Goa Akbar (Tuban); Besar dan Bersejarah!

Goa Akbar (Tuban); Besar dan Bersejarah!

Sudah laaama sekali aku ingin datang ke Goa Akbar di Gedongombo, Semanding, Gedongombo, Tuban:

Untuk itu, kita harus membeli tiket masuk:

Murah saja, di Juni 2017 harga tiket masuknya:

  • Senin – Jumat: Rp. 4000,-
  • Sabtu, Minggu & Hari Besar: Rp. 5000,-

Suasananya sangat sepi, bahkan bisa dibilang aku dan sepupuku (yang juga cewe), adalah satu-satunya pengunjung saat itu haha! Aku sempat merasa khawatir dan kembali ke bagian tiket, bertanya apakah ada orang yang bisa antar kita kedalam goa, namun seorang menjawab “Gapapa Mbak masuk saja, aman kok goanya”. Jadi aku pun berjalan terus bagian dalam dan sempat berhenti didepan prasasti modern ini:

Trus, mana goa-nya?

Karena aku jarang ke goa, maka yang aku imajinasikan adalah mulut goa akan berada sejajar dengan keberadaanku saat itu. Tapi salah. Setelah clingak clinguk (karena tidak ada orang untuk ditanyai), aku mendapati kenyataan seperti ini *halah*:

Ternyata, mulut goa-nya nun jauh dibawah sana *lebai*. Entah berapa meter, tepatnya.. tapi anak tangga yang harus dilalui cukup banyak dan seketika sampai dibawah sana, suasana langsung berbeda hahaha :p.

Btw, kalian harus diingatkan lagi bahwa tidak ada orang lain disekitar kita. Aku hanya berdua dengan sepupu ceweku saja dan aku sempat berniat mengurungkan niat untuk masuk kedalam goa. Aku kan penakut! Sungguh. Tapi karena sepupuku bersemangat sekali, jadi ya sudahlah..

Bagian depan Goa Akbar sih, cukup menyenangkan dan menarik karena cukup terang, luas dan indah:

Lihat, bebatuan alaminya membentuk langit-langit dan susunan permukaan tanah yang unik. Situasinya lembab, karena ada air bermineral yang menetes (dan membuat bentukan baru), juga sumber air dibagian bawah yang membentuk sungai dan genangan air di beberapa tempat.

Jujur saja, secara logika aku tidak menyukai komposisi: air dan situs. Karena kalau aku lagi ‘error’, biasanya akan ada banyak hal yang bisa ‘dilihat’/ dirasakan dan aku menghindari hal-hal seperti itu. Tapi mungkin karena badan tidak fit, sedang demam dan batuk, aku menjadi sangat tidak sensitif sehingga perjalanan pun bisa diteruskan (dengan was-was), haha!

Goa Akbar ini ‘ramah’ pengunjung karena jalur yang harus dilalui sudah dipaving dan diberi pagar alumunium, juga penerangan memudahkan orang untuk melangkah.

Dan setiap langkahku ditemani suara khas Iwan Fals dari beberapa speaker yang dipasang sepanjang jalan. Ini penting sekali untuk menghilangkan kesan menyeramkan. Pernah suatu kali speaker berhenti dan suasana mendadak sangat hening mencekam! Untung saja, tak lama kemudian Iwan Fals kembali bersenandung haha :p.

Btw, tidak banyak foto yang aku ambil didalam goa karena walau pun tampaknya terang namun sebenarnya situasi Goa Akbar temaram bahkan gelap di beberapa bagian sehingga hasil fotoku blur *tangan tremor & ga bawa tripod*.

Oh ya, kalian harus tahu bahwa makin lama kondisi Goa Akbar yang harus kita lalui, semakin humid (lembab) dan basah. Ada banyak sekali kotoran kelelawar di jalan dan pegangan tangan, membuat kita harus berhati-hati agar badan tidak terlalu kotor. Bau goa-nya juga lumayan aduhai plus gerakan dari beberapa kelelawar bisa membuat orang merasa takut (tapi believe me: mereka engga akan menyerang pengunjung).

Jalanlah dengan santai, jangan tergesa karena akan membuat keadaan lebih buruk. Aku sempat agak merasa pendengaranku berkurang, tekanan udaranya cukup besar rupanya.

Tidak ada kesulitan bernafas, namun setelah berjalan cukup lama, baju dan rambut basah, kaca mata pun berembun parah, aku sempat merasa panik dan ingin melompati pagar pembatas untuk bisa cepat keluar haha! Dan itu tidak disarankan. Berkali-kali ada papan peringatan untuk tidak berbalik arah/ melompati pagar pembatas dan lebih baik kalian turuti.

Alasan logisnya: ketika mereka memasang papan peringatan untuk tidak balik arah, posisi kalian sudah sangat jauh dari mulut goa. Jadi, kalau kalian balik arah = jauh. Kalian akan lebih lama lagi berada didalam goa.

Lompat pagar pembatas pada beberapa titik tertentu memang bisa mempercepat kita TAPI akan ada resiko nyasar yang ujung-ujungnya balik ke temat semua/ jatuh dan engga OK banget lah itu. Jadi, jalani saja dengan tabah (eh).

Kalau kalian perhatian, ada beberapa bagian Goa Akbar yang menarik, seperti ini misalnya (sorry fotonya blur):

Konon, lorong itu akan membawa pengunjung menuju ke pantai! Ada beberapa orang yang pernah mencoba masuk dan berjalan cukup jauh namun kembali, karena makin lama kondisi goa semakin menyempit dan dipenuhi kotoran kelelawar.

Ini adalah sumber air tawar yang airnya dialirkan ke sebuah ceruk goa didekat pintu keluar, sebagai air wudhu:

Kondisinya emang lagi kotor dan sedang dikuras oleh seorang pekerja yang dengan baik hati mau menjelaskan sejarah goa ini (legaaaa luar biasa rek ketemu manusia lain di goa ini!), bahkan mengantar kita keluar dan menolak diberi tips *terima kasih*. Btw, disekitar sumber air ini situasinya sangat lembab, udara seakan tidak bergerak, rambut basah karena lembab.

Sepupuku sempat mengkhawatirkanku yang memang sedari awal kurang sehat. Aku sih merasa kuat, tapi panik, pengen segera keluar rasanya padahal engga phobia ruangan sempit. Rupanya ini sejenis gejala awal

Yang 2 ini, konon adalah tempat pertapaan Sunan:

Dan yang lebar ini, adalah ruangan yang dahulu dipakai untuk berunding:

Hmm? Sunan? Iya.

Nama Akbar konon berasal dari nama sebuah pohon yang tumbuh didepan gua, yakni pohon Abar. Namun sumber lain menyebutkan nama Akbar tersebut diberikan oleh pemerintah Kabupaten Tuban yang merupakan akronim dari Aman, Kreatif, Bersih, Asri dan Rapi yang tak lain dan tak bukan adalah merupakan slogan dari Kabupaten Tuban itu sendiri.

Gua Akbar itu sendiri memiliki nilai religius. Diceritakan bahwa Sunan Bonang melihat gua ini saat diajak oleh Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama Raden Mas Sahid. Beberapa tempat di Gua Akbar dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang pernah bertapa. Seperti ceruk yang diberi nama Pasepen Koro Sinandhi, yaitu tempat pintu yang dirahasiakan. Ceruk ini sangat kecil pintunya. Untuk masuk ke dalamnya, orang dewasa harus merangkak atau sekurangnya membungkuk. Oleh masyarakat sekitar dipercaya prosesi membungkuk ini memiliki makna filosofis yang tinggi, yakni pengunjung diingatkan bahwa di depan mata Allah semua harus merendahkan diri.

Salah satu lorong gua yang cukup rendah sehingga pengunjung dewasa mesti menundukkan kepala saat melewatinya.

Pada sisi lain dari dalam gua terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk melakukan ibadah sholat. Bagian ini memiliki lantai dasar gua yang telah dilapis keramik warna putih dan hitam sebagai penanda barisan sholat. Beberapa pengunjung tampak meluangkan waktu untuk sholat sejenak di tempat ini.

Sebuah ruangan yang cukup luas terdapat pula didalam gua ini diberi nama Paseban Wali yang dipercaya dulunya digunakan oleh para walisongo untuk berkumpul dan menyampaikan ajaran agama Islam. Suatu hal yang harus ditelaah lebih lanjut, mengingat Wali Songo hidup tidak persis pada zaman yang sama.

Namun demikian, Paseban Para Wali itu memang mirip ruang pertemuan. Adanya lubang-lubang di langit-langit goa hingga cahaya matahari masuk dalam bentuk jalur cahaya yang jelas (taken from here).

Informasi lain:

Sekira 500 tahun lalu, Sunan Bonang sedang melakukan perjalanan. Ketika menemui goa ini, Kanjeng Sunan Bonang terpesona dan seketika berucap, “Allahu Akbar”. Konon, sejak itulah, goa yang terletak di tengah Kota Tuban itu disebut Goa Akbar. Versi lain diceritakan, karena sekitar goa banyak dijumpai pohon Abar. Masyarakat setempat kemudian menyebutnya Ngabar.

Berdasar buku yang dihimpun Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tuban, kata Ngabar berasal dari bahasa Jawa yang berarti latihan. Konon, goa ini pernah dijadikan tempat persembunyian untuk mengatur strategi dan latihan ilmu kanuragan prajurit Ronggolawe, yang ketika itu berencana mengadakan pemberontakan ke Kerajaan Majapahit. Pemberontakan itu disulut oleh ketidakpuasan Ronggolawe atas pelantikan Nambi menjadi Maha Patih Majapahit.
Karena seringnya dijadikan tempat latihan, goa dan daerah sekitarnya dijuluki Ngabar, yang kemudian seiring waktu menjadi nama dusun yaitu Dusun Ngabar, Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding. Cerita mengenai asal usul ini memang berkembang bervariasi. Pastinya, kata Akbar itu kini dipergunakan Pemerintah Kabupaten Tuban sebagai slogannya. Akbar bermakna Aman, Kreatif, Bersih, Asri, dan Rapi.

Goa Akbar mengandung kisah keagamaan sangat tinggi. Diceritakan, konon Sunan Bonang mengetahui goa ini karena diajak Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama RM Sahid. Bila disimak cerita pada relief di dinding sebelah utara pintu masuk, digambarkan RM Sahid yang adalah putra Bupati Tuban ke-9 yang bernama Wilotikto diusir dari rumah karena bertabiat kurang baik. Karenanya ia dipanggil dengan nama Brandal Lokojoyo. Pertemuannya dengan Sunan Bonang di Kali Sambung, Brandal Lokojoyo mengatakan kalau rumahnya di goa.

Alkisah, setelah ia terusir, RM Sahid memang tinggal di Goa Akbar. Perjalanan spiritual RM Sahid alias Brandal Lokojoyo kemudian menemui jalan kebenaran, dan terakhir menjadi Sunan Kalijogo. Beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat perjalanan religius Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, di samping wali-wali yang lain.

Jejak Wali
Legenda yang terkandung dalam goa itu pun berpadu dengan kepercayaan dan perkiraan sejarah. Lihat, misalnya, dua buah batu di mushala sebelum pintu keluar goa. Jika diamati, kedua patung tersebut mirip dengan bentuk singa. “Dipercaya, kedua singa ini diperintahkan untuk menjaga goa,” kata Soekaton. Di depan musholla terdapat ruang yang sangat luas yang dikenal sebagai Paseban Para Wali, atau tempat para wali menyampaikan fatwa dan ajaran agama. Paseban itu mirip ruang pertemuan. Stalagtit dan stalagmit juga seakan menjadi hiasan ruangan. Itu ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara.

Ada pula batu yang disebut Gamping Watu Nogo yang dipercaya sebagai tempat pertapaan Sunan Kalijogo. Di bawah batu yang menjorok ke depan itu terdapat kolam. Diceritakan, kolam itu kadang bergolak dan mengepulkan asap, seakan ada dua ekor naga di dalamnya. Di pojok mushala juga terdapat sebuah ceruk yang diberi lampu berwarna merah.

Menurut cerita, selain tapak Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, ada Sunan Bejagung yang juga pernah bertapa di goa ini. Dalam cerita rakyat, Sunan Bejagung awalnya adalah petani biasa yang suka menanam jagung. Namun, ia memiliki kesaktian lebih. Setiap siang ia tak nampak dalam goa. Pada saat itu ia telah berada di Mekah untuk membantu menyalakan pelita.

Goa ini juga memiliki sumber air alami. Sumber air yang diberi nama Kedung Tirta Agung tersebut, menurutnya, airnya baru mengalir deras selepas tahun 1999. Di malam takbiran itu, Bupati Tuban mengadakan syukuran di dekat sumber mata air sambil membawa ayam hitam. Tiba-tiba air mengucur deras. Hingga kini, air tersebut diyakini memiliki khasiat, baik untuk kesehatan maupun untuk kekuatan.

Eksplorasi
Sebenarnya masih banyak lorong yang tampaknya belum dieksplorasi di Goa Akbar. Melihat struktur tanah di kawasan ini banyak mengandung kapur, tidak heran jika goa-goa di Tuban memiliki stalagtit dan stalagmit yang berbeda. Belum dieksplorasinya lorong-lorong di Goa Akbar ini juga menyisakan kisah yang perlu dieksplorasi untuk memperoleh keunikannya.

Lorong Hawan Samudra, misalnya, dipercaya tembus hingga Pantai Utara Tuban. Menurut cerita, lorong itulah yang digunakan untuk mengejar musuh kerajaan yang lari ke laut. Sementara lorong lainnya berujung pada Goa Ngerong di Kecamatan Rengel. Legenda ini bisa jadi memiliki nilai kebenaran, mengingat Prasasti Malenga dan Prasasti Banjaran yang bertahun 1052 ditemukan di Rengel. Karena itu pula Rengel dianggap sempat menjadi pusat pemerintahan saat itu.

Lorong lainnya juga dianggap bersambungan dengan sumber air Bektiharjo. Berdasar buku 700 Tahun Tuban yang disusun R Soeparmo, tempat ini merupakan salah satu tempat asal usul Tuban. Cerita berujung ketika Raden Arya Dandang Miring membuka hutan bernama Papringan lalu keluar air, sehingga disebut Tuban (Metu Banyu: Jawa).

Secara arkeologis, Goa Akbar diperkirakan sudah berusia lebih dari 20 juta tahun. Perkiraan ini didasarkan pada temuan fosil binatang laut seperti kerang di batu-batu dan dinding goa. Temuan itu kian menguatkan posisi Goa Akbar sebagai goa fosil. Hingga kini, fosil-fosil di batu tersebut dapat disaksikan dengan jelas.

Sebagai tempat wisata, pengelolaan Goa Akbar cukup serius. Mulai dari pintu masuk hingga jalur menyusuri lorong, sudah dilengkapi bermacam fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Sepanjang jalan dalam goa disediakan jalur dari paving block yang dibatasi oleh pagar steinless. Selain pagar pembatas, di sana sini tertempel larangan balik arah, agar pengunjung tidak sampai kebablasan tanpa memperhitungkan keselamatan. Di berbagai tempat dipasang lampu warna-warni sehingga kian membuat suasana nyaman.

Berbagai cerita yang terkandung di dalamnya, menjadikan tempat ini sangat penting. Selain menarik sebagai tempat wisata, Goa Akbar juga memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan, baik sejarah, arkeologi, maupun agama. Namun, kondisi goa ini mesti dijaga bersama. Jangan sampai bernasib kurang bagus seperti banyak terjadi di tempat-tempat bersejarah lain.

Ruang dan Ornamen Batu di Goa Akbar
Seiring beragamnya cerita yang menyelimuti, Goa Akbar memiliki banyak ruang dan ornamen batu dalam berbagai bentuk, yang memiliki jalinan kisah tersendiri. Kisah itu berkaitan dengan sejarah wali-wali dalam melakukan syiar agama di desa-desa hingga kawasan pantura (pantai utara).

  • Pertapaan Andong Tumapak.
    Tempat ini dipercaya sebagai tempat pertapaan Sunan Bejagung (Sayyid Abdullah Asyari), penyebar agama Islam di Jawa sebelum Wali Songo. Konon, kanjeng Sunan Bejagung bertapa untuk memenuhi permintaan Bupati Tuban kala itu, untuk memohon petunjuk pada Tuhan dalam menghadapi serangan musuh.
  • Sendang Tirta Merta.
    Sendang Tirta Merta berupa kolam air kehidupan yang bermakna kehadiran goa ini diharapkan bisa menjadi lapangan kehidupan masyarakat Tuban dan bisa meningkatkan kesejahteraan dan lapangan kerja.
  • Lorong Hawan Samodra.
    Berdasar penelitian, di dalam lorong tersebut pernah ditemukan tanah bercampur ijuk, sehingga diduga dulu dipakai tempat penyimpanan harta karun.
  • Ruangan Songgo Langit.
    Artinya dari sudur ruangan ini kita bisa melihat langit secara bebas melalui lobang angin.
  • Sela Sardula berupa batu yang bentuknya mirip macan.
  • Lorong Landak yaitu lorong tempat persembunyian atau sarang landak.
  • Pendopo Watu Datar yang dulunya merupakan Goa Lawa (sarang kelelawar).
  • Prapen Empu Supa atau batu iring dengan batu perapian untuk membuat senjata milik Empu Supa di Desa Dermawuharjo Kecamatan Semanding.
  • Pasepen Kori Sinandhi yang berarti pintu atau tempat untuk semadi, bertapa, atau bersembunyi.
  • Gawang Marabahaya.
    Bila masuk ke lorong sejauh lebih kurang 20 meter akan menemui sumur sedalam 14 meter yang di dalamnya terdapat sungai bawah tanah. Bila ditelusuri, sungai itu akan tembus ke Gua Ngerong, Rengel. Muaranya bisa dilihat di pantai Boom.
  • Pendopo Sela Gumelar.
    Ruangan ini dulu beralaskan batu-batu yang tersebar secara rapi bagaikan tertata. Pernah digunakan sebagai tempat pertemuan atau istirahat para isteri wali sambil menunggu para wali rapat di ruangan lain.
  • Pasunggingan Banyu Langse yaitu bentuk batu seperti aliran air. Nama ini diambil dari Pemandian Sungai di Boto Kecamatan Semanding.
  • Pertapaan Sela Kumbang sebagai tempat pertapaan yang terletak di atas tanah.
  • Gampeng Watu Naga.
    Bentuk batu-batu ruangan itu bila digabungkan akan mirip dengan ular naga.
  • Sela Turangga yaitu batu mirip kuda. Lorongnya bisa tembus ke Rumah Sakit Medika Mulia.
  • Muhamandhapa Sri Manganti.
    Ruangan seperti pendopo besar dan luas, yang pernah digunakan sebagai tempat rapat, sidang, pertemuan para Wali Songo.
  • Watu Gong atau sebuah batu yang bila dipukul bisa menghasilkan bunyi seperti gong.
  • Pasujudan Baitul Akbar, yaitu tempat ibadah bagi umat Islam. Tempat ini pernah digunakan oleh Sunan Bonang untuk melaksanakan shalat (taken from here).

Btw, ini pintu keluar gua!

Disini nafasnya lega banget, dah. Dan jangan lupa mampir di Mushola yang memanfaatkan 1 ceruk goa didekat pintu keluar (airnya dari sumber didalam goa yang tadi aku foto):

Kalau mau istirahat dulu setelah berjalan sekitar 1,6 kilometer, ada tempat duduk yang disediakan:

Saat kita berjalan keluar menuju mobil, aku lihat beberapa dome seperti ini:

Ternyata itu adalah lubang udara dan cahaya untuk beberapa bagian goa.

One Reply to “Goa Akbar (Tuban); Besar dan Bersejarah!”

  1. Mantap cee👍 Pengen suatu waktu bisa main ke goa, tapi blm kesampaian sampe sekarang. Btw, panik yg cece sebutkan di atas gejala awal apa ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *