Museum Kambang Putih (Tuban); Tempat Cari Tahu Asal Usul Nama “Tuban”

Beberapa waktu yang lalu aku melakukan perjalanan melintasi Tuban, menuju Rembang. Walau begitu, ada beberapa tempat di Tuban yang sempat aku kunjungi. Salah satunya adalah Museum Kambang Putih di Jalan Kartini 3, Tuban.

Nama “Kambang Putih” ituh nama sebuah tempat (sekarang bernama Tuban) yang termuat dalam prasasti yang dikeluarkan Raja Sri Mapanji Garasakan. Prasasti tersebut dikenal dengan Prasasti Kambang Putih (1050). Menurut prasasti ituh, Kambang Putih telah menjadi pelabuhan yang ramai sejak awal abad XI, sebagai tempat perdagangan barang niaga antar pulau dan antar benua.

Sejarah lain mengatakan, museum ini dinamakan Kambang Putih karena merujuk pada sejarah Tuban yang merupakan salah satu kabupaten tertua di Indonesia. Konon, sebelum menjadi Tuban, daerah ini adalah kawasan pasir putih yang jika dilihat dari kejauhan di tengah laut tampak mengambang gitu. Para ekspedis China yang seringkali melihat daerah ini dan pada akhirnya banyak yang bermukim di sana. Nah dari pasir putih di tepi pantai Tuban kala itu yang seolah-olah mengambang di tengah lautan ituh,  jadi deh akhirnya daerah ini dikenal dengan Kambang Putih (taken from here).

Menarik! Ternyata ada yang namanya Prasasti Kambang Putih. Dan prasasti itu ternyata relatif utuh dan kini dipamerkan di Museum Nasional, Jakarta (photo taken from here):

Btw kalau ke museum, perhatikan jam buka-nya ya:

Di teras, ada jangkar raksasa seperti ini:

Dibagian dalam juga ada jangkar lainnya dan punya kisah sejarah. Nanti, foto dan ceritanya akan nampang di bagian bawah postingan ini :).

Btw, museum ini punya beberapa ruangan dan seharusnya pengunjung masuk ke ruangan tengah, kemudian keliling dari ruangan paling kanan dahulu, berputar hingga ruangan yang kiri. Namun karena ketika aku datang ke museum engga ada siapapun didalamnya (si Bapak penjaga ternyata lagi ke bagian belakang museum untuk kunci pintu), maka aku masuk ke ruangan paling kiri (kebiasaan kalo ke candi muternya dari kiri ke kanan haha) yang ternyata ada ruangan dengan isi keping piringan hitam, kaset Koes Plus dan kawan-kawan (yang tidak aku foto), berjajar dengan lemari penyimpanan uang lawas:

Ruang berikutnya lebih luas:

Nah, koleksi yang dipamerkan disini ada beberapa. Bedug besar itu, misalnya. Dahulunya, itulah bedug yang dipakai di Masjid Agung Tuban. Dan pohon didalam lemari kaca itu adalah Pohon Kapaltaru berukir yang kaya makna.

Kalpataru terbuat dari kayu jati (Tectona grandis) berfungsi sebagai tiang penyangga “pendopo rante” yang berada dalam kompleks makam Sunan Bonang. Kayu bercabang empat di ukir dengan berbagai motif tumbuhan (floral design) serta bangunan suci dari empat agama; Islam, Hindu, Budha dan Konghucu (Konfusius). Bangunan suci dari empat agama yang diukir pada satu tempat mengandung makna filosofis sebuah harapan yakni merajut harmoni, membangun kerukunan dan persatuan umat beragama, yang tertuang dalam pohon harapan (wishing tree) atau Kalpataru. Semua dengan satu tujuan, pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disimbolkan dengan satu tiang yang tegak keatas (taken from here).

Nih, salah satu sisi dari pohon Kapaltaru yang aku foto:

Selebihnya, ada beberapa benda yang juga berkaitan dengan peninggalan Islam:

Museum ini juga punya beberapa koleksi berupa senjata tajam dan jimat:

Kemudian, di ruangan sebelah kanan, koleksinya paling banyak aku fotoin karena ada banyak arca/ peninggalan arkeologis. Beberapa diantaranya berbentuk lingga dan yoni..

Lingga merupakan stilasi bentuk phalus (alat genetalia laki-laki) sebagai simbol Dewa Siwa dan Yoni stilasi dari bentuk vulva (alat genetalia perempuan) sebagai simbol Dewi Parwati, berfungsi sebagai media pemujaan. Penganut Hindu meyakini adanya tiga macam cahaya di dunia yaitu matahari, kilat dan api. Ketiga unsur inilah yang kemudian dijadikan dasar pembuatan lingga yang terdiri dari 3 bagian: Rudrabhaga/Siwabhaga, Wisnubhaga dan Brahmabaga. Lingga dengan aspek • utama melambangkan laki-laki {purusa), api, langit dan yoni dengan aspek wanita (prakrti, pradhana), bumi, tanah, sebagaimana perkawinan laki- laki dan wanita akan menimbulkan pembuahan, kesuburan (fertility) dan melahirkan kehidupan baru, inilah makna penyatuan lingga dan yoni (taken from here).

Dari koleksi lingga dan yoni yang ada, yang satu ini utuh dan dalam posisi bersatu:

Ada yoni berukir naga seperti ini:

Sarkofagus?

Dan entah ini apa..

Kalau yang ini, mungkin lumpang?

Dan yang ini, kaki arca tanpa keterangan identitas/ lokasi ditemukan/ perkiraan usianya:

Masih diruangan yang sama, ada 1 lagi lemari kaca dengan beberapa koleksi arca seperti ini:

Mereka semua bertetangga dengan beberapa lemari berisi keramik kuno:

Juga peralatan barongsai:

Plus beberapa topi tarian tradisional:

Bahkan ada jangkar juga!

Yang ini, tidak sebesar jangkar yang diletakkan di teras museum. Namun walaupun begitu, sejarahnya asik juga nih:

Jangkar berlengan empat setinggi 182 cm dengan cincin kemudi lengkap dengan rantainya, ditemukan di Kec. Bancar, Tuban. Merupakan jangkar kapal bala tentara Mongol yang di kirim ke Jawa oleh Khubilai Khan untuk menyerang Kertanegara (Kerajaan Singosari) pada tahun 1293. Khubilai Khan selain sebagai Kaisar Mongol (1260-1294) juga sekaligus pendiri Dinasti Yuan (1279 -1294) (taken from here).

Terakhir, aku masuk keruangan tengah. Koleksi diruangan ini, super tua! Misalnya saja, fosil cula badak ini:

Ditemukan di Kec. Jenu, Tuban, secara fisik tetap berbentuk cula badak akan tetapi karena proses alam terjadi perubahan kimiawi, terjadi proses silifikasi (replacement ) yang semula zat tanduk berubah menjadi Si02 (silikon dioksida) sehingga membatu. Badak ini hidup sekitar 300.000 tahun yang lalu (taken from here).

Dan ini adalah beberapa koleksi fosil lainnya:

Di lemari lain, ada koleksi logam super tua. Misalnya saja, nekara:

Catat tuh: 500 tahun SEBELUM masehi! Jadi, koleksi yang satu ini tua banget.

Diatas Nekara, ada Arca Gajah:

Dan ada lagi peninggalan logam (perunggu) lainnya:

Nah, karena bapak penjaga museum mendeteksi aku suka dengan lingga yoni, maka ada conversation eksotik seperti ini:

  • Museum (Mu): disamping ada yoni lagi
  • Me (M): ooh, kaya gini?
  • Mu: engga, yang disamping gede
  • M: wah dimana, pak?
  • Mu: ya disamping
  • M: (keluar museum dan menuju ke samping bangunan, tidak menemukan apa2, lalu cari Bapak menjaga museum lagi) Pak, yoninya mana ya?
  • Mu: ooh, sampean tenan mau liak tah? sek, sudah dikunci soale..
  • M: ok, saya tunggu..
  • Mu: (keluar, bawa kunci, jalan ke samping bangunan museum, menuju lorong berpintu, buka pintu, lalu……..) ini, yoninya..

Dan didepanku ada 2 yoni besar dan punya nama, “Yoni Watu Tiban”!!

Nah, kata si Bapak, inilah yang menjadi asal usul nama Tuban. Dari kata “Tiban”.

Btw, inilah yoni yang aku maksud:

Yang sebelah kiri:

Yang sebelah kanan:

Masing-masing sisi, terukir huruf yang ditebali dengan kapur tulis agar lebih terbaca. Ada yang bisa bantu terjemahkan?

Tidak itu saja. Diantara 2 yoni ini, ada ini:

Coba lihat detail ukirannya:

Indaaah sekali! Aku menduga dahulunya batu ini (akan?) dipakai untuk pilar hiasan pintu masuk candi(?). Tapi candi apa? Adakah candi di Tuban/ sekitarnya? Ah..