Aermata Ebu/ Aer Mata Ebu (Sampang – Madura); Makam Ratu yang Tak Berhenti Menangis

Aermata Ebu/ Aer Mata Ebu (Sampang – Madura); Makam Ratu yang Tak Berhenti Menangis

Bertahun-tahun lalu, Aermata Ebu sudah aku incar sebagai lokasi yang akan aku datangi. Tapi dengan minimnya informasi ketika itu, berkali-kali pula rencana ke Aermata Ebu dibatalkan/ diganti.

Nah, pada kunjungan kali ini benernya kita cuma berencana ke Bukit Kapur Arosbaya. Nama “Aermata Ebu” sempat terlintas diotak, tapi karena engga tahu lokasinya dan pergi dengan sodara yang engga terlalu suka makam, maka lagi-lagi keinginan ke Aermata Ebu aku hapus.

Tapi mungkin inilah yang dinamakan “indah pada waktunya”. Waze yang menuntunku ke Bukit Kapur Arosbaya, ternyata melewati lokasi Aermata Ebu!!!

Udah gitu, Mami dan adiknya malah kegoda keluar buat beli buah (sawo Madura yang memang sungguh istimewa) dan rujak cingur yang dijual di area parkir Aermata Ebu.

Trus? Ya tentu aja aku ogah ikutan makan rujak/ bengong di mobil hahaha! Maka aku mulai berjalan cepat, meniti anak tangga Aermata Ebu, menuju ke bagian dalam, melewati gapura seperti ini (FYI aku suka bangunan2 Madura kuno yang menurutku unik dan cakep, kolaborasi dari beberapa budaya):

Sesaat setelah aku tiba di gapura, ada seorang pengunjung melempar beberapa koin uang dan ada banyak orang yang kemudian berlari dan mengambilinya:

Entah, apa makna melempar koin itu.

Tapi setelah melewati gapura pertama itu aku langsung sadar bahwa akan ada banyak bangunan-bangunan menarik lainnya (seperti pada kompleks makam di Asta Tinggi, Sumenep), karena tampaknya kompleks makam Aermata Ebu ini tua. Ah, benar! Simak saja, informasi yang aku dapatkan ini:

Komplek situs sejarah yang terletak di sisi utara, sekitar 30 kilometer dari arah Kota Bangkalan ini, menyimpan banyak fakta dan cerita sejarah, termasuk peninggalan berupa makam Islam kuno, yang disertai dengan arsitektur budaya Hindu-Budha.

Konon menurut legendanya, konstruksi bangunan situs itu didirikan pada abad ke-15 atau ke-16. Walau sudah uzur, tapi bentuk bangunan tersusun rapi meski dibangun tanpa alat perekat dari semen.

Mulai dari nisan, kerangka kuburannya, semuanya terukir indah yang terbuat dari batu putih mirip pualam yang diambil dari lokasi sekitar makam.

Keindahan yang menonjol dan bernilai seni tinggi tersebut terletak pada tiga cungkup utama makam yang berukuran 40 x 20 meter, yakni makam Ratu Ibu Syarifah Ambami, Panembahan Tjakraningrat II dan Tjakraningrat III. Begitu juga cungkup pada makam Panembahan Tjakraningrat V, VI dan VII yang disebut-sebut bergelar Tjakradiningrat I.

Maka wajar apabila kelangkaan dan keindahan nilai seni dan arsitektur pada Makam Aer Mata menjadi perhatian Pemerintah.  Di tahun 1975 kompleks Pasarean Aer Mata diikut sertakan dalam lomba dan pameran seni arsitektur peninggalan Purbakala se-Asia mewakili Indonesia. Hasilnya, situs itu mendapat nilai tertinggi.

“Gaya arsitektur dan seni ukir di Aer Mata mempunyai ciri khas perpaduan Hindu, Budha dan Islam,” ujar Hasan Fajri, Juru Kunci makam (taken from here).

Dibagian yang lebih dalam, mulai nampak banyak makam tua dengan batu hitam dan nisan berukir. Cantik sekali, anggun dan sekaligus misterius karena warnanya yang hitam itu:

Setelah itu, ada bangunan cantik seperti ini (duh, ini khas Madura dan cantik banget menurutku):

Dibalik bangunan itu, ada tembok tua dengan 1 gapura lagi (mirip dengan kebanyakan gapura-gapura tua di Jawa, misalnya gapura pada makam Bupati pertama Gresik, makam Sunan, dll):

Disisi kiri, ada semacam gapura lagi menuju ke bagian lebih bawah:

Setelah melewati gapura itu, ada bangunan lagi disisi kiri (yang bangunannya juga asik banget tuh). Mampirlah untuk mendaftarkan kehadiran & memberi uang amal:

Lalu, ada gapura lagi yang tidak terlalu tinggi dan kali ini, ada pagarnya:

Lha, dibalik gapura inilah berderet makam-madengan nisan indah:

Dibelakangnya, ada makam tua tanpa atap:

Lalu, ada gerbang seperti ini, menuju bagian yang lebih tinggi:

Aku tidak lewat bagian itu, melainkan memilih untuk lewat bagian samping, rute yang dilalui pengunjung lainnya:

Nih, ada makam lagi yang tampaknya sangat tua:

Dan ada bangunan beratap yang melindungi beberapa makam dengan nisan indah dengan batu berwarna putih:

Wow! Aku terpana dengan nisan berukirnya yang sangat indah dan entah mengapa mengingatkanku dengan ukiran Bali! Coba amati salah satu nisan yang aku foto berikut:

Full ukiran dari atas sampai bawah! lihat detailnya:

Luar biasa!

Btw, pada bangunan yang sama, ada sebuah makam yang didoai oleh banyak pengunjung. Setelah para pengunjung pergi (untuk menuju makam lainnya), aku mendekat dan memfotonya.

Ternyata, makam tersebut adalah makam (pada) Tjakraningrat..

Cakraningrat, dalam ejaan Belanda Tjakraningrat, adalah nama gelar bangsawan di pulau Madura, yang disandang oleh satu garis keluarga pangeran, sultan, dan regent (setingkat bupati) pada masa Hindia Belanda sejak tahun 1678. Garis tersebut dimulai dengan diangkatnya seorang pangeran Madura oleh Sultan Agung untuk memerintah keseluruhan pulau atas nama Mataram, berkedudukan di Sampang.

Di awal abad ke-19, Daendels, kemudian Raffles, “menganakemaskan” wangsa Cakraningrat dengan memberi mereka gelar “Sultan”. Namun di paruh kedua abad ke-19, Belanda tidak memberi gelar tersebut lagi. Pada tahun 1887, para pangeran Cakraningrat seperti halnya pembesar Madura lainnya sudah berkedudukan sebagai regent (bupati) saja, di bawah pemerintahan Belanda (taken from here).

Ada beberapa Cakraningrat yang bisa aku dapatkan kisahnya:

Cakraningrat I, atau Raden Prasena adalah seorang Adipati Madura, yang memerintah Madura Barat sebagai penguasa bawahan dari Kesultanan Mataram. Ia dikawinkan dengan putri keraton Mataram, dan sebagai penguasa bawahan ia lebih banyak menghabiskan waktunya di keraton Mataram ketimbang di Madura. Cakraningrat I bersikap loyal terhadap Sultan Agung dari Mataram. Cakraningrat I dan anak sulungnya Raden Demang Malayakusuma gugur tahun 1647 saat menjalankan tugas mengatasi pemberontakan Pangeran Alit di alun-alun Plered. Anak lainnya, yaitu Raden Undagan, kemudian diangkat oleh Mataram menjadi penggantinya dengan gelar Cakraningrat II (taken from here).

Beliau bertahta pada 1624 – 1647, sebagai penguasa bawahan Mataram (taken from here).

Yang ini, makam Panembahan Cakraningrat II:

Panembahan Cakraningrat II, memerintah antara 1680-1707, adalah seorang penguasa wilayah Madura Barat dan pesisir utara Jawa Timur. Namanya sebelum naik tahta adalah Raden Undagan atau Pangeran Sampang. Kekuasaan Cakraningrat II mendapat dukungan kuat dari para penguasa Surabaya, yang juga adalah menantu dan cucu menantunya, yaitu Ngabehi Jangrana I dan anaknya Jangrana II. Pada masa pemerintahannya, ia juga terlibat dalam kemelut suksesi Mataram, yang antara lain melibatkan Trunojoyo, Amangkurat II, Untung Surapati, Pakubuwana I, Amangkurat III, serta VOC.

Cakraningrat II adalah anak kedua dari Cakraningrat I, penguasa pertama Madura Barat yang diangkat sebagai vasal dari Mataram oleh Sultan Agung; sedangkan ibunya adalah putri keturunan Sunan Giri yang bernama Nyi Ageng Sawu, atau gelarnya Ratu Ibu. Raden Undagan diangkat sebagai penguasa untuk menggantikan ayahnya oleh Susuhunan Amangkurat I. Pada masa pemberontakan Trunojoyo yang terjadi antara 1674-1679, Cakraningrat II sempat disingkirkan dari kekuasaannya; namun setelah pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan maka ia pun berkuasa kembali. Trunojoyo sesungguhnya adalah keponakannya sendiri, yaitu anak dari Demang Melayakusuma, kakaknya yang tidak naik tahta.

Ketika usianya telah lanjut, Cakraningrat II turut berpihak kepada Pakubuwana I dalam suksesi kekuasaannya melawan Amangkurat III dan sekutunya Untung Suropati.[4] Pasukan gabungan Kartasura, Madura, Surabaya, dan VOC berhasil menang pada tahun 1706. Untung Suropati terbunuh, Amangkurat III diasingkan ke Srilangka hingga wafatnya, dan Cakraningrat II juga meninggal tak lama kemudian. Ia jatuh sakit dan meninggal di Kamal, Bangkalan, sehingga mendapat gelar anumerta Panembahan Siding Kamal (‘Panembahan wafat di Kamal’) oleh masyarakat.

Setelah Cakraningrat II wafat, pemerintahannya dilanjutkan oleh anaknya yaitu Cakraningrat III (taken from here).

Kemudian, ada Panembahan Cakraningrat III:

Panembahan Cakraningrat III adalah seorang penguasa Madura Barat, yang berkuasa antara tahun 1707-1718. Pada masa pemerintahannya, Madura Barat juga terimbas oleh pergolakan daerah-daerah pesisir Jawa yaitu Surabaya, Ponorogo, Madiun, Magetan, dan Jogorogo, yang dibantu oleh para keturunan Untung Suropati dan pasukan Bali; melawan kekuasaan Kesultanan Mataram yang dibantu oleh VOC. Cakraningrat III bersikap ambigu, di mana ia sejak tahun 1712 menolak untuk menghadap ke kraton Mataram, namun tetap tidak memberontak secara terbuka.

Cakraningrat III tewas terbunuh pada bulan Januari 1718 dalam bentrokan di atas kapal VOC, akibat suatu kesalah-pahaman. Ia digantikan oleh Cakraningrat IV, yaitu saudaranya sendiri. Karenanya, ia mendapat julukan anumerta Panembahan Siding Kapal (‘Panembahan wafat di kapal’) dari masyarakat setempat (taken from here).

Yang ini, makam Pangeran Cakraningrat IV:

Pangeran Cakraningrat IV adalah seorang pemimpin Madura Barat (bertahta 1718-1746). Seperti pendahulunya, dia menolak kekuasaan raja Mataram. Dia lebih ingin berada di bawah pelindungan VOC, sesuatu yang ditolak VOC. Di samping itu, Cakraningrat secara pribadi membenci Amangkurat IV, raja Mataram (bertahta 1719-1726), dan menolak untuk sowan ke kraton Kartasura. Dia juga takut akan diracuni bila ke kraton.

Tahun 1726 Amangkurat meninggal, digantikan puteranya yang mengambil gelar Pakubuwana II, yang berumur 16 tahun (bertahta 1726-1749). Hubungan antara Mataram dan Cakraningrat membaik, dan Cakraningrat menikahi salah satu adik Pakubuwana. Hubungan antara Cakraningrat dan ibu mertuanya, Ratu Amangkurat, menjadi akrab.

Di akhir tahun 1730-an, kekuasaan Cakraningrat di Jawa Timur meningkat dan mengancam kedudukan orang Bali di daerah Blambangan.

Pada Juli 1741, pasukan Mataram menyerang garnisun VOC di Kartasura. Komandan garnisun, Johannas van Elsen, ditangkap dan dibunuh, dan benteng VOC dibongkar. Peristiwa ini adalah lanjutan dari peristiwa Geger Pacinan di Batavia (9 Oktober 1740). Pakubuwana memutuskan untuk memihak ke pemberontak Tionghoa yang menantang kekuasaan VOC di daerah Pasisir. Satu-satunya kekuatan militer yang bisa diharapkan VOC adalah Cakraningrat IV, yang menawarkan bantuannya. Cakraningrat menyerang Jawa Timur, sedangkan VOC sanggup merebut kembali daerah pemerintahannya di Pasisir.

Walau pemberontak Tionghoa sudah dikalahkan VOC, orang Jawa yang bersekutu dengan mereka bukan saja memusuhi VOC tetapi juga mencurigai Pakubuwana. Pemberontak Jawa mengangkat Raden Mas Garenti (juga disebut Sunan Kuning), salah satu cucu Amangkurat III, yang berumur 12 tahun, sebagai Susuhunan baru.

Juni 1742, pemberontak menaklukkan Kartasura dan menjarahnya. Pakubuwana dan Kapten van Hohendorff lari ke Ponorogo. Akhirnya Pakubuwana minta bantuan Cakraningrat. Bulan November, pasukan Cakraningrat merebut Kartasura kembali. Kartasura dijarah sekali lagi. Cakraningrat dipaksa VOC untuk mengembalikan kraton ke Pakubuwana.

Cakraningrat menganggap bahwa jasanya memberinya hak atas Jawa Timur. Dia bersekutu dengan pemimpin Surabaya dan keturunan Surapati yang masih menguasai sebagian Jawa Timur. Dia juga berhenti mengirim upeti beras dan membayar bea pelabuhan Jawa Timur ke VOC. VOC mencoba berunding dengan dia bulan Juli 1744 tetapi ditolak. Pada Februari 1745 VOC menyatakan Cakraningrat makar. Cakraningrat angkat senjata dan menyerang Madura Timur. Mula-mula pasukan VOC kewalahan, tetapi arus berbalik. Akhirnya Cakraningrat terpaksa lari ke Banjarmasin.

Namun sultan Banjarmasin mengkhianatinya dan menyerahkannya ke VOC. Cakraningrat dibawa ke Batavia, kemudian dibuang ke Tanjung Harapan (Belanda: Kaap de Goede Hoop) di Afrika Selatan tahun 1746. Karenanya, ia mendapat julukan rakyat sebagai Panembahan Siding Kaap. VOC memutuskan puteranya untuk menjadi penggantinya, sebagai Cakraningrat V. Dengan kekalahan Cakraningrat IV, ikut campur Madura di Jawa berakhir (taken from here).

Khusus Pangeran Cakraningrat IV, ada silsilah keluarganya nih:

Selanjutnya, ada Panembahan Cakraningrat V:

Panembahan Cakraningrat V adalah penguasa Madura Barat antara tahun 1745-1770. Namanya sebelum naik tahta adalah RA Secoadiningrat. Ia menggantikan ayahnya Cakraningrat IV, yang diasingkan hingga wafatnya oleh VOC ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Pangeran Secoadiningrat adalah anak kedua dari istri kedua ayahnya; dan ia diangkat karena anak pertama dari istri pertama umurnya lebih muda, sedangkan kakaknya tidak diangkat karena ada kecacatan. Pada masa pemerintahannya, Cakraningrat V adalah sekutu penting bagi VOC dan merupakan wedana bupati (regentkepala) untuk wilayah VOC di Jawa bagian timur, yang terbentang sejak Madiun hingga ke Blambangan, diserahkan oleh Mataram kepada VOC pada tahun 1743 (taken from here).

Kemudian, Cakraningrat VI

Cakraningrat VI adalah penguasa Madura Barat yang berkuasa antara tahun 1770-1779 (taken from here).

Penerusnya adalah Sultan Cakraadiningrat I:

Panembahan Cakraningrat VII, kemudian menjadi Sultan Cakraadiningrat I adalah penguasa Madura Barat yang berkuasa antara tahun 1780-1815.Gubernur JenderalDaendels memberikannya gelar Sultan Bangkalan; namun hal itu tidak membuat Cakraningrat VII menolong Belanda. Ia malah membantu Inggris ketika mereka tiba pada tahun 1811 untuk merebut daerah jajahan Belanda. Makam Cakraningrat VII terletak di pemakaman kerajaan di Aer Mata, Arosbaya (taken from here).

Selanjutnya, Sultan Cakraadiningrat II:

Cakraningrat VIII, atau Sultan Cakraadiningrat II adalah penguasa Madura Barat yang berkuasa antara tahun 1815-1847. Setelah naik tahta, Sultan ini mengamalkan secara terbuka ritual ajaran Islam, dan merayakan pula hari-hari besar agama Islam (taken from here).

Dan yang terakhir, R. A. A. Tjakraningrat:

R. A. A. Tjakraningrat, regent yang terakhir dan Wali Negara Madura dalam rangka Republik Indonesia Serikat (1949-1950) (taken from here).

Aah, gara-gara ini aku jadi tertarik dengan kerajaan-kerajaan di Madura! Ntar deh, Googling lebih brutal lagi.. tapi sebelum itu, mari lanjutkan perjalanan ke makam berikutnya yang sebenarnya menjadi ‘inti’ dari kunjungan kali ini. Makam Kandjeng Ratoe Iboe Syarifah Ambami yang letaknya dibelakang para Cakraningrat:

Makam Kandjeng Ratoe Iboe Syarifah Ambami (1546-1569) diberi pagar dan kelambu:

Aku tidak mendekat karena banyak orang sembahyang, jadi identitas Beliau hanya terfoto ala kadarnya saja:

Di kompleks makam Air Mata Ratu Ibu, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Makam Imogiri Mataram. Baik itu pintu gerbang, serta punden berundak-undak menuju ke komplek pemakaman. Untuk menuju ke Makam Ratu Ibu sendiri, paling tidak harus melewati sebanyak tiga pintu masuk, yang desainnya mirip dengan candi.

Letak dari Makam Ratu Ibu sendiri berada di sisi paling utara, dengan kontruksi bangunan yang lebih tinggi, dibanding dengan makam lain yang ada di sekitar. Sementara, di sisi selatan atau bawah, terdapat banyak makam kuno yang berdasarkan cerita warga sekitar, merupakan keturunan atau abdi dalem dari Ratu Ibu.

Makam dari Ratu Ibu sendiri dikemas cukup menarik dan bagus. Selain batu nisan yang mempunyai nilai arisitektur tinggi, makam tersebut juga dikelilingi oleh pagar kayu yang tertutup kain warna hijau (taken from here).

Dari hasil Googling, asal usul beliau bisa dilacak dari Nabi Muhammad SAW:

  • Nabi Muhammad SAW
  • Sayyidah Fathimah Az-Zahra
  • Al-Imam Sayyidina Hussain
  • Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin
  • Sayyidina Muhammad Al Baqir
  • Sayyidina Ja’far As-Sodiq
  • Sayyid Al-Imam Ali Uradhi
  • Sayyid Muhammad An-Naqib
  • Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi
  • Ahmad al-Muhajir
  • Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah
  • Sayyid Alawi Awwal
  • Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah
  • Sayyid Alawi Ats-Tsani
  • Sayyid Ali Kholi’ Qosim
  • Muhammad Sohib Mirbath
  • Sayyid Alawi Ammil Faqih
  • Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
  • Sayyid Abdullah Azmatkhan
  • Sayyid Ahmad Shah Jalal
  • Sayyid Syaikh Jumadil Qubro al-Husaini or Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini
  • Syeikh Maulana Malik Ibrahim Asmara Qandi
  • Sayyid Ampel Denta Surabaya
  • Sayyid Kalkum Wotgaleh / Pangeran Tumapel / Pangeran Lamongan
  • Pangeran Sawo Tanah + Nyai Ageng Sawo binti Sunan Giri
  • Pangeran Waringin Pitu
  • Pangeran Waringin Pitu II
  • Pangeran Mas Penganten
  • Pangeran Ronggo
  • RATU AGUNG CAKRANINGRAT / SYARIFAH AMBANI PERMAISURI PANEMBAHAN TJAKRANINGRAT I (taken from here)

Ya, Kandjeng Ratoe Iboe Syarifah Ambami adalah turunan Sunan Giri..

Ratu Ibu adalah seorang wanita yang bernama Sarifah Ambani. Wanita keturunan dari Sunan Giri ini adalah seorang istri yang sangat taat, patuh dan sangat mencintai suaminya, Raja Cakraningrat. Raja Cakraningrat adalah seorang raja yang sangat dihormati dan diagungkan oleh masyarakat Madura pada saat itu. Raja Cakraningrat memimpin Madura pada tahun 1624 atas perintah Sultan Agung dari Mataram (taken from here).

Trus, kenapa Kandjeng Ratoe Iboe Syarifah Ambami identik dengan air mata, bahkan hingga kompleks makamnya pun diberi nama “Aermata Ebu”? Mari baca kisah berikut:

Di kompleks makam Air Mata Ratu Ibu, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Makam Imogiri Mataram. Baik itu pintu gerbang, serta punden berundak-undak menuju ke komplek pemakaman. Untuk menuju ke Makam Ratu Ibu sendiri, paling tidak harus melewati sebanyak tiga pintu masuk, yang desainnya mirip dengan candi.

Letak dari Makam Ratu Ibu sendiri berada di sisi paling utara, dengan kontruksi bangunan yang lebih tinggi, dibanding dengan makam lain yang ada di sekitar. Sementara, di sisi selatan atau bawah, terdapat banyak makam kuno yang berdasarkan cerita warga sekitar, merupakan keturunan atau abdi dalem dari Ratu Ibu.

Makam dari Ratu Ibu sendiri dikemas cukup menarik dan bagus. Selain batu nisan yang mempunyai nilai arisitektur tinggi, makam tersebut juga dikelilingi oleh pagar kayu yang tertutup kain warna hijau.

Makam Air Mata Ratu Ibu adalah makam seorang wanita bernama Sarifah Ambani. Konon, wanita inilah yang melahirkan raja-raja Madura. Menurut dokumen sejarah, Sarifah Ambani adalah keturunan dari Sunan Giri dari Gresik yang dipersunting oleh Pangeran Cakraningrat I dari Madura.

Cakraningrat I memerintah Madura pada tahun 1624 atas perintah dari Sultan Agung dari Mataram. Walau demikian, ia lebih banyak tinggal di Mataram mendampingi Sultan Agung. Istri Cakraningrat yang bernama Sarifah Ambani inilah yang selalu tinggal di Kraton Sampang. Mungkin karena itu dia diberi gelar Ratu Ibu.

Sarifah adalah figur seorang istri yang taat dan patuh pada semua perintah suaminya. Untuk mengisi waktu senggangnya Sarifah yang menghabiskan waktunya untuk bertapa di Desa Buduran Kecamatan Arosbaya-Bangkalan.

Dan ia juga berharap agar pucuk pimpinan dipegang keturunannya hingga tujuh turunan. Dalam tapanya Ratu Ibu bertemu dengan Nabi Khidir A.S yang dianggap oleh Ratu Ibu sebagai pertanda bahwa permohonannya akan dikabulkan.

Merasa pertapaannya sudah cukup, Ratu Ibu pun kembali ke Kraton Sampang. Selang beberapa lama, suaminya, Pangeran Cakraningrat I datang dari Kesultanan Mataram. Kepada suaminya Ratu Ibu menceritakan perihal mimpinya.

Tetapi yang terjadi justru kemarahan dari Cakraningrat. Dengan nada marah Cakraningrat berkata “Mengapa kamu hanya memohon tujuh turunan, seharusnya keturunan kita selamanya menjadi pemimpin di Madura,” kata Hasan menirukan kata-kata Cakraningrat kepada Syarifah Ambami.

Setelah suaminya kembali ke Mataram, dengan perasaan sedih Ratu Ibu kembali bertapa di Desa Buduran. Di sini ia memohon agar permintaan suaminya dapat dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

“Permohonan Ratu Ibu terus dilakukan siang dan malam sambil menangis. Ratu Ibu akhirnya meninggal dan di tempat pertapaannya inilah ia dimakamkan. Menangis saat bertapa. Barangkali karena itulah pemakaman itu akhirnya diberi nama Air Mata atau air mata,”ujar Hasan (taken from here).

Hmm..

Btw dalam perjalanan keluar, aku menjumpai sebuah batu berukir cakep banget:

Kemudian aku berhenti untuk foto dan kemudian sadar, kalau didekatnya ada semacam bangunan tertutup yang bagian depannya punya lambang mirip-mirip Majapahit. Nih, monggo dilihat:

Nah, karena memfoto logo itu nampaklah bahwa bangunan itu adalah ruangan berisi beberapa makam! Jrenggg jreng..

Rada deg-deg’an ketika masuk karena sebenarnya ruangan cenderung gelap (fotonya disetting agar nampak lebih terang nih), tertutup dan tidak ada orang sama sekali haha! Ruangan ini kini semi dijadikan gudang, namun masih terbilang bersih dan ada yang menarik, diujung ruangan sana:

Semacam lambang kerajaan? Lihat pula ini:

Untung, sedikit keterangan:

Ini, makam Kolonel Pangeran Soerjoadiningrad:

Wew, nisannya terbilang sederhana dibandingkan dengan yang lainnya. Dan mungkin, nisan lainnya adalah makam kerabat dekat dari Kolonel Pangeran Soerjoadiningrad – Putra Z. H. Sultan Tjakra-adiningrat II ini. Salah satunya, menarik:

Ada kata “Papa” dan “Mama”. Ah, kelihatan sekali pada tahun 1866 telah terjadi akulturasi budaya yang asik banget di pulau ini.

Btw, pintu masuk dan keluarnya sama. Jadi, kalian akan melewati gerbang-gerbang tua itu lagi (asik banget nih gerbang, batunya kelihatan tua, masih rapi dan kokoh, sepertinya juga belum pernah di renovasi)..

Melewati pendapa terbuka lagi..

Dan wow, ada ‘prasasti’ modern, toh..

Masih ingat gapura pertama (pada awal postingan ini?). Nah, ini sisi belakangnya:

Ah, kompleks makam ini benar-benar indah dan semoga semua arwah dari jasad yang beristirahat didalamnya, beristirahat tenang dan bahagia di alamnya. Amen..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *