Semanggi Surabaya; Makanan Khas Yang Makin Langka

Perkenalkan, ini adalah makanan khas Surabaya yang kini (sudah) menjadi langka.

Aku kenal makanan ini, sekitar 10 tahunan lalu. Dan langsung suka! Padahal ‘sederhana’ sekali: hanya daun semanggi (clover) segar dan taoge muda yang direbus, kemudian diberi bumbu kacang (?) dan kerupuk lebar, juga sambal.

Daun pisang biasa dipincuk sebagai alas makan. Sendoknya? Ya kerupuk itu tadi! Kebayang serunya, kan? Segar pula! Bumbunya terasa light, padahal sepertinya sarat ingredients.

Serunya lagi, aslinya.. semanggi dijajakan oleh ibu-ibu perkasa (yang berjalan keliling ‘daerah kekuasaannya’ sambil menyunggi keranjang super besar berisi semanggi yang sudah direbus, kerupuk dan bumbu2 lain), seperti ibu ini:

Dulu, waktu masih bekerja di daerah Surabaya Barat, beberapa kali aku melihat serombongan ibu-ibu penjual semanggi bergerombol menunggu angkutan umum, untuk pergi ke daerah tempat mereka biasa menjajakan semanggi.

Daerah barat Surabaya katanya memang dikenal sebagai daerah penghasil semanggi. Setiap subuh, petani memanen semanggi  dan menjualnya ke ibu-ibu penjual tersebut.

Masalahnya, dengan berkurangnya lahan pertanian di Surabaya, maka tanaman semanggi-pun makin lama makin berkurang, penjualnya juga. Ikut menghilang dengan berkurangnya tanaman semanggi. Inilah sebabnya makanan satu ini kini menjadi langka. Penjualnya pun biasanya sudah tua, entah.. apakah resepnya sudah diturunkan ke generasi berikutnya / tidak. Kalau tidak, cilakalah! Bisa benar-benar punah, makanan ini.

Semoga, ibu-ibu penjual, juga petani semanggi lancar jaya rejekinya, lah. Agar makanan khas seperti ini tidak hilang dimakan laju pembangunan. Semanggi Surabaya, adalah makanan yang tidak bisa dibiarkan hilang begitu saja.