluruh pahlawan nasional lainnya. Kalian luar biasa, kalian hebat. Dan sejarah tidak boleh melupakan kalian..