Makam Sunan Bonang (Tuban); 1 Dari 4 Makam Beliau

Makam Sunan Bonang (Tuban); 1 Dari 4 Makam Beliau

Makam Sunan Bonang yang di Tuban ini adalah makam Sunan ke 7 yang aku datangi.

Seminggu sebelumnya, makam ini dilewatkan begitu saja karena keterbatasan waktu. Maka ada kelegaan tersendiri ketika akhirnya aku menuju gapura ini, untuk masuk ke kawasan Makam Sunan Bonang:

Sebelum bicara panjang lebar, aku perlu memberi info tambahan bahwa sebenarnya ada 4 makam Sunan Bonang. Ya, empat.

Pernah berziarah ke makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur? Jika Anda benar-benar serius mau mencarinya, tempat yang disebut sebagai makam Sunan Bonang sejatinya tak hanya satu tapi empat–termasuk satu petilasan.

Berdasarkan cerita tutur yang beredar, Sunan Bonang (nama asli Maulana Maqdum Ibrahim) adalah putra Sunan Ngampel Denta (Sunan Ampel) dari istrinya bernama Nyi Ageng Manila (sumber lain menyebut Dewi Candrawati, putri Majapahit). Sunan Bonang diperkirakan lahir antara 1440 atau 1465, dan meningal 1525.

Kembali ke soal makam, seperti disebut di atas, setidaknya ada empat tempat yang disebut sebagai makam Sunan Bonang (itu jika petilasan juga dimasukkan). Tempat pertama, dan yang paling populer, adalah yang berada di belakang Masjid Agung Tubang.

Lokasi kedua terletak di sebuah bukit di pantai utara Jawa, antara Rembang dan Lasem—ini berupa petilasan. Orang-orang mengenal tempat ini sebagai Mbonang. Di kaki bukit ini kono juga terdapat makam Sunan Bonang, tanpa cungkup, tanpa nisan, hanya ada tanaman melati.

Tapi orang-orang lebih mengenal tempat yang di atas bukit. Di sana, ada batu yang disebut sebagai tempat untuk salat yang juga ada jejak kaki Sunan Bonang. Menurut cerita yang beredar, kesaktian Sunan Bonang membuat batu itu melesat ke atas bukit.

Situs itu berdampingan dengan makam Putri Cempo (Cempa, Campa) dan ini terjelaskan oleh cerita tutur bahwa Sunan Bonang adalah Putra Sunan Ngampel Denta yang berasal dari Cempa.

Lokasi ketiga adalah makam Sunan Bonang di Tambak Kramat, Pulau Bawean, Jawa Timur. Ada dua makam yang dipercaya sebagai makam Sunan Bonang di sana. Dua-duanya terletak di tepi pantai.

Dari dua makam itu, hanya satu yang tampak lebih terurus, ada rumah-rumahan yang diberi kelambu khusus di atasnya. Sementara makam satunya statusnya masih simpang siur; antara apakah itu benar-benar makam Sunan Bonang atau makan seorang pelatu dari Sulawesi yang terdampar di sekitar Bawean.

Menurut buku Islamisasi di Jawa: Walisongo, Penyebar Islam di Jawa, Menurut Penuturan Babad (2000), konon, setelah Sunan Bonang wafat di Bawean, murid-muridnya di Tuhan menghendaki agar Sunan Bonang dimakamkan di Tuban, tetapi para santri di Bawean menolaknya.

Ada cerita, santri-santri Sunan Bonang di Bawean kena sirep oleh mereka yang datang dari Tuban malam-malam.

Sementara lokasi keempat adalah sebuah tempat bernama Singkal di tepi Kali Brantas di Kediri. Dari tempat itu, seperti dipaparkan oleh Babad Kadhiri, Sunan Bonang melancarkan dakwah tetapi gagal mengislamkan Kediri.

Dari empat lokasi itu, manakah yang benar, para ahli sejarah punya klaimnya masing-masing—tentu saja berdasarkan bukti-bukti yang mereka miliki. Kita, terserah mau ikut versi yang mana (taken from here).

Dan ini versi NU:

Maulana Makdum Ibrahim, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa di pesisir timur pantai utara yang biasa dikenal dengan nama Sunan Bonang. Disalah satu perbukitan di di tepi laut jalan pantura Rembang-Jawa Timur pernah menjadi sejarah pernah singgahnya seorang salah satu tokoh Walisongo atau sekarang dikenal dengan Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.
<>
Menurut sejarah, Sunan Bonang dianggap mempunyai beberapa pusara atau makam, yaitu di Desa Bonang Rembang, Sunan Bonang di Tuban atau Pulau Bawean. Semua tempat yang menjadi pusara dan pernah disinggahi Sunan Bonang semua membawa berkah bagi masyarakat sekitar karena sering diziarahi dan menjadi wisata religi.

Di Desa Bonang sendiri menjadi pusat ziarah, dan juga mempunyai hari-hari penting tertentu yang menjadi hari besar untuk memperingati wafatnya Suanan Bonang, seperti pusara Sunan Bonang yang ada di Tuban dan Pulau Bawean.

Berbagai macam peninggalan dan tempat petilasan Sunan pun masih dapat dilihat dan dijumpai di Desa Bonang ini, seperti Omah Gede (Rumah Besar) yang sekarang digunakan sebagai masjid karena sering digunakan untuk menjalankan shalat. Selain itu, ada bende becak atau disebut juga dengan bende Bonang yaitu sebuah gamelan milik Sunan Bonang yang digunakan sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam. Karena masih dijaga kelestariaannya.

Selain itu ada juga sebuah tempat yang menjadi petilasan yang biasa masyarakat sekitar menyebutnya dengan pasujudan. Konon menurut riwayat, tempat yang terletak di atas bukit di tepi jalan pantura itu menjadi tempat Sunan Bonang dalam bermunajat kepada Allah SWT, dalam menyebarkan agama Islam.

Di pasujudan inilah banyak orang dari berbagai derah meniru jejak Sunan Bonang untuk bermunajat kepada sang pencipta agar dimudahkan dari berbagai masalah dan juga masih banyak yang lainnya.

Desa Bonang sering disinggahi para peziarah yang ingin bertafakur di petilasan Sunan Bonang karena mereka yakin pusara Sunan Bonang berada di Desa Bonang Rembang. Selain untuk tirakat mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an dan shalat tahajud. Banyak diantara mereka yang ingin beraktifitas hanya sekedar membersihkan area makam Sunan Bonang  dalam beberapa hari, entah mereka ngalap berkah, atau membawa motif yang lain.

Ahmad Luthfi Haqim, selaku wakil juru kunci pesarean Sunan Bonang menjelaskan semua tamu yang ingin bertafakur mayoritas berasal dari luar daerah, bahkan terkadang dari luar Jawa. Ia juga menjelaskan bukan hanya masyarakat Bonang saja yang meyakini bahwa pusara makam Sunan Bonang terletak di desa Bonang, meski tidak terdapat nisan sebagai bukti sejarah.

Di sebidang tanah rata, di atasnya banyak tanaman kembang melati ini diyakini sebagai makam Sunan Bonang. Terlepas dari tarik ulur antara makam Sunan Bonang di Tuban atau Pulau Bawean, tiap kali berada di pesarean Bonang, hatinya sangat tenang. Hawanya juga sarat dengan nuansa kedamaian.

Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi bagi para peziarah yang ingin menginap bertafakkur di Makam Sunan Bonang, menyerahkan identitas KTP kepada pengurus yayasan Sunan Bonang, mereka juga harus menghindari kemusyrikan. Apalagi Sunan Bonang sama sekali tidak pernah mengajarkan, serta melarang hal itu (taken from here).

Aku melewati makamnya yang di Rembang, namun tidak mampir karena malas mendaki bukit *anggota suku kaki malas* dan agak menyesal karena ternyata lokasi yang (diduga) sebagai makam Sunan Bonang ada di kaki bukit, tanpa nisan dan nama. Ah, tahu begitu kan bisa mampir. Lokasinya plek dipinggir jalan Tuban – Rembang (dan mencolok), soalnya. Tapi ya sudahlah.

Trus, kenapa aku memilih ke Makam Sunan Bonang yang di Tuban? Alasannya simple:

  1. Awalnya aku hanya tahu bahwa Makam Sunan Bonang ada di Tuban, maka aku berpikir bahwa makam yang Tuban adalah yang paling terkenal lokasinya
  2. Bangunannya tampak lebih cakep (secara aku suka banget bangunan lawas) <— ini sih alasan utama aku mendatangi sekian makam Sunan
  3. Lokasinya sedekat lemparan batu dari Museum Kambang Putih

Sekilas, kawasan Makam Sunan Bonang ini mengingatkanku pada kawasan Makam Sunan Ampel yang memiliki beberapa gapura dan memiliki pasar menjajakan oleh-oleh/ busana muslim yang terletak diantara gerbang pertama dan makam.

Ntar ditengah-tengah lorong pasar, ada tanda panah merah yang menunjukkan arah menuju Makam Sunan Bonang, seperti foto berikut:

Dan segera setelah aku belok, aaah… mata langsung segar melihat gapura cantik ini:

Sekilas, rasanya seperti lagi engga di Tuban! Duh, menyenangkan sekali, berhadapan dengan bangunan secantik ini. Dibagian atasnya, ada tulisan seperti ini (ada yang bisa bantu translate?):

Sedangkan dibaliknya (dari arah dalam melihat keluar):

Gapura ini cenderung pendek, sepertinya untuk membuat laku orang melambat (karena beberapa orang akan ‘dipaksa’ membungkukkan badan untuk masuk) dan setelahnya suasana pun cenderung lebih hening.

Disisi kiri, ada pendapa terbuka dengan beberapa pria tampak berjaga. Aku dipanggil untuk mendekat, ditanyai asalnya dari mana dan hendak apa di Makam Sunan Bonang. Setelahnya, aku dipersilakan melanjutkan perjalanan ke dalam.

Tapi, baru beberapa langkah meninggalkan pendapa, seorang memanggilku lagi dan ‘memaksa’ beli minyak wangi seperti ini, seikhlasnya:

Katanya, kudu wangi kalau hendak ‘bertemu’ Sunan (sungguh, dia pakai kata “bertemu”). Jadi, ya sudahlah. Aku beli seharga 10ribu dan aku kantongi minyak wangi ini (alias: engga dipakai, wkwk).

Dihadapanku berdiri sebuah gapura paduraksa tua yang sangat anggun.

Paduraksa adalah bangunan berbentuk gapura yang memiliki atap penutup yang lazim ditemukan dalam arsitektur kuno dan klasik di Jawa dan Bali. Kegunaan bangunan ini adalah sebagai pembatas sekaligus gerbang akses penghubung antarkawasan dalam kompleks bangunan khusus. Bangunan ini biasa dijumpai pada gerbang masuk bangunan-bangunan lama di Jawa dan Bali, seperti kompleks keraton, makam keramat, serta pura dan puri, meskipun pada masa sekarang ada pula rumah yang juga menggunakan gapura semacam ini.

 Pada dasarnya paduraksa adalah sebuah pintu gerbang, akan tetapi secara disiplin gaya bangunannya mengikuti gaya bangunan candi. Yaitu terdiri atas tiga bagian; kaki atau landasan tempat tangga, tubuh bangunan tempat gawang pintu, dan atap bersusun yang dilengakapi kemuncak atau mastaka. Paduraksa dilengkapi dengan lawang (lubang gawang pintu) dan daun pintu. Gawang pintu (kusen) serta daun pintu ini biasanya dibuat dari bahan kayu berukir.

Bangunan paduraksa ini juga kadang disebut “kori agung”, sesungguhnya merupakan adaptasi dari bangunan gopuram (gapura) dalam arsitektur Hindu-Buddha di Nusantara. Gerbang beratap pada masa awal ditemukan pada beberapa kompleks percandian di Jawa tengah dari abad ke-8 dan ke-9, yaitu kompleks candi Prambanan, Plaosan, serta gapura kompleks Ratu Boko. Pada masa kemudian di Jawa Timur, terutama pada era Majapahit, atap gapura paduraksa kian langsing dan tinggi menjulang. Contoh gapura paduraksa gaya Majapahit adalah Candi Bajangratu. Adanya gapura paduraksa menandakan bahwa kompleks bangunan yang memiliki gerbang seperti ini adalah bangunan penting, seperti tempat suci, atau istana (taken from here).

Bebatuan tuanya rapuh dan menghitam dibeberapa bagian, namun gapura ini masih berdiri dengan sangat baik, lengkap dengan piring-piring hiasnya.

Ya, ada beberapa piring ‘ditanam’ pada dinding gapura. Beberapa merupakan piring lama dan beberapa adalah piring baru (menggantikan piring lama yang pecah/ jatuh/ hilang).

Menarik sekali! Aku pernah jumpai pura di Bali yang dahulunya juga memakai hiasan dari piring/ mangkok keramik. Kuil Wat Arun di Thailand pun juga. Dan ini, beberapa dari piring-piring yang menempel pada gapura:

Bagian belakang gapura pun tak kalah eksotis walau ada banyak hiasan keramiknya yang hilang:

Dan ini, beberapa piring hias yang menempel pada dinding gapura:

Btw, gapura ini dilewati pada saat masuk dan keluar. Pintu tengah, untuk masuk dan 2 pintu samping untuk akses keluar. Pintu bagian tengah, memiliki daun pintu dari kayu yang penyangganya berukir indah:

Bagian atap merupakan kombinasi kayu dan batu. Bagian dengan material kayu, juga berukir dan kini dilengkapi dengan beberapa kamera CCTV:

Lihat belakang daun pintu:

Ada sistem slot sederhana untuk mengunci pintu. Asik tenan!

Trus, langsung ketemu Makam Sunan Bonang? Oh, engga. Lokasi nisannya jauh dari gapura itu. Ntar kita masih lewati Masjid kecil dahulu, lapor ke petugas (yang ini petugas resmi!), lepas alas kaki, kemudian ikuti lagi tanda panahnya:

Selanjutnya, pagar pendek (diambil dari arah dalam keluar):

Ada beberapa nisan berjejer dan 2 pendapa yang mencolok mata:

Keduanya memiliki papan larangan “Dilarang Meletakkan Uang di Pendopo Rante Ini”:

Ooh, namanya adalah “Pendopo Rante”? Entah kenapa namanya demikian, yang pasti pendapa ini menyimpan beberapa benda yang sangat menarik (dan tidak aku duga)! Lihat saja:

Sepertinya ada beberapa nisan tua, bebatuan berukir, umpak, bak air dari batu (?) (yang mirip sarkofagus), dll. Wow? Perhatikan juga bangunan Pendapa Rante ini:

Atapnya memang tampak baru, namun kayu penyangganya tampak tua. Cara membuatnya terikat satu dengan lainnya pun bukan memakai paku/ peralatan modern, melainkan dengan sistem yang bisa dibongkar pasang. Sangat menarik!

Didekat pendapa, ada gapura lagi yang juga pakai hiasan piring keramik:

Bentuknya Paduraksa, tanpa daun pintu namun menggunakan kayu berukir juga pada bagian atap:

Setelah melewati gapura, bakal ada tembok pendek sebagai pembatas, yang juga full piring keramik:

Setelah itu, inilah pemandangannya:

Ada lorong panjang dengan nisan dikanan kirinya, menuju kesebuah bangunan pendapa lain yang luas, tempat Makam Sunan Bonang berada.

Dan inilah (bangunan) makam Sunan Bonang:

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupatenRembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad:

  • Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW)
  • Hussain bin
  • Ali Zainal ‘Abidin bin
  • Muhammad Syahril
  • Ubaidullah bin
  • Alawi Awwal bin
  • Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
  • Alawi Ats-Tsani bin
  • Ali Kholi’ Qosam bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
  • Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
  • Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
  • Abdullah Khan bin
  • Ahmad Jalaludin Khan bin
  • Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
  • Maulana Malik Ibrahim bin
  • Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
  • Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.

Dia juga menulis sebuah kitab yang berisikan tentang Ilmu Tasawwuf berjudul Tanbihul Ghofilin. Kitab setebal 234 hlmn ini sudah sangat populer dikalangan para santri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa.

Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian dia kombinasi dengan kesimbangan pernapasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Dia ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya’. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur’an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia (taken from here).

Bangunanya cenderung rendah dan dilindungi dengan atap lain yang lebih tinggi dan lebar:

Bentuknya sama, dari ke-4 sisi (dan sepertinya dibagian dalam dilengkapi dengan beberapa unit AC!):

Situasinya memang sangat sepi (aku bahkan sempat menjadi satu-satunya pengunjung didekat cungkup Makam Sunan Bonang), karena datang disaat bulan puasa. Sayang, tidak banyak yang bisa dinikmati dari bangunannya yang kini tertutup kain putih:

Dibagian depan, ada semacam gapura dikiri dan kanan, terbuat dari batu putih yang berukir. Ini, disisi kiri:

Dan ini yang disisi kanan:

Pintu masuk kedalam cungkup sempit dan terkunci:

Anak tangga menuju pintu, sederhana:

Ukiran bagian atasnya? Ah, sama sekali tidak bisa dibuka karena dibebat kain putih yang cukup ketat. Tapi aku menduga material yang digunakan adalah kayu dan diukir dengan sangat indah:

Beberapa bagiannya aku sibak sedikit dan nampak ada ukiran cantik dibagian bawah:

Menarik!

 

Btw, karena engga mampir ke Petilasan Sunan Bonang di Rembang maka aku carikan artikel yang bisa menggambarkan keadaannya ya:

Sunan Bonang merupakan salah satu tokoh penyebar Islam yang terkenal di Jawa pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Ia wafat pada usia 60 tahun dan dimakamkan di rumah kediaman beliau yang terletak di Dusun Bonang, Kecamatan Lasem (sekitar 17 Km dari kota Rembang ke timur jursan Surabaya). Situs ini berupa pelataran yang dikelilingi oleh tembok bata. Menurut tradisi lisan, setelah Sunan Bonang wafat dimakamkan di tempat itu juga. Oleh karena murid-murid Sunan Bonang cukup banyak dan terdiri dari bebagai suku bangsa dan mereka semua mencintai gurunya, maka setelah meninggal mayat Sunan Bonang menjadi ‘rebutan’. Masing-masing menginginkan agar jenasah Sunan Bonang dimakamkan di daerah mereka. Menurut salah satu versi cerita mengatakan bahwa setelah Sunan Bonang wafat jenasahnya dibawa oleh orang-orang Madura untuk dimakamkan di daerah mereka, namun sesampainya di Tuban jenasah itu direbut oleh orang-orang Tuban dan dimakamkan di sana. Namun demikian orang-orang Madura masih yakin mereka membawa pulang jenasah Sunan Bonang. Sementara itu orang Bonang sendiri meyakini bahwa jenasah Sunan Bonang dimakamkan di kompleks kediaman beliau. Adapun yang dibawa oleh orang-orang Madura sebetulnya hanya benda-benda tertentu milik Sunan yang dianggap sebagai simbul keberadaan Sunan Bonang.

makam7

Di dalam situs Bonang, bagian tempat Sunan Bonang dimakamkan merupakan bagian kediaman yang dirahasiakan, yaitu yang sekarang ditumbuhi pohoh telasih. Tembok yang mengelilingi kompleks kediaman Sunan Bonang ini dibuat dari bata merah yang saat ini dalam kondisi berlepa. Ada kemungkinan tembok ini terbuat dari bata merah yang tidak berlepa. Lepa yang ada pada tembok ini kemungkinan hasil pemugaran pada masa-masa sesudahnya.  Di dalam lingkungan tembok tersebut terdapat pembagian halaman. Halaman pertama berbentuk empat persegi panjang dengan pintu masuk di sebelah sisi utara. Tembok yang mengelili bagian ini setinggi kurang lebih 180 cm dengan tebal rata-rata sekitar 40 cm. Di halaman ini terdapat  dua bangsal terbuka  berbahan kayu dan beratap genteng. Kedua bangunan tersebut terletak di sebelah kiri dan kanan jalan masuk  menuju ke halaman  berikutnya di sebelah selatan.

makam8

Halaman ke dua terletak di sebalah selatan halaman pertama. Berbeda dengan halaman pertama, halaman ke dua ini berbentuk segi empat. Di sudut barat daya dapat dijumpai adanya 13 makam berbatu andesit yang sudah mulai rusak sehingga sulit diidentifikasi bentuk aslinya. Menurut keterangan informan bahwa ketigabelas  makam tersebut adalah makam murid-murid Sunan Bonang.

Halaman ke tiga terletak di sebelah tenggara halaman ke dua. Untuk memasuki halaman ke tiga terdapat sebuah pintu yang terletak di sisi timur tembok keliling halaman ke dua. Di sisi timur halaman ke tiga dapat dijumpai adanya sebuah bangunan yang beratap genteng yang difungsikan untuk tempat menunggu para peziarah. Di sisi utara halam ini terdapat pintu masuk ke arah halaman ke empat. Di dalam halaman inilah terdapat situs yang dipercaya sebagai makam Sunan Bonang yang dirahasiakan dan sekarang persisnya makam itu ditumbuhi pohon telasih. Jadi berbeda dengan makam-makam kuno yang lain, makam Sunan Bonang tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai sebuah makam misalnya adanya jirat, kijing, cungkup, lebih tinggi dari tanah di sekitarnya, dan sebagainya. Halaman ke empat ini berdenah segi empat dan dikelilingi tembok bata dengan ketinggian sekitar 180 cm dan tebal sekitar 50 cm (taken from here).

Oh ya, aku menikmati banyak sekali nisan cantik disekitar bangunan Makam Sunan Bonang loh. Lihat saja, beberapa nisan berikut ini:

Desainnya cantik sekali! Ah, kesenian nenek moyang memang luar biasa. Dan siapakah mereka yang tampaknya baru saja dimakamkan ini:

Mungkin masih kerabat? Karena posisi makam mereka dekat sekali dengan Makam Sunan Bonang, kemungkinan mereka bukan ‘orang biasa’..

Btw, monggo sekalian memanfaatkan air yang konon bersumber dari sumur di area kompleks Makam Sunan Bonang ini:

Di areal kompleks makam, ada sumur Quran yang diyakini memiliki banyak khasiat dan memberi berkah bagi mereka yang meminumnya. Menurut cerita, sumur itu digali sendiri oleh Sunan Bonang.

Masyarakat sekitar juga percaya bila sering minum air dari sumur ini akan cepat menghafal Alquran. Selain itu, khasiat lainnya dipercayai peziarah dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, membuang sial, mencerdaskan otak, dan membuat wajah tampak awet muda.

Salah satu warga Kutorejo, Mohamad Khotib (45) mengatakan, sumur itu pada masa lalu digunakan warga untuk mengubur Alquran yang sudah rusak, sehingga oleh warga dinamankan sumur Quran.

Banyak orang yang datang secara rombongan maupun dalam kelompok kecil. Mereka datang untuk meminta karomah dan umumnya memiliki niat khusus, seperti ingin segera menyelesaikan permasalahan rumah tangga, agar dagangan mereka laris, atau ingin segera mendapat jodoh.

Lokasi sumur ini berada di tengah makam. Di samping sumur ada beberapa gentong beragam warna untuk menampung air dari sumur tersebut.

Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel. Beliau dikenal juga dengan sebutan Wali Songo yang ikut membuat Masjid Agung Demak bersama wali lainnya.

Menurut sejarah Wali Songo, Sunan Bonang lahir tahun 1465 dan wafat pada 1525. Semasa hidup, Sunan Bonang menyebarkan Agama Islam di daerah Jawa Timur sekitar Tuban.

Seperti ayahnya, Sunan Bonang juga mendirikan pondok pesantren di daerah Tuban dan mendidik masyarakat untuk ikut menyebarkan Agama Islam ke pelosok Pulau Jawa.

Konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama dewa-dewa menurut kepercayaan Hindu menjadi nama-nama malaikat serta nabi. Hal ini untuk mendekakan rakyat Jawa pada waktu itu dan mengenalkan ajaran baru sehingga memeluk Islam (taken from here).

Baca sekalian:

Budaya-Tionghoa.Net | Dibawah ini saya sampaikan serial berjudul “Sejarah Keturunan Tionghoa Di Asia Tenggara Yang Tak Dikenal Khalayak Ramai”, yang dimuat oleh Indonesia Media di California dalam lima bagian pada tahun 2003. Peranan penting dari pihak orang Tionghoa–bila diketahui umum–akan meninggikan pandangan terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia. Image yang baik dapat mencegah kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.


SEJARAH KETURUNAN TIONGHOA DI ASIA TENGGARA YANG TAK DIKENAL KHALAYAK RAMAI

Kutipan dari buku “The 6th Overseas Chinese State”, Nanyang Huaren, CSEAS, J.C.University of North Queensland, Australia 1990, penyunting Sie Hok Tjwan tentang: 1) Palembang 2) Demak, Banten, Cirebon 3) Kalimantan Barat (babak 7 halaman 65 – 99).

PALEMBANG [KU-KANG]

Pada tahun 1275 Kertanagara , Raja Singasari terakhir di Jawa Timur , mengirim ekspedisi militer ke Dharmasraya (Sriwijaya, Sumatera Selatan dengan ibu kota Palembang). Catatan tahun 1286 menunjukkan serangan tersebut berhasil dan Sriwijaya direbut. Namun tahun  1292 Kertanagara sendiri terbunuh oleh pemberontakan Kediri dan Singasari jatuh. Tanah bekas Sriwijaya terlantar, keadaan kacau.

O.W. Wolters menulis dalam buku “The Fall Of Srivijaya In Malay History” pada halaman 73, bahwa di Palembang tidak ada penguasa kepada siapa dapat ditujukan peringatan kaisar Tiongkok T’ai-tsu. Tindakan kaum pedagang Tionghoa mencerminkan bagaimana besarnya kekacauan pada waktu itu. Mereka telah memilih pimpinan sendiri. Jalan yang ditempuh Palembang dengan pemerintah Tionghoa Perantauan-nya (with its overseas Chinese government) untuk memulihkan keadaan adalah sesuai dengan pandangan bahwa orang Tionghoa telah menyaksikan suatu keadaan yang tak dapat dibiarkan dan mereka bertekad tidak boleh berlarut-larut.

Victor Purcell dalam buku “The Chinese In Malaya” halaman 14 menyatakan setelah kerajaan Sriwijaya ambruk, Palembang telah dikuasai orang-orang Tionghoa selama 200 (duaratus) tahun. Ketika kejayaan Sriwijaya surut sekian ribu orang Tionghoa dari Fukien dan Canton yang telah menetap disana telah memerintah diri sendiri.

Gambaran tersebut diatas selaras dengan catatan Dinasty Ming Tiongkok, bahwa orang Jawa tak mampu menguasai seluruh negara sesudah San-bo-tsai (Sriwijaya) ditaklukkan. Karena itu, demikian catatan Dinasti Ming tersebut, orang Tionghoa setempat telah berdiri sendiri. Seorang dari Nan-Hai (Namhoi) Canton bernama Liang Tau-ming telah terpilih sebagai pemimpin. Beliau menguasai sebagian negara dan puteranya ikut dengan utusan kaisar kembali ke Tiongkok. Pada tahun 1405 kaisar mengutus seorang kurir dari desa asalnya Liang Tau-ming dengan perintah agar Liang Tau-ming menghadap ke istana. Liang Tau-ming bersama kawan seperjuangannya Cheng Po-k’o berangkat membawak produk-produk setempat sebagai upeti. Mereka pulang dengan membawa hadiah yang berlimpah-ruah. Tahun 1407 atau tak lama setelah Laksamana Islam Cheng Ho mendirikan masyarakat Islam Tionghoa di Palembang. Tahun 1415 , Palembang oleh kaisar Tiongkok diakui sebagai daerah dibawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Pendapat Purcell, bahwa Palembang dikuasai orang2 Tionghoa selama 200 tahun mungkin karena pihak Jawa secara de facto belum dapat mengatasi keadaan dengan betul, mungkin juga karena seperti tersebut dibawah ini penguasa yang dikirim dari Jawa adalah orang Tionghoa.

Disini kami menjumpai buku Prof. Dr. Slamet Muljana “Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa Dan Timbulnja Negara Negara Islam di Nusantara”. Prof. Muljana bukan etnik Tionghoa seperti didesas-desuskan, melainkan seorang Priayi bekas anggauta Tentara Peladjar. Buku ini pada tahun 1971 dilarang oleh Kejaksaan Agung. Meskipun sumber keterangan dari tulisan Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan “Tuanku Rao” yang tersebut didalamnya tak dapat ditrasir, Dr. H.J. de Graaf dan Dr. Th.G.Th. Pigeaud dengan panjang lebar telah memperbincangkan serta mengkomentari data Parlindungen sebagai “The Malay Annals Of Semarang And Cerbon” didalam buku “Chinese Muslims In Java In The 15th And 16th Centuries”. Buku Prof. Muljana sendiri mengandung cukup banyak data lain yang sangat menarik perhatian.

Kerajaan Majapahit juga berdiri kurang lebih 200 (duaratus) tahun. Menurut Prof. Muljana dari 1294 hingga 1478 dan sedari itu menjadi sub-state dibawah para penguasa Kerajaan Islam Demak hingga Majapahit tiada lagi, yaitu tahun 1527. Prof. Hoesein Djajadiningrat telah menentukan kehancuran Majapahit sekitar tahun 1518. “Malay Annals” yang masih diperselisihkan itu menyebutkan perkembangan sebagai berikut: Pada tahun  1443 , Swan Leong (Arya Damar) putera almarhum Raja Majapahit dengan seorang wanita Tionghoa, oleh Haji Gan Eng Chou (Arya Teja) telah ditunjuk sebagai kapten muslimin Tionghoa di Palembang sekaligus menjadi penguasa atas nama saudara perempuan-tirinya, yaitu Ratu Suhita dari Majapahit.

Gan Eng Chou adalah kapten Tionghoa di Tuban, Jawa Timur. Beliau oleh Ratu telah dianugerahi gelar Arya sebagai bukti penghargaan terhadap jasa-jasanya. Prof. Muljana berkesimpulan hal tersebut menunjukkan suatu sikap yang sangat baik dari pihak keluarga Raja terhadap orang Tionghoa. Mengenai pemerintahan Tionghoa Perantauan di Palembang, Amen Budiman juga menunjuk pada dokumen-dokumen sejarah Dinasti Ryukyu dan pada reset yang dilakukan oleh Tan Yeok Seong, seorang sinolog yang berpangkal di South Sea Society Singapura. Hingga belum lama ini Palembang terkenal sebagai tempat yang tidak anti-Tionghoa.

Kertanagara, raja Singasari yang terakhir, pada tahun 1289 telah menantang wibawa kaisar Yuan-Monggol Kublai Khan, yang masa itu berkuasa di Tiongkok. Beliau memulangkan utusan kaisar dengan muka yang dilukai. Kublai Khan kemudian mengirim tentaranya ke Jawa. Tetapi sebelum kedatangan tentara tersebut Kertanagara pada tahun 1292 telah tewas karena disebabkan pemberontakan Kediri dan Singasari jatuh. Ketika tentara Kublai Khan tiba, Raden Wijaya, kemenakan dan menantunya Kertanagara, menyerahkan diri pada pimpinan tentara Monggol dan menyatakan, bahwa Raja Kediri Jayakatwang telah menggantikan Kertanagara. Raden Wijaya berhasil membujuk tentara Kublai Khan untuk menjatuhkan Daha (Kediri). Setelah tentara Kediri hancur, Raden Wijaya berbalik menyerang tentara Kublai Khan. Beliau minta diberi 200 pengawal Monggol atau Tionghoa yang tak bersenjata untuk kepergiannya ke kota Majapahit dimana beliau akan menyerah dengan resmi pada wakil-wakil Kublai Khan. Ditengah perjalanan para pengawal dibantai dan sebagian lain tentara Monggol yang tidak menduganya dapat dikepung. Siasat Raden Wijaya menghasilkan kehilangan 3000 orang di pihak Mongol dan terpaksa meninggalkan pulau Jawa tanpa hadiah-hadiah yang dijanjikan. Tahun 1293-94 Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

Kublai Khan, cucunya Jengiz Khan, meninggal 18 Pebruari 1294. Antara tahun 1325 dan 1375 hubungan Majapahit dengan Tiongkok telah membaik. Sang Adityawarman yang dibesarkan di Majapahit dan yang kemudian menjadi Raja Sumatera-Barat telah mengunjungi istana kaisar Tiongkok sebagai menteri dan utusan Majapahit pada tahun 1325 dan sekali lagi pada tahun 1332.

Sifat pemancaran kejayaan Tiongkok jaman lampau “berbeda bumi dan langit” dengan sifat kolonialis Eropa. Cuplikan-cuplikan berikut adalah hasil penyelidikan beberapa pakar sejarah yang menggambarkan perbedaan tersebut.

O.W. Wolters dalam bukunya “The Fall of Srivijaya In Malay history” hal. 50, 52: Pada tanggal 30 oktober 1371 kaisar T’ai-tsu mengeluarkan pengumuman dengan petunjuk untuk para pejabatnya:

“….. menguasai tanah yang terlalu besar tidak mendatangkan ketenteraman. Bila rakyat diharuskan bekerja terlalu berat, keadaan itu menjadi sumber kekacauan ….. pernyataan-pernyataan T’ai-tsu kepada para penguasa asing mengandung banyak saran kebijaksanaan. Daripada menganjurkan mereka untuk berdagang dengan Tiongkok, beliau menginginkan mereka berkuasa dengan baik, memelihara hubungan mesra dengan negara tetangganya dan saling mengindahkan tapal-batas masing-masing…..Jika T’ai-tsu curiga ada penguasa asing berakal bulus serta mengirim utusan dengan maksud yang tidak jujur, beliau lebih baik menolak upeti mereka. Misalnya, upeti perampas-perampas kuasa (usurpers) tidak dapat diterima olehnya (were unacceptable to him).

Dr. John Crawfurd (bukan Crawford) mengenai pembayaran-pembayaran upeti kepada kaisar Tiongkok:

Hubungan Tiongkok-Siam jaman lampau mengandung unsur yang di satu pihak berdasarkan “vanity” (pengumpakan diri) dan di lain pihak berdasar pada “rapacity” (nafsu menggarong, lebih jelek daripada serakah/greedy). Raja Siam mengaku dirinya sebagai pembayar upeti terhadap kaisar Tiongkok bukan karena terpaksa dan bukan karena berada dibawah kekuasaan kaisar, melainkan demi menghindarkan pembayaran bea bagi kapal2 yang membawa utusan2nya ke Tiongkok. Para utusan tersebut mempersembahkan bunga dari mas sebagai tanda upeti, tetapi menerima dari kaisar hadiah-hadiah yang jauh lebih berharga sebagai tanda penghargaan. Negara-negara lain yang lemah mengakui kaisar Tiongkok karena sebagai imbalannya mendapat perlindungan terhadap gangguan-gangguan dari luar.

Dalam arsip Tiongkok tercatat bahwa pada tahun 1376 ketika dinasti Yuan (Monggol) sudah digantikan oleh dinasti Ming (1368-1644) , Raja Tan-ma-sa-na-ho wafat. Tidak jelas apa nama aslinya, tetapi kawasan yang dipersoalkan menyangkut tanah bekas Sriwijaya. Raja yang wafat digantikan oleh puteranya yang disebut sebagai Ma-la-cha Wu Li. Menurut Groeneveldt mungkin putera tersebut adalah Maharadja Wuli, tetapi menurut Slamet Muljana beliau ini Maharadja Mauliwarmadewa. Tahun berikutnya maharaja mengirim upeti kepada kaisar Tiongkok berupa barang-barang dan binatang-binatang khas dalam negeri. Utusan-utusannya menyampaikan pesanan bahwa putera tersebut segan naik tahta atas wewenang sendiri serta mohon mendapat ijin kaisar (dengan maksud mendapat perlindungannya).

Kaisar memuji perasaan tanggungjawab maharaja dan memberi perintah untuk menyampaikan segel (cap, seal) kepadanya disertai pengangkatan beliau sebagai Raja San-bo-tsai (Sriwijaya). Namun pada waktu itu Sriwijaya sudah dibawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Raja Majapahit sangat murka mendengar kaisar telah menunjuk raja untuk San-bo-tsai dan mengirim anak buahnya untuk mencegat dan membunuh utusan kaisar. Kaisar dapat mengerti kemurkaan raja Majapahit dan tidak mengadakan pembalasan. Setelah kejadian ini lambat-laun San-bo-tsai atau Sriwijaya jatuh miskin dan tidak datang lagi upeti dari kawasan itu. Catatan tersebut sesuai dengan kenyataan bahwa bekas Sriwijaya terlantar dan kacau. Keguncangan Singasari-Kediri dan belum terkonsolidasinya Majapahit menyebabkan pihak Jawa tidak mampu mengurus tanah Sriwijaya yang tadinya ditaklukkan oleh Kertanagara.

Tentang perang saudara Paregreg di Majapahit tercatat bahwa dalam tahun 1405 sida-sida (eunuch) Laksamana Cheng Ho telah diutus ke Majapahit yang dewasa itu dikuasai oleh dua raja, Raja Timur dan Raja Barat. Tahun berikutnya kedua raja saling berperang. Raja Timur dikalahkan dan kerajaannya hancur. Pada itu waktu utusan-utusan kaisar kebetulan berada di negara Raja Timur. Ketika pra prajurit Raja Barat masuk ke tempat pasar, 170 orang dari utusan kaisar terbunuh, hal mana membuat Raja Barat kuatir serta mengirim utusan minta maaf.

Kaisar mengeluarkan pengumuman sangat mencela Raja Barat dan menuntut pembayaran enam-puluh ribu tail mas sebagai denda. Tahun 1408 Cheng Ho sekali lagi diutus ke negara ini dan Raja Barat memberi sepuluh ribu tail mas. Petugas-petugas Dewan Tatacara di Tiongkok melihat jumlah tidak cukup dan bermaksud mempenjara utusan-utusan yang membawanya, tetapi kaisar mengatakan: “Yang saya kehendaki dari orang-orang yang hidup dijauhan ialah mereka menginsyafi kesalahannya. Saya tidak ingin memperkaya diri dengan masnya.” Seluruh denda dikembalikan. Sedari itu mereka terus-menerus membawa upeti. Terkadang sekali dalam dua tahun, ada kalanya lebih dari satu kali setahunnya. Para utusan Wu Pin dan Cheng Ho seringkali mengunjungi Majapahit.

LITERATURE

– Morris Rossabi “Khubilai Khan, his life and times” hal. xi, 220, 227, 228.

– Slamet Muljana “A story of Majapahit” hal. 10, 34, 35, 43, 49, 50, 71-3, 82, 88, 146, 182, 240.

– W.P. Groeneveldt “Notes on the Malay Archipelago and Malacca” hal. 36, 37, 69, 123.

– V.Purcell “The Chinese in Southeast Asia” hal. xxvii, 122.



DEMAK

Pada dasawarsa-dasawarsa terakhir abad ke 15 di Jawa Tengah telah didirikan kerajaan Islam Demak yang berlangsung dari 1475/1478 hingga 1546/1568. Pendirinya adalah puteranya Cek Ko-Po dan berasal Palembang dimana ketika itu terdapat masyarakat Islam Tionghoa yang besar. Beliau terkenal dengan nama Raden Patah (AL Fatah), alias Jin Bun / Panembahan Jimbun / Arya (Cu-Cu) Sumangsang / Prabu Anom. Orang-orang Portugis menyebutnya Pate Rodin Sr. Menurut orang Portugis Tome Pires, beliau seorang “persona de grande syso”, a man of great power of judgement, seorang satria (cavaleiro, a knight, a nobleman). Terkaan bahwa Jimbun nama suatu tempat dekat Demak tidak masuk akal. Penjelasan prof. Muljana nama Jin Bun berarti “orang kuat” dalam dialek Tionghoa-Yunnan. Semasa Dinasti Yuan (Monggol) di propinsi Yunnan terdapat banyak penganut agama Islam.

Kalangan berkuasa Demak sebagian besar terdiri dari orang-orang keturunan Tionghoa. Sebelum jaman kolonial pernikahan antara orang Tionghoa dengan orang Pribumi merupakan hal yang normal. Dr. Pigeaud dan Dr. de Graaf telah menggambarkan keadaan pada abad ke 16  sebagai berikut:…..di kota2 pelabuhan pulau Jawa kalangan berkuasa terdiri dari keluarga-keluarga campuran, kebanyakan Tionghoa peranakan Jawa dan Indo-Jawa. Sumber-sumber sejarah pihak Pribumi Indonesia menyebut, dalam abad ke 16 sejumlah besar orang Tionghoa hidup di kota2 pantai Utara Jawa. Disamping Demak, juga di Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik (Tse Tsun) dan Surabaya. Banyak orang Tionghoa Islam mempunyai nama Jawa dan dengan sendirinya juga nama Arab. Pada jaman itu sebagai Muslimin mempunyai nama Arab meninggihkan gengsi.

Salah satu cucunya Raden Patah tercatat mempunyai cita-cita untuk menyamai Sultan Turki. Menurut De Graaf dan Pigeaud, Sunan Prawata (Muk Ming) raja Demak terakhir yang mengatakan pada Manuel Pinto, beliau berjuang sekeras-kerasnya untuk meng-Islamkan seluruh Jawa. Bila berhasil beliau akan menjadi “Segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II) setanding dengan Sultan Turki Suleiman I dengan kemegahannya. Nampaknya beliau telah mengunjungi Turki.

Sumber-sumber bumiputera menegaskan raja-raja Kerajaan Demak adalah orang Tionghoa atau Tionghoa peranakan Jawa. Terlalu banyak untuk memuat semua nama-nama tokoh sejarah yang di-identifikasi sebagai orang Tionghoa. Diantaranya Raden Kusen (Kin San, adik tiri Raden Patah), Sunan Bonang (Bong Ang, putera Sunan Ngampel alias Bong Swee Ho), Sunan Derajat juga putera Sunan Ngampel, Sunan Kalijaga (Gan Si Chang), Ja Tik Su (tidak jelas beliau Sunan Undung atau Sunan Kudus) . Ada sumber mengatakan Sunan Undung ayah Sunan Kudus dan menantunya Sunan Ngampel), Endroseno, panglima terakhir tentara Sunan Giri, Pangeran Hadiri alias Sunan Mantingan suami Ratu Kalinyamat, Ki Rakim, Nyai Gede Pinatih (ibu angkatnya Sunan Giri dan keturunannya Shih Chin Ching tuan besar (overlord) orang Tionghoa di Palembang), Puteri Ong Tien Nio yang menurut tradisi adalah isterinya Sunan Gunung Jati, Cekong Mas (dari keluarga Han, makamnya terletak didalam suatu langgar di Prajekan dekat Situbondo Jawa Timur dan dipandang suci), Adipati Astrawijaya, bupati yang diangkat oleh VOC Belanda tetapi memihak pemberontak ketika orang-orang Tionghoa di Semarang berontak melawan Belanda pada tahun 1741 dan Raden Tumenggung Secodiningrat Yokyakarta (Baba Jim Sing alias Tan Jin Sing). Menurut prof. Muljana, Sunan Giri dari pihak ayahnya adalah cucu dari Bong Tak Keng, seorang Muslim asal Yunnan Tiongkok yang terkenal sebagai Raja Champa, suatu daerah yang kini menjadi bagian Vietnam. Bong Tak Keng koordinator Tionghoa Perantauan di Asia Tenggara. Ayah ibunya Sunan Giri adalah Raja Blambangan, Jawa Timur. Giri nama bukit di Gresik.

Pengaruh arsitektur Tionghoa terlihat pada bentuk mesjid-mesjid di Jawa terutama di daerah-daerah pesisir bagian Utara. Agama Islam yang pertama masuk di Sumatera Selatan dan di Jawa mazhab (sekte) Hanafi. Datangnya melalui Yunnan Tiongkok pada waktu Dinasti Yuan dan permulaan Dinasti Ming. Prof. Muljana berpendapat bila agama Islam di pantai Utara Jawa masuknya dari Malaka atau Sumatera Timur, mazhabnya Syafi’i dan/atau Syi’ite dan ini bukan demikian halnya. Beliau menekankan mazhab Hanafi hingga abad ke 13 hanya dikenal di Central Asia, India Utara dan Turki. Meskipun agama Islam pada abad ke 8 sudah tercatat di Tiongkok, Mazhab Hanafi baru masuk Tiongkok jaman Dinasti Yuan abad ke 13, setelah Central Asia dikuasai Jengiz Khan.

Kepergian banyak Muslim Tionghoa (exodus) dari Tiongkok terjadi pada tahun 1385 ketika diusir dari kota Canton. Jauh sebelum itu, Champa sudah diduduki Nasaruddin , seorang jendral Muslim dari Kublai Khan. Jendral Nasaruddin diduga telah mendatangkan agama Islam ke Cochin China. Sejumlah pusat Muslim Tionghoa didirikan di Champa, Palembang dan Jawa Timur.

Ketika pada tahun 1413 Ma Huan mengunjungi Pulau Jawa dengan Laksamana Cheng Ho, beliau mencatat agama Islam terutama agamanya orang Tionghoa dan orang Ta-shi (menurut prof. Muljana orang Arab), belum ada Muslimin Pribumi. Pada tahun 1513-1514 Tome Pires mengambarkan kota Gresik sebagai kota makmur dikuasai oleh orang-orang Muslim asal luar Jawa. Pada tahun 1451 Ngampel Denta didirikan oleh Bong Swee Ho alias Sunan Ngampel untuk menyebarkan agama Islam mazhab Hanafi diantara orang-orang Pribumi. Sebelum itu beliau mempunyai pusat Muslim Tionghoa di Bangil. Pusat ini ditutup setelah bantuan dari Tiongkok berhenti karena tahun 1430 hingga 1567 berlaku maklumat kaisar melarang orang2 Tionghoa untuk meninggalkan Tiongkok.

Sangat menarik perhatian karena saya alami sendiri, setidak-tidaknya hingga jaman pendudukan Jepang, rakyat kota Malang Jawa Timur masih mempergunakan sebutan “Kyai” untuk seorang lelaki Tionghoa Totok. Kyai berarti guru agama Islam. Padahal yang dijuluki itu bukan orang Islam. Kebiasaan tersebut peninggalan jaman dulu. Gelar Sunan berasal dari perkataan dialek Tionghoa Hokkian “Suhu, Saihu”. Delapan Orang Wali Songo Mazhab Hanafi bergelar Sunan. Satu dari Wali Songo mazhab Syi’ite bergelar Syeh dari bahasa Arab Sheik.

Kesimpulan wajar, para aktivis Islam Mazhab Hanafi di Asia Tenggara semasa itu semuanya orang Tionghoa. Sedikit banyak dapat dipersamakan dengan penyebaran agama Kristen dari Eropa ke lain-lain benua. Hingga abad ke 19 kaum penyebar diatas tingkat lokal dapat dikatakan semuanya orang Eropa. Tanah Tiongkok hampir seluas Eropa. Membuat perbandingan dengan Tiongkok tidak dapat dilakukan dengan salah satu negara Eropa tetapi harus dengan seluruh Eropa. Seperti juga suku-bangsa Eropa dengan bahasa-bahasanya yang berbeda satu sama lain, demikian pula terdapat perbedaan antara suku-bangsa dengan bahasa-bahasanya di Tiongkok. Keunggulan Tiongkok memiliki tulisan ideogram yang dapat dimengerti meskipun bahasanya berlainan.

LITERATURE

– De Graaf and Pigeaud “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java”, “Islamic states in Java 1500-1700”.

– Amen Budiman “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia”.

– Slametmuljana (dalam buku bahasa Inggris ini, nama penulisnya disambung menjadi satu) “A story of Majapahit”.

– Slamet Muljana “Runtuhnya keradjaan Hindu Djawa dan timbulnja negara2 Islam di Nusantara”.

– Jan Edel “Hikajat Hasanoeddin”.


LANJUTAN DEMAK BANTEN CIREBON

Kerajaan Islam Demak runtuh disebabkan perang saudara antara cucu2nya Jin Bun (Raden Patah).

Raja2 Demak adalah:
Jin Bun alias Al-Fatah (Raden Patah) 1478 – 1518
Yat Sun alias Adipati Yunus 1518 – 1521
Tung Ka Lo alias Trenggana 1521 – 1546
Muk Ming alias Sunan Prawata 1546 – 1546

Muk Ming dikalahkan dan terbunuh oleh Arya Penangsang Jipang, seorang cucu lain dari Raden Patah. Penangsang Jipang sendiri kemudian dibunuh oleh iparnya Muk Ming. Kerajaan Islam Demak tiada lagi karena ipar tersebut mempunyai negara sendiri di Pajang di pedalaman Jawa Tengah dan merupakan orang Islam mazhab Shi’ite, bukan mazhab Hanafi.

Angkatan Laut Demak dua kali dengan sia-sia menyerang kekuatan Portugis di Malaka dan satu kali di Maluku.

Namun pada tahun 1526-1527 Sunan Gunung Jati alias Fatahillah / Toh A Bo / Pangeran Timur, panglima kerajaan Demak, merebut Sunda Kalapa dan berhasil mengusir orang Portugis yang datang dengan maksud membangun benteng. Nama Sunda Kalapa oleh beliau diganti menjadi Jayakarta. Prof. Djajadiningrat menerjemahkan arti Jayakarta sebagai “kemenangan yang tercapai” (volbrachte zege, achieved victory). Dr. de Graaf menyebut adanya laporan sejarawan Portugis bernama de Couto yang mengatakan pada tahun 1564 bahwa “The Martial King Of Aceh” , Ala’ad-Din Shah telah meminta pada “Raja Demak, Kaisar Jawa” (o Rey de Dama, Imperador do Jaoa) untuk membantu ekspedisinya menghadapi orang Portugis di Malaka. Nampaknya 18 tahun setelah runtuhnya kerajaan Demak, di tempat tersebut  masih terdapat kekuasaan yang oleh “The Mighty King Of Aceh” dipandang cukup berkuasa untuk diajak bersekutu. Pada tahun 1574, jauh setelah kerajaan Demak tiada lagi, Ratu Kalinyamat dari Japara, cucu perempuan Raden Patah, masih merasa cukup kuat untuk mengirim kapal-kapal perang menyerang orang Portugis di Malaka.

Setelah merebut Sunda Kalapa, Sunan Gunung Jati menjadi Sultan Banten dan membentuk masyarakat Islam disana. Kesultanan Banten kemudian beliau serahkan kepada Hasanuddin, puteranya, dan yang belakangan ini oleh tradisi Jawa dipandang sebagai raja Banten yang pertama. Pada tahun 1552 Sunan Gunung Jati datang ke masyarakat Muslim Tionghoa di Cirebon. Beliau kecewa dengan adanya saling bunuh-membunuh antara cucu-cucunya Raden Patah. Sunan Gunung Jati mengabulkan permintaan Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi untuk mendirikan kesultanan di Cirebon seperti Demak dulu. Sebagai orang yang sudah berumur lanjut beliau menjadi sultan Cirebon yang pertama, menikah dengan puterinya Haji Tan Eng Hoat dan putera mereka menjadi Sultan Cirebon yang ke II.

Orang membayangkan bagaimana jalannya sejarah dunia bila kaisar Tiongkok T’ai-tsu tidak kehilangan perhatian terhadap dunia luar. Antara 1430 dan 1567 orang Tionghoa dilarang meninggalkan tanah leluhurnya. Angkatan Laut Tiongkok yang canggih dengan teknologi yang jauh lebih tinggi tingkatnya daripada kapal-kapal Eropa, diterlantarkan. Tahun 1431 yaitu 61 tahun sebelumnya Columbus, kapal-utama Laksamana Cheng Ho berukuran 140 meter, sedangkan panjangnya kapal Columbus hanya 30 meter. Peninggalan-peninggalan yang diketemukan menunjukkan Australia dan Amerika Latin telah dikunjungi oleh pelaut-pelaut Tionghoa. Adanya angin-angin Timur serta arus-arus Pasifik dewasa itu jelas sudah diketahui orang Tionghoa. Kapal-kapal Tiongkok mempergunakan watertight bulkheads sedari abad ke 2 Masehi . Prinsip tersebut baru dikenal di Eropa sekitar tahun 1800, seribu enam ratus tahun kemudian. Seumpamakata armada Cheng Ho tidak dipereteli dan terjadi konfrontasi dengan kapal-kapal perang Eropa, Tiongkok tidak akan tertidur, tidak akan kepergok dalam keadaan lemah. Dengan Perang Candu  (1839 – 1842) Inggris memaksa Tiongkok untuk mengijinkan impor candu yang telah menghancurkan tenaga rakyat secara besar-besaran. Selama satu abad setelah perang-candu, Tiongkok hampir ambruk diserang Inggris, Jerman, Perancis, Jepang dan negara lainnya yang sedang jaya.

Dr. Kwee Swan Liat mengutip sejarawan Inggris Joseph Needham sebagai berikut.:Ilmu pengetahuan modern berdiri atas dasar teknologi abad pertengahan yang sebagian besar bukan asal Eropa. Selama abad ke 1 hingga abad ke 14 Masehi, Tiongkok telah membanjiri Eropa dengan penemuan-penemuan, tanpa Eropa mengetahui dari mana asalnya. Teknik-teknik numerational dan computational, pengetahuan dasar magnetical phenomena, efficient equine harness, teknologi besi dan baja, penemuan bahan peledak dan kertas, lonceng mekanik, driving belt, chain-drive, cara standard converting rotary to rectilinear motion, segmental arch bridges, nautical techniques seperti stern-post rudder, imunisasi, inokulasi dsb. Semua ini mengakibatkan kegemparan di dunia Barat. William Harvey sebelum tahun 1616 telah menemukan adanya aliran darah dalam tubuh manusia. Hal itu di Tiongkok sudah dikenal lima ratus tahun duluan.

Pada tahun 1574 Lim Ah Hong, seorang yang berada diluar perlindungan hukum (an outlaw) mengepung benteng Spanyol di Pilipina serta nyaris merebut Manila. Kemampuan seorang outlaw Tionghoa untuk mengguncangkan kekuasaan Spanyol di Asia, membuat gubernur Spanyol menginginkan hubungan baik dengan Kaisar Tiongkok. Tahun 1661 Koxinga mengalahkan Belanda di Taiwan. Satu tahun kemudian beliau mengirim ultimatum kepada penguasa Spanyol di Pilipina untuk menyerah kepadanya atau dihancurkan. Sayang tahun itu juga, ketika orang2 Spanyol sedang panik memperkuat benteng2 pertahanannya, datang berita Koxinga meninggal dunia.

Lain dari apa yang diajarkan di sekolah-sekolah Belanda, penemuan bahan peledak di Tiongkok tidak hanya dipergunakan untuk mercon saja. Sedari permulaan, bahan peledak dipergunakan untuk keperluan-keperluan militer. Pada masa Dinasti T’ang (618-907) bahan peledak “nitre” dan alkimia Tionghoa dikenal orang-orang Arab dan Persia sebagai “salju Tionghoa” dan “garam Tionghoa”. Abad ke 13 bahan peledak Tionghoa mulai dikenal Eropa melalui orang Arab yang masa itu berkuasa di Spanyol. Buku-buku Arab jaman itu mencatat “botol2 besi” yang dipergunakan oleh tentara Monggol dalam abad ke 13. Pihak Arab memperoleh bermacam2 senjata api lewat orang Monggol. Antara lain senapan2 sederhana dan senapan petir. Tidak lama kemudian orang Arab dapat membuatnya sendiri. Senjata dan roket Arab “Qidan” berdasarkan model-model Tionghoa. Dewasa itu Tiongkok di Eropa terkenal sebagai Qidan. Baru tahun 1326 Inggris, Perancis dan lain negara-negraa Eropa untuk pertama kalinya membuat alat-alat perang yang berasal Tiongkok ini. Senjata-api “blunderbus” yang dipergunakan di Eropa sekitar permulaan abad ke 14 asal-usulnya di Tiongkok.

LITERATURE

– Zhou Jiahua “The history of gunpowder and weapons in China”
– Catalogue D/1988/2111/06 exhibition “China Heaven and Earth. 5000 Years inventions and discoveries” Brussels Sept 88 – Jan 89. Institute K.U. Leuven.


KALIMANTAN BARAT

Pada dasarnya Indonesia terdiri dari bagian-bagian yang dahulu mempunyai kedaulatan sendiri-sendiri seperti kerajaan, kesultanan dan sebagainya. Dalam abad ke 18 dan abad ke 19 di Kalimantan-Barat selain kerajaan atau kesultanan terdapat juga sejumlah negara republik. Berapa jumlah semuanya tidak jelas. Saya sebut tiga yang paling besar. Republik Thai Kong dengan tentara 10.000 orang, Republik Lan Fong 6.000 orang dan Lara Sin-Ta-Kiou 5.000 orang. Masing-masing negara republik tersebut terdiri dari suku-suku tertentu. Hubungannya satu sama lain sedemikian rupa hingga mudah diadu-domba oleh pemerintah kolonial Belanda. Setelah perang melawan Belanda dengan pertumpahan darah yang besar pada tahun 1854 hanya tinggal satu Republik Lan Fong yang akhirnya berdiri 107 tahun. Meskipun tahun 1884 Belanda berhasil menghancurkannya, daerah tersebut baru tahun 1912 berhasil diamankan. Sisa pusat perlawanan Lan Fong pertama-tama menyingkir ke Sarawak. Disana mereka terkenal dibawah bendera Sam Tiam Hui.

107 Tahun Republik Lan Fong lebih lama daripada negara persatuan Jerman bentukan Bismarck, yang setelah kira-kira 75 tahun pecah menjadi Jerman Timur dan Barat. Ditambah 12-13 tahun setelah dipersatukan lagi juga belum 100 tahun. Belgia terbentuk tahun 1830 hingga kini 173 tahun dan dengan demikian berumur kurang daripada self-government orang-orang Tionghoa di Palembang yang menurut Victor Purcell berlangsung selama 200 tahun.

Pejabat pemerintah Belanda Dr. J.J.M. de Groot yang fasih bahasa Tionghoa adalah saksi-mata Republik Lan Fong. Buku de Groot “Het Kongsiwezen van Borneo” terbit tahun 1885 mengandung keterangan yang berharga. Beliau berkesempatan meninjau keadaan dari kedua belah pihak. Kami kutib tentang “… (sebutan de Groot) kongsi-kongsi atau republik-republik Tionghoa yang dahulunya ada di Kalimantan Barat…” sbb.:

Tahun 1885 ini pun (setahun setelah Lanfong hancur) tentara Belanda masih menghadapi perlawanan. Orang-orang Lan Fong inilah yang tadinya mengolah pertambangan emas di Kalimantan hingga daerah ini menjadi makmur seperti belum pernah terjadi disini. Ketika thaiko Lo Fong-phak mendirikan Kongsi Lan Fong di Mandor pada tahun 1777, belum ada pemerintahan yang menguasai daerah tersebut. Maka semua hukum dan undang-undang yang berlaku disitu beliau yang menyusunnya. De Groot sangat kagum sejumlah pendatang campur-aduk yang berasal dari kaum petani biasa di Tiongkok mampu mendirikan negara dengan organisasi yang rapih dan terpimpin dimana berlaku hukum, ketertipan dan disiplin. Mereka memiliki perundang-undangan serta sistem keuangan sendiri. Negara-negara republik tersebut perang satu sama lain dan perang dengan raja-raja Melayu. Perundingan-perundingan dengan pemerintah Belanda yang jauh lebih kuat, telah mereka lakukan dalam tingkat sederajat. Dari manakah semangat republik dan demokratis yang besar itu, sedangkan orang-orang Barat selalu mengira kekuasaan di Tiongkok bersifat absolutis? De Groot telah mempelajari keadaan di Tiongkok dan berkesimpulan semua ini adalah warisan adat-istiadat dan sistem kebijaksanaan dari negara leluhur. De Groot menamakan mereka “… a free people, keen on its self established republican independency…”. Komisaris pemerintah kolonial Willer dalam tulisannya yang berjudul “Kronijk (chronicle) Van Mampawa En Pontianak” menyebut Lanfong sebagai  “republik konstitusional dibawah kekuasaan tritunggal (triumvirate)”.

Kehancurannya negara-negara republik di Kalimantan Barat telah mendatangkan kemiskinan di daerah ini yang luasnya lebih dari empat kali negeri Belanda… De Groot mengecam pemerintah Belanda karena tidak pernah berusaha untuk betul-betul mengenal orang Tionghoa. Beliau berpendapat tidak ada golongan lain yang lebih banyak mengalami fitnahan di daerah penjajahan Belanda daripada golongan Tionghoa. De Groot bertindak sebagai juru bahasa. Semua hal antara pihak Belanda dan pihak pimpinan Tionghoa melalui tangannya dan beliau mengenal pemimpin-pemimpin kongsi dengan baik. De Groot telah mengumpulkan sebanyak mungkin dokumentasi karena mengetahui Belanda akan menyerang dan orang-orang Tionghoa tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Dokumen-dokumen negara-negara republik yang lain musnah dalam peperangan yang sudah-sudah.

SAMA RATA

Van Rees seorang Belanda lain yang banyak mengetahui tentang negara-negara republik suku Tionghoa tersebut., telah memberi kesaksian tentang pergaulan sama rata di republik-republik itu. Orang yang berpangkat paling tinggi duduk berdampingan dengan kuli yang paling miskin. Menurut van Rees didalam penghidupan sehari-hari orang Tionghoa tidak mempersoalkan tingkat dan pangkat. Penguasa sipil Sambas bernama Muller dan seorang pejabat Belanda bernama Veth juga menyaksikan hubungan sama-rata. De Groot selanjutnya: “orang yang terendah pun setiap waktu dapat menghubungi pimpinan termasuk kapthai sendiri. Tiada pemimpin yang merasa tersinggung bila seorang dari rakyat-biasa memasuki ruang kerjanya untuk membicarakan urusan-urusan kecil. Bila bertemu dipersimpangan jalan, pemimpin dan rakyat-biasa saling menyambut dengan ramah…. Pada umumnya sama dengan sifat orang-orang Tionghoa yang datang ke jajahan Belanda…. Di Jawa disatu pihak pendatang baru dari Fukien dengan mudah dikuasai oleh pemuka2nya, tetapi dilain pihak menunjukkan kemerdekaan yang bertaraf tinggi tanpa sikap resmi dan hormat yang berlebihan. Pihak pemimpin cukup bijaksana tidak menuntut kehormatan yang lebih besar. Mereka mengetahui para bawahannya itu orang2 yang teresap dengan ajaran “hao” dan akan cukup mengindahkan pemimpinnya.”

Para saksi mata juga kagum tenaga kerja orang-orang Tionghoa. Hutan ditebang dan tanah yang tidak begitu subur dijadikan sawah, kebun gula dan kebun buah-buahan. Dikatakan tiada suku lain di dunia dalam keadaan yang sama dapat mewujudkannya. Bekerja dibawah terik panas matahari daerah khatulistiwa dari subuh hingga matahari terbenam, dipersukar oleh kekuasaan Belanda, tanpa perlindungan dari pemerintah tanah leluhur, tanpa modal, hanya dengan kecerdikan dan semangat-berusaha (spirit of enterprise). Menjalin hubungan keluarga dengan pihak pribumi melalui pernikahan, secara umum terjadi sedari permulaan. Mendirikan sekolahan-sekolahan merupakan salah satu usaha yang utama, sekalipun didesa-desa yang kecil. Diantara kaum Tionghoa sukar dijumpai orang yang buta-huruf. Mereka disukai penduduk Pribumi sebagai tenaga yang berharga. Tidak seperti pihak Belanda yang dimana-mana datang dengan kapal perang, serdadu dan senapan. Dengan suku Dayak Batang-lupar dan Punan yang ditakuti sebagai pengayau (penggorok kepala) pun orang-orang Tionghoa dapat memelihara hubungan yang baik. Sedangkan tidak ada orang Eropa yang berani berhadapan dengan suku-suku tersebut tanpa pengawal yang kuat. Demikianlah kesaksian pejabat-pejabat Belanda jaman itu.

Permulaan tahun 1960-an operasi khusus (Opsus) tentara telah melancarkan intrik penghasutan orang Dayak di pedalaman Kalimantan-Barat terhadap orang Tionghoa. Puluhan ribu orang Tionghoa dikejar-kejar, menjadi pengungsi di kota-kota pantai dalam keadaan payah. Banyak yang tewas. Dasar pikiran yang menelorkan operasi tersebut menyalahi cita-cita nation-building serta merugikan nusa dan bangsa Indonesia. Adanya sejarah negara Thai Kong, Lan Fong etc, pada hakekatnya tidak beda misalnya dengan adanya negara Demak yang didirikan Jin Bun alias Raden Patah. Seperti dijelaskan diatas, negara Indonesia memangnya terdiri dari banyak bagian yang dulunya mempunyai kedaulatan sendiri. Operasi khusus tetap dilancarkan di Kalimantan-Barat karena penduduk didaerah yang bersangkutan keturunan Tionghoa, meskipun mereka warganegara Indonesia. Diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa adalah warisan politik adu-domba kolonial Belanda. Thailand yang tidak mengalami penjajahan telah menyerap orang-orang Tionghoa tanpa banyak persoalan. Apalagi bagi orang-orang yang pandai. Bekas Perdana Menteri Chuan Leek Pai dan banyak orang terkemuka lain serta tidak sedikit anggauta keluarga raja adalah keturunan Tionghoa yang sudah 100% menjadi orang Thai. Sebelum jaman kolonial orang-orang Tionghoa di Indonesia juga dengan sendirinya terserap secara wajar. Orang-orang keturunan Tionghoa seperti Raden Patah dan Endroseno hingga Cekong Mas (yang kuburannya suci dan terletak didalam suatu langgar di Prajekan dekat Situbondo Jawa Timur), semuanya telah terserap 100% oleh pihak Bumiputera Indonesia dimasa sebelum penjajahan.

Tambahan: Tokoh-tokoh Tionghoa didalam sejarah mempunyai nama Pribumi dan mereka tidak menonjolkan diri sebagai orang Tionghoa. Ini mendekatkan mereka dengan pengikutnya serta melancarkan segala sesuatu. Sama dengan anggota keluarga raja Belanda. Mereka semuanya keturunan Jerman, tetapi mereka juga tidak menonjolkan, bahwa mereka keturunan Jerman.

Sie Hok Tjwan
(taken from here)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *