Candi Songgoriti/ Candi Supo (Batu); Tempat Rendam Keris Para Mpu, Tempat Bertemunya Ken Arok dan Ken Dedes, Juga Ada Sumber Air dengan Rasa Mirip Air Kelapa!

Sudah lama, aku dengar namanya: Candi Songgoriti. Tapi yeah, aku sendiri sudah bertahun-tahun tidak ke Batu, jadi rencana mendatangi candi yang satu ini ditunda terus menerus. Dan tanpa rencana apapun, angin membawaku ke Batu dan aku iseng aja minta diantar ke Candi Songgoriti. Eeelah-dalah, lha kok ya kebetulan waktunya memungkinkan. Jadi, tadaaa.. sampailah aku di candi mungil ini:


FYI, Songgoriti sama sekali bukan daerah yang asing buatku. Dulu jaman masih kecil, aku bisa ke tempat ini setiap hari Minggu. Saat sopir mengemudikan mobil ke arah Songgoriti, Mamiku memberi arahan. Aku komen, “Kok tahu tempatnya?”. Mamiku menjawab, “Dulu kan sudah pernah pergi sama kamu kesini”. Hah? Kok aku engga ada memori apapun ya, haha! Btw, kalo dari kecil udah diajaknya ke candi, trus salahnya siapa coba.. kalo tua-nya jadi suka candi? Hayo? Haha!

Jadi, begitu kita sampai di parkiran aku langsung tanya ke tukang parkir, “Ada candi ya, Pak? Tempatnya dimana?” dan si tukang parkir bilang, “Didalam, Mbak. Masuk dari situ (ada semacam pintu masuk gitulah)”. Wooh, okay! Aku berjalan sendiri, menuju pintu itu. Aku bertemu dengan seorang Bapak yang duduk didepan pintu & kepadanya aku tanya, berapa biaya yang aku kudu bayar untuk masuk (haha, aku pikir dia penjaga loket gituloh). Bapak itu menjawab, “Gratis Mbak, monggo, monggo!”.

Dan, inilah yang aku lihat..

Aslinya, sesaat setelah aku masuk, aku bahkan ga ngeh mana candinya. Candinya mungil dan aku sudah lama sekali engga ke candi (apa hubungannya, Wi?). Kemudian aku berhenti sejenak di tangga dan mataku mulai bisa menangkap sosok Candi Songgoriti.

Aku mendekat, tapi sungguh.. sama sekali engga mudah untuk mendekat ke Candi Songgoriti. Aku sedikit berlama-lama didekat selang biru itu (pada foto atas) sampai akhirnya badanku bisa beradaptasi *halah* dan setelahnya, mulailah aku menjelajah:

‘Pagar’ ini, adalah yang pertama aku nikmati:

Ada rembesan yang menarik, di bagian ujung:

Lihat saja, air rembesannya berwarna orange seperti air dari besi yang korosi. Itu adalah sebuah petanda sederhana, bahwa air yang mengalir mengandung belerang. Yeah, Candi Songgoriti dikenal sebagai candi yang berada didekat sumber air hangat (yang kini airnya juga dimanfaatkan jadi pemandian air panas). Tapi kalau dilihat sekilas, engga nampak ada sumber air didekat Candi Songgoriti. Yang ada semacam kolam/ sumur kecil yang sudah disemen & diberi pompa; karenanya sempat menganggapnya sebagai tandon biasa:

OK, kembali ke Candi Songgoriti.

Aku datang ke Candi Songgoriti tanpa membaca informasi apapun mengenai candi ini (maklum, dadakan..). Barulah setelah meninggalkan lokasi, aku browsing sana sini haha *telatttt!*. Informasi paling dasar, aku dapatkan dari Wikipedia (yang kebenarannya perlu dipertanyakan?):

Candi Sanggariti atau Songgoriti adalah sebuah candi yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur, Indonesia. Candi ini berada di dekat satu sumber air panas. Candi ini dibangun pada sekitar akhir abad ke-8 Masehi. Candi ini dipugar tahun 1936 oleh Belanda,tapi ada kesalahan letak di mana kepala di kaki dan sebaliknya dan akhirnya menjadi puing (taken from here).

Hm, hal itu cukup menjelaskan kenapa bagian ini tampak sangat berantakan:

Tak lama setelah aku datang, aku didatangi seorang Bapak (yang sepertinya adalah penjaga candi ini), menjelaskan bahwa yang aku lihat hanyalah bagian paling atas dari Candi Songgoriti. Menurut si Bapak, badan Candi Songgoriti masih terkubur:

Dari penuturan Harioto, candi yang terlihat saat ini merupakan pucuknya saja. Diyakini, candi itu sebenarnya memiliki panjang 180 meter dan lebar 60 meter. Sayangnya, candi itu tidak digali. Bahlan, berjarak sekitar 10 meter telah berdiri hotel Songgoriti. “Candi ini tertua dan terbesar di Indonesia, tidak tahu mengapa tidak digali lagi,” ujar Harioto yang juga menunjukkan bentuk bangunan lain di sekitar candi dan diyakini candi itu terpendam tanah, Minggu (11/8) (taken from here).

Candi Supo atau yang lebih sering disebut Candi Songgoriti terletak berdekatan dengan Taman Rekreasi Tirta Nirwana, Songgoriti. Lebih tepatnya berada di dalam kompleks Pemandian Air Panas Alami (PAPA) dan Hotel Songgoriti. Namun keberadaan candi ini tidak banyak diketahui oleh para wisatawan dari luar Kota Batu sebab daya tarik utama di area ini adalah Taman Rekreasi Songgoriti dan bukan Candi Songgoriti.

Candi ini ditemukan kali pertama oleh seorang arkeolog Belanda bernama Van I Isseldijk tahun 1799 M, kemudian pelaksanaan renovasinya dilakukan oleh arkeolog Belanda lainnya yaitu Rigg tahun 1849 M dan Brumund pada tahun 1863 M. Tahun 1902 M, Knebel melakukan inventarisasi situs Candi Songgoriti dan dilanjutkan dengan renovasi besar-besaran tahun 1921 M. Renovasi terakhir dilaksanakan pada tahun 1938.

Candi Supo adalah satu-satunya peninggalan Mpu Sindok di Kota Batu. Beliau adalah raja pertama kerajaan Medang periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929-947. Menurut sejarahnya; kisah Candi Songgoriti ini berawal dari keinginan Mpu Sindok yang ingin membangun tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Seorang petinggi kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Mpu Sindok untuk membangun tempat tersebut. Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti. Atas persetujuan Raja, Mpu Supo mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan berikut sebuah candi yang diberi nama Candi Supo. Di tempat peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan Sindok. Oleh karena sumber mata air ini sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural (magic) yang maha dahsyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk berubah menjadi sumber air panas. Sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Candi Supo adalah satu-satunya peninggalan Mpu Sindok di Kota Batu. Beliau adalah raja pertama kerajaan Medang periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929-947. Menurut sejarahnya; kisah Candi Songgoriti ini berawal dari keinginan Mpu Sindok yang ingin membangun tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Seorang petinggi kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Mpu Sindok untuk membangun tempat tersebut. Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti. Atas persetujuan Raja, Mpu Supo mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan berikut sebuah candi yang diberi nama Candi Supo. Di tempat peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan Sindok. Oleh karena sumber mata air ini sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural (magic) yang maha dahsyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk berubah menjadi sumber air panas. Sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Tak jauh dari bangunan Candi Songgoriti atau tepatnya sekitar 100 meter seberang jalan kanan Hotel Songgoriti, berdiri bangunan rumah berornamen lawas dengan cat putih kombinasi kuning biru. Tak banyak juga wisatawan tahu, kalau di dalam bangunan rumah yang dibangun tahun 1962 itu, bersemayam ‘arwah’ moksa Mpu Supo atau juga dikenal sebagai Mbah Pathok. Sampai sekarang rumah ini dikenal sebagai Pesarean Mbah Pathok atau Mpu Supo (taken from here).

Informasi bahwa inilah candi tertua di Jawa Timur sempat membuatku bingung, karena setahuku.. Candi Badut lah yang disebut-sebut sebagai candi tertua di Jawa Timur. Yang pasti, Candi Songgoriti sangat sederhana dan mungil. Aku mengambil fotonya dari segala arah:

Tidak banyak ukiran, kecuali hiasan pada sudut:

Ada beberapa arca kecil yang, namun bentuknya sudah tidak ada yang utuh:

Dari sisa arca yang ini, aku bisa tahu bahwa candi ini adalah candi Hindu. Selain itu, aku menemukan jaladwara kecil:

Entah kemana kawan-kawannya. Sayang sekali..

Btw, candi ini konon adalah tempat bertemunya Ken Arok dan Ken Dedes hehe..

Konon, candi ini merupakan tempat pertemuan Ken Arok dengan Ken Dedes. Cerita lainnya, di candi ini Empu Sendok, Empu Gandring, dan Empu Supo mencuci keris kesaktiannya (taken from here).

Wow? Berikut ini, adalah cerita selengkapnya:

Di sisi lain, kota yang dikelilingi Gunung Panderman dan Arjuno ini juga memiliki obyek wisata sejarah berupa Candi Songgoriti di Jl Songgoriti Desa Songgokerto. Konon, candi ini merupakan tempat pertemuan Ken Arok dengan Ken Dedes. Cerita lainnya, di candi ini Empu Sendok, Empu Gandring, dan Empu Supo mencuci keris kesaktiannya.

Jika wisatawan datang ke candi itu, bakal mendapatkan banyak cerita sejarah kerajaan sebelum Indonesia menjadi republik dari Harioto (50) juru kunci candi. Pengetahuan Harioto sebagian besar dari para leluhurnya, yang juga menjadi juru kunci candi sebelumnya. Ia sendiri merupakan juru kunci ke tujuh. Sebelumnya ada Mbah Sairuh, Mbok Paitun, Mbok Rumina, Arjo Poeslan, Parlan, dan Supardi.

Dari penuturan Harioto, candi yang terlihat saat ini merupakan pucuknya saja. Diyakini, candi itu sebenarnya memiliki panjang 180 meter dan lebar 60 meter. Sayangnya, candi itu tidak digali. Bahlan, berjarak sekitar 10 meter telah berdiri hotel Songgoriti. “Candi ini tertua dan terbesar di Indonesia, tidak tahu mengapa tidak digali lagi,” ujar Harioto yang juga menunjukkan bentuk bangunan lain di sekitar candi dan diyakini candi itu terpendam tanah, Minggu (11/8).

Anehnya lagi, di bawah candi, tepatnya di pucuk candi terdapat tiga sumber mata air. Satu sumber air panas dengan 47 derajat celsius,  sumber air dingin, dan tepat di ujung bangunan candi terdapat air belerang. Air belerang ini merupakan tempat para empu menyuci keris.

Keyakinan adanya kekuatan dalam candi itu, mengundang para pejabat maupun calon kepala daerah selalu datang ke sana. Kata Harioto, mereka datang tengah malam ingin mandi kembang dengan air panas. Setelah itu, mereka melakukan ritual supaya keinginannya tercapai.

Biasanya, mereka yang datang untuk ritual selalu muncul setiap hari Selasa kliwon, Jumat kliwon, dan kamis kliwon. Sebelum datang, mereka minta dibelikan bahan-bahan untuk tirual, seperti bunga untuk mandi. “Tanggal 23 Juni lalu, raja se-Nusantara dan dari negara lain datang. Mereka kagum dengan tiga sumber mata air yang memiliki suhu berbedam meskipun jaraknya tak lebih dari 1 meter,” katanya.

Bagi warga Songgoriti, keberadaan candi itu memiliki arti sendiri. Setiap malam tanggal satu suro dan ba’da (setelah) Maulid Nabi Muhammad, warga melakukan selamatan membuat jenang suro lalu menggelar wayangan. Untuk Ba’da maulid biasanya digelar pada hari Selasa kliwon (penanggalan jawa).

“Warga menghormati leluhur dan minta kepada Yang Kuasa agar diberi rezeki melimpah, kesehatan, serta panjang umur. Semua warga tumplek blek di sini,” ungkapnya (taken from here).

Bicara soal sumber air, mari kita lihat bentuk yang mirip sumuran candi ini:

Awalnya aku pikir, ini adalah sejenis sumuran candi yang dipenuhi air, namun Bapak penjaga candi bilang bahwa itu adalah salah satu sumber air. Airnya dingin dan air hangatnya hanya berada dibagian bawah saja. Hm, menarik! Dan ketika Googling kesana kemari, aku menemukan artikel ini:

Batu – Akhir pekan ini, cobalah mengunjungi Candi Songgoriti di Kota Batu. Ada air panas misterius yang muncul di candi ini. Para ahli arkeologi menguak misteri ini.

Sejumlah pakar menguak misteri air panas Candi Songgoriti. Ada tiga mata air berbeda pada candi yang dibangun tahun 929 Masehi ini. Penelitian memakan waktu 6 bulan melibatkan tim dari Pusat Penelitian Peradaban Nusantara Universitas Brawijaya.

Ketua tim peneliti Jazim Hamidi mengatakan, pakar sejarah, ada juga pakar geologi, biologi dan kimia terlibat dalam penelitian ini. Dia menyebut, dari awal pengambilan sampel air untuk bahan penelitian. Sumber air yang ada merupakan salah satu keajaiban dunia.

“Penelitian terhadap sumber mata air ini menggunakan pendekatan multiperspektif yaitu geologi, kimia, kesehatan, herbal dan supranatural. Dan juga memvalidasi kebenaran tentang khasiat masing-masing mata air,” terang Jazim kepada detiktravel, Kamis (24/4/2014).

Ia mengungkapkan, konon lebih dari seribu tahun yang lalu. Ketiga sumber mata air diyakini memiliki khasiat sendiri. Air panas untuk menyembuhkan penyakit stroke, lumpuh dan stres. Sedangkan air dingin mengandung khasiat bagi kehidupan baru sehingga para raja selalu pada bulan-bulan purnama minum air kehidupan tersebut. Sementara air yang berwarna keruh sebagai pertanda terjadinya prahara di Nuswantoro pada masa itu.

“Pertanyaannya, apakah betul ketika informasi tersebut relevan dan bisa dibuktikan di era modern ini. Dari semangat pertanyaan inilah kami melakukan penelitian di tiga sumber mata air tersebut,” ungkap Sekjen Pusat Penelitian Peradaban Nusantara ini.

Dia menambahkan, ketiga sumber air ini berada di satu tempat. Yaitu di bawah Candi Songgoriti yang dibatasi dengan dinding batu candi. Dari survei awal, lanjut dia, tepat di bawah candi terdapat sumber air panas alam, sumber air jernih biasa, serta sumber air yang airnya memiliki rasa seperti air kelapa muda (taken from here).

Nah lo, ada sumber air panas alam, sumber air jernih biasa, serta sumber air yang airnya memiliki rasa seperti air kelapa muda! Sayang sekali, aku tidak terlalu mencari tahu dimana saja letak sumber-sumber air itu (jadi aku hanya tahu 2 sumber saja; sedangkan sumber yang ke-3 tidak aku ketahui). Aku bahkan juga baru hari ini tahu, kalau sumber air yang airnya memiliki rasa seperti air kelapa muda!

Berikut ini, artikel lainnya yang juga tentang sumber air Candi Songgoriti:

Sindonews.com – Universitas Brawijaya (UB) Malang tertarik untuk meneliti air panas yang terletak di bawah Candi Songgoriti.

Sejumlah pakar mulai bekerja melakukan penelitian untuk mengetahui kandungan mineral dan khasiat dari air panas  bagi kesehatan tubuh manusia.

Kordinator Pusat Kajian Peradapan UB Malang, Jazim Hamidi menyatakan, air panas di bawah candi Songgoriti memiliki daya tarik sendiri.

Sehingga anggota tim Pusat Kajian Peradaban, merasa tertantang untuk memecahkan misteri yang berasal dari sumber daya alam itu.

“Di bawah Candi Songgoriti ada tiga bak air. Bak kesatu berisi air yang mendidih. Bak kedua berisi air dingin dan bak ketiga warna airnya hijau rasanya seperti air kelapa,” ujar Jazim, Jumat (18/4/2014).

Kata Jazim, peneliti UB tertarik untuk menguak misteri itu karena jarak antara kotak satu dengan kotak lainnya sangat dekat dan hanya disekat dengan batu bata tapi airnya tidak pernah bercampur.

“Sejak dulu masyarakat menggenal air panas Songgoriti diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Kita ingin membuktikan secara alamiah. Nanti hasil penelitiannya bukan untuk memanandingi pendapat masyarakat yang sudah mengakar,” ujar dia.

Diterangkan anggota tim Pusat Penelitian Peradaban UB beranggotakan pakar ilmu kebudayaan, kesehatan, kimia, pengairan dan geologi serta hukum.

“Kalau dari sisi ilmu hukum kita ingin mengkaji. Apakah keberadaan situs Candi Songgoriti ini sudah diperhatikan pemerintah atau belum. Mestinya cagar budaya semacam ini lebih diperhatikan lagi untuk memperkaya kebudayaan nasional dan. Bisa menarik wisatawan serta sebagai pusat edukasi,” jelas Jasim.

Sementara itu, Prasetyo, staf laboratorium air tanah UB Malang yang mengambil sampel air panas menambahkan, yang ingin dilakukan dalam waktu enam bulan ini adalah meneliti kandungan mineralnya.

Hasil pengujian di laboratorium akan dicrosscheck dengan hasil penelitian yang membidangi ilmu geologi. Kata Prasetyo, penelitian geologi akan menjawab asal usul air panas yang muncul di bawah candi itu.

Apakah berasal dari panas bumi, atau kiriman dari gunung berapi. Atau dari sisi lainnnya. Karena sejak dulu air panas di candi Songgoriti itu dikenal sebagai tempat merendam keris karya Empu Gandring pada zaman kerajaan Singosari.

“Hari ini kita hanya mengambil sampel airnya dulu. Ke depan akan kita ambil sedimen air panas dan tanah dan batuannya. Kita ingin mengetahui kenapa dalam tiga baik di bawah candi itu airnya tidak bisa bersatu,” ujar dia.

Hal senada disampaikan Dani Harianto, anggota tim peneliti yang membidangi budaya. Dia  menambahkan, keberadaan Candi Songgoriti bersama air panasnya dianggap unik dan menarik untuk diteliti.

Karena dalam berbagai kitab kuno dan beberapa prasasti sebelum abad ke VIII, menyinggung masalah Candi Songgoriti itu. Misalkan dalam prasasti Mula Manurung, dalam kitab Pararaton termasuk dalam Kitab Negara Kerta Gama serta Kitab Arjuna Wiwaha.

“Kami ingin menarik benang merah dari semua kitab itu. Karena dalam semua kitab kuno selalu muncul tulisan tentang candi Songgoriti. Dari kita itu akan diketahui khasiat airnya. Lalu akan kita bandingkan dengan penelitian ilmiahnya,” pungkas Dani (taken from here).

Oh ya, dari tadi disebut bahwa air-air ini adalah tempat para Empu merendam logam yang dipakai untuk membuat keris.. Nah, aku juga menemukan info menarik mengenai asal usul nama “Songgoriti”:

Nama “Songgoriti” dalam bahasa Jawa Kuno berarti “timbunan logam”. Ada juga yang mengartikannya ’sangga bumi’ atau ’sangga dunia’. Diperkirakan masih ada hubungannya dengan nama Desa Songgokerto -tempat berlokasinya candi ini- yang berarti “timbunan kemakmuran.” Nama ini kemungkinan berkaitan dengan sebuah prasasti yang ditemukan tak jauh dari situs candi, yaitu Prasasti Sangguran atau Batu Minto bertarikh 850 Saka atau 928 M.

Prasasti ini dikeluarkan atas perintah raja Wawa dan ditemukan di dukuh Ngandat, Batu. Isinya memberitakan bahwa raja dan Mahamantri i Hino Pu Sindok bernazar untuk menjadikan Desa Sangguran sebagai wilayah watak Kanuruhan, suatu sima atau perdikan (tanah yang dicagarkan) dari Bhatara di suatu bangunan suci yang ada di daerah Sima Kanjurugusalyan di Mananjung.  Yang menarik dari prasasti ini adalah disebutkannya sima khusus bagi para juru gusali, yaitu para pandai (logam). Ini sesuai dengan nama-nama desa di sekitar Candi Songgoriti berada. Uniknya,   Prasasti Sangguran ini pernah dibawa ke Skotlandia oleh Raffles pada abad ke-18. Hal ini mungkin sulit dipercaya sebab prasasti batu ini beratnya mencapai beberapa ton (taken from here).

Wai! Prasasti Minto! Tunggu, tunggu.. kayanya aku pernah nulis soal prasasti itu deh. Lemme check..

Nah, kan.. bener. Aku sudah pernah nulis soal prasasti Minto! Ayo, click here untuk baca :). Prasasti Minto ini keren loh, karena ada kutukannya. Dan aku kok ya baru ngeh toh, kalo inilah lokasi ditemukannya Prasasti Minto *jedok2in kepala ke kasur*.

Informasi lain mengenai Candi Songgoriti:

Candi Songgoriti yang juga disebut dengan Candi Supo ini adalah satu-satunya candi peninggalan Mpu Sindok di kota Batu. Beliau adalah raja pertama kerajaan Medang periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929-947. Masa pembangunan Candi Songgoriti belum dapat diketahui dengan pasti, tetapi diduga candi ini didirikan pada masa perpindahan kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar abad 9-10 Masehi. Menurut sejarahnya, kisah Candi Songgoriti ini berawal dari keinginan Mpu Sindok yang ingin membangun tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan di pegunungan yang di dekatnya terdapat mata air. Seorang petinggi kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Mpu Sindok untuk membangun tempat tersebut.

Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan wisata Songgoriti. Atas persetujuan Raja, Mpu Supo mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan beserta sebuah candi yang diberi nama Candi Supo. Di tempat peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan untuk mencuci keris-keris bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan Sindok. Mengingat benda-benda kerajaan yang dicuci tersebut bertuah serta mempunyai kekuatan supranatural dan magis yang maha dahsyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk berubah menjadi sumber air panas. Sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti (taken from here).

Dan:

Bangunan candi yang terletak di sebuah lembah yang memisahkan lereng Gunung Arjuna dengan lereng Gunung Kawi ini terbuat dari batu andesit, sedangkan pondasinya dari batu bata. Ukuran candi ini adalah 14,50 meter x 10 meter dengan tinggi 2,5 meter. Hampir seluruh wujud asli dari candi ini sudah hancur. Hiasan patung-patung yang menghiasi badan candi pun sudah banyak yang tidak berbentuk sehingga sulit untuk diidentifikasi. Namun meski dalam kondisi seperti itu, bagaimanapun juga keberadaan candi tersebut sangatlah berarti sebagai bukti tuanya usia peradaban di kota Batu.

Dilihat dari arsitekturnya yang sangat sederhana, Candi Songgoriti digolongkan sebagai candi tertua di Jawa Timur dan mempunyai hiasan berlanggam Jawa Tengah. Bangunannya terdiri atas kaki, tubuh dan atap candi. Pada tubuh candi terdapat relung-relung atau cerukan sebagai tempat berdirinya arca. Namun yang masih bisa dilihat sampai sekarang hanyalah kaki candi dan sebagian tubuh candi sisi timur, utara dan barat. Relung sebelah utara arcanya sudah hilang, sedangkan relung sebelah barat, arcanya sudah tidak menempel lagi namun masih berada di lingkungan candi.

Relung sebelah timur merupakan tempat arca Ganesha, yang arcanya tinggal sebagian yaitu bagian perut dan kaki. Arca ini merupakan arca Agastya, yang dalam agama Hindu merupakan salah satu dari tujuh pendeta yang menyebarkan agama Hindu di Asia Tenggara dan Jawa. Dari temuan-temuan serta adanya arca Agastya tersebut, menunjukkan bahwa candi ini bersifat Siwaistis. Oya, pada bagian tengah Candi Songgoriti terdapat lubang sampai di dasar candi yang berisi air. Pada sisi timur candi terdapat sumber air panas yang berwarna kuning. Ini berarti bahwa air tersebut mengandung belerang yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanik.

Mengenai fungsi dari Candi Songgoriti belum dapat diketahui dengan pasti. Namun diperkirakan tempat ini merupakan tempat pemujaan/upacara tertentu, mengingat di dalam bilik candi ini terdapat sumber air panas yang mengandung belerang, yang dapat menyembuhkan penyakit kulit. Hingga kini, sumber air ini dimanfaatkan sebagai sumber air pemandian yang letaknya tidak jauh dari Candi Songgoriti (taken from here).

Sedangkan soal penemuannya:

Candi Songgoriti ditemukan pertama kali oleh seorang arkeolog Belanda bernama Van I Isseldijk tahun 1799 M. Kemudian pelaksanaan renovasinya dilakukan oleh arkeolog Belanda lainnya yaitu Rigg tahun 1849 M dan Brumund pada tahun 1863 M. Tahun 1902 M, Knebel melakukan inventarisasi situs Candi Songgoriti dan dilanjutkan dengan renovasi besar-besaran tahun 1921 M. Renovasi terakhir dilaksanakan pada tahun 1938.

Menariknya, pada saat dilakukan renovasi diketahui bahwa Candi Songgoriti banyak menyimpan peninggalan agung. Di dalam tanah dekat dasar candi, ditemukan empat peti batu yang berisikan lingga dari emas, yoni dari perunggu, serta mata uang dan kepingan emas yang bertuliskan nama dewa-dewa. Penemuan-penemuan ini tentu saja membuktikan kekayaan dan kejayaan yang ada pada masa itu (taken from here).

Tambahan informasi mengenai sumber air Candi Songgoriti:

Candi Songgoriti juga menyimpan sebuah keunikan yang mungkin tidak ditemukan di candi-candi lainnya yakni sumber mata air dingin yang disebut air Pasang Giri. Sumber mata air dingin ini menyembul di tengah-tengah sumber mata air panas dengan ukuran kolam hanya 75 cm x 75 cm. Sangat unik dan sulit untuk dipahami bahwa bangunan candi yang dikelilingi sumber mata air panas, di tengah-tengahnya menyembul sumber mata air dingin. Letak mata air dingin persis di tengah-tengah bangunan candi bagian belakang. Namun tak banyak wisatawan yang mengetahui keunikan tersebut.

Ada mitos yang menyebutkan sumber air ini tak ubahnya sebagai patokan untuk stabil tidaknya pemerintahan di Malang Raya dan bahkan Indonesia. Konon dulu ketika ada gonjang-ganjing kerusuhan politik tahun 1998, air di sumber Pasang Giri ini langsung meluber dan beriak-riak. Namun bila suhu politik di tanah air kondusif, sumber air tersebut tenang dan volumenya tetap terisi 50 persen dari total satu meter tinggi kolam kecil itu. Sumber air ini banyak mendapat kunjungan khusus para pejabat di masa lalu. Oya, sumber air Pasang Giri ini sudah lebih dari 11 tahun tidak beriak lagi (taken from here).

Nah, kalau Bapak penjaga candi tanya apa alasannya sehingga candi ini tidak diteruskan penggaliannya, mungkin hal ini adalah jawabannya:

Salah satu obyek wisata yang cukup terkenal di kota Batu Malang yaitu kawasan Songgoriti. Tempat wisata yang terkenal karena sumber air panasnya ini memang menjadi salah satu tujuan wisatawan yang berkunjung ke Batu. Namun siapa sangka bahwa selain air panas, terdapat pula sebuah obyek wisata budaya dalam bentuk candi yakni Candi Songgoriti.

Candi Songgoriti terletak berdekatan dengan Taman Rekreasi Tirta Nirwana Songgoriti. Tepatnya berada di dalam kompleks Pemandian Air Panas Alami (PAPA) dan Hotel Songgoriti. Namun keberadaan candi ini belum banyak diketahui oleh para wisatawan khususnya dari luar kota Batu sebab daya tarik utama di area ini adalah Taman Rekreasi Songgoriti, bukan Candi Songgoriti. Padahal situs purbakala ini menyimpan banyak kisah dan sejarah yang menarik untuk ditelusuri (taken from here).

Tuh, “Candi Songgoriti terletak berdekatan dengan Taman Rekreasi Tirta Nirwana Songgoriti. Tepatnya berada di dalam kompleks Pemandian Air Panas Alami (PAPA) dan Hotel Songgoriti.” Kalau mau gali candi ini, bangunan Taman Rekreasi Tirta Nirwana Songgoriti, Pemandian Air Panas Alami (PAPA) dan Hotel Songgoriti akan terpaksa ‘dipinggirkan’ mengingat lokasi bangunan mereka mepet banget dengan bangunan candi:

Hmm, sayang sekali! Kalau ternyata Candi Songgoriti ini bener-bener seluas yang diinformasikan oleh si Bapak penjaga candi, apalagi jika ini benar-benar lokasi para Mpu (termasuk Mpu Gandring) merendam logam yang dipakai untuk keris mereka, sekaligus lokasi bertemunya Ken Arok dan Ken Dedes, seharusnya candi ini tidak sebegini sempit dan ‘berantakan’ keadaannya..