Istana Relik (Surabaya); Menyimpan Relik Buddha Gotama dan Murid-MuridNya

Apakah relik?

Dari sebuah blog, aku mendapat informasi sebagai berikut:

Relik Buddha Gotama.
Saat Buddha Gotama mangkat (parinibbana) lalu diperabukan atau di bakar tubuhnya diatas kayu cendana. Usai diperabukan organ tubuh-Nya berubah bentuk berwarna-warni seperti Kristal, sebagian menjadi batu mulia seperti batu mutiara, batu jamrud, batu blueshapir, batu merah delima, dsb. Sisa organ tubuh Buddha Gotama yang telah menjadi Kristal dan seperti batu mulia disebut Relik.

Kemudian para Raja dari berbagi Negara bagian India yang ikut hadir, meminta Relik sisa organ tubuh Buddha Gotama kepada para bhikkhu yang memimpin upacara kremasi tubuh Buddha Gotama. Seketika terjadi rebutan hingga kacau, tapi ada seorang sesepuh Brahmana Dorna ikut menengahi dalam pembagian Relik Buddha Gotama.

Akhirnya, Relik Buddha Gotama seluruhnya terbagi menjadi delapan, tapi tujuh bagian untuk para Raja yang meminta dibawa dan disimpan untuk dipuja di negaranya. Satu bagian diantaranya ialah dibawa oleh Dewa Brahma yang ikut hadir dan memohon untuk di simpan dan dipuja di alam Dewa Brahma.

Peristiwa penting perabuan dan pembagian Relik Buddha Gotama inilah menjadi sejarah yang sangat diagungkan oleh seluruh murid Buddha Gotama dari zaman itu hingga kini. Meskipun telah melalui waktu 2554 tahun, Relik Buddha Gotama masih nampak utuh tersebar di berbagai Negara Buddhis seperti: Srilanka, China, Myanmar, Thailand, Taiwan, Hongkong, Korea, Malaysia, Singapura dan Indonesia.

Pada waktu tertentu seperti perayaan Waisak di Srilanka ada sebagian wihara yang membuat upacara memuja Relik Buddha Gotama dengan selalu mengarak keliling kota. Relik-Nya disimpan disebuah guci terbuat dari kaca atau keramik, lalu di letakkan diatas punggung Gajah. Para umat Buddha keluar rumah untuk menyambut dengan memuja dan menghormat Relik Buddha Gotama yang dianggap mulia. Cara seperti ini menurut mereka adalah amat Sakral dan membawa berkah kebahagiaan tersendiri, dengan keyakinan mereka bahwa Relik Buddha Gotama ibarat pengganti wujud murni dari Buddha Gotama yang telah lama tiada.

Nah, relik sang Buddha Gotama, ada di Surabaya. Salah satunya, di Istana Relik, Jl. Basuki Rachmad, Surabaya (lantai dasar gedung Go Skate).

Aku sendiri sempat sering berkunjung kesana. No, no, I’m not a Budhist. Tapi aku mengakui bahwa energi tempat itu yang begitu besar dan positive, membawa pengaruh baik pada diri dan pikiran.

Sering pula terkadang kagum, melihat peninggalan jasad Buddha yang begitu agung, yang hidup sekitar 2554 tahun lalu, ada didepan mata.

Biasanya, pengunjung masuk setelah melepas alas kaki (dan meninggalkannya diluar), kemudian berlutut dan membungkukkan badan ke depan, mengarah ke jajaran relik Buddha dan murid-muridNya (kemudian, ada yang tetap duduk ditempat yang sama, ada yang memilih duduk dipinggir / belakang). Ulang hal ini, ketika akan meninggalkan tempat.

Tidak disarankan duduk selonjor dengan arah telapak kaki menghadap relik. Bahkan kalau bisa, punggung-pun tidak menghadap kearah relik.

Aku sendiri ada pengalaman kurang enak, karena bertingkah kurang sopan ditempat ini. Aku tidak mengucap salam dan menghormat. Ketika akan melangkah pergi, kakiku seperti diikat dan ditarik masuk keruangan. Kepalaku juga berat, seperti ingin menunguk. Oleh seseorang yang sepertinya memiliki indra ke 6, aku disarankan membungkuk hormat sambil memberi salam. Dan segalanya berangsur pulih *wew*

Diruangan relic ini pula, terdapat beberapa botol air minum yang ‘dilewati’ seutas tali. Tali ini adalah tali energi positif. Botol-botol tersebut diperuntukkan untuk umum, yang mempercayai bahwa ada energi positif dan baik di air tersebut karena diletakkan didekat relik.

Disamping relik, ditempatkan lentera yang dijaga oleh penjaga. Didepannya, disertakan kertas berisi doa permohonan. Untuk menyalakannya, kita diharuskan membayar (tarifnya: per jumlah hari) dan uang itu nantinya akan dimanfaatkan untuk kegiatan sosial.

Dibalik ruangan relik, ada patung Dewi Kwan Im dan ruang meditasi.

Pada hari-hari tertentu, diadakan pelatihan meditasi dan dialog. Ada pula pelatihan bahasa Mandarin. Disamping Istana Relik, disediakan sebuah toko yang menjual buku-buku agama Buddha, keperluan sembahyang dan beberapa pernak pernik khas Cina (patung, keramik, dsb) yang dijual untuk umum.