ALL, FOODICTIONARY, HISTORY, ART & CULTURE

Candi Jawi (Prigen/ Pasuruan); Auranya, Wow!

Candi ini sebenarnya sudah beberapa kali dituliskan kisahnya di blog ini, tapi akhirnya semua aku hapus dan menggantinya dengan tulisan ini.

Candi yang menurutku paling mudah dicari keberadaannya ini, bernama Candi Jawi. Lokasinya tepat ditepi jalan raya Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Kalau kalian dari Pasuruan, Malang, Surabaya dan sekitarnya dan hendak ke Tretes, candi ini akan kalian lewati tak lama setelah Istana Ayam Goreng Sri yang ternama itu (kalau dari bawah: posisinya dikanan jalan raya).

Candi JAWI (3)

Bentuk Candi Jawi ramping menjulang didataran yang jauh lebih tinggi dari jalan raya, membuatnya tampak dari kejauhan walau kini disekitarnya menjamur rumah-rumah warga (hal ini sangat disayangkan karena bangunan-bangunan rumah itu terlalu dekat dengan area candi).

Selain itu, ada kolam yang mengelilingi tanah tinggi lokasi berpijaknya Candi Jawi:

Candi JAWI (8) Candi JAWI (9)Candi JAWI (11) Candi JAWI (2) Candi JAWI (1) Candi JAWI (6)

Jadi, untuk mendekat pada bangunan candi, kita harus melalui ‘jembatan’ ini:

Candi JAWI (52)

Kemudian naik tangga:

Candi JAWI (161)

Candi ini tentu saja sudah beberapa kali dikunjungi. Bahkan walau tidak pasti, sepertinya saat masih kecilpun aku sudah pernah ke candi yang ramping ini. Namun yang pasti, pada kunjungan pertama (setelah puluhan tahun tidak ke Candi Jawi) di tahun 2011, aku sama sekali tidak mampu mendekat pada candi peninggalan raja terakhir Singhasari/ Singasari/ Singosari ini.

Aku hanya mampu naik 3-4 anak tangganya, melirik ke Candi Jawi yang lagi sepi (tidak seorang manusia pun ada disana!) dan kemudian lari pontang panting seperti dikejar anjing liar, balik ke mobil.

Didalam mobil, ada sopir dan nyokap yang keheranan. Setelah mendapat cerita singkat dari aku yang nafasnya ngos-ngosan, mereka memutuskan untuk turun mobil dan menemaniku nail ke candi. Sudah ditemani 2 orang dan hari masih siang bolong begitu, tapi tetap saja tidak membuatku sanggup mendekat. Maka, hanya foto ini sajalah yang bisa aku dapatkan pada kunjungan pertama (ini pun diambil dari anak tangga teratas dan setelahnya, lari lagi balik ke mobil meninggalkan sopir dan nyokap *nice!*):

Candi JAWI (164) Candi JAWI (165)

Kunjungan berikutnya, aku bertemu dengan juru pelihara Candi Jawi, seorang Bapak yang ramah dan baik hati *sorry, lupa namanya*:

Candi JAWI (116)

Situasi Candi Jawi saat itu relatif ramai, karenanya aku berani mendekat, itupun pakai minta ditemani sang JuPel.

Candi Jawi ini, sudah beberapa kali dipugar. Hal ini nampak jelas pada bagian depan bangunan yang ‘tambal sulam’:

Candi JAWI (57) Candi JAWI (59) Candi JAWI (54)

Sekilas, makaranya nampak beda namun setelah diamati, makara yang berwarna lebih merah (pada sisi kiri pada foto) sudah rusak. Ornamen hiasannya sudah lenyap, meninggalkan sesosok mahluk bertanduk (yang entah apa namanya):

Candi JAWI (55)

Sedangkan makara sisi kanan, cenderung utuh:

Candi JAWI (60)Candi JAWI (56)

Sedangkan dari sisi lainya, Candi Jawi tampak terlalu ‘indah’ pada bagian batu yang warna putih tuh (potongan batunya tampak terlalu presisi dan siku):

Candi JAWI (12) Candi JAWI (15) Candi JAWI (16)Candi JAWI (163)

Ada relief mengelilingi badan candi. Dan untuk membacanya: kiri ke kanan (searah jarum jam). Aku memfotoi semua reliefnya dengan lengkap (sambil tetap ditemani Pak JuPel) sambil mendengarkan penjelasan mengenai beberapa bagian relief Candi Jawi.

Kenapa aku fotoi semua? Selain karena aku adalah penikmat relief, relief di Candi Jawi ini unik (nanti kalian akan tahu) dan sangat tipis karena terkena jamur. Jadi, mungkin 50, 60 atau 100 tahun lagi relief-relief ini akan rata/ kehilangan detailnya jika tidak ditangani dengan serius.

Berikut adalah foto relief lengkap Candi Jawi, mulai sisi kiri ke kanan:

  Candi JAWI (61) Candi JAWI (62) Candi JAWI (63) Candi JAWI (64) Candi JAWI (65) Candi JAWI (66) Candi JAWI (67) Candi JAWI (68) Candi JAWI (69) Candi JAWI (71) Candi JAWI (72) Candi JAWI (74) Candi JAWI (75) Candi JAWI (76) Candi JAWI (77) Candi JAWI (78) Candi JAWI (79) Candi JAWI (80) Candi JAWI (81) Candi JAWI (83) Candi JAWI (86) Candi JAWI (87) Candi JAWI (88) Candi JAWI (89) Candi JAWI (90) Candi JAWI (91) Candi JAWI (92) Candi JAWI (93) Candi JAWI (94) Candi JAWI (95) Candi JAWI (96) Candi JAWI (98) Candi JAWI (99) Candi JAWI (101) Candi JAWI (102) Candi JAWI (103) Candi JAWI (104) Candi JAWI (105) Candi JAWI (107) Candi JAWI (109) Candi JAWI (111) Candi JAWI (112) Candi JAWI (114) Candi JAWI (115) Candi JAWI (118) Candi JAWI (119)

Dan ada beberapa relief menarik. Daun/ pohon ini, misalnya:

Candi JAWI (177)

Entah, tanaman apakah yang dipahat pada Candi Jawi ini. Yang pasti, ada banyak relief tanaman seperti foto diatas.

Ini, relief seorang pria sedang mandi. Baru kali ini aku tahu, ada relief menggambarkan orang mandi. Perhatikan adanya motif air pada bagian bawah (mirip seperti motif Jepang)?

Candi JAWI (115)WaterJapan

Yang ini, adalah relief hewan (sapi/ kerbau):

Candi JAWI (97)

Ini, relief anjing

Candi JAWI (82)

Jadi, tampaknya anjing sudah dekat dengan manusia Jawa bahkan sejak jaman Singhasari/ Singasari/ Singosari.

Lihat yang satu ini:

Candi JAWI (87)

Gajah!!! Apakah ada gajah di Jawa? Apakah gajahnya berbeda dengan yang di Sumatra? Kemudian kemana, gajah-gajah jawa ini? Atau mereka didatangkan dari Sumatra? Menarik!

Yang berikut ini, juga menarik:

Candi JAWI (100)

Itu adalah relief seorang wanita meniup terompet! Lihat terompetnya, mirip dengan terompet2 tahun baruan! See? Relief di candi tuh menarik kalau diperhatikan.

Secara keseluruhan, relief candi ini memuat kisah perjalanan seorang wanita/ pendeta wanita (tampak dari adanya gajah dan kuda yang membawa barang) yang mampir ke air terjun (dan ada seorang pria mandi). Siapa sang wanita? Tidak tahu. Tapi jelas dia adalah sesosok wanita yang dihormati karena tokoh ini muncul beberapa kali (wanita yang dipayungi):

Candi JAWI (104)

Air terjun, adalah point yang menarik karena kebetulan disekitar Candi Jawi ada beberapa air terjun. Sebutlah Kakek Bodo, Putuk Truna, Dlundung.

Yang jauh lebih istimewa lagi, adalah penggalan relief ini:

Candi JAWI (65)

Itu dipercaya sebagai relief Candi Jawi! Kala dugaan itu benar, maka Candi Jawi adalah satu-satunya candi yang memuat gambar dirinya sendiri. Dan kalau memang benar, nampak bahwa dahulu ada beberapa pendapa/ bangunan lain disekitar Candi Jawi yang digambarkan dikelilingi banyak tumbuhan/ tanaman/ pohon.

Untuk ulasan secara jauh lebih detail dan apik, silakan baca artikel berikut:

ABSTRAK: Candi Jawi ditemukan dan mulai didokumentasikan pada tahun 1914, dalam keadaan runtuh, hanya bagian batur (dasar kaki) saja yang tampak berdiri. Dalam naskah Negarakertagama, Pu Prapanca menyebutkan bahwa candi Jawi didirikan oleh raja Kertanegara dari kerajaan Singasari. Secara jelas dia menyebutkan bagian-bagian bangunan candi serta sifat keagamaan yang melandasinya. Seperti pada sebagian candi-candi yang lain, candi Jawi memuat sejumlah relief yang dipahatkan pada dinding dasar kaki candinya, di mana relief tersebut harus dibaca secara pradaksina, yaitu searah jarum jam. Namun sayangnya hingga kini cerita relief tersebut belum diketahui dengan pasti makna dan intinya, serta diambilkan dari naskah apa.

Dengan mengamati beberapa kesusastraan Jawa kuno masa Majapahit yang dianggap sejaman atau dekat dengan masa pembuatan relief, berhasil ditemukan alur cerita dalam salah satu naskah yang hampir seluruhnya sesuai dengan alur cerita yang dipahatkan pada relief candi Jawi. Cerita tersebut terdapat pada naskah Sutasoma dan tercantum dalam syair ke LVIII sampai dengan LXXI, yaitu episode tentang Dewi Candrawati, sang putri kembang dalam puri kerajaan Kasi, hingga sampai pada pertemuan dewi Candrawati dengan pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya.

Kata Kunci: Relief, Candi Jawi, Sutasoma

ABSTRACT: Jawi temple discovered and began to be documented in 1914. Ruined, only the soubassement was standing. In the script of Negarakertagama, Pu Prapanca mentioned that Jawi temple founded by the king of the Kingdom Singasari, Kertanegara. Clearly he mentioned parts of the temples building and the religion behind as the believe. Like some of other temples, Jawi contains a number of reliefs carved on the walls of the soubassement, that should be read in pradaksina, or clockwise. But unfortunately until now the reliefs story is not yet known with the surely meaning and essence, and what kind of manuscript it was taken from.

By observing some of the ancient Javanese literature in Majapahit period, that might be considered or maybe closed by the time the relief had created, found the storyline of one manuscript that is almost suitable with the storyline that carved on the relief. The story contained in the manuscript Sutasoma and listed in the poem LVIII until LXXI, which is about the Goddess Candrawati episode, flowers princess in the Kasi royal castle, until the meeting of goddess Candrawati and prince Sutasoma in the Ratnalaya park.

Key words: Reliefs, Jawi Temple, Sutasoma


PENDAHULUAN

Candi Jawi berada di desa Candiwates kecamatan Prigen kabupaten Pasuruan provinsi Jawa Timur, terletak pada ketinggian 285 m DPL, sekitar 700 m arah barat dari Pandaan (Ditlinbinjarah, 1982:5). Pu Prapanca dalam Negarakertagama syair 55 bait 3 menyebut ‘Jajawa’ (Pigeaud, 1960:41). Sementara juga disebut ‘Jawajawa’ pada syair 73 bait 3 (Pigeaud, 1960:57). Dihubungkan dengan raja Kertanegara, karena Negarakertagama syair 56 bait 1 menyebutkan bahwa bangunan tersebut dibangun sendiri oleh sang raja, yang kabarnya ketika sang raja meninggal didharmakan pula di tempat tersebut(Pigeaud, 1960:41).

Seperti yang dapat dilihat di lapangan bahwa candi Jawi menghadap ke timur, memiliki struktur bangunan dengan sifat keagamaan ganda. Bagian bawah mengikuti struktur mandala agama Hindu (adanya relung dan arca untuk pantheon Siwa), sementara bagian atap (puncaknya) mengikuti struktur agama Budha, yang ditandai oleh adanya dagoba. Dengan demikian bangunan ini dikatakan sebagai bangunan ‘Siwa Budha’. Hasil penggalian untuk merestorasi candi Jawi pada tahun 1938-1941, ditemukan arca-arca seperti Ardhanari, Siwa, Durga, Siwa Mahaguru, Ganesya, Mahakala, dan Nandiswara. Hasil penyelidikan dapat diketahui berdasarkan temuan angka tahun pada sebuah balok batu bahwa bangunan candi yang bersifat Siwa di bawah dan bersifat Budha di atas ini pernah dibenahi kembali pada tahun 1332 (Bidang Muskala, 1982:11).

Keistimewaan berikutnya adalah dibangun di atas halaman yang dikelilingi oleh parit, dengan jembatan di sisi timur. Dengan gambaran seperti itu dapat dikatakan bahwa bangunan candi ini diduga sebagai tiruan dari gunung Meru sebagai gunung kosmos atau gunung Mandara berkenaan dengan peristiwa ‘Samodramanthana’ atau ‘Amertamanthana’ (Soekmono, 1985:43-47). Ditilik dari bahan batu yang digunakan juga cukup menarik perhatian, bagian batur dan kaki menggunakan bahan batu andesit, sementara bagian tubuh hingga puncak menggunakan bahan batu kapur (Dirlinbinjarahkala, 1982:5).

Dari keistimewaan-keistimewaan tersebut, ada keistimewaan yang sangat menarik perhatian dan perlu untuk dikaji, yaitu belum adanya kepastian secara meyakinkan tentang cerita yang terkandung dalam relief yang terpahat pada dinding batur kaki candinya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa penelitian terhadap candi Jawi masih terbuka lebar bagi para peneliti di bidangnya.


PERMASALAHAN

a. Relief Candi Jawi
Relief candi Jawi dipahatkan pada bagian batur kaki candi. Relief ini secara nyata dibaca dengan cara pradaksina (searah jarum jam) (Soekmono, 1974:42). Dipahat dalam lima panel yang diawali dari dinding sudut tenggara, berlanjut ke selatan, barat, utara, dan berakhir pada dinding timur laut. Panel pada dinding selatan, barat, dan utara dipahat memanjang tanpa tanda pembatas. A.J. Bernet Kempers dalam Ancient Indonesian Art menyatakan, ‘The base of the chandi is decorated with relief extending from corner to corner. Their style is naturalistic when compared with various other monuments of about the same period. This may bear relation to the matter treated by the sculptor or to chronological differences. The text or texts illustrated, however, have not yet been identified (1959:82). Kaki candi dihiasi dengan relief yang memanjang dari sudut ke sudut. Gayanya naturalistik bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan lainnya yang bermacam-macam terdapat di sana dan yang berasal dari sekitar jaman yang bersamaan. Hal ini mungkin disebabkan karena pemahat pembuatnya berlainan atau berbeda jaman. Naskah-naskah yang dipahatkan di sini, belum dapat diketemukan persamaannya.

Sementara Satyawati Suleiman dalam suatu kesempatan mengungkap tentang relief candi Jawi sebagai berikut ‘….mengenai relief yang menggambarkan suatu cerita yang belum dapat dikenali kembali, tetapi mungkin sekali relief itu semacam cerita Panji, karena para pria memakai tutup kepala panji. Suatu hal yang menarik adalah bahwa pada salah satu adegan digambarkan suatu candi dalam halamannya dan ketika dibandingkan dengan candi Jawi ternyata bahwa gambar itu melukiskan candi Jawi sendiri’ (tanpa tahun:274). Dalam karya terbitan yang lain ia menyatakan: ‘…. Dinding candi Jawi berhiaskan sebuah cerita yang belum dapat dikenali kembali. Ternyata bahwa lakonnya berjalan dalam sebuah pertapaan, karena ada tokoh pertapa. Banyak cerita pahat di Jawa Timur mengenai peristiwa-peristiwa dalam sebuah pertapaan (Suleiman, 1980:56-57).

Dalam sebuah wacana yang berbentuk buku laporan pemugaran yang diterbitkan oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Dep. P dan K Propinsi Jawa Timur yang mendapat pengawasan dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, masing-masing menyatakan bahwa ‘Pada bidang tubuh bagian bawah candi terdapat beberapa relief yang belum jelas apa yang digambarkan dan dipetik dari cerita mana’ (Dirlinbinjarahkala, 1982:7). Relief candi Jawi dipahatkan pada batur candi. Kebanyakan menggambarkan tokoh-tokoh wanita dan sebagian tokoh punakawan. Penggambaran semacam ini merupakan ciri khas bentuk pahatan yang terdapat di candi-candi Jawa Timur. Hanya sayang pahatan relief pada candi Jawi sementara ini ceritanya belum diketahui secara pasti. Namun demikian ada sebagian relief yang cukup penting, yang diperkirakan merupakan bentuk sesungguhnya candi Jawi secara lengkap. Hal semacam ini tidak jarang terjadi pada bangunan kepurbakalaan, yaitu bentuk sesungguhnya terdapat pada relief yang berada pada bangunan itu sendiri. Relief yang terdapat di candi Jawi dimaksud, yaitu yang terdapat di sisi utara, yang melukiskan sebuah komplek bangunan yang terdiri dari sebuah bangunan induk, yang beratap tinggi dan di depannya ada tiga bangunan kecil yang berdiri di atas batur. Relief ini nantinya akan dipergunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan pemugaran (Bidangmuskala, 1982:12).

Buku terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur tahun 2001, juga membicarakan tentang candi Jawi dan menyatakan bahwa ‘Batur dihias relief memanjang dari sudut ke sudut dengan gaya yang naturalistik, namun ceritanya tidak diketahui identitasnya’ (Abbas, 2001:23). Melihat redaksinya agaknya pernyataan tersebut dikutip dari keterangan Bernet Kempers. Paling aktual adalah ulasan dari Agus Aris Munandar yang menyatakan bahwa relief cerita pada candi Jawi sampai sekarang masih belum dapat dikenali dengan baik. Adanya tokoh pria yang dilukiskan berulang-ulang, memberikan asumsi bahwa sementara tafsiran yang diperoleh menggambarkan seorang pria bangsawan yang berupaya mencari pengetahuan keagamaan atau kepuasan religius. Setelah berpamitan pada istrinya, ia lalu mengembara sampai di kompleks percandian yang mirip dengan keadaan candi Jawi. Setelah cukup puas tinggal di sana, kemudian ia kembali pulang menemui istrinya (Munandar, 2011:208-215).

Dari beberapa keterangan di atas nyatalah bahwa kepastian tentang cerita serta jalan cerita relief candi Jawi sampai saat ini masih kabur. Hal yang demikian wajar dan dapat dipahami, dikarenakan sulitnya mengidentifikasi lakon cerita tersebut di lapangan, yang terbentur oleh kondisi:

  1. Lakon penokohan yang dilukiskan memang asing dan tidak pernah muncul dalam bentuk lakon cerita di relief percandian manapun.
  2. Belum ditemukannya ‘kunci’ adegan sebagai relief pandu yang sesuai dengan naskah-naskah Jawa kuna yang sudah umum dikenal.
  3. Reliefnya sendiri sudah banyak yang rusak karena aus, sebab hampir seluruh wajah tokoh tidak dapat dikenali kembali dengan sempurna, dengan demikian menghalangi proses pengidentifikasian.

b. Cerita Sutasoma
Cerita Sutasoma yang sampai kepada kita merupakan naskah gubahan Pu Tantular pada masa kerajaan Majapahit. Nama Sutasoma yang diambil oleh Pu Tantular tentunya bersumber pada cerita jataka Budhis yang menceritakan tentang Sutasoma. Di antaranya terdapat dalam Suttapitaka no.537, cerita tentang Maha-Sutasoma-Jataka serta no. 525, cerita tentang Culla-Sutasoma-Jataka (Wijaya, 2008:641).

Cerita Sutasoma yang bersumber pada Jataka didapati pula pada panel relief Jatakamala Borobudur pada langkan pertama sisi selatan depan pintu selatan. Di sana terdapat empat panil yang dibaca dari kiri ke kanan. Cerita Sutasoma karya Pu Tantular, awal manggalanya menyebut Sri Bajrajñana (sang Budha) sebagai perwujudan sempurna dari sunyata dan merupakan kekuasaan tertinggi. Di samping itu di sana sini tampak adanya penyatuan (syncretism) kepercayaan Budha dan Siwa (Santoso, 1974:40-45). Dalam perjalanan hidupnya ketika sang pangeran dewasa, maka ia merupakan titisan dari Jina-Wairocana. Bahkan ketika ia akan menikah dengan saudari sepupunya dari pihak ibu, yaitu sang putri dari kerajaan Kasi, bernama Dewi Candrawati adik dari raja Dasabahu, dikatakan bahwa sebenarnya sang putri adalah titisan Locana.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, tujuan yang dikehendaki dalam telaah ini adalah berusaha untuk mentafsir dan mengungkap makna relief cerita yang terdapat pada batur candi Jawi atas dasar kesamaan alur cerita yang terdapat dalam naskah Sutasoma. Dalam hal ini hasil kajian nantinya dapat melengkapi data-data tentang keberadaan candi Jawi saat ini sebagai tempat wisata budaya maupun wisata pendidikan.


METODE

Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan historical archaeology, yaitu mengkaji sumber data arkeologi yang berkaitan dengan data sejarah. Data yang digunakan adalah data arkeologi berupa relief candi dan naskah Jawa kuna. Sedangkan metode pengumpulan data terdiri dari metode eksplorasi (survei) dan kajian kepustakaan.

Metode eksplorasi lebih menitik beratkan pada observasi obyek yang diteliti yaitu relief candi Jawi secara cermat dan mendalam. Selama observasi di lapangan dilakukan perekaman secara verbal berupa pendeskripsian relief cerita, dan secara piktoral berupa penampilan gambar relief. Sementara kajian pustaka dilakukan dengan mengamati beberapa naskah Jawa kuna yang dipilih atas dasar sumber sejaman dengan relief candi. Proses pelaksanaannya meliputi tahap pengumpulan data kepustakaan yang relevan dengan pola mencari, menentukan, dan mencatat. Selanjutnya dilakukan pengolahan data yang meliputi penjernihan dan pengelompokan data. Dan yang terakhir adalah penulisan karya tulis yang disusun setelah dilakukan sinkronisasi dengan data lapangan. Hasilnya merupakan suatu interpretasi yang dituangkan guna menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian.


PEMBAHASAN

a. Telaah Pembacaan Relief Candi
Pembacaan dan penelitian yang dilakukan berulang-ulang terhadap semua naskah Jawa kuna untuk mencocokkan jalannya lakon cerita pada relief kiranya membuahkan hasil. Memang benar apa yang disangkakan Stutteirheim bahwa lukisan bangunan candi pada relief sisi utara merupakan gambaran bangunan candi Jawi. Dengan demikian kunci pertama sebagai relief pandu tersebut adalah lukisan bangunan candi yang mirip dengan bangunan candi Jawi. Hal ini dapat diketahui melalui naskah Sutasoma bahwa dewi Candrawati akan bertemu dengan pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya, di mana di sekitar taman tersebut terdapat sebuah pulau di tengah telaga yang di dalamnya terdapat bangunan kristal (Sphatika grha), yang penggambarannya dalam cerita Sutasoma sesuai dengan keberadaan candi Jawi.

Bangunan kristal itu dahulu menurut ceritanya dibangun sendiri oleh sang Jina sebagai tempat tinggalnya bersama dengan istrinya, Locana. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa gambar relief sisi utara dinding batur candi Jawi yang melukiskan sebuah bangunan Kristal, uraiannya mirip dengan keberadaan bangunan candi Jawi. Dan juga tidaklah mencari-cari bahwa ketika bangunan candi Jawi didirikan, bahan batu yang dipakai adalah batu andesit untuk bagian bawah dan batu putih kekuningan untuk bagian tubuh candi hingga puncak. Hal itu semata-mata bukan karena kelemahan teknis pada masa pembangunan kembali ketika candi Jawi habis disambar petir dengan alasan tidak adanya batu andesit di sekitar tempat itu. Di daerah Prigen dan Pananggungan tidak kurang bahan batu andesitnya, sementara batu putih hanya didapat di daerah pegunungan utara, antara Bojonegoro hingga pesisir pantai utara Jawa. Jadi tentunya batu putih itu sengaja dipasang dimaksudkan untuk menyelaraskan makna bangunan candi Jawi sebagai replika ‘istana kristal’ seperti yang dimaksudkan dalam cerita Sutasoma. Disebutkan bahwa bangunan kristal tersebut pagarnya terbuat dari emas murni, sedangkan bangunannya terbuat dari batu-batu permata yang bersinar bagai sinar matahari, sehingga di tempat itu tidak ada gelap, ketika malam tiba di sekitar bangunan kristal tetap benderang bagaikan siang. Demikianlah tentunya makna yang diharapkan oleh pembangun candi Jawi, sehingga candi Jawi tampak cerah terang bagaikan istana Kristal.

Oleh karena itu tidak tepat seluruhnya apabila konsep pembangunan candi Jawi didasarkan pada konsep kosmologi dalam doktrin Hindu maupun Budha. Sementara pembangun candi, yaitu raja Kertanegara diketahui sebagai seorang penganut ajaran Siwa Budha Tantra yang saleh (Moens, 1974:18). Memang dalam konsep kosmologi atau gambaran alam semesta menurut doktrin agama Hindu dan Budha antara lain disebutkan bahwa jagad raya ini terdiri dari Jambudwipa. Di tengah-tengah benua Jambudwipa itulah letak Meru sebagai gunung kosmis (Geldern, 1982:5). Dengan demikian menurut hematnya bahwa gambaran relief candi yang mirip dengan struktur candi Jawi pada dinding sisi utara tersebut, dimaksudkan untuk melukiskan istana kristal yang berlandaskan doktrin Siwa Budha Tantra.

Kunci penguat berikutnya adalah pemberitaan Prapanca ketika mengunjungi candi Jawi. Ia memberikan isyarat bahwa lukisan yang dipahatkan pada relief candi adalah lukisan sang putri dalam istana yang riang gembira. Pemberitaan Prapanca dalam Negarakertagama tentang candi Jawi. Syair 57 bait 5 (Pigeaud, 1960:42), yaitu sebagai berikut:

aparimita ha?pni ti?kah nika swarggatuly?nurun
gupura ri yawa mekala mwa? baleny??a kapw?dik?
ri da?m inupac?ra seh sekar sek nagapusp?nde?
prasama wijah arumpukan ??ra sa? str? da?m n?gar?

terjemahan menurut Slametmulyana (1956:49) adalah seperti berikut:

Tiada ternilai indahnya sungguh seperti surga turun
Gapura luar, mekala beserta rumahnya serba permai
Di dalamnya bagai hiasan nagapuspa sedang berbunga
Sisinya berlukis puteri istana yang bersinarkan hidup

Sementara dalam terbitan lain, Slametmulyana (1979:302) menterjemahkan seperti berikut:

Tiada ternilai indahnya sungguh seperti sorga turun
Gapura luar, mekala serta bangunannya serba permai
Hiasan di dalamnya nagapuspa yang sedang berbunga
Di sisinya lukisan puteri istana berseri-seri

Ketut Riana (2009:283) dalam kesempatan menerbitkan Negarakertagama, menterjemahkan seperti berikut:

Tiada bertara indah penataannya ibarat sorga turun ke dunia
Gapura luar serta tembok juga bangunannya semua indah
Di dalamnya ditata bunga-bungaan pohon nagasari sedang berbunga
Para wanita dalam istana semua gembira merangkai bunga

Slametmulyana menterjemahkan baris 4 pada bait tersebut: ‘Sisinya berlukis puteri istana yang bersinarkan hidup’. Kemudian dalam terbitan berikutnya ‘Di sisinya lukisan puteri istana berseri-seri’. Sementara Ketut Riana menterjemahkan: ‘Para wanita dalam istana semua gembira merangkai bunga’. Menurut teks kalimatnya, ‘prasama wijah arumpukan ??ra sa? str? da?m n?gar?’, dapat pula diterjemahkan ‘Seiring gambaran sang putri istana yang riang gembira bersuntingkan bunga’. Kata ‘prasama’ dapat diartikan sebagai sama-sama, seiring, pada waktu yang bersamaan (Zoetmulder, 2004:993; Mardiwarsito, 1986:495-496; Wojowasito, 1977:207). Dengan mengambil makna keempat kalimat terjemahan tersebut, maka yang diberitakan oleh Prapanca selain mengenai bangunan candi Jawi yang serba indah, juga pemberitaan adanya lukisan (relief cerita) seorang putri dalam istana yang riang gembira.Siapakah yang dimaksud oleh Prapanca sebagai ‘putri dalam istana yang riang gembira’? Menurut hematnya, itu adalah sebuah cerita yang menggambarkan kebahagiaan seorang putri istana akan sesuatu hal. Dalam cerita Sutasoma dikisahkan bahwa Dewi Candrawati (titisan Locana) adalah putri raja Candrasingha dari kerajaan Kasi, merupakan sosok putri istana yang telah dijodohkan oleh kakaknya, yaitu raja Dasabahu, dengan pangeran dari keluarga Bharata, pangeran Sutasoma (titisan Budha Wairocana). Walaupun pada awalnya hati sang putri gundah dan sedih, namun berkat hasutan manis ‘Sang Suraga, janda penyair besar istana’ pendamping serta penasehat dewi Candrawati, akhirnya kegembiraan itu timbul.

Korelasinya dengan relief candi Jawi bahwa beberapa adegan reliefnya terdapat kemiripan alur cerita dengan episode dalam naskah Sutasoma gubahan Pu Tantular. Mengikuti ikhtisar yang dibuat oleh Zoetmulder (1983:423-424) tentang cerita Sutasoma pada naskah Sutasoma yang diparalelkan dengan naskah Sutasoma disertasi Suwito Santoso, serta naskah Sutasoma terjemahan Dwi Woro Retno dan Bramantyo bahwa pada syair mulai LVIII:2-LXV:1 menceritakan tentang Dewi Candrawati, sang kembang dalam puri yang merasa gelisah dan gundah karena akan dinikahkan oleh kakaknya, raja Dasabahu, dengan pangeran Hastina bernama Sutasoma. Ia kurang senang dengan sikap kakaknya yang menjodohkannya begitu saja. Sang putri berpendapat bahwa kakaknya telah melupakan tradisi, bahwa seorang putri kerajaan menikah melalui sayembara, guna menjaga harga dirinya. Namun semua itu dijawab dengan halus oleh sang janda penyair bijak yang selalu menyertainya. Dengan penuh kelembutan, kata-kata yang manis, serta diselingi tetembangan yang merdu, akhirnya hati Dewi Candrawati merasa luluh juga. Pada syair LXV:2-5 menceritakan adegan di istana Kasi, yaitu permaisuri raja (dewi Puspawati), Dewi Candrawati, para bangsawan keraton, yaitu mahapatih sebagai pimpinannya, tiga putra raja, serta para wanita istana, sedang melakukan persiapan pemberangkatan guna penjemputan pangeran Sutasoma dengan raja Dasabahu. Arak-arakan ini, menuju ke suatu tempat yang sudah ditentukan oleh raja Dasabahu, yaitu taman Ratnalaya. Diceritakan pula alam pedesaan yang dilaluinya. Pada syair LXVI:1-6 menceritakan kedatangan rombongan di taman Ratnalaya yang pintu gerbangnya dihias dengan batu permata yang menyala, segala tanaman indah di sekitar telaga yang jernih, serta menceritakan tingkah para wanita muda yang sedang mandi dengan senda gurau yang riang gembira di telaga. Syair LXVII:1-9 menceritakan tentang keberadaan sebuah pulau di tengah telaga luas yang di tengah-tengahnya terdapat bangunan kristal ‘sphatika grha’. Penggambaran ‘Sphatika grha’. Sebuah pagar yang terbuat dari emas bercahaya melingkupi bangunan candi yang tinggi di tengah. Bagian tengah diukir sangat indah. Terdapat 4 pintu gerbang yang diukir dengan kepala makara. Balai emas sebelah timur bagai istana hyang Iswara, yang sebelah selatan bagai kediaman bhatara Dhatra, selalu berpijar dan bercahaya. Sebelah barat bagaikan kediaman hyang Mahamara, sedangkan sebelah utara bagaikan kediaman bhatara Madhusudhana. Di tengah-tengah itulah terdapat bangunan kristal (Sphatika grha). Tempat ini bagaikan surga tempat kediaman bhatara Budha atau Siwa yang agung dalam hakikatnya yang tertinggi (niratmaka). Saat malam tiba tidak ada kegelapan, dikatakan di situ selalu ada cahaya terang yang keluar dari permata mulia dari bangunan kristal tersebut Syair LXVIII:1-6-LXIX:1-11 menceritakan tentang sang putri Dewi Candrawati yang keheranan melihat gaibnya istana kristal, sehingga ia minta penjelasan kepada sang janda penyair bijak yang selaku menyertainya. Sang janda penyair menceritakan tentang asal usul bangunan tersebut yang ia dengar dari cerita sang raja Dasabahu Syair LXX:1-5 menceritakan tentang perjalanan pangeran Sutasoma dan raja Dasabahu yang hampir sampai di taman Ratnalaya. Sedangkan syair LXXI:1-5 menceritakan pertemuan antara pangeran Sutasoma dengan Dewi Candrawati di taman Ratnalaya. (Santoso, 1975:305-339; Retno Mastuti dan Bramantyo, 2009:197-235).

Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan yang telah dikorelasikan dengan sebagian episode pada naskah Sutasoma, relief pada batur candi Jawi yang pembacaannya dimulai dari sudut tenggara dan berjalan searah jarum jam (pradaksina) dan berakhir di sudut timur laut yang terbagi dalam 5 (lima) panel tersebut, didapat bacaan sebagai berikut:

Panel-01

Panel 1 terletak di sudut tenggara, melukiskan dua orang wanita sedang menghadap seorang perempuan (sisi kanan pembaca) memperbincangkan sesuatu, sementara di sisi kiri (pembaca) tampak seseorang sedang berdiri melakukan sesuatu.

Dugaan relief tersebut menggambarkan Dewi Candrawati sedang mendengarkan petuah dari sang Suraga, janda penyair bijak istana. Tampak di sisi kiri sang putri melakukan pujamantra sesuai apa yang dianjurkan oleh sang janda penyair bijak.

Berikutnya adalah panel sisi selatan, di sini disebut sebagai panel ke 2 yang memanjang seolah tanpa batas, namun demikian menurut hematnya dapat dibagi menjadi beberapa adegan (5 adegan) guna mempermudah pembacaan. Oleh karena itu dibagi menjadi panel 2a sampai dengan panel 2e.

Dimulai dengan Panel 2a yang terletak di ujung timur. Gambaran seseorang yang sedang berjalan menuju sekelompok orang yang melakukan aktivitas persiapan perjalanan. Relief ini menggambarkan sang Suraga, janda penyair bijak yang bersiap ikut mengiring sang putri dalam persiapan menyambut kedatangan pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya.

Panel-02

Panel 2b Relief ini menggambarkan Sang janda penyair keluar dari dalam puri menuju ke tempat sang putri dan sang permaisuri yang sedang menunggu di balai pemberangkatan. Tampak serombongan gajah istana dipersiapkan oleh para ‘srati’ guna mengangkut rombongan sang permaisuri beserta para pengikut serta perbekalannya.

Panel 2c Sisi kanan menggambarkan sais kereta sedang menyiapkan kereta, sementara sisi kiri sang putri telah berada bersama sang permaisuri. Digambarkan pula sekelompok pelayan wanita, para janda, dan wanita pengiring untuk ikut dalam rombongan tersebut.

Panel 2d. 2 prajurit istana sedang membunyikan terompet, tanda arak-arakan segera berangkat. Sementara penggambaran di sisi kanan sang permaisuri sedang dipayungi bersama-sama dengan sang putri Dewi Candrawati. Tidak ketinggalan sang janda penyair bijak selalu menyertai. Terdapat 2 punakawan yang ikut menyertai mereka.

Panel-02e

Panel 2e Penggambaran arak-arakan rombongan permaisuri serta para wanita istana sedang bergerak melakukan perjalanan.

Sampai pada didinding sisi barat, di sini disebut sebagai panel 3. Panel ini pun membagi ceritanya dalam 3 adegan, yaitu adegan alam pedesaan, adegan iring-iringan sampai di pesanggrahan, serta adegan penggambaran para wanita muda dan janda yang sedang bersenang-senang di telaga pesanggrahan.

Panel 3a Gambaran ketika iring-iringan melewati alam pedesaan yang subur dan indah permai. Digambarkan pada sisi kiri sekelompok petani dengan pikulannya, sementara gambar kanan tampak seorang penyair di pertapaannya.

Panel-03

Panel 3b Setiba di taman ‘Ratnalaya’, para rombongan yang dipimpin oleh seorang laki-laki (patih?) langsung menghadap kepada seseorang (diduga menghadap kepala pendeta pengawas pesanggrahan).

Panel 3c Penggambaran sisi kiri para wanita dan janda wanita yang masih muda sedang bersuka ria dengan suara ribut mandi telanjang di telaga di balik semak-semak dengan tingkah laku yang bermacam-macam (Panel ini panjang berakhir sampai sudut barat laut).

Berikutnya adalah panel ke 4 yang berada pada dinding sisi utara. Panel inipun memanjang dari sudut barat laut hingga timur laut, dan menurut hematnya terbagi dalam 7 adegan.

Panel 4a Diawali dengan penggambaran seseorang yang berjalan menuju sebuah bangunan suci. Dikisahkan menurut kabaran para penyair bahwa terdapat suatu bangunan bernama ‘Sphatika grha’ atau bangunan kristal.

Panel-04

Panel 4b Gambaran dari bangunan ‘Sphatika grha’. Sebuah pagar yang melingkupi bangunan candi yang tinggi di tengah.

Panel 4c Gambaran bangunan kristal ‘Sphatika grha’. Terdapat dua sosok duduk bersila. Diduga gambaran tersebut adalah gambaran dari Hyang Budha (sang Jinaraja:sisi kiri) dan Hyang Jineswari:sisi kanan (perwujudan Ardhanari), atau pengambaran dari Hyang Budha dan Hyang Siwa sebagai penguasa tertinggi bangunan kristal. Diapit oleh dua yogi?

Panel 4d Gambaran dari seseorang yang berdiri di dekat taman. Sang janda penyair bijak menceritakan bahwa di sebelah timur laut bangunan kristal konon terdapat sumber mata air yang memancar dari kuntum bunga teratai terbuat dari batu yang dipahat. Airnya mengalir ke kolam yang ada di sekitarnya.

Panel 4e Gambar dari seorang perempuan yang duduk bersila di sebuah ceruk yang pebuh dengan tanaman bunga. Dewi Candrawati sedang duduk di tempat doa di tepi jurang yang dipenuhi bunga gadung yang bermekaran (gambar tengah).

Panel 4f Gambar seorang perempuan sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Sang putri Dewi Candrawati bercakap-cakap dengan sang janda penyair bijak.

Panel 4g Gambar kanan tampak Sang putri Dewi Candrawati bercakap-cakap dengan sang janda penyair bijak yang selalu menemaninya. Gambar kiri tampak sang permaisuri datang.

Panel terakhir (ke 5) berada di sudut timur laut. Seperti pada panel permulaan di sudut tenggara, panel ini juga memuat dua adegan. Namun demikian pembacaan reliefnya dapat dijadikan satu.

Panel-05

Panel 5 Gambar sisi kiri tampak 3 orang wanita dan seorang laki-laki berdiri di taman. Sang permaisuri bersama sang putri Dewi Candrawati diiringi oleh janda penyair sang Suraga menemui raja Dasabahu. Gambar kanan, tampak seorang wanita berjalan dengan memalingkan muka, diikuti seorang abdi kerdil menuju ke tempat seorang laki-laki yang sedang menunggu di balai. Sang putri Dewi Candrawati mendekati pangeran Sutasoma sambil memalingkan muka karena malu. Sementara pangeran Sutasoma duduk di atas balai.

Tokoh yang berperan dan berulangkali muncul di sini adalah tokoh ‘Suraga si janda penyair besar istana’. Dalam naskah Sutasoma peran Suraga memang besar sekali sebagai pendamping dan penasehat dewi Candrawati. Ia berhasil meyakinkan sang putri sebagai calon permaisuri Sutasoma. Wajarlah apabila dalam relief ia tampil berkali-kali. Diceritakan ia serba tahu dalam segala persoalan. Diceritakan pula bahwa ia figur pengendali (protokoler) dewi Candrawati. Memang kesangsian dalam relief tampak pada penggambaran tokoh yang seolah-olah seperti seorang laki-laki yang berkepala hampir gundul, tetapi apabila dicermati benar, pahatan itu adalah merupakan hiasan rambut model gelung bulat yang tren pada masa Majapahit, serta mengenakan selendang yang dikalungkan di dada. Seperti halnya pada relief-relief masa Majapahit, model busana wanita digambarkan mengikuti mode tren pada saat itu (Hari Lelono, 1999:114-115). Dapat dicermati pada gambar relief arak-arakan, penggambaran wanita di sana bermacam-macam. Ada yang memakai kain hingga pundak dan bertekes (tutup kepala), ada yang hanya sampai dada, bahkan ada yang payudaranya terlihat. Untuk tokoh Suraga ini digambarkan memakai selendang., walau tipis dan hampir tidak terlihat karena aus dan rusaknya relief.

Untuk memperjelas adanya persamaan konsep candi Jawi beserta reliefnya dengan konsep istana kristal dalam naskah Sutasoma. Di bawah ini diberikan beberapa persamaan, antara lain:

No

CANDI JAWI

NASKAH SUTASOMA

1 Candi Jawi menurut Prapanca dibangun sendiri oleh raja Kertanegara Istana Kristal (Sphatika grha) menurut cerita dibangun sendiri oleh pangeran Sutasoma
2 Kertanegara ditahbiskan sebagai Jina dan disebut Sri Jnana Bajresvara (Negarakertagama) /Sri Jnana Sivabajra (prasasti Wurara) /Sri Jnanaisvarabajra (prasasti Gajahmada) Sutasoma merupakan titisan dari sang Jina dan memiliki guru rohani bernama Sri Jnanaisvarabajra
3 Candi Jawi bersifat Siwa-Budha (bagian bawah didapati Lingga, Siwa, Durga, Siwa Guru, Ganesya, Mahakala, Nandiswara, sedang bagian atas Stupa lambang Budha) Istana Kristal bersifat Siwa-Budha (bagian bawah di penjuru mata angin merupakan istana Hyang Iswara, Dhatra, Mahamara, dan Madhusudana, sedang bagian rista merupakan istana Hyang Budha)
4 Candi Jawi dibangun di atas halaman yang dikelilingi parit Istana Kristal dibangun di atas sebuah pulau yang dikelilingi oleh telaga
5 Candi Jawi bagian tengah-atas dibuat dari bahan batu putih kekuningan (cerah terang) Istana Kristal dibuat dari bahan permata-permata yang bersinar terang benderang 
6 Kertanegara dan permaisurinya (Sri Bajradewi?) dilukiskan sebagai wujud Wairocana dan Locana dalam satu arca yaitu Ardhanari Sutasoma dan Dewi Candrawati dilukiskan sebagai wujud Wairocana dan Locana yang tak terpisah dalam wujud Ardhanariswari
7 Perwujudan Kertanegara dengan permaisuri dilukiskan dalam wujud Ardhanari (Wairocana-Locana dalam satu arca) fragmen arcanya ditemukan di candi Jawi Sutasoma dan Dewi Candrawati disatukan melalui upacara perkawinan di istana ristal sebagai perwujudan dari hyang Wairocana dan Locana
8 Pertemuan Sutasoma dan dewi Candrawati berada pada panil akhir yang terletak di sisi Timur Laut dinding batur candi Jawi Pesanggrahan Sutasoma dalam menanti dewi Candrawati berada di Timur Laut istana Kristal.

Sedangkan perbedaan jalan ceritanya yang dapat diamati antara versi relief candi Jawi dengan versi cerita naskah Sutasoma episode LVIII:2-9 s.d LXXI:1-5 sedikitnya ditemukan tiga perbedaan, yaitu sebagai berikut:

No

Relief Candi Jawi

Naskah Sutasoma

1 Arak-arakan keberangkatan untuk menjemput pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya dilakukan berjalan kaki (padahal dalam relief, gajah dan kereta bersama-sama berangkat) Arak-arakan keberangkatan untuk menjemput pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya dilakukan dengan menaiki gajah dan kereta
2 Alam pedesaan digambarkan rinci mulai keindahan alam, penduduk yang sedang memikul, serta seorang penyair di pertapaan Alam pedesaan digambarkan singkat dengan menyebutkan banyak desa yang dilalui yang memiliki ladang padi yang menghadap ke jurang.
3 Ketika tiba di taman Ratnalaya, para rombongan diterima oleh seorang pendeta pengawas taman? Sedangkan  para wanita muda bersuka ria di taman dan mandi di telaga Ketika tiba di taman Ratnalaya, para rombongan langsung memasuki pesanggrahan, sedangkan para wanita muda bersuka ria di taman dan mandi di telaga

b. Masa Pembuatan Relief
Menilik cerita antara relief candi Jawi dengan naskah Sutasoma, maka akan dijumpai beberapa hal yang tidak persis seluruhnya. Ketidak samaan bukan pada adegan dan alur ceritanya, tetapi terutama pada penggambaran dan penokohannya. Hal ini menandakan bahwa antara relief cerita candi Jawi dengan naskah Sutasoma yang digubah oleh Pu Tantular terdapat perbedaan masa pembuatan. Relief cerita pada candi Jawi tentunya tahun 1359 sudah ada. Terbukti ketika Prapanca berkunjung ke tempat tersebut pada tahun itu, ia melihat dan mencatatnya.

Sementara naskah Sutasoma ditulis oleh Pu Tantular pada masa pemerintahan Sri Rajasanagara (Hayamwuruk), setidaknya antara setelah penulisan Negarakertagama tahun 1365 hingga masa wafatnya Sri Rajasanagara tahun 1389 (Zoetmulder, 1983:294; Retno Mastuti dan Bramantyo, 2009:xiv). Namun ceritanya rupa-rupanya bersumber pada cerita yang sama, yang oleh Pu Tantular dicatat dalam syair yang terakhir yaitu CXLVII:1 ‘bahwa cerita ini termashur di dunia dengan nama Purusadasanta’. Dengan pernyataan Pu Tantular tersebut nyata bahwa cerita Sutasoma pada masa Majapahit awal atau mungkin pula pada masa Singasari sudah dikenal orang.


KESIMPULAN

Dengan beberapa persamaan antara konsep bangunan candi Jawi dengan gambaran istana Kristal (Sphatika greha) dalam cerita Sutasoma, maka dapatlah diduga bahwa bentuk bangunan candi Jawi yang didirikan di atas halaman dengan dikelilingi parit, secara umum menurut kepercayaan Hindu dan Budha, memang merupakan gambaran atau replika dari gunung Meru. Mungkin pula disamakan dengan replika gunung Mandara dengan Ksirarnawanya. Namun secara khusus menurut kepercayaan Siwa Budha Tantra, keberadaan bangunan candi Jawi lebih dimaksudkan sebagai gambaran sebuah bangunan/istana Kristal (Sphatika greha) yang berada di tengah telaga sebagai tempat tinggal dari sang Jina tertinggi (dalam hal ini diwujudkan sebagai Wairocana) beserta permaisurinya Locana. Dengan demikian masuk akal apabila raja Kertanegara sendiri yang membangunnya, sebagai raja yang fanatis dalam ajaran Siwa Budha tantra, yang di kemudian hari, menurut kabaran Prapanca, sang raja juga didharmakan di tempat itu juga. Mengingat itu semua, di sini diajukan sebuah pendapat bahwa candi Jawi awal dibangunnya bukan dimaksudkan sebagai candi pendharmaan dalam arti pemakaman raja, tetapi sebagai dharma untuk menggambarkan istana Kristal (Sphatika greha) sebagai tempat tinggal Wairocana dan Locana. Baru setelah raja Kertanegara wafat, candi Jawi dipakai sebagai tempat pendharmaannya.

Adapun tentang reliefnya, yang mengambil dari bagian cerita Sutasoma, yaitu episode tentang kabar datangnya pangeran Sutasoma yang dijemput oleh raja Dasabahu, sehingga penghuni istana Kasi segera bersiap untuk menjemputnya, dimulai syair ke LVIII, sampai kepada syair ke LXXI, yaitu pertemuan antara pangeran Sutasoma sebagai penjelmaan Jina tertinggi (Wairocana) dengan Dewi Candrawati sebagai penjelmaan Locana di istana kristal. Relief ceritanya diduga dibuat kemudian setelah Kertanegara wafat atau pada masa Majapahit. Tujuannya sebagai penggambaran ‘sakti’ dari raja Kertanegara, yaitu Sri Bajradewi. Yang dikabarkan sebagai teman dalam tapa dan kerja dalam membesarkan kerajaan. Yang digambarkan dalam wujudnya Ardhanareswari. Dapat dikatakan bahwa relief semacam ini tergolong relief cerita tutur, bukan cerita kelepasan (moksa/ruwat).(Suwardono/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang)


KEPUSTAKAAN

Abbas, dkk. 2001. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Jawa Timur. Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Bernet Kempers, A.J. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J. Van Der Peet.

Bidang Muskala. 1982. Candi Jawi. Surabaya: Dep. P dan K Prop. Jawa Timur

Dirlinbinjarahkala. 1982. Candi Jawi Sejarah dan Pemugarannya. Jakarta: PT. Palem Jaya.

Hari Lelono, T.M. 1999. Busana Bangsawan dan Pendeta Wanita pada Masa Majapahit: Kajian Berdasarkan Relief-relief Candi. Berkala Arkeologi Tahun XIX No.1/Mei. Hal.107-116. Yogyakarta: Balai Arkeologi.

Mardiwarsito, L. 1986. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Moens, J.L. 1974. Buddhisme di Jawa dan Sumatra dalam Masa Kejayaannya Terakhir. Jakarta: Bhratara.

Munandar, Agus Aris. 2011. Catuspatha. Arkeologi Majapahit. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Pigeaud. Th.G.Th.1960. Java in the Fourteenth Century:A Study in Cultural History The Negarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit 1365 AD. Vol 1. The Haque: Martinus Nijhoff.

Retno Mastuti, Dwi Woro, dan Bramantyo, Hastho. 2009. Kakawin Sutasoma Mpu Tantular. Jakarta: Komunitas Bambu.

Riana, I Ketut. 2009. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Santoso, Suwito. 1975. Sutasoma. A Study in Javanese Wajrayana. New Delhi: International Academy of Indian Culture.

Slametmuljana. 1953. Negarakertagama. Jakarta: Siliwangi.

——————. 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Soekmono, R. 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Dissertasi UI. Semarang: IKIP Semarang.

——————- 1985. Amertamanthana. Dalam Amerta No. 1 Hal. 43-47. Jakarta: Puslit Arkenas.

Suleiman, Setyawati. Tanpa tahun. Sedjarah Indonesia Djilid I C. Bandung: KPPK. Balai Pendidikan Guru

————————-. 1980. Pengembangan Seni Arca Kuno di Indonesia. Dalam Analisis Kebudayaan Tahun 1 No. 1 Hal. 50-59. Jakarta: Balai Pustaka.

Wijaya, Johan. 2008. Suttapitaka, Khuddaka Nikaya. Medan: Indonesia Tipitaka Center.

Wojowasito, S. 1977. Kamus Kawi-Indonesia. Malang: CV. Pengarang.

Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

Zoetmulder, P. J. dan Robson, BD. 2004. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia (taken from here).

Dan.. ada 1 ruang penyimpanan arca yang biasanya dikunci. Bapak Jupel yang baik hati, bersedia membukakan pintu ruang itu untukku:

Candi JAWI (130) Candi JAWI (121) Candi JAWI (124) Candi JAWI (125) Candi JAWI (133) Candi JAWI (148) Candi JAWI (149) Candi JAWI (150) Candi JAWI (151) Candi JAWI (153) Candi JAWI (157) Candi JAWI (158) Candi JAWI (147) Candi JAWI (144) Candi JAWI (143) Candi JAWI (142) Candi JAWI (141) Candi JAWI (140) Candi JAWI (138) Candi JAWI (137) Candi JAWI (136) Candi JAWI (135) Candi JAWI (134) Candi JAWI (132) Candi JAWI (131) Candi JAWI (129) Candi JAWI (128) Candi JAWI (127) Candi JAWI (126) Candi JAWI (122) Candi JAWI (154) Candi JAWI (155) Candi JAWI (156)

Tidak itu saja, ada penggalan kepala naga yang kini tergeletak di taman bagian belakang:

Candi JAWI (38) Candi JAWI (43) Candi JAWI (37)

Disekitarnya lagi, ada beberapa runtuhan candi/ pecahan arca dari bahan andesit:

Candi JAWI (40) Candi JAWI (41) Candi JAWI (42)

Dan hanya beberapa langkah saja dari tempat ‘penumpukan’ runtuhan candi/ pecahan arca dari bahan andesit, ada tumpukan batu bata tua yang entah apa fungsinya:

Candi JAWI (36) Candi JAWI (17) Candi JAWI (20) Candi JAWI (21) Candi JAWI (23) Candi JAWI (30) Candi JAWI (31) Candi JAWI (32) Candi JAWI (33)

Tampaknya sih, semacam reruntuhan gapura dengan daun pintu kayu (yang sekarang sudah rusak/ hilang daun pintunya). Hal ini nampak dari adanya batu andesit dengan bentuk seperti ini:

Candi JAWI (29) Candi JAWI (19) Candi JAWI (18) Candi JAWI (28)

Dari posisi reruntuhan batu bata ini, Candi Jawi dapat dilihat dengan mudah:

Candi JAWI (27) Candi JAWI (25) Candi JAWI (26)

Kebetulan hari ini lagi niat buka photoshop, jadi aku ‘hilangkan’ aneka rumah dan kabel listrik yang sliweran untuk bantu aku berimajinasi bagaimana suasana di candi ini sebelum dikepung bangunan rumah penduduk:

Candi JAWI (26)edit Candi JAWI (25)edit

Pada ngeh ga, aku sama sekali tidak bahas keadaan di bilik candi?

Yeah, walau kemudian aku berkali-kali datang (kembali), tidak sekali pun aku sanggup masuk ke biliknya *tepuk tangan*! Sungguh, engga lagi lebai. Badan serasa diberi penghalang, oksigen pun terasa tipis dan sekian alasan lain yang bikin jadi ingin laaari menjauh dari candi! Bahkan ada seorang kawan cerita, dirinya pingsan tanpa sebab saat menjejakkan kaki di tangga menuju bilik candi.

Karenanya, aku terheran-heran di kunjungan kedua, saat Bapak JuPel marah besar karena menjumpai ada sejoli belia sedang berciuman didalam bilik candi. Mereka pun kemudian diusir! Wow? Aku, gagal mendekat ke bilik candi yang menurutku auranya begitu luar biasa kuat, sedangkan 2 orang itu malah berciuman? Astaga.

Jadi, ini adalah gambar yang aku ambil tanpa ijin dari Badai Laut Selatan *woi Bro, pinjem fotomu ya!*:

yoni-candi-jawi

Foto dibawah ini, diambil dari sini:

CandiJawi-yoni

Ya, masih ada yoni di dalam bilik Candi Jawi. Walau pendek dan tidak terlalu besar, lihat saja naga yang menghiasi yoni. Naganya sangar banget! Ekspresinya pun tampak garang. Dengan adanya mahkota diatas kepala naga, maka aku duga naga pada yoni ini adalah sang Naga Wasuni/ Naga Basuki:

Dikisahkan dalam cerita Adiparwa bahwa Dewi Kadru yang tidak memiliki anak meminta Resi Kasyapa agar menganugerahinya dengan seribu orang anak. Lalu Bagawan Kasyapa memberikan seribu butir telur agar dirawat Dewi Kadru. Kelak dari telur-telur tersebut lahirlah putera-putera Dewi Kadru. Setelah lima ratus tahun berlalu, telur-telur tersebut menetas. Dari dalamnya keluarlah para naga. Naga yang terkenal adalah Basuki, Ananta, dan Taksaka (taken from here).

Artikel lain:

Naga Basuki “Sang Hyang Naga Basukih” disebutkan adalah Bhatara yang baik hati sebagai simbol penjaga kekuatan air yang menjadi sumber kehidupan semua mahkluk dan juga sebagai lapisan yang menutupi kulit bumi ini sebagaimana yang dijelaskan dalam motif hias ukir – ukiran pada Padmasana.
Naga Basuki yang bersisikan emas juga disebutkan sebagai maha guru yang dapat mengubah perilaku seseorang, yang diceritakan dalam kisah Manik Angkeran yang dulunya bersifat kuputra menjadi seorang suputra yang sangat baik, amat patuh pada gurunya maupun ayahnya.
Sebagimana juga dijelaskan dalam Prasasti Manik Angkeran di Pura Besakih yang awalnya pada saat beliau ada di Bali untuk mengemban Ida Naga Basuki ini pula.
Bhatara Basuki dalam Tri Mandala Pura Besakih disebutkan pula berstana di Pura Goa Raja untuk menjaga tempat mengeluarkan benda – benda sakral maupun tirtha maha mertha dan atas restu dari Beliaulah disebutkan benda / tirtha tersebut dapat dikeluarkan.

Awal mula kisahnya diceritakan Naga Basuki datang sebagai penyelamat pada jaman bahari di Nusa Bali yang tepatnya pada hari Kamis Keliwon wuku Merakih, sasih kedasa (April) bulan mati (tilem), rah 1, tanggek 1, tahun Caka 11 tatkala Bali dan Lombok masih berkeadaan goncang bagai perahu diatas lautan selalu goyang dan oleng, sehingga disebutkan “Sang Anantabhoga dan Naga Basuki menjadi tali dan Si Badawang nala diperintahkan diam bertahan di pangkal gunung itu”.

Selain itu, Naga Basuki juga sebagai simbol dalam upacara yadnya dan tetandingan banten yang sebagaimana dijelaskan berikut ini :
  • Benang Tukelan dalam Daksina berfungsi sebagai alat pengikat simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Ksirarnawa untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jiwatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum pralina, atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina. dalam tetandingan banten dipergunakan sebagai lambung usus/perut.
  • Naga Basuki disimbolkan dalam sebuah Penjor sebagai lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan yang biasanya digunakan dalam mengiringi berbagai hari raya suci.
Demikianlah Nasa Basuki ini disebutkan sebagai simbol dan Bhatara, yang juga dijelaskan Naga Basukih bersama Dewa Maheswara berfungsi sebagai penjaga keseimbangan natural spiritual yang berorientasi kepada gunung dan lautan (taken from here).

Dan diatas yoni, ada relief Batara Surya menunggang kuda (foto kiri dari Badai Laut Selatan & foto kanan diambil dari sini):

atap-candi-jawi

Surya adalah nama dewamatahari menurut kepercayaan umat Hindu. Surya juga diadaptasi ke dalam dunia pewayangan sebagai dewa yang menguasai atau mengatur surya atau matahari, dan diberi gelar “Batara”. Menurut kepercayaan Hindu, Surya mengendarai kereta yang ditarik oleh 7 kuda. Ia memeiliki kusir bernama Aruna, saudara Garuda, putra Dewi Winata.

Batara Surya ini adalah Dewa yang menjadi tumpuan mahluk hidup di alam dunia ini terutama tumbuhan dan hewan, Batara Surya terkenal sangat sakti mandraguna dan menjadi salah satu Dewa andalan di kahyangan. Batara Surya terkenal senang memberikan pusaka-pusaka atau ajian-ajian yang dimilikinya terhadap orang-orang yang dipilihnya.

Dewa ini terkenal mempunyai banyak anak dari berbagai wanita (diantaranya dari Dewi Kunti yang melahirkan Adipati Karna dalam kisah Mahabharata).

Batara Surya kena batunya ketika Anoman menyalahkan Batara Surya atas kejadian yang menimpa Ibunya Dewi Anjani dan neneknya yang dikutuk menjadi tugu oleh suaminya sendiri. Anoman merasa Batara Surya harus bertanggung jawab sehingga Anoman dengan ajiannya mengumpulkan awan dari seluruh dunia untuk menutupi alam dunia sehingga sinar sang surya tidak bisa mencapai bumi. Untungnya kejadian ini dapat diselesaikan secara baik-baik sehingga Anoman dengan sukarela menyingkirkan kembali awan-awannya sehingga alam dunia terkena sinar mentari kembali.

Surya memiliki tiga ratu; Saranyu (juga disebut Saraniya, Saranya, Sanjna, atau Sangya), Ragyi, dan Prabha. Saranyu adalah ibu dari Waiwaswata Manu (Manu ketujuh, yang sekarang), dan si kembar Yama (dewa kematian) dan adiknya Yami. Dia juga melahirkan baginya si kembar dikenal sebagai Aswin, dor para Dewa. Saranyu, karena tidak sanggup menyaksikan cahaya terang dari Surya, menciptakan tiruan dirinya yang bernama Chhayadan memerintahkan dia untuk bertindak sebagai istri Surya selama dia tidak ada. Chhaya memiliki dua putra dari Surya- Sawarni Manu (Manu kedelapan, yang berikutnya) dan Sani (dewa planet Saturnus), dan dua anak perempuan- Tapti dan Vishti[1]. Dewa Surya juga memiliki seorang putra, Rewanta, atau Raiwata, dari Ragyi.

Menariknya, dua putra Surya, Sani dan Yama bertanggung jawab untuk mengadili kehidupan manusia. Sani memberi hasil dari perbuatan seseorang melalui kehidupan seseorang melalui hukuman dan penghargaan yang sesuai, sementara Yama memberi hasil dari perbuatan seseorang setelah kematian. [2] Dalam Ramayana, Surya disebutkan sebagai ayah dari Raja Sugriwa, yang membantu Rama dan Laksmana dalam mengalahkan raja Rahwana. Ia juga melatih Hanoman sebagai gurunya.

Dalam Mahabharata, Kunti menerima sebuah mantra dari seorang bijak, Durwasa; jika diucapkan, ia akan dapat memanggil setiap dewa dan melahirkan anak oleh dia. Percaya dengan kekuatan mantra ini, tanpa disadari Kunti telah memanggil Surya, tetapi ketika Surya muncul, ia akan takut dan permintaan dia untuk kembali. Namun, Surya memiliki kewajiban untuk memenuhi mantra sebelum kembali. Surya secara ajaib membuat Dewi Kunti untuk melahirkan anak, sementara mempertahankan keperawanannya sehingga ia, sebagai putri yang belum menikah, tidak perlu menghadapi rasa malu apapun atau menjadi sasaran pertanyaan dari masyarakat. Kunti merasa dipaksa untuk meninggalkan anak, Karna, yang tumbuh menjadi salah satu karakter sentral dalam perperangan besar dari Kurukshetra.

Mantra:

Om Adityasya Param Jyoti, Rakta Teja Namo’stute, Sweta Pangkaja Madhyasta, Bhaskaraya Namo Stute.

Arti: Om Ya Tuhan yang berwujud kemegahan yang agung, putra Aditi, dengan cahaya merah sembah kehadapanmu, dikau yang berstana di tengah teratai putih, sembah kepadamu, pembuat sinar (taken from here).

Batara Surya di Candi Jawi digambarkan sebagai sesosok pria gagah yang menunggang kuda dengan sinar keemasan dibelakang kepalanya. Batara Surya ini diukir indah, namun bagian kiri bawah relief tampak sudah ‘dipermak’ karena ada kerusakan (dengan pecahannya tidak ditemukan?). Sayang sekali.

Dan mengenai aura candi yang demikian kuat (bahasa alaynya: seram), mungkin (sekali lagi: MUNGKIN) karena Krtajaya adalah penganut Tantra:

Tantra (also called Tantrism and Tantric religion, is an ancient Indian tradition of beliefs and meditation and ritual practices that seeks to channel the divine energy of the macrocosm or godhead into the human microcosm,[1 to attain siddhis and moksha. It arose no later than the 5th century CE, and it had a strong influence on both Hinduism and Buddhism.

Dalam waktu dekat, aku merencanakan untuk ke Candi Jawi untuk sowan ke Bapak JuPel (masih baru lebaran nih). Nah, semoga saja kali ini aku berani masuk sampai bilik candi dan mengambil sendiri foto yoni dan sang Batara Surya. Amennn, amen *sambil merapal doa*!!!

Candi Jawi terletak di kaki G. Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, sekitar 31 km dari kota Pasuruan. Bangunan candi dapat dikatakan masih utuh karena telah berkali-kali mengalami pemugaran. Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dari kondisinya yang sudah runtuh. Akan tetapi, pemugaran tidak dapat dituntaskan karena banyak batu yang hilang dan baru disempurnakan pada tahun 1975-1980.

Dalam Negarakertagama pupuh 56 disebutkan bahwa Candi Jawi didirikan atas perintah raja terakhir Kerajaan Singasari, Kertanegara, untuk tempat beribadah bagi umat beragama Syiwa-Buddha. Raja Kartanegara adalah seorang penganut ajaran Syiwa Buddha. Selain sebagai tempat ibadah, Candi Jawi juga merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Kertanegara. Hal ini memang agak mengherankan, karena letak Candi Jawi cukup jauh dari pusat Kerajaan Singasari. Diduga hal itu disebabkan karena rakyat di daerah ini sangat setia kepada raja dan banyak yang menganut ajaran Syiwa-Buddha. Dugaan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa saat Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegara dijatuhkan oleh Raja Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), ia sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.

Candi Jawi menempati lahan yang cukup luas, sekitar 40 x 60 m2, yang dikelilingi oleh pagar bata setinggi 2 m. Bangunan candi dikelilingi oleh parit yang saat ini dihiasi oleh bunga teratai. Ketinggian candi ini sekitar 24,5 meter dengan panjang 14,2 m dan lebar 9,5 m. Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah dengan atap yang bentuknya merupakan paduan antara stupa dan kubus bersusun yang meruncing pada puncaknya. Posisi Candi Jawi yang menghadap ke timur, membelakangi Gunung Pananggungan, menguatkan dugaan sebagian ahli bahwa candi ini bukan tempat pemujaan, karena candi untuk peribadatan umumnya menghadap ke arah gunung, tempat bersemayam kepada Dewa. Sebagian ahli lain tetap meyakini bahwa Candi Jawi berfungsi sebagai tempat pemujaan. Posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung dianggap sebagai akibat pengaruh ajaran Buddha.

Salah satu keunikan Candi Jawi adalah batu yang dipakai sebagai bahan bangunannya terdiri dari dua jenis. Dari Kaki sampai selasar candi dibangun menggunakan batu berwarna gelap, tubuh candi menggunakan batu putih, sedangkan atap candi menggunakan campuran batu berwarna gelap dan putih. Diduga candi ini dibangun dalam dua masa pembangunan. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pada tahun 1253 Saka (candrasengkala: Api Memanah Hari) Candi Jawi disambar petir. Dalam kejadian itu arca Maha Aksobaya menghilang. Hilangnya arca tersebut sempat membuat sedih Raja Hayam Wuruk ketika baginda mengunjungi Candi Jawi. Setahun setelah disambar petir, Candi Jawi dibangun kembali. Pada masa inilah diperkirakan mulai digunakannya batu putih. Penggunaan batu putih tersebut juga mengundang pertanyaan, karena yang terdapat di kawasan G. Welirang kebanyakan adalah batu berwarna gelap. Kemungkinan batu-batu tersebut didatangkan dari pesisir utara Jawa atau Madura.

Kaki candi berdiri di atas batur (kaki candi) setinggi sekitar 2 m dengan pahatan relief yang memuat kisah tentang seorang pertapa wanita. Tangga naik yang tidak terlalu lebar terdapat tepat di hadapan pintu masuk ke garba grha (ruang dalam tubuh candi). Pahatan yang rumit memenuhi pipi kiri dan kanan tangga menuju selasar. Sedangkan pipi tangga dari selasar menuju ke lantai candi dihiasi sepasang arca binatang bertelinga panjang.

Di sekeliling tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar. Bingkai pintunya polos tanpa pahatan, namun di atas ambang pintu terdapat pahatan kalamakara, lengkap dengan sepasang taring, rahang bawah, serta hiasan di rambutnya, memenuhi ruang antara puncak pintu dan dasar atap. Di kiri dan pintu terdapat relung kecil tempat meletakkan arca. Di atas ambang masing-masing relung terdapat pahatan kepala makhluk bertaring dan bertanduk.

Ruangan dalam tubuh candi saat ini dalam keadaan kosong. Tampaknya semula terdapat arca di dalamnya. Negarakertagama menyebutkan bahwa di dalam bilik candi terdapat arca Syiwa dengan Aksobaya di mahkotanya. Selain itu disebutkan juga adanya sejumlah arca dewa-dewa dalam kepercayaan Syiwa, seperti arca Mahakala dan Nandiswara, Durga, Ganesha, Nandi, dan Brahma. Tak satupun dari arca-arca tersebut yang masih berada di tempatnya. Konon arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya.

Dinding luar tubuh candi dihiasi dengan relief yang sampai saat masih belum ada yang berhasil membacanya. Mungkin karena pahatannya yang terlalu tipis. Mungkin juga karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari prasasti atau naskah. Kitab Negarakertagama yang menceritakan candi ini secara cukup rincipun sama sekali tidak menyinggung soal relief tersebut. Menurut juru kunci candi, relief itu harus dibaca menggunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), seperti yang digunakan dalam membaca relief di Candi Kidal. Masih menurut juru kunci candi, relief yang terpahat di tepi barat dinding utara menggambarkan peta areal candi dan wilayah di sekitarnya.

Antara pelataran belakang candi yang cukup luas dan tertata rapi dengan perkampungan penduduk dibatasi oleh sebuah sungai kecil. Di sudut selatan pelataran terdapat reruntuhan bangunan yang terbuat dari bata merah. Sepertinya bangunan tersebut tadinya adalah sebuah gapura, namun tidak ada keterangan yang bisa didapat mengenai bentuk dan fungsinya semula (taken from here).

Baca pula yang berikut ini:

Tadinya ke malang adalah untuk urusan pekerjaan, namun apa yang aku cari hanya kekosongan, maka dengan tanpa niat, ajakan ke candi Jawi aku iyakan, sebenarnya aku tidak tahu apa yang akan aku dapatkan, toh aku sudah sering ke tempat ini. Dalam hati apapun di candi itu adalah yang terbaik bagiku.

Maka bergeraklah aku ke sana, tidak lupa setiap datang aku berusaha merasa atau seolah-olah merasa di suatu masa keemasan pembangunan candi itu.

Aku memasuki bangunan candi dan sekedar menjamah yoni yang tertinggal di sana walau jika aku perhatikan titik pusat yoni dan titik pusat kemuncaknya tidak segaris lagi, hal ini entah disadari atau tidak oleh ahli purbakala yang merenovasi.

Aku mengernyitkan mataku untuk memastikan relief apa yg ada di puncak atapnya,walau sebenarnya aku telah posting foto tsb sebelumnya, maka kupastikan sekali lagi bahwa relief di kemuncaknya adalah berupa seorang tokoh (Krtanegara) menunggang kuda dengan dilatar belakangi sinar di sekelilingnya.

Aku keluar ke arah barat kolam memastikan posisi di gapura yang tertinggal, baru aku tahu ada hal yang disengaja mengenai pengaturan posisi ini, aku duduk ditangga naik sisi timur untuk merasakan apa yg diinginkan para penguasa waktu lalu, kusadari silhoute candi Jawi di sisi kiri. Mengapa posisi candi tidak segaris lurus dengan gapura?!

Jika boleh berdiri di atas tangga gerbang(tp tdk diijinkan) akan ada separo bidang sudut pandang yang kosong, ternyata baru kusadari bidang kosong ini adalah bidang terbitnya matahari dan rembulan, hal ini seperti apa yang tertulis di buku Negarakrtagama bahwa setiap bulan caitra waktu purnama diadakan upacara, sepertinya inilah titik terbaik merasakan apa yang dulu pernah terjadi. Bulan keemasan menyelimuti badan candi dengan arca-arca indahnya, sementara cahaya obor memendarkan bayangan-bayangan benda sekitarnya, dan lantunan doa menggema di sekitarnya sesaat gending-gending kuno berhenti, orang-orang memakai baju putih, sesekali warna emas memantul dari benda-benda upacara dan pantulan perhiasan sang raja dan kerabatnya. Asap dupa menyebar di kejauhan, bunga dan buah persembahan tertata rapi, janur tarub berjajar sepanjang jalan, di kejauhan kabut tipis mulai turun dari punggung Gunung Pananggungan. Inilah kemistisan suasana kala itu.

Jika kita cermati sebenarnya wilayah jangkauan Candi Jawi berkali lipat dengan sekarang, dan jalan yang menghubungkan pandaan-tretes membelah ditengah lingkungan utama candi(sayang sekali).

Saya perhatikan sekilas dari informasi yang saya dapatkan (bukan dari penjaga) candi Jawi setidaknya dikelilingi 3 kolam di mana satu kolamnya seperti yang bisa kita lihat langsung di Candi Jawi sekarang ini, sementara 2 kolam lagi belum ditemukan, selain 3 kolam, sisi barat dari kolam paling luar terdapat sungai yang membujur dari selatan sampai utara, namun sepertinya baik sungai maupun kedua kolam ini tidak berjejak.

Dengan demikian bentuk candi Jawi seutuhnya merupakan kompleks berundak (secara topography) yang terdiri dari tiga bidang bujur sangkar (konsep mandala) di mana antar bidangnya dipisahkan oleh kolam, bidang terluar lebih rendah dibanding bidang dalamnya. Pembagian bidang ini mewakili unsur lahir, hidup dan mati atau bisa juga disebut sisi luar menggambarkan bidang kehidupan fana, bidang kedua (tengah) menggambarkan bidang kehidupan alam baka (kematian), dan di tengah digambarkan alam kehidupan surga di mana sosok Raja Krtanegara dicandikan, dan area ini sebenarnya area yang disucikan.

Sementara itu posisi sungai di sebelah barat terluar dari candi Jawi adalah merupakan area tempat pensucian untuk kerabat, raja bawahan dan tamu, hal ini dimaksudkan orang-orang yang akan ikut acara pemujaan harus dalam keadaan suci sementara mengapa dari sisi barat karena sisi barat adalah gerbang utama untuk umum, sementara gerbang timur diperuntukkan khusus bagi Raja dan keluarga utamanya (Raja, orang tua Raja dan permaisuri Raja) yaitu Raja sebagai unsur pembuka, unsur kelahiran, pemberi kehidupan baik, wakil dewa.

Selain itu jika kita tarik garis lurus maka sisi timur nya adalah adalah ibukota kerajaan Singhasari, maka akan sangat tepat candi Jawi sebagai candi pendharmaan Krtanegara ada di sisi barat ibukota karena barat adalah lambang arah akhir kehidupan yang ditunjukkan sebagai terbenamnya matahari, sementara raja yang berkuasa menghadap ke timur terbitnya matahari, sehingga akan terbentuk formasi bahwa raja yang sudah meninggal berada dibelakang raja yang berkuasa (keturunan) membantu memberikan nasihat dan diluhurkan(penghormatan raja sebagai anak).

Jika kita perlakukan sedikit rumit maka akan terlihat sebagai berikut: dari dalam kedaton Raja yang berkuasa menghormati Krtanegara yang dicandikan di Candi Jawi yang letak tanahnya lebih tinggi dari kedaton (penghormatan raja secara pribadi), jika Raja berkuasa ingin melakukan penghormatan secara kenegaraan maka Raja yang berkuasa menghormati Krtanegara dengan datang ke candi Jawi, namun karena antara raja berkuasa dan raja yang telah tiada tidak boleh disamakan kedudukannya maka posisi candi menghadap ke timur dengan maksud Raja berkuasa menghadap ke barat maka secara otomatis tempat yang dituju adalah penghormatan kepada Krtanegara haruslah tempat lebih tinggi yaitu gunung Pananggungan sebagai tempat yang lebih tinggi.

Maka jika raja ingin memberikan penghormatan tertingginya maka dia harus ke gunung Pananggungan, maka dalam beberapa cerita ada beberapa Raja yang mengundurkan diri dari kepemerintahan dengan menjadi pertapa di puncak gunung dan itulah penyebutan raja sebagai Sang Acalapati(raja penguasa gunung-gunung).

Mungkin inilah mengapa dalam candi-candi Hindu yang notabene ditujukan untuk seorang raja, tidak pernah ditemukan abu jenazah, dan dalam catatan sejarah pula belum pernah ada prosesi pelarungan(penebaran abu jenazah) raja-raja Jawa ke laut seperti halnya upacara Hindu di Bali saat ini, ada kemungkinan sebagai bentuk kembalinya ke pangkuan Ibu Pretiwi.

Menemukan kesimpulan di atas membuat saya tersenyum, seolah saya menemukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan ke saya mengenai mengapa candi Jawi saya sebut sebagai gerbang surga di bumi

Banyak sudah disebutkan bahwa candi Jawi lokasinya dipetakan dalam relief sebelah kanan badan candi, hal ini sepertinya selalu terinfokan oleh bapak-bapak yang menjaga bangunan ini.Sejauh mana kita menelisik lebih jauh seperti halnya film National Treasure atau the Mummy? Tak mudah kita mengartikan hal ini semudah Nicholas Cage memecahkan code di film hehehe…namun inilah petualangan dalam menyingkap candi Jawi walaupun tidak bisa secara total.

Dimulai dari titik pusat cetak biru, yaitu candi Jawi sendiri, dalam panel ukir kita dapati sebuah bangunan kecil dikelilingi pohon kelapa(mungkin juga pohon lontar) dan parit-parit, itulah titik kita berdiri, dalam peta tersebut besarnya bangunan bisa dijadikan perbandingan besar bangunan secara fisik, namun tidak berlaku untuk tanaman dan manusia. Nampaknya dalam relief tersebut ingin dipastikan suatu pesan mengenai sebuah kebesaran bangunan.

Yang menarik dari posisi candi Jawi ini terletak hampir ke pinggir sebelah kanan bidang relief, sehingga banyak informasi yang tidak sebatas fungsi candi itu dalam total petunjuk relief. Saya membaca dari dimana candi Jawi digambarkan,

  1. Dari komplek bangunan utama.
    – candi utama
    – 2 buah candi perwara terletak persis di depan pintu candi utama, sepertinya dimaksudkan untuk raja dan permaisuri menghadap, juga sebagai simbol penyatuan kembali dua wangsa.
    – 2 pos jaga yang terletak di sisi depan bagian kanan dan kiri, jika melihat jejaknya yang tidak kelihatan, pos jaga ini terbuat dari kayu.
    -sebuah kolam utama yang mengelilingi kompleks candi utama, kolam ini posisinya lebih tinggi dari kolam lainnya. Symbol kolam ini menggambarkan bahwa candi tersebut bagaikan teratai di tengah kolam, sehingga merujuk bahwa candi yang disucikan.
  2. Kompleks di luar candi utama
    Jika kita datang ke sana, dan kita memandang dari jalan aspal, sebenarnya kita berada di ring 2 candi Jawi, hal yang bisa kita dapati adalah gerbang batu bata di sisi barat, kompleks ini sebenarnya dikelilingi kolam parit seperti halnya candi utama, dan ini belum ditemukan, luasnya wilayah ring 2 ini adalah pembentangan dari luasan candi utama. Bangunan yang terdapat di sini seperti yang tampak pada relief adalah:

A. gerbang barat dalam kondisi runtuh yang sepertinya pembangunannya merupakan tambahan sewaktu pemerintahan Majapahit.
B. Pos penjagaan yang terbuat dari kayu atau mungkin justru lebih permanen yang terdapat di sisi selatan gerbang, berarti saat ini terkubur dibawah rumah-rumah penduduk.
C. Kolam parit yang mengelilingi ring 2, berbentuk kotak, dengan lebar tidak jauh beda dengan kolam parit yang membatasi antara ring 2 dengan ring 1, namun posisinya lebih rendah dibanding kolam di ring 1.

  • Kompleks di luar ring 2
    A. Pada sisi timur laut(west east) diluar kolam parit ring 2, terdapat sebuah pos penjagaan, terbuat kemungkinan dari batu, dan tempat ini sepertinya terkubur oleh padatnya rumah penduduk
    B. Pada sisi barat laut dari gerbang yang runtuh, di luar parit terdapat bangunan memanjang yang permanent, bangunan ini sepertinya sebuah tempat peristirahatan, atau tempat berkumpul, melihat komposisi bangunan ini pastilah berupa bangunan permanet yang terbuat dari batu, serta kayu.
    C. Di belakang bangunan panjang (berarti sebelah barat) terdapat sebuah sungai yang melintang dari arah selatan ke utara, saya menyebutnya sebagai sungai karena dalam relief penggambarannya tidak dibuat lurus, melainkan berkelok. Menurut saya sungai ini dahulunya sebagai tempat untuk mensucikan diri orang-orang bangsawan non keluarga utama sebelum memasuki wilayah ring 2 untuk ikut upacara pemujaan. Dan saya rasa letak sungai ini lebih rendah dari kolam parit ring 2. Juga jejak sungai ini sudah tidak kelihatan.
    D. Bangunan terluar di sisi barat candi Jawi adalah sebuah tempat penjagaan yang posisinya di barat sungai, bangunan ini dijadikan tempat pengawasan orang-orang yang hendak masuk. Di posisi relief bangunan ini tergambar di sisi sudut paling belakang, sehingga saya menyimpulkan bangunan tersebut adalah bangunan paling luar.

Dari berakhirnya penggambaran sisi barat candi, maka sisanya kita melihat penggambaran relief yang berada di sisi timur candi, dimana saya menyebut nya yang terakhir adalah pos penjagaan di luar kolam parit ring 2.

Semakin kita tarik ke arah timur, terdapat beberapa penggambaran, yaitu pohon-pohon, manusia dan bangunan.

Menurut pendapat saya didukung oleh narasumber, pohon-pohon ini adalah menggambarkan sebuah bentuk hutan, dan orang menggambarkan penduduk serta bangunan menggambarkan tempat tinggal kediaman para pangeran atau kerabat kerajaan. Saya menyimpulkan bahwa penggambaran pohon ini adalah untuk memperkecil penjabaran peta, dalam arti bahwa di sisi timur candi, setelah pos penjagaan adalam hutan-hutan ataupun kebun, dan setelah nya terdapat rumah kediaman para bangsawan yang dikelilingi oleh penduduk setempat, pembandingan antara besaran candi dan bangunan kediaman para pangeran, secara jelas bahwa para pangeran ini memiliki tempat tinggal yang sangat megah dengan pos penjagaan di sana sini. Beberapa tempat kediaman, kalau saya tidak salah melihat terdapat sungai sungai yang mengalir dari arah selatan ke utara.

Dan yang paling membuat saya tercengang adalah relief paling pinggir di sisi kiri, hingga ke garis tekukan badan candi, yaitu sebuah bangunan besar yang besarnya penggambaran beberapa kali dari dari bangunan kediaman, dan detailnya lebih banyak dibanding penggambaran candi dalam relief, menurut keterangan yang saya dapatkan dari nara sumber saya, bangunan tersebut menggambarkan bangunan keraton Singhasari, bangunan yang sangat-sangat besar, bisa kita bandingkan melalui papan relief, jika candi Jawi yang secara fisik begitu anggunnya digambarkan kecil dalam relief, sementara keraton Singhasari digambarkan berkali-kali besarnya dalam relief maka secara logika bangunan keraton Singhasari sangat besar dan indah.

Inilah petunjuk secara fakta tentang besarnya sebuah keraton Singhasari yang sampai sekarang belum bisa kita temukan dengan keindahan taman sari dibelakangnya hal ini masih misteri mengenai lokasi sebenarnya, Singhasari saja digambarkan sedemikian besarnya melalui perbandingan di relief candi Jawi, lantas bagaimana dengan keraton Majapahit yang disebut-sebut berada di wilayah trowulan, apakah sebanding kita menggambarkan kebesarannya, karena harusnya kita ingat, Majapahit jauh lebih besar dibanding Singhasari.Maka ukuran keratonnya pun sudah seharusnya bisa digambarkan sebagai perwujudan akan sebuah kebesaran dan kemakmuran.

Diluar penggambaran besarnya keraton tersebut kembali saya menyimpulkan mengenai tata letak antara candi dengan bangunan keraton/istana, bahwa candi yang difungsikan sebagai bangunan pemujaan kepada sosok yang telah meninggal akan menempati sisi sebelah barat istana, hal ini untuk mencerminkan bahwa orang yang telah tiada ada di garis tenggelamnya matahari, sementara penguasa/ raja yang sedang bertahta digambarkan sebagai sebuah unsur kelahiran dimana digambarkan sebagai terbitnya matahari, jika kita rangkum maka posisi raja akan menghadap matahari, dengan membelakangi para leluhurnya yang mengandung maksud, para raja yang telah kembali ke alam surga tetap membimbing dari belakang layar, penggambaran ini juga mengandung makna walaupun Raja berkuasa dengan sangat kuatnya tidak ada artinya tanpa dukungan para leluhurnya, mungkin inilah salah satu falsafah jawa “mikul dhuwur mendhem jero” yang diterapkan oleh sang penguasa Tanah Kemakmuran Jawa Dwipa (taken from here).

Juga artikel berikut ini:

Candi jawi merupakan salah satu candi yang letak dan posisinya diluar kebiasaan candi-candi peninggalan yang tersebar di daerah Jawa Timur. Candi ini tidak menghadap kearah barat, melainkan kearah sebaliknya, yaitu kearah timur. Dengan tinggi kurang lebih 24,50 m, lebar 9,55 m, candi Jawi dibangun diatas teras tinggi yang dikelilingi oleh parit selebar 2,50 meter. Pintu masuk candi menghadap ke timur sedangkan bangunan lainnya yang ada dikompleks ini menghadap ke barat.

Bangunan candi terdiri atas batur, kaki, badan dan atap candi dalam keadaan utuh sebagai hasil dari pemugaran yang pernah dilakukan. Batur dihias oleh relief-relief yang agak “nyeleneh”, diluar keumuman candi-candi pada umumnya, kalau biasanya relief-relief pada candi menggambarkan kisah mengenai salah satu ajaran atau epik dalam kitab/keyakinan tertentu maka pada candi Jawi relief-reliefnya malah menceritakan keadaan disekitar candi jawi. Diatas batur terdapat selasar yang mengelilingi candi, di kanan kiri tangga menuju selasar terdapat makara. Makara juga terdapat pada kanan dan kiri tangga serta badan candi. Badan candi dihiasi pintu dan relung-relung yang diatasnya terdapat kala. Dalam bilik candi ditemukan yoni dan dilangit-langitnya terdapat sebuah relief yang menggambarkan lingkaran bersinar dengan gambar seorang naik kuda ditengahnya.

Bagian tengah candi dan sudut-sudutnya dihiasi antefix. Atap candi tersusun makin keatas makin mengecil dan akhirnya sampai pada puncak atap berupa dagobha Budha/stupa. Dihalaman candi pernah ditemukan arca-arca yang bersifat siwaistis seperti arca Siwa Guru, Durga, Ganeca, Adhanari, Mahakala, Nandiswara serta Aksobya (Joko Dolog). Dari bentuk dagobha/stupa pada puncak atap candid an arca-arca yang pernah ditemukan di halaman candi yang bersifat siwaistis, diketahui bahwa candi Jawi merupakan candi perpaduan Siwa Budha seperti yang disebutkan dalam Nagarakertagama.

Menurut Nagarakrtagama, candi yang sarat akan nilai-nilai budaya ini pada candrasengkala atau tahun Api Memanah Hari (1253 C/1331 M) pernah rusak karena disambar petir. Selain bangunan candi, ada salah satu arcanya yang ikut rusak yaitu arca Maha Aksobaya. Hal ini membuat Raja Hayam Wuruk sangat sedih, sehingga satu tahun kemudian (1332 M) ia mengerahkan rakyat untuk memperbaikinya kembali. Namun, sama seperti candi-candi lain yang ada di Jawa, Candi Jawi baru mulai diperhatikan lagi pada awal abad ke-20, setelah bangunannya menjadi porak-poranda dan begitu banyak unsur yang hilang.

Perjalanan rombongan raja Hayam Wuruk menyinggahi beberapa tempat di daerah kekuasaannya, seperti Lasem (tahun 1354 M), Lodaya (1357 M), Palah (1361 M), Lwang, Balitar, Jime dan Simping. Dalam perjalanan itu, Hayam Wuruk juga sempat mengerahkan rakyat untuk memperbaiki beberapa tempat penyeberangan di Sungai Solo dan Brantas, memperbaiki bendungan Kali Konto, memperbaiki Candi Sumberjati dan sekaligus nyekar atau ziarah ke makam kakeknya (Raden Wijaya), memugar Candi Jabung (1353 M), memperindah candi pemujaan Tribhuwanattunggadewi di Panggih, menambah candi perwara di Palah (Panataran-Blitar, 1369 M) serta sebuah pendapa untuk kepentingan persajian (1375 M), menyelesaikan dua buah candi di Kediri (Candi Surawana dan Tigawangi), dan akhirnya pada tahun 1371 mendirikan Candi Pari di dekat Porong-Jawa Timur, yang bentuknya menyerupai percandian di Champa.

Kakawin Nagarakertagama yang menyebutkan candi Jawi sebagai Jajawa tempat pendharmaan raja Kertanagara yang wafat pada tahun 1292 masehi, diperkirakan candi Jawi dibangun pada tahun 1304.

Candi Jawi yang dibangun sekitar abad ke-13 ini adalah tempat penyimpanan sebagian abu jenazah Raja Kertanegara (Raja terakhir Singosari) yang meninggal tahun 1292 M. Sebagian abu lainnya disimpan pada Candi Singosari. Pada zaman Majapahit, Candi Jawi pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk (Rajasanagara) pada waktu mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tahun ketiga masa pemerintahannya (1275 C/1353 M). Perjalanan raja Hayam Wuruk ini disertai oleh seluruh keluarga raja (Bhatara sapta Prabhu), para menteri, pemimpin agama dan wakil golongan masyarakat.

Nagarakertagama menyebut bahwa perjalanan raja Hayam Wuruk beserta rombongannya bertujuan terutama untuk menghayati keadaan masyarakat yang dipimpinnya, tak ubahnya semacam “sidak” (inspeksi mendadak) yang biasa dilakukan oleh para pejabat masa kini. Selain sebagai inspeksi mendadak dan peziarahan, ada pula yang mengatakan bahwa perjalanan Hayam Wuruk itu merupakan salah satu dharma yang harus dijalaninya, yang mengandung arti magis, yakni untuk penyatuan dan kesatuan (unity) wilayah kerajaannya.

Candi Jawi baru dipugar kembali pada tahun 1938 karena kondisinya sudah rusak. Pemugaran yang konon telah memenuhi syarat tekno-arkeologis itu dilakukan oleh Oudheidkundige Dienst dengan membangun kembali lagi kaki candi, mengupas halaman candi serta menyusun beberapa bagian candi dalam bentuk susunan percobaan. Akan tetapi, pemugaran dihentikan pada tahun 1941 karena sebagian batunya telah hilang (taken from here).

Comments are closed.