Bertamu ke Tanah Mojopahit – 11 (Trowulan/ Mojokerto); Kolam Segaran

Dari sebuah situs yang aku baca:

Kolam Segaran terletak di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, tepatnya di sebelah timur laut Museum Purbakala Trowulan, di tepi jalan desa jurusan Trowulan-Pakis.

Bangunan berupa sebuah kolam yang sangat luas kemudian disebut disebut Segaran. (segaran berasal dari segara=laut berakhiran –an = buatan). seluas 800 meter X 500 meter keberadaan Kolam Segaran usianya tidak kurang dari 800 tahun.

Kolam besar berbentuk persegi panjang yang seluruh sisinya dibangun dari batubata berwarna merah darah yang tertata rapi Ditemukan kembali dari timbunan tanah pada tahun 1926 oleh Ir. Henri Maclaine Pront, yaitu arsitek berkebangsaan Belanda yang pernah mendirikan Museum Trowulan (lama), serta perhatiannya cukup besar dalam penelitian bekas kota Majapahit.

Kolam yang airnya tak pernah kering ini dipercaya masyarakat sebagai tempat mandi para prajurit Majapahit. Oleh para ahli sejarah, Kolam Segaran diyakini sebagai salah satu bukti keberadaan kerajaan terbesar di nusantara di samping Sriwijaya di Sumatera.

Konon bahkan Trowulan merupakan pusat kerajaan yang wilayahnya membentang dari Pulau Madagaskar di sebelah barat hingga gugusan kepulauan Polynesia di sebelah timur Propinsi Papua Bangunan yang ada sekarang adalah hasil pemugaran yang dimulai pada tahun 1974 dan dikerjakan selama kurang lebih 10 tahun, jadi selesai pada tahun 1984. Dari jumlah keseluruhan batu bata kolam sebanyak 8589 m3 yaitu sejumlah 412.200 buah, 43%nya (3692 m3) sebanyak 177.200 buah di antaranya dipasang ulang.

Selama pemugaran berlangsung terutama sewaktu diadakan penggalian kepurbakalaan, tidak ditemukan benda-benda yang berarti kecuali sebuah mata kail emas, kepingan tulang-tulang, sebuah pegangan tutup dari tanah liat dan sebuah lumpang batu kecil.

Luas kolam segaran keseluruhan menempati areal 6,50 ha. Bangunan memanjang dari utara ke selatan sepanjang 375 m, lebar 175 m, tinggi tembok 2,88 dengan ketebalan dinding 1,60 meter.

Pintu masuk kolam yang sekaligus berfungsi sebagai pintu keluar terdapat di bagian barat, di sini terdapat teras yang berukuran panjang 10,40 meter,lebar 8,40 meter dengan tangga turun yang berupa undak-undakan selebar 3,50 meter. Kalau dahulu kolam memperoleh air dari sungai kecil yang berada di bagian barat laut, kini saluran air masuk dipindahkan di sudut tenggara. Entah ada hubungannya atau tidak, perilaku masyarakat sekitar kolam yang suka berburu mujahir itu sering dikaitkan dengan mitos bongkahan emas di dasar kolam.

Pada musim hujan, kolam itu dipenuhi air antara 1,5 hingga 2 meter. “Itu di bagian tepi, di tengah mungkin lebih dalam,”Warga sekitar kola m itu percaya, dulu, Kolam Segaran sering digunakan para bangsawan kerajaan Majapahit, bangsawan Belanda dan saudagar-saudagar China bersenang-senang.

Kolam itu juga sering digunakan sebagai tempat penjamuan para tamu yang datang dari negeri seberang. Kolam ini juga disebut sebagai kolam peninggalan sejarah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Bayangkan, kolam itu berluas 6,5 hektar atau berukuran 375X175 meter.

Sementara dinding yang membatasi kolam berukuran 1,6 meter dan tinggi 2,88 meter. Konon, di kolam tersebut keluarga kerajaan menghibur tamu-tamu kerajaan dengan perlengkapan makan istana dari emas yang dibuang ke dalam kolam seusai jamuan. Cerita tersebut sekaligus menggambarkan betapa kayanya Majapahit saat itu.

Hampir semua bangunan tersebut terbuat dari bata merah. Dapat dibayangkan ketika masih dalam kondisi utuh tentunya memberikan kemegahan tersendiri dengan warna merahnya yang menyala. Konstruksi batu bata yang digunakan sebagai pembatas atau dinding kolam juga terbilang unik. Karena penataan batu-batu itu tak menggunakan perekat tapi digosokkan hingga melekat satu sama lain.Tetapi, ada teori lain yang mengemukakan jika Kolam Segaran merupakan reservoir cadangan air kota, bukti system irigasi yang dirancang para urban planner Majapahit untuk menjamin “ke-gemah ripah-an” negara mereka yang lekat dengan pertanian. Korelatif memang, ketika di sekitarnya masih banyak ditemukan sisa kanal-kanal pengairan yang terhubung dengan sungai Brantas.

Sedangkan dari artikel lain, didapat informasi tambahan:

” Kolam Segaran “
Merupakan salah satu dari 32 waduk atau kolam kuno peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih dapat disaksikan sekarang ini. Orang yang pertama kali menemukan kolam adalah Ir. Henry Maclain Port pada tahun 1926. Letak Kolam, di depan Museum Trowulan agak bergeser ke utara yang secara administratif termasuk wilayah Desa Trowulan, Kecamatan trowulan, kabupaten Mojokerto. Bentuk denah Kolam, empat persegi panjang berukuran panjang 375 m dan lebar 125 m. Dinding Kolam setinggi 3,16 m, sementara lebarnya 1,6 m.

Bahan bangunan Kolam terbuat dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan cara digosokkan tanpa menggunakan perekat. pada bagian tenggara terdapat saluran yang mengalirkan airnya ke Kolam, sementara pada bagian barat laut terdapat saluran pembuangan air. Saluran ini berhubungan dengan ‘ Balong Bunder ‘ ( Kolam Bulat ) yang terletak di sebelah selatannya serta ‘ Balong Dowo ‘ ( Kolam Panjang ) yang terletak di depan Museum Trowulan. Kedua Kolam atau Balong tersebut sekarang telah mengalami pendangkalan dan tidak berfungsi.

Pada waktu ditemukan hampir seluruh bagian Kolam tertutup rerumputan dan tanah seluas 65.448 m kubik. Pada tahun 1966 diadakan pemugaran pada Kolam tersebut. namun kegiatan ini hanya berlangsung satu tahun. Pemugaran yang lebih terencana dilaksanakan pada tahun 1974 dan berlanjut pada Tahun Anggaran 1983 / 1984.

Menurut Cerita Rakyat, pada masa kejayaan Majapahit, Kolam Segaran digunakan sebagai tempat rekreasi dan tempat untuk menjamu para tamu dari luar negeri yang bertandang ke Kerajaan. Diceritakan apabila perjamuan telah usai, maka peralatan perjamuan seperti piring, sendok, dan mangkuk yang terbuat dari emas di buang ke dasar Kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit. Namun jika dianalisa secara logis, dengan adanya saluran keluar masuk serta luasnya Kolam, diduga tempat ini dahulunya difungsikan sebagai waduk atau tempat penampungan air.

Sementara peneliti lain menyebutkan bahwa Kolam Segaran dikaitkan juga kegunaannya sebagai penambah kelembaban atau kesejukan udara Kota Majapahit. bangunan ini mencerminkan kemampuan Majapahit beradaptasi dengan lingkungannya. para ahli arkeologi memperkirakan Kolam Segaran adalah ” Telaga ‘ yang disebutkan dalam Kitab Negarakertagama Pupuh VII:5.3.

Bahkan, kolam ini dipercaya digunakan Patih Gajah Mada menggembleng pasukan Mojopahit, loh (read here):

Kolam segaran bagi Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu situs peninggalan Kraton Majapahit, yang dituahkan dan dibanggakan masyarakat Trowulan khususnya dan Mojokerto umumnya. Banyak kisah yang mengiringi keberadaannya. Namun, yang paling diyakini para sesepuh daerah tersebut, keberadaannya merupakan area tempat penggemblengan pasukan perang laut sebelum dikirim dalam misi penaklukan.

LETAK Kolam Segaran sekitar 500 meter arah selatan jalan raya Mojokerto-Jombang. Konon nama tersebut berasal kata segoro-segoroan yang berarti telaga buatan, seperti yang terdapat dalam buku Negara Kertagama pupuh VIII halaman 5.3, yang tersurat di daerah Trowulan terdapat sebuah telaga yang multiguna.

Menurut data museum Trowulan, kolam Segaran konon dibuat pada abad ke-14. Luas kolam ini 175m x 375m, dengan kedalaman sekitar 2,80m dan tebal dinding bangunan 1,60m. Air kolam berasal dari Balong Bunder dan Balong Dowo yang berada di sebelah selatan dan barat daya kolam. saluran air masuk ke kolam ada di bagian tenggara, sementara air kolam

Sedangkan di sebelah selatan sudut timur laut dinding sisi luar terdapat 2 kolam kecil berhimpitan, sementara di sebelah barat sudut timur terdapat saluran air menembus sisi utara. Di bagian tenggara terdapat saluran air masuk ke kolam dan saluran air keluar di bagian barat laut.

Dengan ukuran yang sangat besar itu, kolam yang menjadi salah satu simbol kejayaan Kraton Majapahit ini, diakui beberapa ahli anthropologi nasional sebagai kolam kuno yang terbesar di Indonesia.

Sedangkan pintu masuknya terletak disebelah barat, dengan bentuk tangga batu bata kuno.
Kolam yang banyak menyimpan kisah-kisah mistis ini ditemukan pada tahun 1926 oleh seorang Belanda, Ir Henry Maclain Pont bekerjasama dengan Bupati Mojokerto pertama yaitu Kromojoyo. Sejak ditemukan hingga saat ini, telah beberapa kali dilakukan pemugaran yaitu tahun 1966, 1974, dan 1984.

Kisah mistis keberadaan kolam ini, diawali saat pemugaran pertama dengan penemuan bandul jaring, kail pancing dari emas, dan sebuah piring berbahan emas dalam kondisi 60%. Semua penemuan itu tersurat di salah satu dinding Museum Trowulan. Posisinya di sebelah kanan batu Surya Majapahit.

Banyak cerita rakyat yang berkembang mengiringi keberadaan kolam Segaran. Misalnya, tentang fungsinya sebagai tempat pemandian putri-putri raja. Cerita lain yang datang dari daratan Cina, kolam tersebut sering dimanfaatkan para Maharaja Majapahit untuk bercengkerama dengan permaisuri dan para selir kedatonnya. Kolam tersebut juga digunakan Maharaja Hayam Wuruk untuk menjamu tamu agung dari Kerajaan Tiongkok, bahkan dalam acara perjamuan itu Hayam Wuruk pamer kekayaan dengan membuang peralatan pesta yang kotor ke dalam kolam.

Kisah lain yang ditambahkan salaqh satu sesepuh Trowulan, Sri Lestari Utami (62th), kolam Segaran juga difungsikan sebagai tempat penggemblengan para ksatria laut Majapahit. Penggemblengan dilakukan saat usai rekruitmen prajurit. Juga saat para pasukan pilihan akan dikirimkan dalam misi penaklukan terhadap kerajaan lain.

”Dukuh Segaran dulu merupakan pawon sewu (dapur umum) untuk memasak ransum buat para ksatria laut dan ksatria Bhayangkara (angkatan darat, red) saat pelatihan di kolam Segaran,” tambah Joko Umbaran (58th).

Menurut pria yang juga sesepuh warga dukuh Segaran desa Trowulan ini, area kolan Segaran ini selalu digunakan Mahapatih Gajahmada untuk mempersiapkan pasukan Bhayangkara yang dikendalikan. Tempat latihan pasukan darat ini di lapangan Bubat (sebelah barat dukuh Segaran).

Kontroversi Masyarakat

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang senantiasa menjaga martabat dihadapan para tamu asing. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan perabot makan dari emas, sehingga prestise Majapahit dihadapan para tamunya sangat tinggi. Pencitraan kemakmuran dan kekayaan Majapahit itu dikuatkan dengan cerita rakyat, bahwa Majapahit sering menjamu para tamu asingnya di tepian kolam Segaran dan perabot makan yang kotor langsung dibuang ke dalam kolam.

Memang, sampai saat ini perjamuan makan masih menjadi kontroversi masyarakat. Sebab ada sebagian masyarakat beranggapan perabot makan yang dibuang ke kolam akan diambil kembali untuk dicuci, setelah para tamu asing itu meninggalkan acara perjamuan. Ada pula yang beranggapan, perabotan yang dibuang ke kolam itu tak pernah diambil lagi. Sehingga di zaman modern ini banyak ditemukan oleh beberapa masyarakat Trowulan yang beruntung.

”Soal kebenaran dari kebiasaan perjamuan di tepi kolam Segaran itu, sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Pasalnya cerita rakyat yang berkembang itu berdasar dari persepsi dan temuan mereka,” kata Joko Umbaran sembari memandang kepulan asap kreteknya.

Dengan data sejarah yang tersimpan di Museum Trowiulan, juga berdasar variasi cerita rakyat yang berkembang. Pensiunan Dinas Purbakala Kab. Mojokerto ini menyimpulkan bahwa, pembuatan kolam Segaran memiliki prioritas utama penunjang perekonomian rakyat, khususnya dibidang pertanian. Itu terbukti dari fungsinya saat ini sebagai waduk pengairan untuk sawah-sawah masyarakat sekitarnya.

”Kisah mistis yang terbukti, tanaman padi yang diari oleh Waduk Segaran menghasilkan padi yang punel dan enak untuk dimakan,” ujarnya.